Welcome to Ufi Luthfiyah Blog's

Pendidikan Nasional

Posted on: 26 November 2010

A. Pendidikan Nasional dan Proses Transformasi Budaya Menuju Peradaban Negara Indonesia

Berangkat dari pandangan tentang peranan strategis lembaga pendidikan dalam proses transformasi budaya, bab ini secara analitis memfokuskan betapa secara tertulis pemerintahan telah menetapkan arahan dan fungsi berbagai lembaga pendidikan, baik melalui undang-undang maupun GBHN, untuk menjadikan lembaga pendidikan sebagai pusat pembudayaan kemampuan, nilai, dan sikap di satu pihak, tetapi di pihak lain dalam praktik, lembaga-lembaga pendidikan (sekolah) belum beranjak dari fungsinya sebagai lembaga penyaji pengetahuan hafalan semata. Untuk itu, setiap lembaga pendidikan dari TK sampai perguruan tinggi difokus dan dikaji, juga betapa GBHN 1999 yang secara lebih eksplisit menetapkan lembaga pendidikan sebagai pusat pembudayaan menurut dinaikkannya anggaran pendidikan secara berarti sampai sekarang belum diwujudkan oleh pemerintah.

I. Kondisi Pendidikan Nasional

Dilihat dari segi pemberian kesempatan untuk memperoleh pendidikan, sebagaimana dituntut oleh Pasal 31 Ayat (1) UUD 1945, perkembangan pendidikan di Indonesia telah dapat dijadikan contoh bagi banyak Negara berkembang. Fungsi pendidikan nasional, sebagaimana digariskan dalam Undang-undang No.2 Tahun 1989, dirumuskan dalam kalimat berikut : “ Pembangunan Nasional di bidang pendidikan adalah upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia dalam mewujudkan masyarakat yang maju, adil, dan makmur, serta memungkinkan warganya mengembangkan diri, baik berkenaan dengan aspek jasmaniah maupun rohaniah, berdasarkan Pancasila dan UUD 1945”.

Berbagai krisis yang bermula dari krisis keuangan, memberikan bukti kepada kita bahwa sasaran umum pendidikan nasional, seperti meningkatnya kecerdasan bangsa serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia Indonesia belum tercapai. Hal ini terbukti dari ketergantungan kita pada modal, teknologi, dan keahlian impor, serta masih tingginya presentase rakyat yang berada di bawah garis kemiskinan dan tingginya angka tuna pekerjaan.

Apabila dilihat dari rumusan tujuan pendidikan nasional dan fungsi setiap jenjang pendidikan yang tercantum dalam Undang – undang No. 2 Tahun 1989 sesungguhnya sistem pendidikan nasional telah dirancang untuk tujuan tersebut, sebagaimana dapat dibaca pada kutipan berikut ini :

a.       Tujuan Pendidikan Nasional (Pasal 4): “Pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan”.

b.      Fungsi Pendidikan Dasar (Pasal 12 Ayat (1)): “Pendidikan dasar diselenggarakan untuk mengembangkan sikap dan kemampuan serta memberikan pengetahuan dan keterampilan dasar yang diperlukan untuk hidup dalam masyarakat, serta mempersiapkan peserta didik yang memenuhi persyaratan untuk mengikuti pendidikan menengah”.

c.       Fungsi Pendidikan Menengah (Pasal 15 Ayat (1)): “Pendidikan mengengah diselenggarakan untuk melanjutkan dan meluaskan pendidikan dasar serta menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial, budaya, dan alam sekitar, serta dapat mengembangkan kemampuan lebih lanjut dalam dunia kerja atau pendidikan tinggi”.

d.      Fungsi Pendidikan Tinggi (Pasal 16 Ayat (1)): “Pendidikan tinggi merupakan kelanjutan dari pendidikan menengah yang diselenggarakan untuk menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyatakat yang memiliki kemampuan akademik dan/atau profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan/atau menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau kesenian”.

e.        GBHN 1999-2004 : “Pendidikan nasional bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia, yaitu: manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi luhur, berkepribadian, mandiri, maju, profesional, bertanggung jawab, dan produktif, serta sehat jasmani dan rohani”.

Sistem pendidikan yang telah merata, dan secara filosofis, baik tujuan maupun fungsinya, telah sejalan dengan cita-cita pembangunan bangsa, belum berhasil mempengaruhi kinerja sistem sosial Negara secara efektif dalam menghadapi krisis multidimensi. Oleh karena itu kondis infrakstruktur dan peranan pemertintah sangat penting. Dibawah ini penjelasannya :

1. Kondisi infrastruktur dan berbagai komponen pendidikan sebagai pendukung dapat berlangsungnya pendidikan sebagai proses pembudayaan.

Sekolah pada umumnya hanya gedung dengan ruang kelas yang dilengkapi dengan bangku yang berjejer secara statis, dengan halaman yang tidak dapat digunakan untuk bermain, tanpa fasilitas untuk olahraga, tanpa fasilitas untuk rekreasi dan berbagai proses pembelajaran, seperti belajar botani di kebun, belajar fisika di laboratorium, belajar IPS dengan bermain peran, berolahraga di lapangan olahraga, kewajiban membaca buku dan menyusun laporan tertulis serta menyajikannya secara lisan dengan didukung oleh sistem evaluasi yang relevan.

Dengan kondisi fasilitas seperti itu, guru harus menghadapi kelas dengan jumlah peserta didik antara 40-50 orang, suatu jumlah yang tidak memungkinkan terjadinya interaksi kependidikan yang berarti.      Kondisi fasilitas pendidikan dan terbatasan waktu guru untuk berperan sebagai pendidik dalam arti yang sesungguhnya diperparah dengan sistem kurikulum yang meliputi banyak mata pelajaran. Dan ketebatasan bahan bacaan dan buku pelajaran, baik bagi peserta didik maupun guru, menambah miskinnya sekolah sebagai pusat pembelajaran yang bermakna sebagai proses sosialisasi dan pembudayaan berbagai kemampuan, nilai, sikap, watak, dan perilaku. Kondisi yang tidak menguntungkan ini juga dihadapi dunia perguruan tinggi pada umumnya. Dalam pengertian yang sesungguhnya, kita sebenarnya, pada sebagian universitas, belum memiliki kampus, tetapi hanya memiliki ruang perkuliahan tempat mengikuti kuliah. Padahal, dalam konsepsi sistem kredit, kegiatan perkuliahan hanyalah 1/3 dari proses pembelajaran yang harus ditempuh oleh seorang mahasiswa. Dengan kurikulum yang menekankan pada kecepatan belajar, banyak mahasiswa yang mengmbil 22 SKS, menjadikan universitas bukan “higher learning institute”, melainkan hanya sebagi perpanjangan sekolah menengah. Akibatnya, sebagian besar lulusan pergueuan tinggi tidak sempat mencintai imunya. Karena itu,  banyak lulusan perguruan tinggi yang tanpa merasa sedih memasuki karier yang diluar disiplin ilmu atau profesinya. Keadaaan ini diperparah dengan setidaknya waktu dosen untukdapat berinteraksi secara intelektual dengan para mahasiswa, karena banyak dosen, terutama yang terkenal, lebih banyak waktunya di luar kampus. Padahal, interaksi secara intelektual antara dosen dan mahasiswa, yang merupakan tradisi yang berasal dari Canbridge Univesity and Harvard University, adalah tradisi yang telah menjadikan universitas di Eropa dan Amerika Utara menjadi pusat pengembangan iptek yang mangubah dunia.

2. Peranan pemerintah dalam melaksanakan sistem pendidikan nasional yang mampu menunjang pembangunan peradaban Negara.

Tekad pemerintah Negara bangsa Indonesia untuk mencedaskan kehidupan bangsa yang yang didukung sepenuhnya dengan pasal 31 ayat (2) yang menyatakan bahwa pemerintah menyelenggarakan satu sistem pengajaran (maksudnya pendidikan) nasional, merupakan landasan yang kuat untuk managih pemerintah Negara Republik Indonesia untuk mendudukkan pendidikan sebagagi prioritas pertama dan utama infrastruktur dan fasilitas pendidikan, ketersediaan tenaga yang memadai, serta ketersediaan segala fasilitas kependidikan di masyarakat dan dukungan penuh bagi dapatnya peserta didik usia wajib belajar yang bermutu sesuai denagan UUD 1945, adalh sepenuhnya tanggung jawab pemerintah Negara Republik Indonesia di tingkat pusat, tingkat pemerintah daerah tingkat I, dan pemerintah daerah tingkat II.

Meningkatnya partisipasi angkatan muda Indonesia (usia 19-24 tahun) dalam pendidikan tinggi yang sebagian besar hanya merupakan perpanjangan pendidikan menengah hanya amelahirkan tenaga yang merasa berpendidikan sarjana, tetapi tidak memiliki kemampuan intelektual dan professional sebagai sarjana merupakan hal yang tidak perlu. Karena itu, pemerintah dan seluruh kekuatan nasional perlu menyatukan kemauan polotik untuk benar – benar meletakkan pendidikan nasoanal sebagai prioritas utama dan pertama melalui pegelokasian danan nasional yang besumber dari berbagai potensi nasional yang memmungkinkan terlaksananya funsi pendidikan nasional guna mencapai misi dan tujuan pendidikan nasoanal.

Di Negara maju yang menganut pendekatan Negara kesejahteraan, seperti Jerman, Belanda, Negara – negara Skandinavia (Swedia, Denmark, Norwegia, Finlandia), Inggris raya, dan Amerika Serikat, sejak mereka belum merupakan Negara kaya, pendidikan diletakkan sebagai prioritas pertama dan utama. Di Republik Federal Jerman, masuk sekolah yang bermutu, dari SD sampai universitas, adalah geratis, dengan konsekuensi hamper tidak ada lembaga swasta yang mampu mendirikan sekolah untuk bersaing dengan sekolah pemerintah. Di Negara Belanda, dengan 37% anggaran belanja Negara untuk pendidikan, sekolah swasta pun dibiayai oleh pemerintah. Dan di Negara-negara Asia Timur dan Tenggara, hanya di Indonesia yang alokasi anggaran untuk pendidikannya sangat rendah dan unit cost-nya pun terendah di dunia, hanya nomor 2 dari bawah setelah Bolivia (tahun 1987).

II. Makna pendidikan nasional sebagai wahana transformasi budaya menuju peradaban Negara Indonesia terhadap penyelenggaraan pendidikan.

Berangkat dari dasar pemikiran tentang kedudukan sistem pendidikan nasional sebagai wahana bagi tranformasi budaya menuju peradaban Negara bangsa dan setelah mengkaji kondisi pendidikan nasional diukur dari fungsinya secara efektif sistem pendidikan nasional, bagian ini direncanakan untuk menjawab secara lebih konkret pertanyaan yang berkaitan dengan peranan misi nasional setiap lembaga pendidikan, dari prasekolah sampai pendidikan tinggi, termasuk pendidikan gurunya.

Bagaimana wujud terlaksanakannya sistem pendidikan nasional yang relevan bagi transformasi budaya menuju pembangunan peradaban bangsa? Berikut diajukan pemikiran yang berarti dengan pendidikan prasekolah, pendidikan dasar, pendidikan menengah, pendidikan tinggi, pendidikan guru, dan pengembangan kebudayaan.

a. Pendidikan Prasekolah

Disadari pentingnya perkembangan anak prasekolah (0-6 tahun) bagi perkembangan selanjutnya, baik secara intelektual, sosio-emosional, maupun fisik bagi peningkatan kulitas manusia selanjutnya. Program pembinaan anak usia dini yang saat ini terbatas baru mencapai sasaran di bawah 18% anak prasekolah, baik usia balita maupun TK, perlu dikembangkan secara berencana, sistematis, dan meluas. Untuk itu perhatian pemerintah, lembaga masyarakat, dan masyarakat perlu ditingkatkan sehingga dapat menggerakkan seluruh lapisan masyarakat unutk menyelenggarakan dan memberikan dukungan bagi dapat terjangkaunya seluruh anak prasekolah oleh pelayanan pembinaan anak usia dini.

 

b. Pendidikan Dasar

Telah menjadi kewajiban konstitusional bagi Pemerintah RI untuk memberikan layanan pendidikan dasar 9 tahun bagi semua anak usia sekolah (7-15 tahun). Ini berarti pemerintah harus meyelenggarakan pendidikan dasar yang dapat memberikan bekal bagi setiap warganya untuk memiliki kemampuan, sikap, pengetahuan, dan keterampilan untuk dapat hidup dalam masyarakat Indonesia di era globalisasi. Wujud dari tanggung jawab ini adalah tersedianya layanan pendidikan dasar tanpa memandang asal usul, agama, etnis, ras serta latar belakang sosial ekonomi. Karena itu, terselenggaranya pendidikan dasar yang tidak memungut biaya dari orang tua merupakan bentuk aktualisasi dari tanggung jawab konstitusional pemerintah.

Demikian strategisnya kedudukan pendidikan dasar bagi peningkatan kemampuan manusia Indonesia menuntut dikelolanya pendidikan dasar secara professional sehingga dapat menjadi tumpuan bagi pengembangan manusia Indonesia seutuhnya. Karena itu, penyelenggaraan pendidikan dasar perlu memperoleh dukungan dana yang memadai. Namun, dukungan sarana dan prasarananya sangat terbatas dan serba kekurangan sehingga proses pembelajaran yang diikuti belum memungkinkan terjadinya proses sosialisasi dan pembudayaan serta pengembangan kemampuan peserta didik sehingga ia mampu memperbaiki mutu kehidupannya.

 

 

c. Pendidikan Menengah

Pendidikan menengah berfungsi menyiapkan anggota masyarakat untuk dapat mengembangkan diri di dunia kerja dan/atau di pendidikan tinggi. Ini berarti kualitas calon tenaga kerja menengah dan calon tenaga ilmuwan serta teknologi Indonesia ditentukan oleh kualitas proses belajar dan mutu hasil belajar pada pendidikan menengah. Untuk itu, pendidikan pada tingkat ini harus mampu menciptakan dan mengembangkan situasi dan proses pembelajaran yang mendorong dilakukannya kegiatan belajar untuk mengetahui dan menemukan sesuatu (learning to know), belajar melakukan dan mengerjakan (learning to do), belajar untuk mandri (learning to be), dan belajar untuk hidup bersama orang lain apa pun latar belakangnya (learning to live together).

 

d. Pendidikan Tinggi dan Pengembangan iptek

Pendidikan tinggi diselenggarakan untuk menyiapkan peserta didik untuk menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan/atau professional yang dapat menerapkan, mengembangkan, dan/atau menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi dan/atau kesenian serta memiliki watak dan kepribadian yang utuh dengan semangat pengabdian kepada ilmu pengetahuan/profesi, Negara bangsa, masyarakat serta memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi.

Memahami kedudukan strategis perguruan tinggi sebagai sarana pengembangan ilmuwan, teknologi, dan iptek yang bermutu, di tengah masyarakat yang kemampuan ekonominya belum tinggi dan dunia industriyang belum maju, pemerintah masih harus memberikan dukungan penuh kepada universitas dan institute agar dapat melaksanakan misinya secara memadai. Pemberian otonomi secara luas yang ditafsirkan sebagai lepas tangannya pemerintah dalam membiayai penyelenggaraan perguruan tinggi negeri perlu ditinjau kembali.

 

e. Pendidikan Guru dan Tenaga Kependidikan

Diantara faktor yang mempengaruhi tinggi rendanya mutu pendidikan, guru adalah salah satu yang menentukan. Dengan pendidikan yang belum memuaskan, baik dilihat dari kemampuan kognitif elementer, seperti ditunjukkan oleh rendahnya hasil ujian nasional atau rendahnya UMPTN maupun dilihat dari sikap dan disiplin generasi muda pada umumnya, seperti ditunjukkan dengan sering terjadinya tawuran pelajar, tingkah laku yang bertentangan dengan norama kesusilaan, kemanusiaan, dan keagamaan pada umumnya, maka peningkatan mutu pendidikan tidak dapat ditunda.

Di samping masalah kualitatif pendidikan, maslah guru adalah penyebaran yang belum merata; ada sekolah yang sangat kurang guru dan ada sekolah yang kelebihan guru. Dalam hal ini, disadari bahwa daya tarik jabatan guru, dengan perkembangan ekonomi dan industri, menjadi sangat rendah. Memasuki Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) belum merupakan pilihan utama lulusan SLTA (SMA).

Sesungguhnya dalam pendidikan yang missal, peranan guru harus benar-benar sesuai dengan moto Ki Hajar Dewantara, yaitu “Ing Narso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani”. Untuk itu, guru harus benar-benar menyiapkan bahan pelajaran, baik sebagai pengetahuan maupun sebagai “ways of knowing”. Untuk itu pula pemilihan calon guru harus dengan seleksi yang ketat, baik dari segi kemampuan akademik maupun kepribadiannya; dan ini hanya dapat dilaksanakan apabila calon guru diberi ikatan dinas dan ada kepastian penempatan bagi lulusannya, serta selama pendidikan ditentukan di asrama calon guru.

Selain persyaratan tersebut, dalam proses pendidikannya calon guru sejak dini diperkenalkan dengan anak didik dalam proses perkembangannya. Untuk itu, Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) harus dilengkapi dengan sekolah model, dari SD samapi SLTA. Dalam kaitan dengan hal ini, kebijaksanaan mengubah IKIP menjadi Universitas tampaknya diragukan efektivitasnya untuk dapat menghasilkan guru yang bermutu.

Disamping proses penyaringan, dalam pendidikan guru yang dilaksanakan secara professional penempatan dan pembinaan guru pun harus didukung dengan pendanaan yang memadai sehingga dapat dilaksanakan “deployment” dan “re-deployment” yang dinamis. Termasuk mutasi dlaam rangka promosi pendidikan lanjut.

 

f. Pengembangan Kebudayaan Nasional

Menunjukakan kebudayaan nasional adalah tugas konstitusional Pemerintah Negeri Republik Indonesia. Dalam kaitan ini, kita harus sadar bahwa dlam era globalisasi, kebudayaan yang meliputi dimensi kognitif (ilmu pengetahuan dan teknologi), seni dan norma-norma yang meliputi unsur-unsur warisan budaya yang harus dikembangkan, budaya nasional yang harus dikembangkan dalam membangun Negara dan bangsa, dan budaya nasional yang meliputi dimensi politik, ekonomi, dan iptek. Berdasarkan pemikiran tersebut perkembangan kebudayaan nasional harus meliputi :

1.      Pemeliharaan dan pengembangan warisan budaya seperti yang dikelola oleh Direktorat Jendral Kebudayaan.

2.      Pengembangan dan pembudayaan nilai-nilai budaya nasional (sosial, politik, dan ekonomi) melalui proses penegakkan hokum dan proses pendidikan sebagai proses sosialisasi dan pembudayaan nilai-nilai kebudayaan melalui keluarga, sekolah, dan perguruan tinggi, dan

Pembangunan dimensi nilai – nilai budaya nasional yang bersifat mendial melalui pendidikan dan lembaga kebudayaan seperti IPTEK.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Assalamu’alaikum Wr. Wb

It’s Me …………..

Terimakasih telah berkunjung ke blog sederhana ku,
berkunjunglah kembali dan jangan lupa komentari setiap karya tulisan ku.
Salam Kenal.

My Kalender

November 2010
M S S R K J S
« Okt   Des »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 2.040 pengikut lainnya

My Arsip

Hours & Info

021-92833529
masuk kerja : 06.30
pulang kerja : 14.00
kuliah : 18.30 - 22.00

My Instagram

Mug couple
Nanangpati's Blog

AL I'TIMADU 'ALAN NAFSI ASASUN NAJAH

Pagar Alam dot Com

Berbagi Informasi Pendidikan dan Pembelajaran Matematika

Ruang Keluarga

Problematika & Solusi Teruntuk Pasangan Suami Istr

Irfan Handi

Hanya Ingin Berbagi

PressDesain

Just Wanna Share

Syarifah Umamah

Assalamu'alaikum

Made Nuryadi

Belajar dan Berbagi Seputar Dunia Pendidikan

Welcome to Ufi Luthfiyah Blog's

My Word My WordPress.com

tentang PENDIDIKAN

AKHMAD SUDRAJAT

Dunia Seni & Teknologi

Dengan Seni Hidup Lebih Indah, Dengan Teknologi Hidup Lebih Mudah....

%d blogger menyukai ini: