Welcome to Ufi Luthfiyah Blog's

Profesionalisme Seorang Guru

Posted on: 3 Juli 2010

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Guru sebagai profesi perlu diiringi dengan pemberlakuan aturan profesi keguruan, sehingga akan ada keseimbangan antara hak dan kewajiban bagi seseorang yang berprofesi guru, antara lain: Indonesia memerlukan guru yang bukan hanya disebut guru, melainkan guru yang profesional terhadap profesinya sebagai guru. Aturan profesi keguruan berasal dari dua kata dasar profesi dan bidang spesifik guru/keguruan.

Secara logik, setiap usaha pengembangan profesi (professionalization) harus bertolak dari konstruk profesi, untuk kemudian bergerak ke arah substansi spesifik bidangnya. Diletakkan dalam konteks pengembangan profesionalisme keguruan, maka setiap pembahasan konstruk profesi harus diikuti dengan penemukenalan muatan spesifik bidang keguruan. Lebih khusus lagi

Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi

B. RUMUSAN MASALAH

Adapun rumusan masalahnya adalah

  1. apakah guru professional itu ?
  2. bagaimanakah peranan guru dalam lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat ?

C. TUJUAN MAKALAH

Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :

  1. agar kita tahu guru professional itu seperti apa,
  2. sebagai bahan acuan dalam mempelajari tentang guru professional.

BAB II

PEMBAHASAN


1. KEWIBAWAAN GURU DALAM PENDIDIKAN

Masyarakat kita selalu berubah, tiap perubahan selalu memiliki dampak bermacam-macam pengaruh terhadap lapangan pendidikan. Perubahan pengaruh tersebut mendorong para guru untuk mempunyai visi yang jelas dalam melaksanakan pendidikan dan misi yang terarah dalam menuju masa depan yang diinginkan. Oleh karena itu setiap guru perlu berusaha mengembangkan potensi-potensi kreatif dan inovatif dalam pembelajaran untuk dapat berpartisipasi dalam iklim yang selalu berubah. Misalnya tanggung jawab dan kewibawaan dalam pendidikan yang selalu menyangkut antara peserta didik dan pendidik itu sendiri. Kewibawaan pendidikan berfungsi agar peserta didik memiliki sikap tunduk atau patuh secara sukarela dan ikhlas terhadap segala perintah maupun larangan pendidiknya demi tercapainya tujuan pendidikan. dan bukan karena pemaksaan apalagi melalui ancaman.

Beragamnya fenomena yang muncul dalam tatanan kehidupan masyarakat khususnya di lingkungan pendidikan pada saat ini yang berkaitan dengan perubahan tingkah laku, sehingga terjadinya kemerosotan moral dimana-mana, menjadikan citra bangsa kita tidak seindah dulu, khususnya Aceh sebagai daerah yang kental dengan syari’at Islam, yang dikenal dengan masyarakat yang santun, berakhlak mulia, saling menghormati dan membantu satu sama lain serta menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan moral dalam kebersamaan dan persatuan. Kenyataan seperti dapat kita saksikan dalam berbagai pemberitaan, baik melalui media cetak maupun media elektronik, setiap hari ditanyangkan tindakan-tindakan menusia yang tidak manusiawi, seperti miningkatnya tindak kekerasan, perampokan saban hari berada dihalaman utama media cetak, penganiayaan dan tindak kriminalitas lainnya.

Kemerosotan moral dalam dunia pendidikan disadari atau tidaknya saat ini antara lain menurunnya sikap hormat peserta didik kepada gurunya, hal ini bisa jadi disebabkan oleh berbagai faktor dalam pembelajaran oleh guru itu sendiri, namun kenyataannya faktor kewibaan guru dalam pendidikan merupakan sebuah kenyataan yang tidak dapat dielakkan. Berikut ini coba kita perhatikan jika dalam sebuah lembaga pendidikan sekolah terjadi suatu kasus seperti ini:

Pada suatu sekolah ada seorang guru A yang sangat disegani oleh peserta didiknya. Mereka (peserta didik) sangat segan dan patuh kepadanya. Setiap harinya, sebelum guru A masuk ke dalam kelas, murid-murid sudah duduk dengan tenang dan tertib menantikan Bapak/Ibu guru A itu mengajar. Semua perintah dan larangan serta nasehatnya yang diberikan kepada peserta didiknya, dituruti dan dipatuhi oleh mereka. Peserta didik hormat kepadanya.

Sebaliknya dengan guru B yang ada di sekolah itu. Ia kurang disegani peserta didiknya. Setiap guru B itu mengajar, anak-anak ada saja yang selalu membuat ribut dalam kelas, sehingga kelas menjadi rebut. Peringatan-peringatan dan nasihat-nasihat yang diberikannya tidak atau dihiraukannya oleh peserta didiknya. Anak-anak tidak merasa segan atau patuh kepadanya. Perintah-perintah atau tugas-tugas yang diberikannya, sering kali tidak dikerjakan oleh mereka. Karena itu guru B seringkali marah dan menghukum anak dalam kelas. Tetapi anak itu bukan semakin patuh atau menurut kepadanya, bahkan sebaliknya. Anak-anak mau mengerjakan apa yang diperintahkannya karena mereka takut; jadi bukan karena mereka insaf percaya kepadanya.

Dari contoh di atas dapat kita mengatakan, bahwa guru A lebih berwibawa, lebih mempunyai Kewibawaan dari pada guru B. anak-anak lebih patuh dan lebih segan terhadap guru A. segala sesuatu yang diperintahkan atau dinasihatkan ataupun diperingatkan oleh guru A, lebih meresap dan lebih mudah serta dengan senang menjalankannya dari pada oleh guru B. atau dengan kata lain: pengaruh yang ditimbulkan oleh guru A lebih dipatuhi oleh anak-anak. Maka dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kewibawaan adalah kepenurutan secara sukarela dari pihak anak didik pada pendidiknya atas dasar kesadaran dan tidak bersifat paksaan.

Guru menerima jabatannya sebagai pendidik bukan dari kodrat (dari Tuhan), melainkan ia menerima jabatan itu dari pemerintah. Ia ditunjuk, ditetapkan, dan diberi kekuasaan sebagai pendidik oleh Negara atau masyarakat. Maka dari itu Kewibawaan yang ada padanya pun berlainan dengan kewibawaan orang tua. Kewibawaan guru, yang karena jabatan, juga bersifat dua :

1. Kewibawaan Pendidikan

Sama halnya dengan kewibawaan pendidikan yang ada pada orang tua, guru karena jabatan berkenaan dengan jabatannya sebagai pendidik, yang telah diserahi sebagian dari tugas orang tua untuk mendidik anak-anak mereka. Selain itu, guru karena jabatan menerima kewibawaannya sebagian lagi dari pemerintah yang mengangkat mereka. Kewibawaan pendidikan yang ada pada guru ini terbatas oleh banyaknya anak-anak yang diserahkan kepadanya, dan setiap tahun berganti murid.

2. Kewibawaan Memerintah

Selain memiliki kewibawaan pendidikan, guru atau pendidik karena jabatan juga mempunyai kewibawaan memerintah. Mereka telah diberi kekuasaan (gezag) oleh pemerintah atau instansi yang mengangkat mereka. Kekuasaan tersebut meliputi pimpinan kelas; disanalah anak-anak telah diserahkan kepadanya. Bagi kepala sekolah kewibawaan ini lebih luas, meliputi pimpinan sekolahnya.

Kewibawaan Yang Seharusnya

Penggunaan kewibawaan oleh guru atau pendidik harus berdasarkan faktor-faktor berikut:

a.       Dalam menggunakan kewibawaannya itu hendaknya didasarkan atas perkembangan anak itu sendiri sebagai pribadi. Guru sebagai pendidik hendaklah mengabdi kepada pertumbuhan anak yang belum selesai perkembangannya. Dengan kebijaksanaannya, hendaklah anak dibawa kearah kesanggupan memakai tenaganya dan pembawaannya yang tepat. Jadi wibawa pendidikan itu bukan bertugas memerintah, melainkan mengamati serta memperhatikan dan menyesuaikannya kepada perkembangan dan kepribadian masing-masing anak.

b.      Guru hendaklah memberi kesempatan kepada anak untuk bertindak atas inisiatif sendiri. Kesempatan atau keleluasaan itu hendaknya makin lama makin diperluas, sesuai dengan perkembangan dan bertambahnya umur anak.

c.       Guru hendaknya menjalankan kewibawaannya itu atas dasar cinta kepada peserta didik. Ini dimaksudkan hendak berbuat sesuatu untuk kepentingan mereka. Jadi bukannya memerintah atau melarang untuk kepentingannya sendiri. Cinta itu perlu bagi pekerjaan mendidik. Sebab dari cinta atau kasih sayang itulah timbul kesanggupan selalu bersedia berkorban untuk peserta didik, selalu memperhatikan kebahagiaan anak yang sejati.

Dalam pergaulan baru terdapat pendidikan jika didalamnya telah terdapat kepatuhan dari peserta didik, yaitu sikap menuruti atau mengikuti wibawa yang ada pada orang lain;  mau menjalankan seruhannya dengan sadar. Tetapi tidak semua pergaulan antara orang dewasa dengan anak-anak merupakan pendidikan; ada pula pergaulan semacam itu yang mempunyai pengaruh-pengaruh jahat atau pergaulan yang netral saja. Satu-satunya pengaruh yang dapat dinamakan pendidikan ialah pengaruh yang menuju ke kedewasaan peserta didik. Untuk menolong mereka sanggup memenuhi tugas hidupnya dengan berdiri sendiri.

Tidak semua tunduk atau menurut terhadap orang lain (seperti menurut kepada perintah-perintah peserta didik lain) dapat dikatakan “tunduk terhadap wibawa pendidikan”. Bagaimana sikap peserta didik terhadap kewibawaan pendidik? Dalam hal ini Langeveld menjelaskan dengan dua buah kata :

a. Sikap menurut atau mengikut (volgen)

Yaitu mengakui kekuasaan orang lain yang lebih besar karena paksaan, takut, jadi bukan tunduk atau menurut yang sebenarnya.

b. Sikap tunduk atau patuh (gehoorzamen)

Yaitu dengan sadar mengikuti kewibawaan, artinya mengakui hak pada orang lain untuk memerintah dirinya, dan dirinya merasa sendiri terikat akan memenuhi perintah itu.

Maka kewibawaan berfungsi agar peserta didik memiliki sikap tunduk/patuh secara sukarela dan sasar berhadap segala-segala perintah maupun larangan pendidiknya demi tercapainya tujuan pendidikan. Pelaksanaan kewibawaan dalam pendidikan itu harus bersandarkan perwujudan norma-norma dalam diri guru sebagai pendidik sendiri. Justru karena wibawa dan pelaksanaan wibawa itu sendiri mempunyai tujuan untuk membawa anak ke tingkat kedewasaan, yaitu mengenal dan hidup yang sesuai dengan norma-norma, maka menjadi syarat memberi contoh dengan jalan menyesuaikan dirinya dengan norma-norma itu sendiri. Wallahu’alam.

2. Proses Model Sistem Pembelajaran Kreatif Imajinatif (sebuah pengantar)

Pembagian kelompok usia disesuaikan dengan aturan pemerintah dan beberapa pendapat ahli. Sebagaimana Patmonodewo yang menyatakan bahwa di Indonesia pada umumnya anak yang mengikuti program tempat penitipan anak (TPA) berusia tiga bulan sampai dengan tiga tahun dan yang mengikuti program taman bermain (TB) berusia tiga tahun, sedangkan pada usia 4—6 tahun biasanya mereka mengikuti program taman kanak-kanak (TK). Selanjutnya, mereka mengikuti sekolah dasar (SD) pada usia 6—12 tahun, sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) pada usia 12—15 tahun, dan sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA) pada usia 15—18 tahun.

GURU SEBAGAI PENGEMBANG IMAJINASI ILAHIAH

Peran Guru

Guru merupakan rekan bagi orang tua. Sebagai pendidik, guru berperan sebagai pengembang Imajinasi Ilahiah dengan mensinergikan kecerdasan, ranah, dan Al Islam pada anak. Ketiganya saling memberikan pengaruh dalam mengoptimalkan kemampuan anak dalam berimajinasi yang dijiwai nilai-nilai ilahiah. Pengoptimalan Imajinasi Ilahiah hendaknya diselaraskan dengan peran dan fungsi guru.

Dalam melaksanakan peran, guru hendaknya tetap memperhatikan aspek-aspek pendidikan, yaitu kewibawaan, identifikasi, mengenal perkembangan jiwa, dan mengenal perbedaan individual siswa. Kewibawaan guru bergantung pada sikap guru terhadap siswa-siswanya. Di antara sikap-sikap yang dapat menimbulkan kewibawaan, yaitu sikap tegas, konsekuen, dan menghargai. Identifikasi adalah kesanggupan guru dalam memahami apa saja yang diperlukan siswa-siswanya.

Fungsi Guru

Pada dasarnya, ada dua macam kegiatan yang dilakukan oleh seorang guru, yaitu mengelola sumber belajar dan mengimplementasikan dirinya sebagai sumber belajar.

Guru sebagai pengelola, disebut pula sebagai manajer.

Dalam hal ini, guru menciptakan suatu lingkungan belajar di dalam kelasnya untuk mewujudkan tujuan yang sudah dirumuskan sebelumnya. Terdapat empat fungsi umum yang merupakan ciri pekerjaan seorang guru sebagai manajer : Merencanakan, Mengorganisasikan, Memimpin, Mengawasi, (Davies, 1991).

Guru berfungsi sebagai pelaksana ketika guru melaksanakan kegiatan pembelajaran di kelas. Pengertian ini dapat diartikan secara harfiah, yaitu keberadaan dan aktivitas guru secara fisik di dalam kelas. Ketika guru berfungsi sebagai pelaksana, ia menjadi salah satu dari sumber belajar yang dikelolanya.

Aplikasi

Sesuai dengan tahap perkembangan anak, Model Sistem Pendidikan Bunyan dipersiapkan untuk usia 0—15 tahun, di rumah dengan Model Sistem Pendidikan Interventif, di seklah dengan Model Sistem Pembelajaran Kreatif Imajinatif.

Sinergi Pendidikan Interventif dengan Pembelajaran Kreatif Imajinatif

Pada usia 0—3 tahun, anak sepenuhnya masih berada dalam asuhan dan lingkungan keluarga. Di usia ini tahap perkembangan anak memasuki tahap pengenalan yaitu mengenal siapa dirinya, siapa keluarganya, nama-nama benda di sekitarnya, kata atau kalimat komunikasi keseharian, dan sebagainya..

Tahap selanjutnya, yaitu usia pengembangan dan sosialisasi pada usia 3—6 tahun. Potensi-potensi anak yang sudah mulai terlihat dapat dikembangkan oleh orang tua.

Ketika anak memasuki usia sekolah, yaitu 6—12 tahun, alokasi waktu anak akan lebih banyak dilakukan di luar rumah. Kegiatan tersebut dapat diawali dengan kegiatan sekolah di pagi hari dan bermain di siang hari. Bahkan, kini tidak sedikit yang memiliki jadwal harian untuk belajar di luar rumah, seperti bimbingan belajar materi sekolah dan bimbingan belajar.

Pada usia 12—15 tahun, anak sudah mulai mengenal arti amanah dan tanggung jawab. Tahap kedewasaan diri ini dapat dibina orang tua melalui pemberian kepercayaan kepada anak dalam menentukan aktivitas yang dibutuhkan, lingkungan pergaulan yang baik, dan pengelolaan biaya keseharian. Makin ketatnya jadwal aktivitas dan luasnya pergaulan yang dihadapi menuntut anak untuk dapat menyeimbangkan perannya.

Di rumah, anak berperan sebagai insan yang wajib menghormati kedua orang tuanya. Di sekolah, anak berperan sebagai seorang siswa yang harus disiplin terhadap peraturan yang ada. Di lingkungan pergaulannya, anak berperan sebagai seorang teman yang memiliki toleransi dan solidaritas positif terhadap teman sebayanya. Pembinaan yang dilakukan orang tua sejak anak berusia 0—15 tahun ini merupakan pembekalan optimal dalam mempersiapkan anak menjadi seorang manusia unggul, yaitu berakhlak mulia, cerdas, dan kreatif imajinatif.

3. PROFESIONALISME SEORANG GURU

Guru adalah sebuah jenis pekerjaan yang dilakukan oleh seseorang dalam suatu institusi maupun perorangan yang menyangkut seluruh aktivitas dalam tanggung jawab untuk mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, dan memandu peserta didik dalam rangka menggiring perkembangan peserta didik kearah kedewasaan mental-spiritual maupun fisik-biologis.

Kinerja seorang guru menyangkut semua kegiatan atau tingkah laku yang dialami guru, jawaban yang mereka buat, untuk memberi hasil atau tujuan. Kinerja dapat ditinjau dari berbagai aspek, baik dari sudut guru maupun siswa. Dari sudut siswa kinerja guru bertujuan untuk menimbulkan respon positif dari bakat dan minat seorang siswa yang akan dikembangkan oleh siswa tersebut melalui proses pembelajaran. Dari sudut guru kinerja guru secara spesifik bertujuan mengharuskan para guru membuat keputusan khusus dimana tujuan pengajaran dinyatakan dengan jelas dalam bentuk tingkah laku yang kemudian ditransfer kepada peserta didik. Dalam hal kinerja guru lebih diacu pada aspek mutu , baik dari sudut pandang kepemimpinan maupun aspek tekhnis – didaktis. Aspek kepemimpinan akan terlihat pada

penampilan guru yang berperan sebagai pemimpin siswa dan sesamanya, aspek teknis-dedaktis adalah dimana guru akan memerankan guru sebagai fasilitator dan nara sumber yang siap memberi konsultasi terarah pada siswanya.

Tuntutan kinerja sebagai seorang guru sangat tinggi, baik itu dari dalam maupun dari luar. Dari dalam adalah tuntutan yang bermuara dari individu guru tersebut untuk dapat sebaik baiknya mentransfer disiplin ilmu yang dikuasai, maupun yang paling berat adalah mentransfer nilai-nilai

moral yang semua adalah untuk modal dasar peserta didik untuk dalam menjalankan hidupnya dikemudian hari.

Sedangkan tuntutan dari luar adalah bagaimana menghasilkan output peserta didik yang mampu bersaing dikehidupan nyata. Tuntutan yang paling berat adalah tuntutan dari luar. Dan yang paling populer adalah ungkapan dari masyarakat bahwa guru adalah sosok yang di gugu dan ditiru. Belum lagi selalu terngiang ditelinga kita syair syair lagu “pahlawan tanpa tanda jasa”. Ini jelas sangat menjadi beban moral tersendiri bagi guru untuk menjadi tenaga yang profesional. Melihat kenyataan sekarang ini, tuntutan akan kinerja guru semakin besar. Tuntutan ini bukan hanya sebatas kapasitas sebagai pengajar dan pendidik dikelas, tetapi guru dituntut lebih kreatif, inovatif, mandiri dan profesional. Tuntutan ini disadari atau tidak merupakan suatu kebutuhan sebagai pengajawantahan yang secara eksternal sebagai imbasan atau terkuaknya era globalisasi, dimana didalamnya sarat dengan kompetisi keunggulan.

Disisi lain, secara internal munculnya desakan reformasi yang datang sebagai imbasan sebagai kritis politik, ekonomi, dan moral bangsa. Sehingga dapat kita simpulkan bahwa guru yang menjadi tumpuan harapan masyarakat untuk membangun bangsa patut melakukan pembenahan diri dengan mengerahkan segala kemampuan dengan cerdas. Baik itu cerdas emosional, moral, dan kecerdasan intelektual. Apalagi jelas sekali dalam sejarah perkembangan kemakmuran suatu negara dan bangsa adalah berawal dari kecerdasan seorang guru dalam membina mentalitas para peserta didiknya. Dengan demikian adalah harga mati bagi seorang guru untuk mengoptimalkan kinerjanya sebagai tenaga pendidik yang profesional. Namun tidak kalah pentingnya adalah pemberian reward dari pemerintah bagi sosok guru tersebut, yang pada dasarnya adalah untuk memacu keoptimalan kinerja sebagai seorang profesional. Sehingga kita

tidak perlu lagi mendengar syair lagu “ Pahlawan tanpa tanda jasa”, tetapi “ Pahlawan yang wajib diberi tanda jasa”. Karena indikator makmurnya sebuah bangsa adalah makmurnya para pendidik atau guru.

Guru merupakan sosok yang begitu dihormati lantaran memiliki andil yang sangat besar terhadap keberhasilan pembelajaran di sekolah. Guru sangat berperan dalam membantu perkembangan peserta didik untuk mewujudkan tujuan hidupnya secara optimal. Ketika orang tua mendaftarkan anaknya ke sekolah, ada beberapa harapan yang selalu berputar dalam benak oarang tua peserta didik. Ironisnya kekawatiran di dunia pendidikan kini menyeruak ketika menyaksikan tawuran antar pelajar yang bergejolak dimana-mana. Ada kegalauan muncul kala menjumpai realitas bahwa guru di sekolah lebih banyak menghukum  daripada memberi reward siswanya. Ada kegundahan yang membuncah ketika sosok guru berbuat asusila terhadap siswanya. Kesalahan guru dalam memahami profesinya akan mengakibatkan bergesernya fungsi guru secara perlahan-lahan. Pergeseran ini telah menyebabkan dua pihak yang tadinya sama-sama membawa kepentingan dan salng membutuhkan, yakni guru dan siswa, menjadi tidak lagi saling membutuhkan. Akibatnya suasana belajar sangat memberatkan, membosankan, dan jauh dari suasana yang membahagiakan. Dari sinilah konflik demi konflik muncul sehingga pihak-pihak didalamnya mudah frustasi lantas mudah melampiaskan kegundahan dengan cara-cara yang tidak benar.

Pemerintah sering melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas guru, antara lain melalui seminar, pelatihan, dan loka karya, bahkam melalui pendidikan formal bahkan dengan menyekolahkan guru pada tingkat yang lebih tinggi. Kendatipun dalam pelakansaannya masih jauh dari harapan, dan banyak penyimpangan, namun paling tidak telah menghasilkan suatu kondisi yang yang menunjukkan bahwa sebagian guru memiliki ijazah perguruan tinggi.

Kesalahan-kesalahan yang seringkali tidak disadari oleh guru dalam pembelajaran ada tujuh kesalahan. Kesalahan-kesalahan itu antara lain:

  1. mengambil jalan pintas dalam pembelajaran,
  2. menunggu peserta didik berperilaku negatif,
  3. menggunakan destruktif discipline,
  4. mengabaikan kebutuhan-kebutuhan khusus (perbedaan individu) peserta didik,
  5. merasa diri paling pandai di kelasnya,
  6. tidak adil (diskriminatif), serta
  7. memaksakan hak peserta didik

Untuk mengatasi kesalahan-kesalahan tersebut maka seorang guru yang profesional harus memiliki empat kompetensi. Kompetensi tersebut tertuang dalam Undang-Undang Dosen dan Guru, yakni:

  1. kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik,
  2. kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap, berakhlak mulia, arif, dan berwibawa serta menjadi teladan peserta didik,
  3. kompetensi profesional adalah kamampuan penguasaan materi pelajaran luas mendalam,
  4. kompetensi sosial adalah kemampuan guru untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta didik, sesama guru, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar.

Perilaku guru yang profesional adalah mampu menjadi teladan bagi para peserta didik, mampu mengembangkan kompetensi dalam dirinya, dan mampu mengembangkan potensi para peserta didik. ( Menurut Danni Ronnie M ) Sikap dan perilaku guru yang profesional mencakup enam belas pilar dalam pembangun karakter. Keenam belas pilar tersebut, yakni :

  1. kasih sayang,
  2. penghargaan,
  3. pemberian ruang untuk mengembangkan diri,
  4. kepercayaan,
  5. kerjasama,
  6. saling berbagi,
  7. saling memotivasi,
  8. saling mendengarkan,
  9. saling berinteraksi secara positif,
  10. saling menanamkan nilai-nilai moral,
  11. saling mengingatkan dengan ketulusan hati,
  12. saling menularkan antusiasme,
  13. saling menggali potensi diri,
  14. saling mengajari dengan kerendahan hati,
  15. saling menginsiprasi,
  16. saling menghormati perbedaan.

Sikap dan perilaku guru dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor yang mempengaruhinya berupa faktor eksternal dan internal. Oleh karena itu pendidik harus mampu mengatasi apabila kedua faktor tersebut menimbulkan hal-hal yang negatif. Jangan sampai masalah-masalah dalam kehidupan dibawa kesekolah yang pada akhirnya anak didiknya yang mendapatkan imbasnya dari kemarahan kita akiabat masalah yang dihadapi oleh seorang guru.

PERANAN GURU DI SEKOLAH DAN MASYARAKAT

A. Guru Berkedudukan sebagai Profesional

Dalam ilmu sosiologi kita biasa menemukan dua istilah yangakan selalu berkaitan, yakni status (kedudukan) dan peran social di dalam masyarakat. Status biasanya didefinisikan sebagai suatu peringkat atau posisi seseorang dalam suatu kelompok atau posisi suatu kelompok dalam hubungannya dengan kelompok lain. Sedangkan peran merupakan sebuah perilaku yang diharapkan dari seseorang yang memiliki suatu status tertentu tersebut. Status sebagai guru dapat dipandangan sebagai yang tinggi atau rendah, tergantung di mana ia berada. Sedangkan perannya yang berkedudukan sebagai pendidik seharusnya menunjukkan kelakuan yang layak sesuai harapan masyarakat, dan guru diharapkan berperan sebagai teladan dan rujukan dalam masyarakat dan khususnya anak didik yang dia ajar. Guru tidak hanya memiliki satu peran saja, ia bisa berperan sebagai orang yang dewasa, sebagai seorang pengajar dan sebagai seorang pendidik, sebagai pemberi contoh dan sebagainya. Apabila kita cermati, sebenarnya status dan peran guru tidak lah selalu seragam dan bersifat konsisten sebagaimana tersirat di atas. Ini sesuai dengan standar apa dan mana yang dipakai dalam menentukan keduanya. Penilaian status dan peran pada seorang guru di pedesaan tidaklah sama dengan penilaian status dan peran terhadap seorang guru di perkotaan. Dalam masyarakat industrial dan materialis status dan peran seorang guru tidaklah se-urgen pada masyarakat sederhana atau masyarakat pertanian. Salah satu peran guru adalah sebagai profesional. Jabatan guru sebagai profesional menuntut peningkatan kecakapan dan mutu keguruan secara berkesinambungan. Guru yang berkuali- fikasi profesional, yaitu guru yang tahu secara mendalam tentang apa yang diajarkannya, cakap dalam cara mengajarkannya secara efektif serta efisien, dan guru tersebut punya kepribadian yang mantap Selain itu integritas diri serta kecakapan keguruannya juga perlu ditumbuhkan serta dikembangkan. Setelah kita menganggap bahwa status guru merupakan sebuah jabatan yang profesional, menurut Semana (1994), ia pun dituntut untuk bisa berperan dan menunjukkan citra guru yang ideal dalam masyarakatnya. Dalam hal ini J. Sudarminto, 1990 (dalam Semana, 1994) berpendapat bahwa citra guru yang ideal adalah sadar dan tanggap akan perubahan zaman, pola tindak keguruannya tidak rutin, guru tersebut maju dalam penguasaan dasar keilmuan dan perangkat instrumentalnya (misalnya sistem berpikir, membaca keilmuan, kecakapan problem solving, seminar dan sejenisnya) yang diperlukannya untuk belajar lebih lanjut atau berkesinambungan. Selain itu, guru hendaknya bermoral yang tinggi dan beriman yang mendalam, seluruh tingkah lakunya (baik yang berhubungan dengan tugas keguruannya ataupun sisialitasnya sehari-hari digerakkan oleh nilai-nilai luhur dan taqwanya terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Secara nyata guru ter- sebut harus bertindak jujur, disiplin, adil, setia, susila dan menghayati iman yang hidup. Guru juga harus memiliki kecakapan kerja yang baik dan kedewasaan berpikir yang tinggi sebab guru sebagai pemangku jabatan yang profesional merupakan posisi yang bersifat strategis dalam kehidupan dan pembangunan masyarakat. Guru juga harus terus bisa memantapkan posisi dan perannya lewat usaha- usaha mengembangkan kemampuan diri secara maksimal dan berkesinambungan dalam belajar lebih lanjut. Salah satu yang melandasi pentingnya guru harus terus berusaha mengembang- kan diri karena pendidikan berlangsung sepenjang hayat. Hal ini berlaku untuk diri guru dan siswa di mana usaha seseorang untuk mencapai perkembangan diri serta karyanya tidak pernah selesai (hasilnya tidak pernah mencapai taraf sempurna mutlak). Selainitu bahwa sistem pengajaran, materi pengajaran dan penyam-paiannya kepada siswa selalu perlu dikembangkan. Hal ini meru- pakan dampak dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Upaya pengembangan sistem pengajaran, pembenahan isi serta teknologi organisasi materi pengajaran dan pencarian pendekatan strategi, metode, teknik pengajaran (perkembangan diri siswa) selalu perlu dikaji dan atau dikembangkan demi efektivitas dan efisiensi kerja kependidikan.

B. Peranan guru terhadap anak didik

Peranan guru terhadap murid-muridnya merupakan peran vital dari sekian banyak peran yang harus ia jalani. Hal ini dika- renakan komunitas utama yang menjadi wilayah tugas guru adalah di dalam kelas untuk memberikan keteladanan, pengalaman serta ilmu pengetahuan kepada mereka. Begitupun peranan guru atas murid-muridnya tadi bisa dibagi menjadi dua jenis menurut situasi interaksi sosial yang mereka hadapi, yakni situasi formal dalam proses belajar mengajar di kelas dan dalam situasi informal di luar kelas. Dalam situasi formal, seorang guru harus bisa menempatkan dirinya sebagai seorang yang mempunyai kewibawaan dan otoritas tinggi, guru harus bisa menguasai kelas dan bisa mengontrol anak didiknya. Hal ini sangat perlu guna menunjang keberhasilan dari tugas-tugas guru yang bersangkutan yakni mengajar dan mendidik murid-muridnya. Hal-hal yang bersifat pemaksaan pun kadang perlu digunakan demi tujuan di atas. Misalkan pada saat guru menyampaikan materi belajar padahal waktu ujian sangat mendesak, pada saat bersamaan ada seorang murid ramai sendiri sehingga menganggu suasana belajar mengajar di kelas, maka guru yang bersangkutan memaksa anak tadi untuk diam sejenak sampai pelajaran selesai dengan cara-cara tertentu. Tentunya hal di atas juga harus disertai dengan adanya keteladanan dan kewibawaan yang tinggi pada seorang guru. Keteladanan sangatlah penting. Hal ini sejalan dengan teori “Mekanisme Belajar” yang disampaikan David O Sears (1985) bahwa ada tiga mekanisme umum yang terjadi dalam proses belajar anak. Yang pertama adalah asosiasi atau classical condotioning ini berdasarkan dari percobaan yang dilakukan Pavlov pada seekor anjing. Anjing tersebut belajar mengeluarkan air liur pada saat bel berbunyi karena sebelumnya disajikan daging setiap saat terdengar bel. Setelah beberapa saat, anjing itu akan mengeluarkan air liur bila terdengar bunyi bel meskipun tidak disajikan daging, karena anjing tadi mengasosiasikan bel dengan daging. Kita juga belajar berperilaku dengan asosiasi. Misalnya, kata “Nazi” biasanya diasosiasikan dengan kejahatan yang mengerikan. Kita belajar bahwa Nazi adalah jahat karena kita telah belajar mengasosiasikannya dengan hal yang mengerikan. Mekanisme belajar yang kedua adalah reinforcement, orang belajar menampilkan perilaku tertentu karena perilaku itu disertai dengan sesuatu yang menyenangkan dan dapat memuaskan kebutuhan (atau mereka belajar menghindari perilaku yang disertai akibat-akibat yang tidak menyenangkan). Seorang anak mungkin belajar membalas penghinaan yang diterimanya di sekolah dengan mengajak berkelahi si pengejek karena ayahnya selalu memberikan pujian bila dia membela hak-haknya. Seorang mahasiswa juga mungkin belajar untuk tidak menentang sang profesor di kelas karena setiap kali dia melakukan hal itu, sang profesor selalu mengerutkan dahi, tampak marah dan membentaknya kembali.

Mekanisme belajar utama yang ketiga adalah imitasi. Seringkali orang mempelajari sikap dan perilaku sosial dengan meniru sikap dan perilaku yang menjadi model. Seorang anak kecil dapat belajar bagaimana menyalakan perapian dengan meniru bagaimana ibunya melakukan hal itu. Anak-anak remaja mungkin menentukan sikap politik mereka dengan meniru pembicaraan orang tua mereka selama kampanye pemilihan umum. Imitasi ini bisa terjadi tanpa adanya reinforcement eksternal dan hanya melalui observasi biasa terhadap model. Di antara ketiga macam mekanisme belajar di atas, imitasi adalah mekanisme yang paling kuat. Dalam banyak hal anak-anak cenderung meniru perilaku orang dewasa dan selain orang tua si anak, guru di sekolah merupakan orang dewasa terdekat keduabagi mereka. Bahkan di zaman sekarang ini banyak terjadi kasus anak lebih mempunyai kepercayaan terhadap guru dibanding pada orang tua mereka sendiri. Maka dari itulah seorang guru harus bisa menunjukkan sikap dan keteladanan yang baik di hadapan murid-muridnya, biar dikemudian hari tidak akan ada istilah ‘guru kencing berdiri, murid kencing berlari’. Selain keteladanan, kewibawaan juga perlu. Dengan kewibawaan guru menegakkan disiplin demi kelancaran dan ketertiban proses belajar mengajar. Dalam pendidikan,

kewibawaan merupakan syarat mutlak mendidik dan membimbing anak dalam perkembangannya ke arah tujuan pendidikan. Bimbingan atau pendidikan hanya mungkin bila ada kepatuhan dari pihak anak dan kepatuhan diperoleh bila pendidik mempunyai kewibawaan.Kewibawaan dan kepatuhan merupakan dua hal yang komple-menter untuk menjamin adanya disiplin (S. Nasution, 1995).

C. Peranan Guru dalam Masyarakat

Peranan guru dalam masyarakat tergantung pada gambaran asyarakat tentang kedudukan guru dan ststus sosialnya di engan negara lain dan dari satu zaman ke zaman lain pula. Di egara-negara maju biasanya guru di tempatkan pada posisi sosial ang tinggi atas peranan-peranannya yang penting dalam proses encerdaskan bangsa. Namun keadaan ini akan jarang kita temui i negara-negara berkembang seperti Indonesia. ebenarnya peranan itu juga tidak terlepas dari kualitas ribadi guru yang bersangkutan serrta kompetensi mereka dalam ekerja. Pada masyarakat yang paling menghargai guru pun akan angat sulit untuk berperan banyak dan mendapatkan kedudukan osial yang tinggi jika seorang guru tidak memiliki kecakapan dan ompetensi di bidangnya. Ia akan tersisih dari persaingan dengan uru-guru lainnya. Apalagi guru-guru yang tidak bisa memberikan keteladanan bagi para muridnya, sudah barang tentu ia justru enjadi bahan pembicaraan orang banyak. Jika dihadapan para uridnya seorang guru harus bisa menjadi teladan, ia pun ituntut hal yang sama di dalam berinteraksi dengan masyarakat ekitar. enghargaan atas peranan guru di negara kita bisa dibedakan enjadi dua macam. Pertama, penghargaan sosial, yakni penghar- aan atas jasa guru dalam masyarakat. Dilihat dari sikap-sikap osial anggota masyarakat serta penempatan posisi guru dalam tratifikasi sosial masyarakat yang bersangkutan. Hal semacam ini kan tampak jelas kita amati pada mayarakat pedesaan yang mana ereka selalu menunjukkan rasa hormat dan santun terhadap ara guru yang menjadi pengajar bagi anak-anak mereka. Mereka masyarakat) lebih biasa memberi kata-kata sapaan santun erhadap guru seperti pak guru, mas guru dan sebagainya aripada profesi-profesi yang lain.

Kedua, adalah penghargaan ekonomis, yakni penghargaan tas peran guru dipandang dari seberapa besar gaji yang diterima leh guru. Dengan kondisi gaji guru-guru di Indonesia sampai ahun 2000 an ini, tidak mungkin menjadi sejahtera dalam hal konomi hanya dengan pekerjaan mangajarnya saja. Hal inilah ang menjadikan kurang maksimalnya peranan guru dalam enjalankan tugas mengajar apalagi melakukan pengabdian pada asyarakat.Dalam perspektif perubahan sosial, guru yang baik tidak saja arus mampu melaksanakan tugas profesionalnya di dalam kelas, amun harus pula berperan melaksanakan tugas-tugas pembelajaran di luar kelas atau di dalam masyarakat. Hal tersebut sesuai ula dengan kedudukan mereka sebagai agent of change yang erperan sebagai inovator, motivator dan fasilitator terhadap emajuan serta pembaharuan.Dalam masyarakat, guru adalah sebagai pemimpin yang enjadi panutan atau teladan serta contoh (reference) bagi masyarakat sekitar. Mereka adalah pemegang norma dan nilai-nilai yang arus dijaga dan dilaksanakan. Ini dapat kita lihat bahwa betapa capan guru dalam masyarakat sangat berpengaruh terhadap rang lain. Ki Hajar Dewantoro menggambarkan peran guru ebagai stake holder atau tokoh panutan dengan ungkapan-ungkapan Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madya Mangun Karso, Tut WuriHandayani.

Di sini tampak jelas bahwa guru memang sebagai “pemeranaktif”, dalam keseluruhan aktivitas masyarakat sercara holistik.Tentunya para guru harus bisa memposisikan dirinya sebagai gen yang benar-benar membangun, sebagai pelaku propagandayang bijak dan menuju ke arah yang positif bagi perkembangan asyarakat.

D. Peranan Guru terhadap Guru Lain

Kalimat di atas mengandung makna bahwa seorang guru arus bisa berperan untuk kepentingan komunitasnya sendiri,yakni komunitas para guru. Sebagai sebuah profesi, biasanyahubungan antar guru satu dengan guru lainnya diwadahi olehorganisasi yang menaungi dan mewadahi aspirasi mereka. Dinegara kita organisasi yang menaungi para guru, misalnya: PGT(Persatuan Guru TK), PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia)dan sebagainya. Lewat organisasi-organisasi ini para guru bisasaling berkomunikasi dan memperjuangkan kepentingan bersamamereka dengan semangatkebersamaan yang tinggi sehingga apayang menjadi keinginan para guru relatif lebih mudah dicapai.Pertanyaan yang mendasar sehubungan dengan jenis-jenisorganisasi profesi keguruan tersebut adalah sejauh mana programserta kegiatannya menyentuh kebutuhan diri guru serta pengembangan karirnya?. Secara operasional seharusnya perjuangan danpembinaan yang dilakukan oleh organisasi profesi keguruan tersebut dapat mengangkat martabat guru yang menjadi anggotanya,memberi perlindungan hukum bagi guru, meningkatkan kesejah-teraan hidup guru, memandu serta mengusahakan peluang untukpengembangan karir guru, dan membantu ikut memecahkankonflik-konflik dan masalah-masalah yang dialami atau yangdihadapi oleh para guru .

BAB III

PENUTUP


A. KESIMPULAN

Guru adalah sebuah jenis pekerjaan yang dilakukan oleh seseorang dalam suatu institusi maupun perorangan yang menyangkut seluruh aktivitas dalam tanggung jawab untuk mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, dan memandu peserta didik dalam rangka menggiring perkembangan peserta didik kearah kedewasaan mental-spiritual maupun fisik-biologis.

Kinerja seorang guru menyangkut semua kegiatan atau tingkah laku yang dialami guru, jawaban yang mereka buat, untuk memberi hasil atau tujuan. Kinerja dapat ditinjau dari berbagai aspek, baik dari sudut guru maupun siswa. Dari sudut siswa kinerja guru bertujuan untuk menimbulkan respon positif dari bakat dan minat seorang siswa yang akan dikembangkan oleh siswa tersebut melalui proses pembelajaran. Dari sudut guru kinerja guru secara spesifik bertujuan mengharuskan para guru membuat keputusan khusus dimana tujuan pengajaran dinyatakan dengan jelas dalam bentuk tingkah laku yang kemudian ditransfer kepada peserta didik. Dalam hal kinerja guru lebih diacu pada aspek mutu , baik dari sudut pandang kepemimpinan maupun aspek tekhnis – didaktis. Aspek kepemimpinan akan terlihat pada

penampilan guru yang berperan sebagai pemimpin siswa dan sesamanya, aspek teknis-dedaktis adalah dimana guru akan memerankan guru sebagai fasilitator dan nara sumber yang siap memberi konsultasi terarah pada siswanya.

B. SARAN DAN KRITIK

Pemakalah sangat sadar akan kekurangan-kekurangan yang ada dalam makalah ini, karena eksistensi kita sebagai manusia tidak luput dari khilaf dan salah, oleh karena itu pemakalah sangat mengharapkan masukan-masukan yang membangun dari siding pembaca, demi kesempurnaan dari makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.scribd.com/doc/30696054/Profesionalisme-Seorang-Guru

Nasution, Harun, Pembaharuan Dalam Islam, sejarah Pemikiran dan Gerakan, Jakarta: PT Bulan Bintang, 1975.

Ensiklopedi Islam, Jakarta: PT Ichtiat Baru Van Hoeve, 2000.

Ensiklopedi Islam, Jakarta: PT Ichtiat Baru Van Hoeve, 2005.


[1] Ensiklopedi Islam, Jakarta: PT Ichtiat Baru Van Hoeve, 2005.Hal. 5

[2] Ensiklopedi Islam, Jakarta: PT Ichtiat Baru Van Hoeve, 2000.

[3] http://www.scribd.com/doc/30696054/Profesionalisme-Seorang-Guru

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Assalamu’alaikum Wr. Wb

It’s Me …………..

Terimakasih telah berkunjung ke blog sederhana ku,
berkunjunglah kembali dan jangan lupa komentari setiap karya tulisan ku.
Salam Kenal.

My Kalender

Juli 2010
M S S R K J S
    Okt »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 13 pengikut lainnya.

Games

My Filckr

You Felt Your Heart Glow

Parasitfluga / Tachinid Fly (Tachina fera)

Watersport

More Photos

My Music

Hours & Info

021-92833529
masuk kerja : 06.30
pulang kerja : 14.00
kuliah : 18.30 - 22.00
Pagar Alam dot Com

Berbagi Informasi Pendidikan dan Pembelajaran Matematika

Ruang Keluarga

Problematika & Solusi Teruntuk Pasangan Suami Istr

Irfan Handi

Hanya Ingin Berbagi

PressDesain

Just Wanna Share

Syarifah Umamah

Assalamu'alaikum

Made Nuryadi

Belajar dan Berbagi Seputar Dunia Pendidikan

Welcome to Ufi Luthfiyah Blog's

My Word My WordPress.com

tentang PENDIDIKAN~

konseling, pembelajaran, dan manajemen pendidikan

Dunia Seni & Teknologi

Dengan Seni Hidup Lebih Indah, Dengan Teknologi Hidup Lebih Mudah....

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: