Welcome to Ufi Luthfiyah Blog's

Archive for the ‘Pendidikan matematika’ Category

Berbagi pengalaman tentang menghitung deskripsi data kelompok pada skripsi yang pernah saya laksanakan tahun 2014. semoga bermanfaat 🙂

 

No. Resp

Pretes

Skor

Nilai
K1 8

32

K2

15 60

K3

10 40

K4

17 68

K5

10 40

K6

18 72
K7 12

48

K8

11

44

K9 13

52

K10

14

56

K11 17

68

K12

15

60

K13

16

64

K14

6

24

K15

8

32

K16

8

32

K17

5

20

K18

8

32

K19

9

36

K20

5

20

K21

13

52

K22

5

20

K23

8

32

K24

11 44

K25

14 56

K26

11

44

K27 12

48

K28 8

32

K29

16 64
K30 6

24

K31

11

44

K32 13

52

Rata-rata

44,5

di atas data pretes yang akan kita hitung

Perhitungan Deskripsi Data

Dari data hasil penelitian

Maka dapat dihitung perhitungan deskripsi data, yang meliputi:

1.      Deskripsi Data Pretes pada Kelas Kontrol

Langkah-langkah:

a.      Menghitung Jumlah Kelas Interval

K= 1+3,3 log n

K= 1+3,3 log(32)

K= 1+3,3 (1,51)

K= 5,983 ≈ 6

b.      Menghitung Rentang Data

R= Dmax – Dmin

R= 72 – 20

R= 52

c.       Menghitung Panjang Kelas

P= Rentang Data/Kelas Interval

P= 52/6

P= 8,67 ≈ 9

         d.      Menyusun Tabel Distribusi Frekuensi

 

 

 

Kelas

Interval

Frekuensi

(fi)

1

20 – 28

5

2

29 – 37

7

3

38 – 46

6

4

47 – 55

5

5

56 – 64

6

6

65 – 73

3

Jumlah

32

 

Perhitungan Ukuran Pemusatan Data Pretes Kelas Kontrol

Kelas

Interval fi xi

fi.xi

1

20 – 28 5 24

120

2

29 – 37 7 33

231

3

38 – 46 6 42

252

4

47 – 55 5 51

255

5

56 – 64 6 60

360

6

65 – 73 3 69

207

Jumlah

32  

1425

 

e.           Menghitung Mean (X)

X= ∑fi.xi/∑fi

X= 1425 / 32

X= 44,5

f.            Modus (Mo)

Mo= Lo + I (b1/b1+b2)

Mo= 28,5 + 9 (2/2+1)

Mo= 28,5 + 9 (2/3)

Mo= 28,5 + 18/3

Mo= 34,5

g.           Median (Me)

Me= Lo + I (n/2-F / f)

Me= 37,5 + 9 (32/2 – 12 / 6)

Me= 37,5 + 9 (4/6)

Me= 37,5 + 36/6

Me= 43,5

 

Perhitungan Ukuran Penyebaran Data Pretes Kelas Kontrol

Kelas

Interval fi xi (xi -X ) (xi -X )2

fi.(xi -X )2

1

20 – 28 5 24 -20,5 420,3

2101,3

2

29 – 37 7 33 -11,5 132,3 925,8
3 38 – 46 6 42 -2,5 6,3

37,5

4

47 – 55 5 51 6,5 42,3 211,3
5 56 – 64 6 60 15,5 240,3

1441,5

6

65 – 73 3 69 24,5 600,3 1800,8
Jumlah 32   12  

6518

 

h.         Rentang Data (R)

R= Dmax – Dmin

R= 72 – 20

R= 52

i.           Deviasi Mean (DM)

MD= ∑|Xi-X| / N

MD= |12| / 32

MD= 0,4

j.            Simpangan Baku (S)

S= √ ∑fi.(xi -X )2/ n-1

S=  √ 6518 / 32-1

S= √ 210,3

S= 14,5

k.          Varians (S2)

S2= ∑fi.(xi -X )2 / n-1

S2= 6518 / 32-1

S2= 210,3

 

Semoga bermanfaat ya teman…

itu untuk perhitungan penyebaran dan pemusatan data pada kelas kontrol

next saya update Menghitung Persyaratan Data

Iklan

KAMUS ISTILAH MATEMATIKA DALAM BAHASA INGGRIS
Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional(RSBI) dan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) menuntut siswa untuk menggunakan bahasa inggris dalam proses belajar dan pembelajaran, khususnya dalam mata pelajaran matematika. Tidak semua istilah dalam matematika bisa diartikan secara langsung ke dalam bahasa Inggris. Berikut beberapa istilah-istilah matematika dalam bahasa Inggris.

Bentuk-Bentuk Bangun Datar dalam Bahasa Inggris:

bangun datar

Jenis-Jenis Sudut dalam Bahasa Inggris:

sudut

 

 

 

 

 

 

adapun istilah-istilah dalam matematika:

  • Bilangan Bulat = Integers (Z)
  • Bilangan Asli = Natural number (N)
  • Bilangan Cacah = Whole number (W)
  • Bilangan Genap = Even number
  • Bilangan Ganjil = Odd number
  • Penjumlahan = Addition
  • Pengurangan = Subtraction
  • Pembagian = Divisio
  • Perkalian = Multiplication
  • Sifat asosiatif = Associative principle
  • Sifat komutatif = Commutative principle
  • Kelipatan persekutuan terkecil (KPK) = Least common multiple
  • Faktor persekutuan terbesar (FPB) = Greatest common divisor
  • Pecahan = fraction
  • Pecahan-pecahan yang senilai dan tidak senilai = Equality and inequality of rational numbers
  • Pecahan campuran = Mixed rational number
  • Desimal = Decimals
  • Operasi bilangan desimal = The operations of decimals
  • Garis bilangan = The number line
  • Bentuk baku = Scientific notation
  • Pangkat bilangan = Powers of numbers
  • Bentuk aljabar = Algebraic forms
  • Aritmatika sosial = Social arithmetic
  • Persamaan linier = Linear equations
  • Variabel = Variable
  • Pertidaksamaan linier = Linear inequalities
  • Modulus (Pengayaan) = Enrichment
  • Perbandingan = Proportion
  • Pembilang= Numerator
  • Penyebut = Denominator
  • Perbandingan seharga = Direct proportion
  • Perbandingan berbalik harga = Inverse proportion
  • Garis = Lines
  • Sudut = Angles
  • Derajat = Degrees
  • Keliling = Circumference
  • Luas = Area
  • Sisi = Side
  • Sudut dalam = Interior angle
  • Himpunan = Sets
  • Himpunan semesta = Universal set
  • Gabungan himpunan = Union of sets
  • Irisan himpunan = Intersection of sets
  • Komplemen suatu himpunan = Complement of a set
  • Diagram Venn = Venn diagrams
  • Himpunan-himpunan yang sama = Equal sets
  • Himpunan-himpunan yang ekuivalen = Equivalent sets
  • Himpunan-himpunan yang saling lepas (Saling asing) = Disjoint sets

Referensi:

http://shinduasha.blogspot.com/2010/02/istilah-matematika-dalam-bahasa-inggris_26.html

 

MatematikaPasti kamu pernah bertanya, kenapa sih kita mesti belajar matematika? dari mulai kita kecil, SD, SMP, SMA/SMK, bahkan kuliah pun matematika seolah-olah menjadi mata pelajaran yang wajib. Bahkan saat ujian nasional pun matematika termasuk mata pelajaran yang diujikan.

Kadang malah kita berpikir apa ya manfaatnya belajar matematika?

Apakah ada hubungan belajar matematika dalam kehidupan nyata?

Trus belajar integral, differensial, aljabar linier, fungsi kompleks apakah memberikan pengaruh bagi kehidupan kita?

Buat yang penasaran, liat nih beberapa manfaat yang kamu dapet kalo kamu belajar matematika

1. Cara berpikir matematika itu sistematis, melalui urutan-urutan yang teratur dan tertentu. dengan belajar matematika, otak kita terbiasa untuk memecahkan masalah secara sistematis. Sehingga bila diterapkan dalam kehidupan nyata, kita bisa menyelesaikan setiap masalah dengan lebih mudah
2. Cara berpikir matematika itu secara deduktif. Kesimpulan di tarik dari hal-hal yang bersifat umum. bukan dari hal-hal yang bersifat khusus. Sehingga kita menjadi terhindar dengan cara berpikir menarik kesimpulan secara “kebetulan”. Misalnya kita tidak bisa menyatakan kalo “kita tidak boleh lewat jalan A pada hari sabtu, karena jalan tersebut meminta tumbal tiap hari sabtu” hanya karena ada beberapa orang yang kebetulan kecelakaan dan meninggal di jalan tersebut pada hari sabtu. Kita seharusnya berpikir bahwa orang yang meninggal di jalan tersebut pada hari sabtu bukan karena tumbal. tapi harus dianalisa lagi apakah karena orang tersebut tidak hati-hati, ataukah jalan yang sudaha agak rusak, atau sebab lain yang lebih rasional.
3. Belajar matematika melatih kita menjadi manusia yang lebih teliti, cermat, dan tidak ceroboh dalam bertindak. Bukankah begitu? coba saja. Masih ingatkah teman-teman saat mengerjakan soal-soal matematika? kita harus memperhatikan benar-benar berapa angkanya, berapa digit nol dibelakang koma, bagaimana grafiknya, bagaimana dengan titik potongnya dan lain sebagainya. Jika kita tidak cermat dalam memasukkan angka, melihat grafik atau melakukan perhitungan, tentunya bisa menyebabkan akibat yang fatal. Jawaban soal yang kita peroleh menjadi salah dan kadang berbeda jauh dengan jawaban yang sebenarnya.
4. Belajar matematika juga mengajarkan kita menjadi orang yang sabar dalam menghadapi semua hal dalam hidup ini. Saat kita mengerjakan soal dalam matematika yang penyelesaiannya sangat panjang dan rumit, tentu kita harus bersabar dan tidak cepat putus asa. jika ada langkah yang salah, coba untuk diteliti lagi dari awal. Jangan-jangan ada angka yang salah, jangan-jangan ada perhitungan yang salah. Namun, jika kemudian kita bisa mengerjakan soal tersebut, ingatkah bagaimana rasanya? rasa puas dan bangga.( tentunya jika dikerjakan sendiri, buakn hasil contekan,. he.he.he). begitulah hidup. Kesabaran akan berbuah hasil yang teramat manis.
5. Yang tidak kalah pentingnya, sebenarnya banyak kok penerapan matematika dalam kehidupan nyata. Tentunya dalam dunia ini, menghitung uang, laba dan rugi, masalah pemasaran barang, dalam teknik, bahkan hampir semua ilmu di dunia ini pasti menyentuh yang namanya matematika.

Maka sering kali kita mendengar bahwa matematika itu sulit, padahal kesulitan itu bisa diatasi apabila didukung dengan banyaknya latihan dirumah, mungkin bukan hanya matematika saja yang perlu latihan di rumah pada pelajaran lain pun sama. Menurut Robert K. Cooper dan Ayman Sawaf, membuat satu konsep bahwa “Kecerdasan emosional” dianggap akan dapat membantu siswa dalam mengatasi hambatan-hambatan psikologis yang ditemuinya dalam belajar. Menurutnya kecerdasan emosional adalah “Kemampuan merasakan, memahami dan secara eefktif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi, informasi, koneksi, dan pengaruh manusiawi”.

Kecerdasan emosional yang dimiliki siswa sangat berpengaruh terhadap hasil belajar, karena emosi memancing tindakan seorang terhadap apa yang dihadapinya.

Pembelajaran matematika merupakan pengembangan pikiran yang rasional bagaimana kita dapat mereflesikan dalam kehidupan sehari-hari. Dari alasan tersebut penulis tertarik untuk meneliti tentang pengaruh kecerdasan emosional siswa terhadap prestasi hasil belajar matematik.

Matematika dalam pengembangan SDM.

Secara umum, matematika juga berperan dalam pengembangan sumber daya manusia. Secara lebih umum, untuk mengoptimalkan SDM perlu adanya manajemen sumber daya manusia. Setelah disadari bahwa sumber daya manusia perlu dikaji faktor apa saja dari sumber daya manusia tersebut yang perlu ditingkatkan. Dalam model awal pada kajian di tersebut, karakter yang memegang peran pada SDM diprioritaskan antara lain: cerdas (c), tenggap/responsif (r), cermat/teliti (l) dan taat SOP/disiplin (d). Nampak bahwa karakter sumber daya manusia, misalnya teliti, akan berhubungan dengan cerdas, taat melakukan prosedur perhitungan, dengan diulang-ulang sebanyak iterasi tertentu, tergantung dari proses penyelesaian permasalahan yang dihadapi. Hal ini menunjukkan bahwa di antara faktor-faktor yang ada pada sumber daya manusia masih saling berpengaruh antar yang satu dengan yang lain. Jika pengaruh ini signifikan maka ada kemungkinan model yang dipakai bukan lagi linier. Jadi, bisa disimpulkan bahwa model pengembangan sumber daya manusia dapat berbentuk regresi linier berganda yang akan ditentukan oleh koefisien dari masing-masing faktor yang berupa karakter yang bersangkutan. Makin banyak jenis data yang terkumpul akan diperoleh model yang semakin halus, iterasi yang lebih tinggi.

Dari sisi pelajar, pemahaman tentang manfaat matematika dalam kehidupan sangat berperan penting. Ada pepatah “Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta”. Artinya dalam proses belajar khususnya belajar matematika, siswa harus mengenal dulu apa itu matematika ? bagaimana proses matematika ? untuk apa itu matematika ?. Motivasi tersebut harus diberikan sehingga minat atau kemauan siswa untuk mempelajari matematika muncul, sehingga pada proses belajarnya mereka akan fokus dan dapat menerima dengan baik materi yang dipelajari.

Pendidikan matematika dapat diartikan sebagai proses perubahan baik kognitif, afektif, dan kognitif kearah kedewasaan sesuai dengan kebenaran logika.

Ada beberapa karakteristik matematika, antara lain :

1. Objek yang dipelajari abstrak.

Sebagian besar yang dipelajari dalam matematika adalah angka atau bilangan yang secara nyata tidak ada atau merupakan hasil pemikiran otak manusia.

2. Kebenaranya berdasarkan logika.

Kebenaran dalam matematika adalah kebenaran secara logika bukan empiris. Artinya kebenarannya tidak dapat dibuktikan melalui eksperimen seperti dalam ilmu fisika atau biologi. Contohnya nilai √-2 tidak dapat dibuktikan dengan kalkulator, tetapi secara logika ada jawabannya sehingga bilangan tersebut dinamakan bilangan imajiner (khayal).

3. Pembelajarannya secara bertingkat dan kontinu.

Pemberian atau penyajian materi matematika disesuaikan dengan tingkatan pendidikan dan dilakukan secara terus-menerus. Artinya dalam mempelajari matematika harus secara berulang melalui latihan-latihan soal.

4. Ada keterkaitan antara materi yang satu dengan yang lainnya.

Materi yang akan dipelajari harus memenuhi atau menguasai materi sebelumnya. Contohnya ketika akan mempelajari tentang volume atau isi suatu bangun ruang maka harus menguasai tentang materi luas dan keliling bidang datar.

5. Menggunakan bahasa simbol.

Dalam matematika penyampaian materi menggunakan simbol-simbol yang telah disepakati dan dipahami secara umum. Misalnya penjumlahan menggunakan simbol “+” sehingga tidak terjadi dualisme jawaban.

6. Diaplikasikan dibidang ilmu lain.

Materi matematika banyak digunakan atau diaplikasikan dalam bidang ilmu lain. Misalnya materi fungsi digunakan dalam ilmu ekonomi untuk mempelajari fungsi permintan dan fungsi penawaran.

Berdasarkan karakteristik tersebut maka matematika merupakan suatu ilmu yang penting dalam kehidupan bahkan dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Hal ini yang harus ditekankan kepada siswa sebelum mempelajari matematika dan dipahami oleh guru.

Logika sebagai matematika murni

Logika termasuk matematika murni karna matematika adalah logika yang tersistematika. Matematika adalah pendekatan logika kepada metode ilmu ukur yang menggunakan tanda-tanda atau simbol-simbol matematik (logika simbolik).

Selain materi himpunan, ada pembelajaran Matematika realistik yang membantu agar matematika jadi lebih akrab dengan kehidupan.

Materi matematika tentang Himpunan misalnya. Dengan mempelajari Himpunan, diharapkan kemampuan logika akan semakin terasah. Sebaliknya, untuk mempelajari Himpunan secara tidak langsung akan memacu kita agar kita mampu berpikir secara logis.

Logis

Logika seperti apa yang perlu kita asah? berpikir logis yang bagaimana yang di kehidupan kita?

Logika sendiri berasal dari kata Yunani kuno logos yang artinya hasil pertimbangan akal pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa. Logika juga sering disebut dengan logike episteme atau ilmu logika yang mempelajari kecakapan untuk berpikir secara lurus, tepat, dan teratur.

Dalam hidup, logika memiliki peran penting. Karena logika berkaitan dengan akal pikir. Banyak kegunaan logika antara lain:

1. Membantu setiap orang yang mempelajari logika untuk berpikir secara rasional, kritis, lurus, tetap, tertib, metodis dan koheren
2. Meningkatkan kemampuan berpikir secara abstrak, cermat, dan objektif
3. Menambah kecerdasan dan meningkatkan kemampuan berpikir secara tajam dan mandiri
4. Memaksa dan mendorong orang untuk berpikir sendiri dengan menggunakan asas-asas sistematis
5. Meningkatkan cinta akan kebenaran dan menghindari kesalahan-kesalahan berpikir, kekeliruan serta kesesatan
6. Mampu melakukan analisis terhadap suatu kejadian

Jadi logika matematika membantu agar matematika jadi lebih akrab dengan kehidup.

Sumber :

http://choeronisa619.wordpress.com/2013/08/17/pentingnya-matematika-dalam-kehidupan-sehari-hari/

TPS

Bab I

Pendahuluan

1.      Latar Belakang

Peranan matematika dalam pengembangan IPTEK sangat besar. Hal tersebut dapat dilihat dalam perhitungan kuantitatif fenomena kehidupan sehari-hari. Belajar matematika tidak sekedar learning to know, melainkan harus ditingkatkan meliputi learning to do, learning to be, hingga learning to life together. Oleh karena itu, filosofi pengajaran matematika perlu diperbaharui menjadi pembelajaran matematika. Dalam pengajaran matematika, guru lebih banyak menyampaikan sejumlah ide atau gagasan matematika. Sedangkan dalam pembelajaran matematika, siswa mendapat porsi lebih banyak dibanding dengan guru, bahkan mereka harus dominan dalam kegiatan belajar mengajar.

Sasaran dari pembelajaran matematika adalah siswa diharapkan mampu berpikir logis, kritis dan sistematis, selain itu juga siswa diharapkan lebih memahami keterkaitan antara topik dalam matematika serta manfaat matematika bagi bidang lain. Berbagai faktor yang mempengaruhi hasil belajar matematika siswa, salah satunya adalah model pembelajaran kooperatif yang dipergunakan guru dalam mengajar. Model pembelajaran kooperatif muncul dari konsep bahwa siswa lebih mudah menemukan dan memahami konsep jika terjadi diskusi antar siswa. pembelajaran kooperatif disusun untuk meningkatkan partisipasi siswa, melalui pemberian pengalaman sikap kepemimpinan dan membuat keputusan dalam kelompok, serta memberikan kesempatan pada siswa untuk berinteraksi dan belajar. Think Pair Share (TPS) termasuk salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa.

Pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share akan menciptakan kondisi lingkungan di dalam kelas yang saling mendukung melalui belajar secara kooperatif dalam kelmpok kecil, serta diskusi kelompok dalam kelas. Aktivitas pembelajaran kooperatif menekankan pada kesadaran siswa perlu belajar untuk mengaplikasikan pengetahuan, konsep, keterampilan tersebut kepada siswa yang membutuhkan dan setiap siswa merasa senang menyumbangkan pengetahuannya kepada anggota lain dalam kelompoknya. Dan pembelajaran kooperatif tipe TPS memberi siswa waktu lebih banyak untuk berfikir, menjawab, dan saling membantu, satu sama lain.

2.      Rumusan Masalah

Adapun beberapa masalah yang dapat kami rumuskan antara lain:

1.      Apa pengertian dari model pembelajaran kooperatif tipe TPS?

2.      Apa saja komponen dalam model pembelajaran kooperatif tipe TPS?

3.      Mengapa harus menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TPS?

4.      Apa kelebihan dan kelemahan dari model pembelajaran kooperatif tipe TPS?

5.      Apa saja langkah-langkah dalam penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TPS?

3.      Tujuan

1.      Mendiskripsikan pengertian dari model pembelajaran kooperatif tipe TPS

2.      Mendiskripsikan komponen dalam model pembelajaran kooperatif tipe TPS

3.      Mendiskripsikan alasan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TPS

4.      Mendiskripsikan kelebihan dan kelemahan dari model pembelajaran kooperatif tipe TPS

5.      Mendiskripsikan langkah-langkah dalam penerapan pembelajaran kooperatif tipe TPS

Bab II

Pembahasan

1.      Pengertian model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS)

Pembelajaran kooperatif tipe TPS merupakan pembelajaran kelompok dimana siswa diberi kesempatan untuk berfikir mandiri dan saling membantu dengan teman yang lain. Pembelajaran Think Pair Share merupakan model pembelajaran kooperatif dengan pendekatan struktural. Pendekatan ini memberi penekanan pada penggunaan struktur tertentu yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa.

 Think Pair Share merupakan suatu cara yang efektif untuk membuat variasi suasana pola diskusi kelas. Pembelajaran TPS membimbing siswa untuk memiliki tanggung jawab individu dan tanggung jawab dalam kelompok atau pasangannya. Prosedur tersebut telah disusun dan dibentuk sedemikian rupa sehingga dapat memberikan waktu yang lebih banyak kepada siswa untuk dapat berpikir dan merespon yang nantinya akan membangkitkan partisipasi siswa. Pelaksanaan Think Pair Share meliputi tiga tahap yaitu Think (berpikir), Pairing (berpasangan), dan Sharing (berbagi). TPS memiliki keistimewaan, yaitu siswa selain bisa mengembangkan kemampuan individunya sendiri, juga bisa mengembangkan kemampuan berkelompoknya serta keterampilan atau kecakapan sosial.

Keterampilan sosial dalam proses pembelajaran tipe TPS antara lain:

1.      Keterampilan sosial siswa dalam berkomunikasi meliputi dua aspek, yaitu:

  • Aspek bertanya

Aspek bertanya meliputi keterampilan sosial siswa dalam hal bertanya kepada teman dalam satu kelompoknya ketika ada materi yang kurang dimengerti serta bertanya pada diskusi kelas.

  • Aspek menyampaikan ide atau pendapat

Meliputi keterampilan siswa menyampaikan pendapat saat diskusi kelompok serta berpendapat (memberikan tanggapan atau sanggahan) saat kelompok lain presentasi.

2.      Keterampilan sosial aspek bekerjasama

Keterampilan sosial siswa pada aspek yang bekerjasama meliputi keterampilan sosial siswa dalam hal bekerjasama dengan teman dalam satu kelompok untuk menyelesaikan soal yang diberikan oleh guru.

3.      Keterampilan sosial aspek menjadi pendengar yang baik

Keterampilan sosial siswa pada aspek menjadi pendengar yang baik yaitu keterampilan dalam hal mendengarkan guru, teman dari kelompok lain saat sedang presentasi maupun saat teman dari kelompok lain berpendapat.

2.      Komponen pembelajaran kooperatif tipe TPS

Pembelajaran Think Pair Share mempunyai beberapa komponen, yaitu

      Think (berpikir)

Pelaksanaan pembelajaran TPS diawali dari berpikir sendiri mengenai pemecahan suatu masalah. Tahap berpikir menuntut siswa untuk lebih tekun dalam belajar dan aktif mencari referensi agar lebih mudah dalam memecahkan masalah atau soal yang diberikan guru.

      Pair (berpasangan)

Setelah diawali dengan berpikir, siswa kemudian diminta untuk mendiskusikan hasil pemikirannya berpasangan. Tahap diskusi merupakan tahap menyatukan pendapat masing-masing siswa guna memperdalam pengetahuan mereka. Diskusi dapat mendorong siswa untuk aktif menyampaikan pendapat dan mendengarkan pendapat orang lain dalam kelompok, serta mampu bekerja sama dengan orang lain.

      Share (berbagi)

Setelah mendiskusikan hasil pemikirannya, pasangan-pasangan siswa yang ada diminta untuk berbagi hasil pemikiran yang telah dibicarakan bersama pasangannya masing-masing kepada seluruh kelas. Tahap berbagi menuntut siswa untuk mampu mengungkapkan pendapatnya secara bertanggung jawab, serta mampu mempertahankan   pendapat yang telah disampaikannya.

3.      Alasan mengguanakan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share

Beberapa alasan mengapa kita perlu menggunakan TPS sebagai berikut :

1.      TPS membantu menstrukturkan diskusi (menyusun diskusi dengan pola tertentu).

2.      TPS meningkatkan partisipasi siswa dan meningkatkan banyaknya informasi yang dapat diingat siswa.

3.      TPS meningkatkan lamanya “Time On Task” (waktu pengerjaan permasalahan) dalam kelas dan kualitas kontribusi dalam diskusi kelas.

4.      Siswa dapat meningkatkan kecakapan sosial hidup mereka.

(kecakapan sosial siswa selama proses pembelajaran yang diamati, meliputi: bertanya, kemampuan bekerjasama dalam berkelompok, menyampaikan ide atau berpendapat, menjadi pendengar yang baik.)

4.      Kelebihan dan kekurangan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share

Model pembelajaran kooperatif tipe TPS, siswa dapat terlibat aktif dalam diskusi atau bekerjasama dengan temannya. Hal ini dikarenakan bahwa tipe TPS, kelompok diskusi tidak terlalu banyak yang terdiri dari 2 orang siswa (kelompok kecil) setiap kelompoknya dan diskusi dengan 2 orang siswa lebih efektif dibandingkan dengan diskusi kelompok yang terdiri dari 4-5 orang siswa.

Kelebihan dari metode TPS yaitu dapat meningkatkan rasa percaya diri, dan memudahkan siswa dalam berkomunikasi sehingga memperlancar jalannya diskusi. Selain itu dikemukakan juga kelebihan dan kekurangan menurut Hartina (2008), yaitu sebagai berikut:

Ø  Kelebihan model pembelajaran koperatif tipe TPS menurut Hartina (2008:12) antara lain sebagai berikut:

1.    Memungkinkan siswa untuk merumuskan dan mengajukan pertanyaan-pertnyaan mengenai materi yang diajarkan karena secara tidak langsung memperoleh contoh pertanyaan yang diajukan oleh guru, serta memperoleh kesempatan untuk memikirkan materi yang diajarkan.

2.    Siswa akan terlatih menerapkan konsep karena bertukar pendapat dan pemikiran dengan temannya untuk mendapatkan kesepakatan dalam memecahkan masalah.

3.    Siswa lebih aktif dalam pembelajaran karena menyelesaikan tugasnya dalam kelompok, dimana tiap kelompok hanya terdiri dari 2 orang.

4.    Siswa memperoleh kesempatan untuk mempresentasikan hasil diskusinya dengan seluruh siswa sehingga ide yang ada menyebar.

5.    Memungkinkan guru untuk lebih banyak memantau siswa dalam proses pembelajaran.

Ø  Adapun kelemahan model pembelajaran kooperatif tipe TPS dikemukakan oleh Hartinah (2008:12) adalah sangat sulit diterapkan disekolah yang rata-rata kemampuan siswanya rendah dan waktu yang terbatas, sedangkan jumlah kelompok yang terbentuk banyak.

Hal yang senada juga diungkapkan oleh Lie (2005:46), kekurangan dari kelompok berpasangan (kelompok yang terdiri dari 2 orang siswa adalah sebagai berikut:

1.      Banyak kelompok yang melapor dan perlu dimonitor

2.      Lebih sedikit ide yang muncul

3.      Jika ada perselisihan, tidak ada penengah

Langkah-langkah dalam penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share

Langkah-langkah dalam pembelajaran Think Pair Share pada umumnya adalah:

a.      Pendahuluan

Fase1: Persiapan

1.      Guru melakukan apersepsi

2.      Guru menjelaskan tentang pembelajaran TPS

3.      Guru menyampaikan tujuan pembelajaran

4.      Guru memberikan motivasi

b.      Kegiatan inti

Fase 2: pelaksanaan pembelajaran tipe TPS

Langkah pertama

1.      Menyampaikan pertanyaan : Guru menyampaikan pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang akan disampaikan.

2.      Siswa memperhatikan/mendengarkan dengan aktif penjelasan dan pertanyaan dari guru.

Langkah kedua

1.      Berpikir : siswa berpikir secara individual.

2.      Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk memikirkan jawaban dari permasalahan yang disampaikan oleh guru. Langkah ini dapat dikembangkan dengan meminta siswa untuk menuliskan hasil pemikiran masing-masing.

Langkah ketiga

1.      Berpasangan : setiap siswa mendiskusikan hasil pemikiran masing-masing dengan pasangan.

2.      Guru mengorganisasikan siswa untuk berpasangan dan memberi kesempatan kepada siswa untuk mendiskusikan jawaban yang menurut mereka paling benar atau meyakinkan. Guru memotivasi siswa untuk aktif dalam kerja kelompoknya. Pelaksanaan model ini dapat dilengkapi dengan LKS sebagai lembar kerja, kumpulan soal latihan atau pertanyaan yang dikerjakan secara kelompok.

Langkah keempat

1.      Berbagi : siswa berbagi jawaban mereka dengan seluruh kelas.

2.      Siswa mempresentasikan jawaban atau pemecahan masalah secara individual atau kelompok didepan kelas. Individu/kelompok yang lain diberi kesempatan untuk bertanya atau memberikan pendapat terhadap hasil diskusi kelompok tersebut.

3.       Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi terhadap hasil pemecahan masalah yang telah mereka diskusikan, dan memberikan pujian bagi kelompok yang berhasil baik dan memberi semangat bagi kelompok yang belum berhasil dengan baik (jika ada).

Fase 3 : Penutup

1.      Dengan bimbingan guru siswa membuat simpulan dari materi yang telah didiskusikan.

2.      Guru memberikan evaluasi atau latihan soal mandiri.

3.      Siswa diberi PR dari buku paket/LKS, atau mengerjakan ulang soal evaluasi

Bab III

Penutup

Simpulan

Pembelajaran Think Pair Share merupakan suatu cara yang efektif untuk membuat variasi suasana pola diskusi kelas. Pembelajaran kooperatif tipe TPS merupakan pembelajaran kelompok dimana siswa diberi kesempatan untuk berfikir mandiri dan saling membantu dengan teman yang lain.

Pembelajaran TPS membimbing siswa untuk memiliki tanggung jawab individu dan tanggung jawab dalam kelompok atau pasangannya. Prosedur tersebut telah disusun dan dibentuk sedemikian rupa sehingga dapat memberikan waktu yang lebih banyak kepada siswa untuk dapat berpikir dan merespon yang nantinya akan membangkitkan partisipasi siswa.

Pelaksanaan Think Pair Share meliputi tiga tahap yaitu Think (berpikir), Pairing (berpasangan), dan Sharing (berbagi).

Saran

1.      Pembelajaran kooperatif tipe TPS dapat digunakan sebagai pembelajaran alternatif untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam memecahkan masalah.

2.      Dalam proses pembelajaran masih memerlukan adanya perbaikan yaitu guru dapat lebih memberikan pengarahan kepada kelompok dan kepada tiap individu yang masih mengalami kesulitan, melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran dan memotivasi siswa agar siswa antusias dalam pembelajaran sehingga suasana kelas menjadi lebih tertib, terkendali, dan kondusif.

BEBERAPA PENGERTIAN TEATER

Kata ‘drama’ berasal dari bahasa Yunani Draomai yang berarti berbuat, berlaku, bertindak. Jadi drama bisa berarti perbuatan atau tindakan.

 ARTI DRAMA

Arti pertama dari Drama adalah kualitas komunikasi, situasi, action (segala yang terlihat di pentas) yang menimbulkan perhatian, kehebatan (axciting), dan ketegangan pada para pendengar.

Arti kedua, menurut Moulton Drama adalah hidup yang dilukiskan dengan gerak (life presented in action).

Menurut Ferdinand Brunetierre : Drama haruslah melahirkan  kehendak dengan action.

Menurut Balthazar Vallhagen : Drama adalah kesenian melukiskan sifat dan sifat manusia dengan gerak.

Arti ketiga drama adalah cerita konflik manusia dalam bentuk dialog yang diproyeksikan pada pentas dengan menggunakan percakapan dan action di hadapan penonton (audience).

ARTI TEATER

Ada yang mengartikan sebagai “gedung pertunjukan”, ada yang mengartikan sebagai “panggung” (stage). Secara Etimologi (asal kata) Teater adalah Gedung Pertunjukan (auditorium).

Dalam arti luas Teater adalah kisah hidup dah kehidupan manusia yang dipertunjukan di depan orang banyak. Misalnya Wayang Orang, Ludruk, Lenong, Reog, Sulapan.

Dalam arti sempit Teater adalah kisah hidup dan kehidupan manusia yang diceritakan dalam pentas, disaksikan oleh orang banyak, dengan media, gerak, percakapan dan laku, dengan atau tanpa dekor (layer); Didasarkan pada naskah yang tertulis (hasil seni sastra) dengan atau tanpa musik.

APA PERBEDAAN DRAMA DENGAN TEATER

Teater dan drama, memiliki arti yang sama, tapi berbeda ungkapannya.Teater berasal dari kata Yunani kuno “theatron” yang secara harfiah berarti gedung/tempat pertunjukan. Dengan demikian maka kata teater selalu mengandung arti pertunjukan/tontonan. Drama juga dari kata Yunani ‘draomai’ yang berarti berbuat, berlaku atau berakting. Drama cenderung memiliki pengertian ke seni sastra. Di dalam seni sastra, drama setaraf dengan jenis puisi, prosa/esai. Drama juga berarti suatu kejadian atau peristiwa tentang manusia. Apalagi peristiwa atau cerita tentang manusia kemudian diangkat ke suatu pentas sebagai suatu bentuk pertunjukan maka menjadi suatu peristiwa Teater. Kesimpulan teater tercipta karena adanya drama.

METODE TERAPAN LATIHAN TEATER

 ARTI DRAMA

  1. Drama berarti perbuatan, tindakan. Berasal dari bahasa Yunani “draomai” yang berarti berbuat, berlaku, bertindak dan sebagainya.
  2. Drama adalah hidup yang dilukiskan dengan gerak
  3. Konflik dari sifat manusia merupakan sumber pokok drama

Dalam bahasa Belanda, drama adalah Toneel, yang kemudian oleh PKG Mangkunegara VII dibuat istilah Sandiwara.

 

ARTI TEATER

  1. Secara etimologis : Teater adalah gedung pertunjukan atau auditorium.
  2. Dalam arti luas : Teater ialah segala tontonan yang dipertunjukkan di depan orang banyak
  3. Dalam arti sempit : Teater adalah drama, kisah hidup dan kehidupan manusia yang diceritakan di atas pentas dengan media : Percakapan, gerak dan laku didasarkan pada naskah yang tertulis ditunjang oleh dekor, musik, nyanyian, tarian, dsb.

MENGENAL PANGGUNG

Dalam sejarah perkembangannya, seni teater memiliki berbagai macam jenis pang-gung yang dijadikan tempat pementasan. Perbedaan jenis panggung ini dipengaruhi oleh tempat dan zaman dimana teater itu berada serta gaya pementasan yang dila-kukan. Bentuk panggung yang berbeda memiliki prinsip artistik yang berbeda. Mi-salnya, dalam panggung yang penontonnya melingkar, membutuhkan tata letak perabot yang dapat enak dilihat dari setiap sisi. Berbeda dengan panggung yang penontonnya hanya satu arah dari depan. Untuk memperoleh hasil terbaik, penata panggung diharuskan memahami karakter jenis panggung yang akan digunakan serta bagian-bagian panggung tersebut.

Jenis-jenis Panggung

Panggung adalah tempat berlangsungnya sebuah pertunjukan dimana interaksi antara kerja penulis lakon, sutradara, dan aktor ditampilkan di hadapan penonton. Di atas panggung inilah semua laku lakon disajikan dengan maksud agar penonton menangkap maksud cerita yang ditampilkan. Untuk menyampaikan maksud tersebut pekerja teater mengolah dan menata panggung sedemikian rupa untuk mencapai maksud yang dinginkan. Seperti telah disebutkan di atas bahwa banyak sekali jenis panggung tetapi dewasa ini hanya tiga jenis panggung yang sering digunakan. Ketiganya adalah panggung proscenium, panggung thrust, dan panggung arena. Dengan memahami bentuk dari masingmasing panggung inilah, penata panggung dapat merancangkan karyanya berdasar lakon yang akan disajikan dengan baik.

Arena

Panggung arena adalah panggung yang penontonnya melingkar atau duduk mengelilingi panggung (Gb.274). Penonton sangat dekat  sekali dengan pemain. Agar semua pemain dapat terlihat dari setiap sisi maka penggunaan set dekor berupa bangunan tertutup vertikal tidak diperbolehkan karena dapat menghalangi pandangan penonton. Karena bentuknya yang dikelilingi oleh penonton, maka penata panggung dituntut kreativitasnya untuk mewujudkan set dekor. Segala perabot yang digunakan dalam panggung arena harus benar-benar dipertimbangkan dan dicermati secara hati-hati baik bentuk, ukuran, dan penempatannya. Semua ditata agar enak dipandang dari berbagai sisi.

Panggung arena biasanya dibuat secara terbuka (tanpa atap) dan tertutup. Inti dari pangung arena baik terbuka atau tertutup adalah mendekatkan penonton dengan pemain. Kedekatan jarak ini membawa konsekuensi artistik tersendiri baik bagi pemain dan (terutama) tata panggung. Karena jaraknya yang dekat, detil perabot yang diletakkan di atas panggung harus benar-benar sempurna sebab jika tidak maka cacat sedikit saja akan nampak. Misalnya, di atas panggung diletakkan kursi dan meja berukir. Jika bentuk ukiran yang ditampilkan tidak nampak sempurna – berbeda satu dengan yang lain – maka penonton akan dengan mudah melihatnya. Hal ini mempengaruhi nilai artistik pementasan.

Lepas dari kesulitan yang dihadapi, panggun arena sering menjadi pilihan utama bagi teater tradisional. Kedekatan jarak antara pemain dan penonton dimanfaatkan untuk melakukan komunikasi langsung di tengah-tengah pementasan yang menjadi ciri khas teater tersebut. Aspek kedekatan inilah yang dieksplorasi untuk menimbulkan daya tarik penonton. Kemungkinan berkomunikasi secara langsung atau bahkan bermain di tengah-tengah penonton ini menjadi tantangan kreatif bagi teater modern. Banyak usaha yang dilakukan untuk mendekatkan pertunjukan dengan penonton, salah satunya adalah penggunaan panggung arena. Beberapa pengembangan desain dari teater arena melingkar dilakukan sehingga bentuk teater arena menjadi bermacammacam.

Masing-masing bentuk memiliki keunikannya tersendiri tetapi semuanya memiliki tujuan yang sama yaitu mendekatkan pemain dengan penonton.

Proscenium

Panggung proscenium bisa juga disebut sebagai panggung bingkai karena penonton menyaksikan aksi aktor dalam lakon melalui sebuah bingkai atau lengkung proscenium (proscenium arch). Bingkai yang dipasangi layar atau gorden inilah yang memisahkan wilayah akting pemain dengan penonton yang menyaksikan pertunjukan dari satu arah (Gb.276). Dengan pemisahan ini maka pergantian tata panggung dapat dilakukan tanpa sepengetahuan penonton. Panggung proscenium sudah lama digunakan dalam dunia teater. Jarak yang sengaja diciptakan untuk memisahkan pemain dan penonton ini dapat digunakan untuk menyajikan cerita seperti apa adanya. Aktor dapat bermain dengan leluasa seolah-olah tidak ada penonton yang hadir melihatnya. Pemisahan ini dapat membantu efek artistik yang dinginkan terutama dalam gaya realisme yang menghendaki lakon seolah-olah benar-benar terjadi dalam kehidupan nyata.

Tata panggung pun sangat diuntungkan dengan adanya jarak dan pandangan satu arah dari penonton. Perspektif dapat ditampilkan dengan memanfaatkan kedalaman panggung (luas panggung ke belakang). Gambar dekorasi dan perabot tidak begitu menuntut kejelasan detil sampai hal-hal terkecil. Bentangan jarak dapat menciptkan bayangan arstisitk tersendiri yang mampu menghadirkan kesan. Kesan inilah yang diolah penata panggung untuk mewujudkan kreasinya di atas panggung proscenium. Seperti sebuah lukisan, bingkai proscenium menjadi batas tepinya. Penonton disuguhi gambaran melalui bingkai tersebut. Hampir semua sekolah teater memiliki jenis panggung proscenium. Pembelajaran tata panggung untuk menciptakan ilusi (tipuan) imajinatif sangat dimungkinkan dalam panggung proscenium.

Jarak antara penonton dan panggung adalah jarak yang dapat dimanfaatkan untuk menciptakan gambaran kreatif pemangungan. Semua yang ada di atas panggung dapat disajikan secara sempurna seolah-olah gambar nyata. Tata cahaya yang memproduksi sinar dapat dihadirkan dengan tanpa terlihat oleh penonton dimana posisi lampu berada. Intinya semua yang di atas panggung dapat diciptakan untuk mengelabui pandangan penonton dan mengarahkan mereka pada pemikiran bahwa apa yang terjadi di atas pentas adalah kenyataan. Pesona inilah yang membuat penggunaan panggung proscenium bertahan sampai sekarang.

ARTISTIK

Penataan artistic meliputi set-dekor property, busana, rias wajah dan rambut, serta pencahayaan.  Set panggung adalah dekorasi yang ada diatas panggung.

Properti bisa dibagi dua, yaitu :

  1. Set panggung yang bisa dipindah-pindah, misalnya meja, kursi, lemari, karpet, pohon dan sebagainya.
  2. Hand property atau property yang bisa dibawa-bawa pemain, misalnya kipas, pulpen, buku, tas, laptop dan sebagainya.

KERJASAMA AKTOR DAN PENATA ARTISTIK.

Segala bentuk ekspresi aritstik di atas pentas diwujudkan dalam satu kesatuan pesan yang padu. Makanya seluruh objek yang ada di atas pentas memiliki peran seimbang. Artinya, unsur aktor dan tata artistik pementasan saling mendukung satu sama lain.

Kerjasama antara aktor dan penata artistik menjadi kunci utama sebuah pementasan teater. Fungsi tata artistik panggung dalam hal ini selain sebagai karya rupa juga memberikan gambaran suasana cerita, menguatkan karakter peran, dan mempertegas makna pesan.

Dengan demikian kerja interpretasi lakon adalah kerja awal yang berfungsi sebagai titik awal dari  kerja berikutnya. Masing-masing unsur pembentuk pementasan kemudian bekerja menurut wilayah artistiknya masing-masing dengan berdasar titik tersebut. Sutradara mewujudkannya dalam konsep pemeranan dan pementasan, pemeran mewujudkannya dalam laku peran, dan penata artistik panggung mewujudkannya dalam karya rupa pementasan. 

GAYA TEATERIKAL

Dalam perkembangan teater kontemporer dikenal tiga gaya teatrikal, yaitu; Presentasional, Realisme, dan Pos Realisme.

Presentasional merupakan gaya yang menyuguhkan lakon secara sengaja kepada penonton dan bukan sebagai sebuah penyamaran kehidupan. Aktor memang sengaja bermain, memperindah gaya, untuk dipertontonkan kepada penonton. Yang dapat digolongkan dalam gaya ini adalah; teater klasik Yunani dan drama Romawi, teater oriental (kerakyatan), teater abad pertengahan, teater Shakespearean, Elizabethan. Elemen gaya presentasional adalah; 1) Aktor bermain langsung kepada penonton, 2) Memiliki konvensi; akting yang diperbesar, dialog menyamping serta soliloki, 3) Bahasa yang digunakan adalah puitis.

Realisme (representasional) sebuah gaya yang sama sekali berbeda dengan presentasional. Realisme mencoba menampilkan kehidupan nyata di atas pentas. Para aktor tidak sengaja bermain untuk penonton melainkan mereka memainkan peristiwa hidup mereka sendiri seolah-olah tidak ditonton. Untuk itu mereka sengaja menjadikan frame panggung proscenium sebagai dinding keempat (dinding imajiner yang membatasi antara penonton dan pemain). Elemen gaya realisme adalah; 1) Aktor saling bermain sendiri, 2) Membatasi dialog menyamping dan soliloki, 3) Menggunakan bahasa sehari-hari.
Pos Realisme sebuah gaya perlawanan yang mencoba mendobrak batas-batas yang diciptakan dalam gaya realisme. Pemberontakan terhadap gaya realisme ini menjadi begitu berpengaruh dan berkembang secara unik sehingga melahirkan berbagai macam gaya (yang berpengaruh) seperti; simbolisme, Ekspresionisme, surealisme, teatrikalisme, epik, dan absurdisme. Elemen gaya pos realis; 1) mengkombinasikan antara gaya presentasional dan realis, 2) Mematahkan dinding keempat; berbicara langsung kepada penonton, 3) Bahasa puitis dan formal dicampur dengan bahasa slank. 

PENGARUH GAYA TERHADAP ARTISTIK

Kelahiran sebuah gaya pementasan membawa pengaruh terhadap tata rupa pentas. Bahkan munculnya sebuah gaya terkadang dipengaruhi oleh visi penata artistik. Keterkaitan antara gaya pementasan dengan disain tata rupa pentas sangat erat karena simbol artistik dapat menemukan perluasan makna di dalamnya. Memahami sebuah gaya pementasan dengan sendirinya memahami konsep tata rupa pentas.
Pada gaya Presentasional, sengaja memamerkan tontonan dengan pernak-pernik yang sengaja diperindah. Aspek cerita yang istana centris mendukung hadirnya bangunan (pilar) kerajaan dengan perspektif lorong yang menciptakan efek keluasan area bangunan untuk memberi kesan megah dan mewah.
Sedangkan pada gaya Realisme, tujuan menampilkan kenyataan hidup di atas pentas maka tata rupa yang hadirpun dibuat semirip mungkin dengan kenyataan.

Pada Pos Realisme, gaya yang hadir dalam lingkup ini, masing-masing memiliki konsepsi artistiknya tersendiri. Simbolisme menghadirkan beragam simbol untuk mengungkapkan makna atau emosi. Gaya ini juga disebut sebagai teater multi media karena beragam media digunakan dan sengaja dihadirkan untuk memberi makna-makna tertentu. Simbolisme mencoba mensitesiskan seluruh elemen seni dalam sebuah pementasan termasuk; seni musik, tari, rupa, cahaya, tari, dan media seni lain.

Dari serangkaian gaya yang ditulis di atas dapat dilihat bahwa kaitan antara tata rupa pentas dengan model pertunjukan sangat erat. Penempatan bentuk, penciptaan ruang, dan penentuan perspektif tata rupa pentas juga membawa pengaruh terhadap pertunjukan teater. Demikian pula konsepsi dasar pementasan membawa pengaruh bagi perwujudan tata rupa pentas. 

MEMPELAJARI  NASKAH DENGAN TELITI

Tugas piñata artistic  tidak hanya sekedar membuat set dekor tetapi juga memperhatikan detil perabot yang digunakan oleh pemain. Untuk itu seorang penata artistik wajib mempelajari dialog tokoh dalam lakon karena bisanya perabot atau piranti tangan (handprops) yang tidak diterangkan dalam narasi akan diungkap di sini. Detil semacam ini perlu untuk menghindari kesalahan.

Detil-detil kecil seperti tersebut di atas sangatlah penting terutama dalam drama realis yang serius. Untuk menghindari hal tersebut maka sekali lagi wajib bagi penata artistik pentas untuk mempelajari dialog tokoh serta memberi tanda terhadap hal-hal yang perlu diperhatikan serta dituntut kehadirannya di atas pentas. 

Pada ahirnya, panggung adalah kanvas kosong yang membutuhkan gambar indah dan gambar indah tersebut adalah tata rupa pentas (set dekor) serta aktor. Jika pertunjukan sudah berjalan maka tidak ada apapun di panggung selain aktor, ruang, cahaya, dan lukisan (Appia, 1993). Ruang, cahaya dan lukisan adalah wilayah penata artistik yang tentunya harus mampu bekerja sama dengan aktor yang menggunakannya. Membuat set berarti menciptakan ruang bagi aktor dan lakon secara keseluruhan. 
 

SENI PERAN / SENI AKTING

AKTING YANG BAIK

Akting tidak hanya berupa dialog saja tetapi juga berupa gerak.

Dialog yang baik ialah dialog yang :

  1. Terdengar (volume baik)
  2. Jelas (artikulasi baik)
  3. Dimengerti (lafal benar)
  4. Menghayati (sesuai dengan tuntutan/jiwa peran yang ditentukan dalam naskah)

 

Gerak yang baik ialah gerak yang :

  1. Terlihat (blocking baik)
  2. Jelas (tidak ragu‑ragu, meyakinkan)
  3. Dimengerti (sesuai dengan hukum gerak dalam kehidupan)
  4. Menghayati (sesuai dengan tuntutan/jiwa peran yang ditentukan dalam naskah)

Penjelasan :

  • Volume suara yang baik ialah suara yang dapat terdengar sampai jauh.
  • Artikulasi yang baik ialah pengucapan yang jelas. Setiap suku kata terucap dengan jelas dan terang meskipun diucapkan dengan cepat sekali. Jangan terjadi kata‑kata yang diucapkan menjadi tumpang tindih.
  • Lafal yang benar pengucapan kata yang sesuai dengan hukum pengucapan bahasa yang dipakai . Misalnya berani yang berarti “tidak takut” harus diucapkan berani bukan ber‑ani.
  • Menghayati atau menjiwai berarti tekanan atau lagu ucapan harus dapat menimbulkan kesan yang sesuai dengan tuntutan peran dalam naskah.
  • Blocking ialah penempatan pemain di panggung, diusahakan antara pemain yang satu de-ngan yang lainnya tidak saling menutupi sehingga penonton tidak dapat melihat pemain yang ditutupi. Pemain lebih baik terlihat sebagian besar bagian depan tubuh daripada terlihat sebagian besar belakang tubuh. Hal ini dapat diatur dengan patokan sebagai berikut :

>  Kalau berdiri menghadap ke kanan, maka kaki kanan sebaiknya berada didepan.

>  Kalau berdiri menghadap ke kiri, maka kaki kiri sebaiknya berada didepan.

Harus diatur pula balance para pemain di panggung. Jangan sampai seluruh pemain mengelompok di satu tempat. Dalam hal mengatur balance, komposisinya:

>  Bagian kanan lebih berat daripada kiri

>  Bagian depan lebih berat daripada belakang

>  Yang tinggi lebih berat daripada yang rendah

>  Yang lebar lebih berat daripada yang sempit

>  Yang terang lebih berat daripada yang gelap

>  Menghadap lebih berat daripada yang membelakangi

Komposisi diatur tidak hanya bertujuan untuk enak dilihat tetapi juga untuk mewarnai sesuai adegan yang berlangsung. Pergerakan pemain di atas panggung haruslah :

1.  Jelas, tidak ragu‑ragu, meyakinkan, mempunyai pengertian bahwa gerak yang dilaku-

     kan jangan setengah‑setengah bahkan jangan sampai berlebihan. Kalau ragu‑ragu

     terkesan kaku sedangkan kalau berlebihan terkesan over acting.

2.  Dimengerti, berarti apa yang kita wujudkan dalam bentuk gerak tidak menyimpang dari

     hukum gerak dalam kehidupan. Misalnya bila mengangkat barang yang berat dengan  

     tangan kanan, maka tubuh kita akan miring ke kiri, dsb.

3.  Menghayati, berarti gerak‑gerak anggota tubuh maupun gerak wajah harus sesuai tuntutan

     peran dalam naskah, termasuk pula bentuk dan usia.

 MEDITASI dan KONSENTRASI

 MEDITASI

Secara umum meditasi artinya adalah menenangkan pikiran. Dalam teater dapat diartikan sebagai suatu usaha untuk menenangkan dan mengosongkan pikiran dengan tujuan untuk memperoleh kestabilan diri.

Tujuan Meditasi :

1.  Mengosongkan pikiran.

     Kita mencoba mengosongkan pikiran kita, dengan jalan membuang segala sesuatu yang

     ada dalam pikiran kita, tentang berbagai masalah baik itu masalah keluarga, sekolah,

     pribadi dan sebagainya. Kita singkirkan semua itu dari otak kita agar pikiran kita bebas

    dari segala beban dan ikatan.

2.  Meditasi sebagai jembatan.

     Disini alam latihan kita sebut sebagai alam “semu”, karena segala sesuatu yang kita

     kerjakan dalam latihan adalah semu, tidak pernah kita kerjakan dalam kehidupan sehari-

     hari. Jadi setiap gerak kita akan berbeda dengan kelakuan kita sehari-hari. Untuk itulah

     kita memerlukan suatu jembatan yang akan membawa kita dari alam kehidupan kita

     sehari-hari ke alam latihan.

Cara Meditasi :

>  Posisi tubuh tidak terikat, dalam arti tidak dipaksakan. Tetapi yang biasa dilakukan adalah

    dengan duduk bersila, badan usahakan tegak. Cara ini dimaksudkan untuk memberi bidang/

    ruangan pada rongga tubuh sebelah dalam.

>  Atur pernapasan dengan baik, hirup udara pelan-pelan dan keluarkan juga dengan perlahan.

    Rasakan seluruh gerak peredaran udara yang masuk dan keluar dalam tubuh kita.

>  Kosongkan pikiran kita, kemudian rasakan suasana yang ada di sekeliling kita dengan se-

    gala perasaan. Kita akan merasakan suasana yang hening, tenang, bisu, diam tak bergerak.

    Kita menyuruh syaraf kita untuk lelap, kemudian kita siap untuk berkonsentrasi.

Catatan :

Pada suatu saat mungkin kita kehilangan rangsangan untuk berlatih, seolah-olah timbul kelesuan dalam setiap gerak dan ucapan. Hal ini sering terjadi akibat diri terlalu lelah atau terlalu banyak pikiran. Jika hal ini tidak diatasi dan kita paksakan untuk berlatih, maka akan sia-sia belaka. Cara untuk mengatasi adalah dengan MEDITASI. Meditasi juga perlu dilaku-kan bila kita akan bermain di panggung, agar kita dapat mengkonsentrasikan diri kita pada peran yang hendak kita bawakan.

 

KONSENTRASI

Konsentrasi secara umum berarti “pemusatan”. Dalam teater kita mengartikannya dengan pemusatan pikiran terhadap alam latihan atau peran-peran yang akan kita bawakan agar kita tidak terganggu dengan pikiran-pikiran lain, sehingga kita dapat menjiwai segala sesuatu yang kita kerjakan.

Cara konsentrasi :

  • Kita harus melakukan dahulu meditasi. Kita kosongkan dulu pikiran kita, dengan cara-cara yang sudah ditentukan. Kita kerjakan sesempurna mungkin agar pikiran kita benar-benar kosong dan siap berkonsentrasi.
  • Setelah pikiran kita kosong, mulailah memasuki otak kita dengan satu unsur pikiran. Rasakan bahwa saat ini sedang latihan, kita memasuki alam semu yang tidak kita dapati dalam kehidupan sehari-hari. Jangan memikirkan yang lain, selain bahwa kita saat ini sedang latihan teater.

Catatan :

Pada saat kita akan membawakan suatu peran, misalnya sebagai ayah, nenek, gadis pemalu dan sebagainya, baik itu dalam latihan atau pementasan, konsentrasikan pikiran kita pada hal tersebut. Jangan sekali-kali memikirkan yang lain.

 

VOKAL dan PERNAFASAN

PERNAFASAN

Seorang artis panggung, baik itu dramawan ataupun penyanyi, untuk memperoleh suara yang baik ia memerlukan pernapasan yang baik pula. Oleh karena itu ia harus melatih pernafasan/ alat-alat pernafasannya serta mempergunakannya secara tepat agar dapat diperoleh hasil yang maksimum, baik dalam latihan ataupun dalam pementasan.

Ada empat macam pernafasan yang biasa dipergunakan :

1.  Pernafasan Dada

     Pada pernapasan dada kita menyerap udara kemudian kita masukkan ke rongga dada

     sehingga dada kita membusung. Di kalangan orang‑orang teater pernafasan dada biasanya

     tidak dipergunakan karena disamping daya tampung atau kapasitas dada untuk udara

     sangat sedikit,  juga dapat mengganggu gerak/akting kita, karena bahu menjadi kaku.

2.  Pernafasan Perut

     Dinamakan pernafasan perut jika udara yang kita hisap kita masukkan ke dalam perut

     sehingga perut kita menggelembung. Pernafasan perut dipergunakan oleh sebagian

     dramawan, karena tidak banyak mengganggu gerak dan daya tampungnya lebih banyak

     dibandingkan dada.

3.  Pernafasan Lengkap

     Pada pernafasan lengkap kita mempergunakan dada dan perut untuk menyimpan udara,

     sehingga udara yang kita serap sangat banyak (maksimum).  Pernafasan lengkap diper-

     gunakan oleh sebagian artis panggung yang biasanya tidak terlalu mengutamakan akting,

     tetapi mengutamakan vokal.

4.  Pernafasan Diafragma

     Pernafasan diafragma ialah jika pada waktu kita mengambil udara, maka diafragma kita

     mengembang. Hat ini dapat kita rasakan dengan mengembangnya perut, pinggang, bahkan

     bagian belakang tubuh di sebelah atas pinggul kita juga turut mengembang.

     Menurut perkembangan akhir‑akhir ini, banyak orang‑orang teater yang mempergunakan

     pernafasan diafragma, karena tidak banyak mengganggu gerak dan daya tampungnya lebih

     banyak dibandingkan dengan pernafasan perut.

Latihan‑latihan Pernafasan :

*  Pertama kita menyerap udara sebanyak mungkin. Kemudian masukkan ke dalam dada,  

    kemudian turunkan ke perut, sampai di situ nafas kita tahan. Dalam keadaan demikian

    tubuh kita gerakkan turun sampai ke batas maksimum bawah. Setelah sampai di bawah,

    lalu naik lagi ke posisi semula, barulah nafas kita keluarkan kembali.

*  Cara kedua adalah menarik nafas dan mengeluarkannya kembali dengan cepat.

*  Cara berikutnya adalah menarik nafas dalam‑dalam, kemudian keluarkan lewat mulut

    dengan mendesis, menggumam, ataupun cara‑cara lain. Di sini kita sudah mulai menying-

    gung vokal.

Catatan : Bila sudah menentukan pernafasan apa yang akan kita pakai, maka janganlah beralih ke bentuk pernafasan yang lain.

 

VOKAL

Untuk menjadi seorang pemain drama yang baik, maka dia harus mernpunyai dasar vokal yang baik pula. “Baik” di sini diartikan sebagai :

>  Dapat terdengar (dalam jangkauan penonton, sampai penonton, yang paling belakang).

>  Jelas (artikulasi/pengucapan yang tepat).

> Tersampaikan misi (pesan) dari dialog yang diucapkan.

> Tidak monoton.

Untuk mempunyai vokal yang baik ini, maka perlu dilakukan latihan‑latihan vokal. Banyak cara yang dilakukan untuk melatih vokal, antara lain :

*  Tariklah nafas, lantas keluarkan lewat mulut sambil menghentakkan suara “wah…” dengan

    energi suara. Lakukan ini berulang kali.

*  Tariklah nafas, lantas keluarkan lewat mulut sambil menggumam “mmm…mmm…”  (suara  

    keluar lewat hidung).

*  Sama dengan latihan kedua, hanya keluarkan dengan suara mendesis,”ssss…….”

*  Hirup udara banyak‑banyak, kemudian keluarkan vokal “aaaaa…….”  sampai batas nafas

    yang terakhir. Nada suara jangan berubah.

*  Sama dengan latihan di atas, hanya nada (tinggi rendah suara) diubah-ubah naik turun

    (dalam satu tarikan nafas)

*  Keluarkan vokal “a…..a……” secara terputus-putus.

*  Keluarkan suara vokal “a‑i‑u‑e‑o”, “ai‑ao‑au‑ae‑”, “oa‑oi‑oe‑ou”, “iao‑iau‑iae‑aie‑aio‑aiu‑

    oui‑oua‑uei‑uia‑……” dan sebagainya.

*  Berteriaklah sekuat‑kuatnya sampai ke tingkat histeris.

*  Bersuara, berbicara, berteriak sambil berjalan, jongkok, bergulung‑gulung, berlari,

    berputar‑putar dan berbagai variasi lainnnya.

Catatan :

Apabila suara kita menjadi serak karena latihan‑latihan tadi, janganlah takut. Hal ini biasa terjadi apabila kita baru pertama kali melakukan. Sebabnya adalah karena lendir‑lendir di tenggorokan terkikis, bila kita bersuara keras. Tetapi bila kita sudah terbiasa, tenggorokan kita sudah agak longgar dan selaput suara (larink) sudah menjadi elastis. Maka suara yang serak tersebut akam menghilang dengan sendirinya. Dan ingat, janganlah terlalu memaksa alat‑alat suara untuk bersuara keras, sebab apabila dipaksakan akan dapat merusak alat‑alat suara kita. Berlatihlah dalam batas-batas yang wajar.

Latihan ini biasanya dilakukan di alam terbuka. misalnya di gunung, di tepi sungai, di dekat air terjun dan sebagainya. Di sana kita mencoba mengalahkan suara‑suara di sekitar kita, di samping untuk menghayati karunia ciptaan Tuhan.

 

ARTIKULASI

Yang dimaksud dengan artikulasi pada teater adalah pengucapan kata melalui mulut agar terdengar dengan baik dan benar serta jelas, sehingga telinga pendengar/penonton dapat mengerti pada kata‑kata yang diucapkan.

Pada pengertian artikulasi ini dapat ditemukan beberapa sebab yang mengakibatkan terjadinya artikulasi yang kurang/tidak benar, yaitu :

  • Cacat artikulasi alam : cacat artikulasi ini dialami oleh orang yang berbicara gagap atau orang yang sulit mengucapkan salah satu konsonon, misalnya ‘r’, dan sebagainya.
  • Artikulasi jelek ini bukan disebabkan karena cacat artikulasi, melainkan terjadi sewaktu‑waktu. Hal ini sering terjadi pada pengucapan naskah/dialog.

Misalnya:

Kehormatan menjadi kormatan

Menyambung menjadi mengambung, dan sebagainya.

Artikulasi jelek disebabkan karena belum terbiasa pada dialog, pengucapan terlalu cepat, gugup, dan sebagainya. Artikulasi tak tentu : hal ini terjadi karena pengucapan kata/dialog terlalu cepat, seolah‑olah kata demi kata berdempetan tanpa adanya jarak sama sekali.

Untuk mendapatkan artikulasi yang baik maka kita harus melakukan latihan mengucapkan alfabet dengan benar, perhatikan bentuk mulut pada setiap pengucapan. Ucapkan setiap huruf dengan nada‑nada tinggi, rendah, sengau, kecil, besar, dsb. Juga ucapkanlah dengan berbisik. Variasikan dengan pengucapan lambat, cepat, naik, turun, dsb. Membaca kalimat dengan berbagai variasi seperti di atas. Perhatikan juga bentuk mulut.

 

INTONASI

Seandainya pada dialog yang kita ucapkan, kita tidak menggunakan intonasi, maka akan terasa monoton, datar dan membosankan. Yang dimaksud intonasi di sini adalah tekanan‑ tekanan yang diberikan pada kata, bagian kata atau dialog. Dalam tatanan intonasi, terdapat tiga macam, yaitu :

1.   Tekanan Dinamik (keras‑lemah)

      Ucapkanlah dialog pada naskah dengan melakukan penekanan‑penekanan pada setiap kata

      yang memerlukan penekanan. Misainya saya pada kalimat “Saya membeli pensil ini”  

      Perhatikan bahwa setiap tekanan memiliki arti yang berbeda, contoh:

      SAYA membeli pensil ini. (Saya, bukan orang lain)

      Saya MEMBELI pensil ini. (Membeli, bukan, menjual)

      Saya membeli PENSIL ini. (Pensil, bukan buku tulis)

2.   Tekanan Nada (tinggi-rendah)

      Cobalah mengucapkan kalimat/dialog dengan memakai nada/aksen, artinya tidak

      mengucapkan seperti biasanya. Yang dimaksud di sini adalah membaca/mengucapkan

      dialog dengan Suara yang naik turun dan berubah‑ubah. Jadi yang dimaksud dengan

      tekanan nada ialah tekanan tentang tinggi rendahnya suatu kata.

3.   Tekanan Tempo (cepat-lambat)

      Tekanan tempo adalah memperlambat atau mempercepat pengucapan. Tekanan ini sering

      dipergunakan untuk lebih mempertegas apa yang kita maksudkan. Untuk latihannya

      cobalah membaca naskah dengan tempo yang berbeda‑beda. Lambat atau cepat silih

      berganti.

IMAJINASI

Imajinasi adalah suatu cara untuk menganggap sesuatu yang tidak ada menjadi seolah-olah ada. Kalau ilusi obyeknya adalah peristiwa, maka imajinasi obyeknya benda atau sesuatu yang dibendakan. Tujuannya adalah agar kita tidak hanya selalu menggantungkan diri pada benda-benda yang kongkret. Juga di atas pentas, penonton akan melihat bahwa apa yang ditampilkan tampak benar-benar terjadi walaupun sesungguhnya tidak terlihat, benar-benar dialami sang pelaku. Kemampuan untuk berimajinasi benar-benar diuji bilamana kita sedang memainkan sebuah pantomim.

Sebagai contoh, dalam naskah OBSESI, terjadi dialog antara pemimpin koor dengan roh suci. Roh suci disini hanya terdengar suaranya, tetapi pemain harus menganggap bahwa roh suci benar-benar ada. Dalam contoh lain dapat kita lihat pada sebuah naskah yang didalamnya terdapat sebuah dialog, sebagai berikut : “ Hei letnan, coba perhatikan perempuan berkaca mata gelap di depan toko itu. Perhatikan topi dan tas hitam yang dipakainya. Rasa-rasanya aku pernah melihat tas dan topi itu dipakai Nyonya Lisa beberapa saat sebelum terjadi pembunuhan”. Yang dibicarakan tokoh di atas sebenarnya hanya khayalan saja. Perempuan berkaca mata gelap, bertopi, dan bertas hitam tidak terlihat atau tidak tampak dalam pentas.

Telah disebutkan bahwa obyek imajinasi adalah benda atau sesuatu yang dibendakan, termasuk disini segala sifat dan keadaannya. Sebagai latihan dapat dipakai cara-cara sebagai berikut :

*  Sebutkan sebanyak mungkin benda-benda yang terlintas di otak kita. Jangan sampai

    menyebutkan sebuah benda lebih dari satu kali.

*  Sebutkan sebuah benda yang tidak ada di sekitar kita kemudian bayangkan dan sebutkan

    bentuk benda itu, ukurannya, sifatnya, keadaannya, warna, dsb.

*  Menganggap atau memperlakukan sebuah benda lain dari yang sebenarnya. Contohnya,

    menganggap sebuah batu adalah suatu barang yang sangat lucu, baik itu bentuknya,

    letaknya, dsb. Sehingga dengan memandang batu tersebut kita jadi tertawa terpingkal-

    pingkal.

*  Menganggap sesuatu benda memiliki sifat yang berbeda-beda. Misalnya sebuah pensil

    rasanya menjadi asin, pahit, manis kemudian berubah menjadi benda yang panas, dingin,

    kasar, dsb.

 

EMOSI

Emosi dapat diartikan sebagai ungkapan perasaan. Emosi dapat berupa perasaan sedih, marah,

benci, bingung, gugup, dsb. Dalam drama, seorang pemain harus dapat mengendalikan dan

menguasai emosinya. Hal ini penting untuk memberikan warna bagi tokoh yang diperankan  dan untuk menunjang karakter tokoh tersebut. Emosi juga sangat mempengaruhi tubuh, yaitu tingkah laku, roman muka (ekspresi), pengucapan dialog, pernapasan, niat. Niat disini timbul setelah emosi itu terjadi, misalnya setelah marah maka tinbul niat untuk memukul, dsb.

 

PENGHAYATAN

Penghayatan adalah mengamati serta mempelajari isi dari naskah untuk diterpakan tubuh kita. Misalnya pada waktu kita berperan sebagai Pak Usman yang berprofesi sebagai polisi, maka saat itu kita tidak lagi berperan sebagai diri kita sendiri melainkan menjadi Pak Usman yang berprofesi sebagai polisi. Hal inilah yang harus kita terapkan dengan baik jika kita akan memainkan sebuah naskah drama.

Cara-cara yang dipergunakan dalam penghayatan adalah :

>  Pelajari naskah secara keseluruhan, supaya dapat mengetahui apa yang dikehendaki oleh

    naskah, problema apa yang ditonjolkan, serta apa titik tolak dan inti dari naskah.

>  Melakukan gerak serta dialog yang terdapat dalam naskah. Jadi disini kita sudah mendapat

    gambaran tentang akting dari tokoh yang akan kita perankan.

>  Sebagai latihan cobalah membaca sebuah naskah / dialog dengan diiringi musik sebagai

    pembantu pemberi suasana. Hayati dulu musiknya baru mulailah membaca.

BLOCKING

 Yang dimaksud dengan blocking adalah kedudukan tubuh pada saat di atas pentas. Dalam permainan drama, blocking yang baik sangat diperlukan, oleh karena itu pada waktu bermain kita harus selalu mengontrol tubuh kita agar tidak merusak blocking. Yang dimaksud dengan blocking yang baik adalah blocking tersebut harus seimbang, utuh, bervariasi dan memiliki titik pusat perhatian serta wajar.

Seimbang : berarti kedudukan pemain, termasuk juga benda-benda yang ada diatas panggung (setting) tidak mengelompok di satu tempat, sehingga mengakibatkan adanya kesan berat sebelah. Jadi semua bagian panggung harus terwakili oleh pemain atau benda-benda yang ada di panggung. Penjelasan lebih lanjut mengenai keseimbangan panggung ini akan disampaikan pada bagian mengenai “Komposisi Pentas “.

Utuh : berarti blocking yang ditampilkan hendaknya merupakan suatu kesatuan. Semua penempatan dan gerak yang harus dilakukan harus saling menunjang dan tidak saling menutupi.

Bervariasi : artinya bahwa kedudukan pemain tidak disuatu tempat saja, melainkan mem-bentuk komposisi-komposisi baru sehingga penonton tidak jenuh. Keadaan seorang pemain jangan sama dengan kedudukan pemain lainnya. Misalnya sama-sama berdiri, sama-sama jongkok, menghadap ke arah yang sama, dsb. Kecuali kalau memang dikehendaki oleh naskah.

Memiliki titik pusat : artinya setiap penampilan harus memiliki titik pusat perhatian. Hal ini penting artinya untuk memperkuat peranan lakon dan mempermudah penonton  untuk melihat dimana sebenarnya titik pusat dari adegan yang sedang berlangsung. Antara pemain juga ja-ngan saling mengacau sehingga akan mengaburkan dimana sebenarnya letak titik perhatian.

Wajar : artinya setiap penempatan pemain ataupun benda-benda haruslah tampak wajar, tidak dibuat-buat. Di samping itu setiap penempatan juga harus memiliki motivasi dan harus beralasan.

Dalam drama kontemporer kadang-kadang naskah tidak menuntut blocking yang sempurna, bahkan kadang-kadang juga sutradara atau naskah itu sendiri sama sekali meninggalkan prinsip-prinsip blocking. Ada juga naskah yang menuntut adanya gerak-gerak yang seragam di antara para pemainnya.

NASKAH

Setelah kita mengenal berbagai macam dasar yang diperlukan untuk bermain drama, akhirnya sampailah kita pada naskah. Naskah disini diartikan sebagai bentuk tertulis dari suatu drama. Sebuah naskah walaupun telah dimainkan berkali-kali, dalam bentuk yang berbeda-beda, naskah tersebut tidak akan berubah mutunya. Sebaliknya sebuah atau beberapa drama yang dipentaskan berdasarkan naskah yang sama dapat berbeda mutunya. Hal ini tergantung pada penggarapan dan situasi, kondisi, serta tempat di mana dimainkan naskah tersebut.

Sebuah naskah yang baik harus memiliki tema, pemain / lakon dan plot atau rangka cerita.

Tema : adalah rumusan inti sari cerita yang dipergunakan dalam menentukan arah dan tujuan cerita. Dari tema inilah kemudian ditentukan lakon-lakonnya.

Lakon : dalam cerita drama lakon merupakan unsur yang paling aktif yang menjadi pengge-rak cerita. Oleh karena itu seorang lakon haruslah memiliki karakter, agar dapat berfungsi sebagai penggerak cerita yang baik. Di samping itu dalam naskah akan ditentukan dimensi-dimensi sang lakon. Biasanya ada 3 dimensi yang ditentukan yaitu :

Dimensi fisiologi    : ciri-ciri badani

    usia, jenis kelamin, keadaan tubuh, cirri-ciri muka,dll.

Dimensi sosiologi   : latar belakang kemasyarakatan

    status sosial, pendidikan, pekerjaan, peranan dalam masyarakat, kehidupan pribadi,

    pandangan hidup, agama, hobby, dll.

Dimensi psikologis : latar belakang kejiwaan

    temperamen, mentalitas, sifat, sikap dan kelakuan, tingkat kecerdasan, keahlian dalam

    bidang tertentu, kecakapan, dll. 

Apabila kita mengabaikan salah satu saja dari ketiga dimensi di atas, maka lakon yang akan kita perankan akan menjadi tokoh yang kaku, timpang, bahkan cenderung menjadi tokoh yang mati.

Plot : adalah alur atau kerangka cerita. Plot adalah suatu keseluruhan peristiwa di dalam naskah. Secara garis besar, plot drama dapat dibagi menjadi beberapa bagian yaitu :

*  Pemaparan (eksposisi)

Bagian pertama dari suatu pementasan drama adalah pemaparan atau eksposisi. Pada bagian ini diceritakan mengenai tempat, waktu dan segala situasi dari para pelakunya. Kepada penonton disajikan sketsa cerita sehingga penonton dapat meraba dari mana cerita ini dimulai. Jadi eksposisi berfungsi sebagai pengantar cerita.

*  Dialog

Dialog berisikan kata-kata. Dalam drama para lakon harus berbicara dan apa yang diutarakan mesti sesuai dengan perannya, dengan tingkat kecerdasannya, pendidikannya, dsb. Dialog berfungsi untuk mengemukakan persoalan, menjelaskan perihal tokoh, menggerakkan plot maju, dan membukakan fakta.

*  Komplikasi awal atau konflik awal

Kalau pada bagian pertama tadi situasi cerita masih dalam keadaan seimbang maka pada bagian ini mulai timbul suatu perselisihan atau komplikasi. Konflik merupakan kekuatan penggerak drama.

*  Klimaks dan krisis

Klimaks dibangun melewati krisis demi krisis. Krisis adalah puncak plot dalam adegan. Konflik adalah satu komplikasi yang bergerak dalam suatu klimaks.

*  Penyelesaian (denouement)

Drama terdiri dari sekian adegan, dimana didalamnya terdapat krisis-krisis yang memunculkan beberapa klimaks. Satu klimaks terbesar dibagian akhir selanjutnya diikuti adegan penyelesaian.

MEMPELAJARI TATA CAHAYA

Proses kerja penataan cahaya dalam pementasan teater membutuhkan waktu yang lama. Seorang penata cahaya tidak hanya bekerja sehari atau dua hari menjelang pementasan. Kejelian sangat diperlukan, karena fungsi tata cahaya tidak hanya se-kedar menerangi panggung pertunjukan. Kehadiran tata cahaya sangat membantu dramatika lakon yang dipentaskan. Tidak jarang sebuah pertunjukan tampak spekta-kuler karena kerja tata cahayanya yang hebat. Untuk hasil yang terbaik, penata cahaya perlu mengikuti prosedur kerja mulai dari menerima naskah sampai pementasan.

Prosedur atau langkah kerja pada dasarnya dibuat untuk mempermudah kerja seseorang. Dari gambar di atas dapat diketahui bahwa kerja penata cahaya tidak hanya sekedar menata lampu, menghidupkan, dan mematikannya.

Mempelajari Naskah

Naskah lakon adalah bahan dasar ekspresi artistik pementasan teater. Semua kreativitas yang dihasilkan mengacu pada lakon yang dipilih. Tidak hanya sutradara dan aktor yang perlu mempelajari naskah lakon. Penata cahaya pun perlu mempela-jari naskah lakon. Berbeda dengan aktor yang berkutat pada karakter tokoh peran, penata cahaya mempelajari lakon untuk menangkap maksud lakon serta mempela-jari detil latar waktu, dan tempat kejadian peristiwa.

Mempelajari tempat kejadian peristiwa akan memberikan gambaran pada penata cahaya tempat cerita berlangsung, suasana dan piranti yang digunakan. Mungkin ada piranti yang menghasilkan cahaya seperti obor, lilin, lampu belajar, dan lain sebagainya yang digunakan dalam cerita tersebut. Ini semua menjadi catatan penata cahaya. Setiap sumber cahaya menghasilkan warna dan efek cahaya yang berbeda yang pada akhirnya akan memberikan gambaran suasana.

Tempat berlangsungnya cerita juga memberikan gambaran cahaya. Peristiwa yang terjadi di dalam ruang memiliki pencahaayaan yang berbeda dengan di luar ruang. Jika dihubungkan dengan waktu kejadian maka gambaran detil cahaya secara keseluruhan akan didapatkan. Jika perstiwa terjadi di luar ruang pada siang hari berbeda dengan sore hari. Persitiwa yang terjadi di luar ruang memerlukan pencahayaan yang bebeda antara di sebuah taman kota dan di teras sebuah rumah. Semua hal yang berkaitan dengan ruang dan waktu harus menjadi catatan penata cahaya.

Diskusi Dengan Sutradara

Penata cahaya perlu meluangkan waktu khusus untuk berdiskusi dengan sutradara. Setelah mempelajari naskah dan mendapatkan gambaran keseluruhan kejadian peristiwa lakon, penata cahaya perlu mengetahui interpretasi dan keinginan sutradara mengenai lakon yang hendak dimainkan tersebut. Mungkin sutradara mengehendaki penonjolan pada adegan tertentu atau bahkan menghendaki efek khusus dalam persitiwa tertentu. Catatan penata cahaya yang didapatkan setelah mempelajari naskah digabungkan dengan catatan dari sutradara sehingga gambaran keseluruhan pencahayaan yang diperlukan didapatkan.

Mempelajari Desain Tata Busana

Berdiskusi dengan penata busana lebih khusus adalah untuk menyesuaikan warna dan bahan yang digunakan dalam tata busana. Seperti yang telah disebut di atas, bahan-bahan tertentu dapat menghasilkan refleksi tertentu serta warna tertentu dapat memantulkan warna cahaya atau menyerapnya. Untuk menghindari hal-hal yang tidak dinginkan maka kerjasama antara penata cahaya dan penata busana perlu dijalin.

Hal ini juga berkaitan juga dengan catatan sutradara. Misalnya, dalam satu peristiwa sutradara menghendaki cahaya berwarna kehijauan untuk menyimbolkan sebuah mimpi, penata busana juga membuat baju berwarna hijau untuk menegaskan suasana tersebut. Penata cahaya bisa memberikan saran penggunaan warna hijau pada busana karena warna hijau cahaya jika mengenai warna hijau tertentu pada busana bisa saling meniadakan. Artinya, warna hijau yang ingin ditampilkan justru hilang. Untuk itu, diskusi dan saling mempelajari desain perlu dilakukan.

Mempelajari Desain Tata Panggung

Diskusi dengan penata panggung sangat diperlukan karena tugas tata cahaya selain menyinari aktor dan area juga menyediakan cahaya khusus untuk set dan properti yang ada di panggung. Selain bahan dan warna, penataan dekor di atas pentas penting untuk dipelajari. Jika desain tata panggung memperlihatkan sebuah konstruksi maka tata cahaya harus membantu memberikan dimensi pada konstruksi tersebut. Jika desain tata panggung menampilkan bangunan arsitektural gaya tertentu maka tata cahaya harus mampu membantu menampilkan keistemewaan gaya arstitektur yang ditampilkan.

Penyinaran pada set dekor tidak hanya berlaku untuk set dekor saja tetapi juga ber-laku untuk lingkungan sekitarnya. Misalnya, di atas panggung menampakkan sebuah ruang yang di bagian belakangnya ada jendela. Ketika jendela itu dibuka dan lampu ruangan tersebut dinyalakan maka pendar cahaya dalam ruangan harus sampai ke luar ruangan melalui jendela tersebut. Tugas tata cahaya adalah menyajikan efek sinar lampu ruangan yang menerobos ke luar ruangan. Intinya, setiap detil efek ca-haya yang dihasilkan berkaitan dengan tata panggung harus diperhitungkan. Semua harus nampak logis bagi mata penonton.

Memeriksa Panggung dan Perlengkapan

Memeriksa panggung dan perlengkapan adalah tugas berikutnya bagi penata caha-ya. Dengan mempelajari ukuran panggung maka akan diketahui luas area yang perlu disinari. Penempatan baris bar lampu menentukan sudut pengambilan cahaya yang akan ditetapkan. Ketersediaan lampu yang ada dipanggung juga menentukan pele-takan lampu berdasar kepentingan penyinaran berkaitan dengan karakter dan ke-mampuan teknis lampu tersebut. Semua kelengkapan pernak-pernik yang ada di panggung harus diperiksa.

Ketersediaan peralatan seperti, tangga, tali, pengerek, rantai pengaman lampu, sabuk pengaman, sekrup, obeng, gunting, dan perlatan kecil lainnya harus diperiksa. Ketersediaan lampu baik jumlah, jenis, dan kekuatan dayanya harus dicatat. Asesoris yang dibutuhkan untuk lampu seperti; filter warna, kelem, pengait, barndoor, stand, iris, gobo, dan asesoris lain yang ada juga harus diperiksa. Ketersediaan dimmer dan kontrol serta kelistrikan yang menjadi sumber daya utama juga harus diteliti.

Semua yang ada di panggung yang berkaitan dengan kerja tata cahaya dicatat. Berikutnya adalah kalkulasi keperluan tata cahaya berdasar capaian artistik yang dinginkan dan dibandingkan dengan ketersediaan perlengkapan yang ada. Dengan mempelajari panggung dan segala perlengkapan yang disediakan penata cahaya akan menemukan kekurangan atau problem yang perlu diatasi. Misalnya, penataan boom pada panggung kurang sesuai dengan sudut pengambilan lampu samping untuk menyinari set dekor. Oleh karena itu diperlukan stand tambahan. Lampu yang tersedia masih kurang mencukupi untuk menerangi beberapa bagian arsitektur tata panggung, untuk itu diperlukan lampu tambahan.

Semua problem yang ditemui dan solusi yang bisa dilakukan kemudian dicatat dan diajukan ke sutradara atau tim produksi. Jika tim produksi tidak bisa menyediakan kelengkapan yang diperlukan maka penata cahaya harus mengoptimalkan ketersediaan perlengkapan tata cahaya yang ada. Misalnya, dengan menerapkan prinsip penerangan area dan memanfaat beberapa lampu sisa yang ada untuk efek tertentu.

Menghadiri Latihan

Untuk mendapatkan gambaran lengkap dari situasi masingmasing adegan yang diinginkan penata cahaya wajib mendatangi sesi latihan aktor. Selain untuk mema-hami suasana adegan, penata cahaya juga mencatat hal-hal khusus yang menjadi fokus adegan. Hal ini sangat penting bagi penata cahaya untuk merencanakan perpindahan cahaya dari adegan satu ke adegan lain. Perpindahan cahaya yang halus membuat penonton tidak sadar digiring ke suasana yang berbeda. Hasilnya, efek dramatis yang akan ditampilkan oleh cerita jadi semakin mengena. Sesi latihan dengan aktor akan memberikan gambaran detil setiap pergerakan aktor di atas pentas. Setelah mencatat hal-hal yang berkaitan dengan suasana adegan maka proses pergerakan dan posisi aktor di atas pentas perlu diperhatikan. Penyinaran berdasar area memang memberi penerangan pada seluruh area permainan tetapi tidak pada aktor secara khsusus. Dalam satu adegan tertentu mungkin saja aktor berada di luar jangkauan optimal lingkaran sinar cahaya. Oleh karena itu, aktor yang berdiri atau berpose pada area tertentu memerlukan pencahayaan tersendiri. Hal ini berlaku juga untuk tata panggung pada saat latihan teknik dijalankan. Penata cahaya perlu mendapatkan gambaran riil letak set dekor dan seluruh perabot di atas pentas. Dengan demikian, detil pencahayaan pada set dan perabot bisa dirancang dan diperhitungkan dengan baik.

Membuat Konsep

Setelah mendapatkan keseluruhan gambaran dan pemahaman penata cahaya mulai membuat konsep pencahayaan. Konsep ini hanya berupa gambaran dasar penata cahaya terhadap lakon dan pencahayaan yang akan diterapkan untuk mendukung lakon tersebut. Warna, intensitas, dan makna cahaya dituangkan oleh penata cahaya pada konsepnya. Tidak hanya penggambaran suasana yang dituangkan tetapi bisa saja simbol-simbol tertentu yang hendak disampaikan untuk mendukung makna adegan. Misalnya, dalam satu adegan di ruang tamu ada foto besar seorang pejuang yang dipasang di dinding. Untuk memberi kesan bahwa pemiliki rumah sangat mengagumi tokoh tersebut maka foto diberi pencahayaan khusus. Juga dalam setiap perubahan dan perjalanan adegan konsep pencahayaan digambarkan. Konsep bisa ditulis atau ditambahi dengan gambar rencana dasar. Intinya, komsep ini membicarakan gagasan pencahayaan lakon yang akan dimainkan menurut penata cahaya. Selanjutnya konsep didiskusikan dengan sutradara untuk mendapatkan kesesuaian dengan rencana artistik secara keseluruhan.

Plot Tata Cahaya

Konsep yang sudah jadi dan disepakati selanjutnya dijabarkan secara teknis pertama kali dalam bentuk plot tata cahaya. Plot ini akan memberikan gambaran laku tata cahaya mulai dari awal sampai akhir pertunjukan. Seperti halnya sebuah sinopsis cerita, perjalanan tata cahaya ditgambarkan dengan jelas termasuk efek cahaya yang akan ditampilkan dalam adegan demi adegan. Plot ini juga merupakan cue atau penanda hidup matinya cahaya pada area tertentu dalam adegan tertentu. Dengan membuat plot maka penata cahaya bisa memperhitungkan jenis lampu serta warna cahaya yang dibutuhkan, memperkirakan lamanya waktu penyinaran area atau aksi tertentu, merencanakan pemindahan aliran cahaya, dan suasana yang dikehendaki.

Gambar di atas menjelaskan plot tata cahaya pada adegan satu cerita Menanti Pagi. Kolom “Hal” menjelaskan adegan tersebut terjadi pada naskah di halaman tertentu. Kolom “Aksi” menjelaskan kejadian peristiwa atau adegan. Kolom “cue” menjelaskan tanda perubahan cahaya yang harus dilakukan. Kolom “waktu” menjelaskan lamanya waktu adegan dengan cahaya tertentu. Kolom ”cahaya” menjelaskan hasil pencaha-yaan yang akan dicapai. Dengan membaca plot tersebut dapat diketahui bahwa cerita yang akan ditampilkan bernuansa horror di mana pada malam yang diterangi sinar bulan Anton dan Amir sedang duduk berbincang di kursi. Pintu tiba-tiba ter-buka, kemudian tertutup dan lampu ruangan mati. Amir dan Anton lari keluar. Dari sekilas gambaran adegan tersebut dapat diketahui lampu yang akan digunakan dan efek cahaya yang dihasilkan. Setiap perubahan pencahayaan menjadi catatan dan bisa dijadikan cue. Dalam gambar dijelaskan ada empat cue perubahan.

Pada saat adegan dimulai, lampu sudah dipreset sehingga tingal dinaikkan intensitasnya. Cue perubahan tata cahaya pertama adalah ketika Anton dan Amir masuk ke ruangan, duduk di kursi dan menyalakan lampu yang ada di dekat kursi. Efek cahaya dari lampu yang dinyalakan ini menjadi penanda perubahan. Cue perubahan kedua terjadi ketika pintu terbuka dan efek cahaya bulan masuk melalui pintu. Demikian seterusnya sampai adegan tersebut berakhir dan lampu panggung dipadamkan (black out).

TUGAS SEORANG SUTRADARA

Idealnya syarat yang diperlukan untuk menjadi sutradara tampaknya memang berat, seperti yang dijelaskan N. Riantiarno dalam buku Kitab Teater (penerbit Grasindo, 2011).  Syaratnya adalah :

a)     Memiliki ide, konsep, sistem dan teknik mewujudkan pementasan.

b)     Memahami pengetahuan penyutradaraan, seni peran, seni rupa, sejarah, sastra, filsafat, ilmu jiwa, sosiologi, dan berbagai pengetahuan umum yang bisa mendukung pekerjaannya sebagai sutradara. Tetapi yang paling utama memahami ilmu teater.

c)     Memahami elemen dan alat-alat panggung, serta mengetahui kelemahan dan kekuatan tempat pementasan (panggung, lapangan terbuka, aula, atau ruang kelas).

d)    Memiliki kepekaan terhadap jiwa dari manajemen teater. Berjiwa pemimpin. Mempu mengkoordinasikan banyak orang dan menyatukannya sehingga menjadi suatu tindakan demi sebuah tujuan. Tidak keras kepala. Siap menerima masukan/ide/kritik dari siapa pun. Selain itu juga jujur, disiplin, teliti, bersemangat, dan bertanggungjawab terhadap apa yang dilakukan. Dan, yang paling utama adalah mencintai pekerjaannya lahir batin.

Syarat tersebut di atas tidaklah menjadi ketentuan mutlak yang harus dimiliki seseorang (atau guru) yang untuk pertama kali berminat menjadi sutradara.  Sejalan dengan proses pelatihan dan perkembangannya nanti syarat-syarat tersebut bisa diasah, ditambah dan dikuasainya. Memang semua tergantung pada motivasi dan ketekunan sang sutradara untuk terus berupaya meningkatkan kualitas dirinya.

Sutradara adalah pemimpin dalam pementasan drama. Sebagai pemimpin yang bertanggung jawab terhadap kesuksesan pementasan drama, ia tentu harus membuat perencanaan dan melaksanakannya. Sutradara juga bertanggung jawab menyatukan seluruh elemen teater. Seorang sutradara harus mempunyai argumen/alasan yang kuat dan jelas mengapa memilih tema tertentu. Selain itu, dia juga harus bisa mewujudkan tujuan yang hendak dicapai melalui pementasan teater yang dilakukan.

Menurut N. Riantiarno lagi setidaknya ada tujuh tugas sutradara, yakni:

  1.  Memilih naskah lakon.
  2.  Memilih pemain dan pekerja artistik.
  3.  Bekerja sama dengan staf artistik dan non artistik.
  4.  Menafsir naskah lakon dan menginformasikannya kepada seluruh pekerja (artistik dan non-artistik).
  5.  Menafsir karakter peranan dan menginformasikannya kepada seluruh pemain (aktor-aktris).
  6.  Melatih pemain agar bisa memainkan peranan berdasar tafsir yang sudah dipilih.
  7.  Mempersatukan seluruh kekuatan dari berbagai elemen teater sehingga menjadi sebuah pergelaran yang bagus, menarik dan bermakna.

Sesudah tema/naskah dipilih, pemain dan pekerja pun mulai dipilih berdasarkan kebutuhan pemanggungan. Pemain dilatih secara tekun dan bertahap. Kelengkapan panggung juga dipersiapkan. Gladi kotor dan gladi bersih dijalankan. Akhirnya penyelenggaraan pertunjukan sebagai hasil ujung dari seluruh kegiatan.

Hasil akhir memang penting, tapi yang paling penting, menurut N. Riantiarno, adalah proses mengalami sejak perencanaan, pelatihan, hingga pementasan. Bagaimana mengatasi problem, menggali alternatif, dan mengeksekusi pilihan. Sebuah penyajian yang melewati perjalanan panjang. Daya kreatif dan inisiatif yang diasah sejak masa-masa dini. Inilah gol yang ingin dicapai oleh program-program pelatihan dan pembimbingan ini.

Seringkali kita menjumpai dalam kelompok-kelompok teater amatir, bagaimana sutradara bekerja hingga terlalu jauh mencampuri pekerjaan-pekerjaan yang seharusnya menjadi “jatah” aktor. Hal ini, menurut Tim Penulis buku “Teater Asyik, Asyik Teater” disebabkan bukan saja karena sutradara harus berhadapan dengan para aktor yang sama sekali belum siap disebut aktor, acap juga disebabkan sutradara sendiri belum bekerja berdasarkan metode penyutradaraan atau bahkan tak mengerti apa saja yang menjadi tugas-tugas pentingnya sebagai sutradara.

Dalam banyak teori, diktat, dan buku-buku penyutradaraan yang diajarkan di lingkungan akademik/Perguruan Tinggi Seni, Sutradara disebut sebagai “Penafsir Utama” naskah lakon. Tim Penulis buku ”Teater Asyik, Asyik Teater” memaparkan apa saja yang menjadi tugas sutradara selaku penafsir utama.

  1.  Menafsirkan tema utama naskah lakon yang telah dipilih sebelumnya dan mempresentasikannya kepada para aktor dan seluruh tim pendukung.
  2.  Menafsirkan bentuk seni yang akan dimainkan berkaitan dengan lakon yang dipilih dan mempresentasikannya kepada kelompok. Hal ini akan menentukan pula perancangan artistik: set panggung, cahaya, kostum dan make up, dan musik.
  3.  Menafsirkan perwatakan yang terdapat pada setiap tokoh dalam lakon dan menyosialisasikannya kepada para aktor.
  4.  Menafsir alur cerita dan sasaran utama yang hendak dicapai pengarang lakon dalam lakon tersebut.
  5.  Menentukan/menafsirkan sasaran setiap adegan yang terdapat di dalam lakon.
  6.  Menafsirkan suasana, ritme, dan tempo yang terdapat dalam setiap peristiwa dan adegan
  7.  Menentukan garis-garis blocking dan komposisi untuk menafsirkan dan menggambarkan sejelas mungkin suasana dan peristiwa-peristiwa yang terdapat dalam lakon.
  8.  Membantu dan membimbing seluruh aktor dalam setiap latihan untuk mendapatkan, memahami, dan mengalami semua yang telah ia tafsirkan di atas.

ORGANISASI PRODUKSI TEATER

Di Indonesia seorang sutradara terpaksa harus mengurusi segalanya. Dia harus mencari naskah yang cocok, mencari pemain-pamin yang cocok, pekerja yang bisa diajak bekerja sama. Lalu dia akan mengkoordinir semuanya. Tak jarang dia juga ikut mencari sponsor, memilih gedung pertunjukan, memikirkan strategi penjualan karcis, mngurusi strategi publikasi, mengurus poster/pamplet/spanduk/ buklet, dan bukan mustahil dia juga harus berhadapan dengan polisi jika sandiwaranya kebetulan tak berkenan di hati penguasa.

Bagi seorang sutradara yang kreatif dan energik, menurut N. Riantiarno, kerja serabutan macam itu tidak menjadi soal, meski yang dia urus sebagian besar adalah hal-hal yang non-artistik. Dia justru akan memetik manfaat dari “pengalaman batin”-nya saat berhadapan dengan masalah-masalah non-artistik. Tapi bagi sutradara yang “tak kuat”, segi artistik kemudian menjadi terabaikan. Lantaran waktu, konsentrasi dan enerjinya sudah terkuras habis saat mengurusi segi-segi non-artistik itu.

Inilah dilema, kata N. Riantiarno, yang mau tak mau harus dihadapi oleh hampir semua sutradara di Indonesia. Termasuk oleh guru yang bertindak sebagai sutradara untuk pentas di sekolah. Walau mungkin jumlah sumber daya manusia (baca: siswa) di sekolah relatif cukup banyak untuk dikerahkan dan diperbantukan tetapi kemampuan untuk memahami lingkup tugas masing-masingnya masih menjadi persoalan utama.

Di bawah ini adalah bagan organisasi produksi teater (yang ideal) yang penulis kutip dari buku Kitab Teater karya N. Riantiarno :

Bagan Organisasi Produksi Teater

 
   

Bagan organisasi poduksi teater di atas adalah sebuah struktur kerja kreatif untuk sebuah pentas besar, seperti halnya yang dilakukan oleh sejenis Teater Koma. Penyerderhanaan dari struktur kerja di atas masih sangat mungkin jika pentas yang kita lakukan hanyalah se-level pentas sekolah. Beberapa bagian baik dari unsur Manajemen Artistik maupun unsur Manajemen Produksi bisa tidak kita pergunakan. Bahkan bisa saja beberapa bagian tugas kerja tersebut dirangkap oleh satu orang sehingga tim organisasi produksi teater-nya bisa lebih ramping, relatif tidak banyak membutuhkan orang walau hierarki tugasnya tetap sama.

Tim Penulis buku “Teater Asyik, Asyik Teater” menjelaskan lebih sederhana perihal bagaimana sebuah produksi teater (di sekolah) ditangani oleh tim pekerja (manajemen) produksi, yaitu:

  1.  Mencari dan memilih tempat latihan baik di sekolah maupun di luar sekolah yang tentunya atas ijin dan kesepakatan bersama yaitu pihak sekolah, sutradara, manajer panggung/stage manager (orang yang bertanggungjawab dengan segala sesuatu yang berlangsung di atas panggung selama pertunjukan berlangsung).
  2.  Merencanakan dan mengurus perijinan tempat latihan atau pementasan baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah. Apabila bertempat di luar sekolah pihak sekolah pun ikut dilibatkan secara administrasi.
  3.  Merencanakan dan mengurus konsumsi selama proses latihan dan pementasan berlangsung. Kita akan menghitung berapa kali konsumsi dapat diberikan berdasarkan prioritas dan keadaan keuangan. Atau kalau mungkin kita juga dapat mengusahakan sumbangan konsumsi dari pihak manapun yang mungkin berkenan.
  4.  Merencanakan dan mengadakan promosi pementasan, baik di dalam sekolah maupun di luar sekolah.
  5.  Merencanakan, menjadwalkan dan mengadakan publikasi yang merupakan media promosi.
  6.  Merencanakan, menjadwalkan dan mengurus penjualan tiket. Tiket dapat dijual sebelum pementasan berlangsung. Tiket dapat dijual di koperasi sekolah, sanggar seni sekolah, bekerja sama dengan sekolah lain atau di tempat-tempat yang lain yang mudah dijangkau dan strategis. Dan pada hari pelaksanaan tiket biasa dijual di tempat pertunjukan.
  7.  Menggalang bantuan atau fundraising. Untuk mewujudkan sebuah impian mementaskan sebuah pertunjukan teater tentunya kita tak ingin pentas seadanya. Untuk itu kita perlu memikirkan langkah-langkah kerjasama dengan pihak-pihak lain. Menggalang bantuan ini bisa berupa uang atau sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk menunjang produksi.
  8.  Merencanakan dan menjadwal segala sesuatu yang berhubungan dengan produksi dan kegiatan artistik, tentu saja atas kesepakatan bersama dengan tim artistik.
  9.  Mengadakan evaluasi terhadap pekerjaan produksi yang sudah dicapai sebelum pelaksanaan pementasan berlangsung dan sesudah pementasan.

 

ISTILAH-ISTILAH DALAM TEATER

Adegan : Bagian dari babak yang menggambarkan satu suasana dari beberapa suasana dalam babak

Akting : Tingkah laku yang dilakukan pemain sebagai wujud penghayatan peran yang dimainkan

Aktor : orang yang melakukan akting

Amphiteater : Panggung pertunjukan jaman Yunani Kuno

Apron : Daerah yang terletak di depan layar atau persis di depan bingkai proscenium

Arena : Salah satu bentuk panggung yang tidak dibatasi oleh konvensi empat dinding imajiner

Artikulasi : Hubungan antara apa yang dikatakan dan bagaimana mengatakanya, dan dipengaruhi oleh penguasaan organ produksi suara

Atmosfir : Isitlah teater untuk menyebutkan suasana atau kondisi lingkungan

Auditorium : Ruang tempat duduk penonton dalam panggung proscenium

Backdrop : Layar paling belakang. Kain yang dapat digulung atau diturun-naikkan dan membentuk latar belakang panggung

Bahasa tubuh : Bahasa yang ditimbulkan oleh isyarat-isyarat dan ekspresi tubuh

Bar : Pipa bisa yang digunakan sebagai baris untuk pemasangan lampu

Batten : (1) Lampu flood yang dirangkai dalam satu kompartemen (wadah). (2) Perlengkapan panggung yang dapat digunakan untuk mengaitkan sesuatu dan dapat dipindahpindahkan

Blocking : Gerak dan perpindahan pemain dari satu area ke area lain di panggung

Dialog : Percakapan para pemain.

Diafragma : Sekat yang memisahkan antara rongga dada dan rongga perut

Dimmer ; Alat pengatur tinggi rendahnya intensitas cahaya

Distorsi : Hasil rekaman suara melebihi standar batas maksimal yang ditentukan

Drama : Salah satu jenis lakon serius dan berisi kisah kehidupan manusia yang memiliki konflik yang rumit dan penuh daya emosi tetapi tidak mengagungkan sifat tragedi

Emosi : Proses fisik dan psikis yang kompleks yang bisa muncul secara tiba-tiba dan spontan atau diluar kesadaran

Filter : Palstik atau mika berwarna untuk mengubah warna lampu

Flashback : Kilas balik peristiwa lampau yang dikisahkan kembali pada saat ini

Flat Karakter : Karakter tokoh yang ditulis oleh penulis lakon secara datar dan biasanya bersifat hitam putih

Fokus : (1) Istilah dalam penyutradaraan untuk menonjolkan adegan atau permainan aktor. (2) Istilah tata cahaya untuk area yang disinari cahaya dengan tepat dan jelas Follow Spot ; Jenis lampu spot yang dapat dikendalikan secara manual untuk mengikuti arah gerak pemain

Foyer : Ruang tunggu penonton sebelum pertunjukan dimulai atau saat istirahat Frequency

Respon : Kemampuan dalam menangkap frekuensi pada batas maksimum dan minimum

Fresnel : (1) Lensa yang mukanya bergerigi. (2) Jenis lampu yang menggunakan lensa bergerigi

Gesture : sikap tubuh yang memiliki makna, bisa juga diartikan dengan gerak tubuh sebagai isyarat

Gimmick : Adegan awal dari sebuah lakon yang berfungsi sebagai pemikat minat penonton untuk menyaksikan kelanjutan dari lakon tersebut

Gobo : Pelat metal yang dicetak membentuk pola atau motif tertentu dan digunakan untuk membuat lukisan sinar cahaya

Imajinasi : Proses pembentukan gambaran-gambaran baru dalam pikiran, dimana gambaran tersebut tidak pernah dialami sebelumnya atau mungkin hanya sedikit yang dialaminya

Improvisasi : Gerakkan dan ucapan yang tidak terencana untuk menghidupkan permainan.

Intonasi : Nada suara (dalam bahasa jawa disebut langgam), irama bicara, atau alunan nada dalam melafalkan kata-kata, sehingga tidak datar atau tidak monoton.

Irama : Gelombang naik turun, longgar kencangnya gerakkan atau suara yang berjalan dengan teratur

Iris : Piranti untuk memperbesar atau memperkecil diameter lingkaran sinar cahaya yang dihasilkan oleh lampu

Jeda : Pemenggalan kalimat dengan maksud untuk memberi tekanan pada kata.

Karakter : Gambaran tokoh peran yang diciptakan oleh penulis lakon melalui keseluruhan ciri-ciri jiwa dan raga seorang peran

Karakter Teatrikal: Karakter tokoh yang tidak wajar, unik, dan lebih bersifat simbolis.

Komedi : salah satu jenis lakon yang mengungkapkan cacat dan kelemahan sifat manusia dengan cara yang lucu, sehingga para penonton bisa lebih menghayati kenyataan hidupnya

Komedi Stamboel : Pertunjukan teater yang mendapat pengaruh dari Turki dan sangat populer di Indonesia pada jaman sebelum kemerdekaan

Komunikan : Penerima komunikasi

Komunikator : Penyampai komunikasi

Konflik : Ketegangan yang muncul dalam lakon akibat adanya karakter yang bertentangan, baik dengan dirinya sendiri maupun yang ada di luar dirinya.

Konotasi : Arti kata yang bukan sebenarnya dan lebih dipengaruhi oleh konteks kata tersebut dalam kalimat.

Konsentrasi : Kesanggupan atau kemampuan yang diperlukan untuk mengerahkan pikiran dan kekuatan batin yang ditujukan ke suatu sasaran tertentu sehingga dapat menguasai diri dengan baik.

Lakon : Penuangan ide cerita penulis menjadi alur cerita yang berisi peristiwa yang saling mengait dan tokoh atau peran yang terlibat, disebut juga naskah cerita

Lakon Satir : Salah satu jenis lakon yang mengemas kebodohan, perlakuan kejam, kelemahan seseorang untuk mengecam, mengejek bahkan menertawakan suatu keadaan dengan maksud membawa sebuah perbaikan

Latar Peristiwa : Peristiwa yang melatari adegan itu terjadi dan bisa juga yang melatari lakon itu terjadi

Latar Tempat : Tempat yang menjadi latar peristiwa lakon itu terjadi.

Latar Waktu : Waktu yang menjadi latar belakang peristiwa, adegan, dan babak itu terjadi

Level : (1) Istilah pemeranan dan penyutradraan untuk mengatur tinggi rendah pemain. (2) Isitilah tata suara untuk tingkat ukuran besar kecilnya suara yang terdengar

Melodrama : Salah satu jenis lakon yang isinya mengupas suka duka kehidupan dengan cara yang menimbulkan rasa haru kepada penonton

Mimik : Ekspresi gerak wajah untuk menunjukkan emosi yang dialami pemain

Monolog : Cakapan panjang seorang aktor yang diucapkan di hadapan aktor lain

Noise : Gangguan suara yang tidak diinginkan dalam memproses suara atau rekaman

Observasi : Kegiatan mengamati yang bertujuan menangkap atau merekam hal apa saja yang terjadi dalam kehidupan

Pantomimik : Ekspresi gerak tubuh untuk menunjukkan emosi yang dialami pemain

Pemanasan : Serial dari latihan gerakan tubuh dimaksudkan untuk meningkatkan sirkulasi dan meregangkan otot dengan cara progresif (bertahap).

Pemeran : Seorang seniman yang menciptakan peran yang digariskan oleh penulis naskah, sutradara, dan dirinya sendiri.

Penonton : Orang yang hadir untuk menyaksikan pertunjukan teater

Pernafasan : Peristiwa menghirup udara dari luar yang mengandung oksigen ke dalam tubuh serta menghembuskan udara yang banyak mengandung karbondioksida

Plot : Biasa disebut dengan alur adalah kontruksi atau bagan atau skema atau pola dari peristiwa-peristiwa dalam lakon, puisi atau prosa dan selanjutnya bentuk peristiwa dan perwatakan itu menyebabkan pembaca atau penonton tegang dan ingin tahu

Profile : Jenis lampu spot yang dapat ukuran dan bentuk sinarnya dapat disesuaikan

Properti : Benda atau pakaian yang digunakan untuk mendukung dan menguatkan akting pemeran.

Protagonis : Peran utama yang merupakan pusat atau sentral dari cerita

Proscenium : Bentuk panggung berbingkai

Resonansi : Bergema atau bergaung

Rias Fantasi : Tata rias yang diterapkan untuk menggambarkan sifat atau karakter yang imajinatif

Rias Karakter : Tata rias yang diterapkan untuk menegaskan gambaran karakter tokoh peran

Rias Korektif : Tata rias yang diterapkan untuk memperbaiki kekurangan sehingga pemain nampak cantik

Ritme : Tempo atau cepat lambatnya dialog akibat variasi penekanan kata-kata yang penting.

Skenario : Susunan lakon yang diperagakan oleh pemeran

Soliloki : Cakapan panjang aktor yang diucapkan seorang diri dan kepada diri sendiri

Struktur Dramatik : Rangkaian alur cerita yang saling bersinambung dari awal cerita sampai akhir.

Sutradara : Orang yang mengatur dan memimpin dalam sebuah permainan.

Teknik Muncul : Suatu teknik seorang pemeran dalam memainkan peran untuk pertama kali memasuki sebuah pentas lakon.

Teknik Timing : Teknik ketepatan waktu antara aksi tubuh dan aksi ucapan atau ketepatan antara gerak tubuh dengan dialog yang diucapkan.

Tema : Ide dasar, gagasan atau pesan yang ada dalam naskah lakon dan ini menentukan arah jalannya cerita.

Tempo : Cepat lambatnya suatu ucapan yang kita lakukan

Tragedi : Salah satu jenis lakon yang meniru sebuah aksi yang sempurna dari seorang tokoh besar dengan menggunakan bahasa yang menyenangkan supaya para penonton merasa belas kasihan dan ngeri sehingga penonton mengalami pencucian jiwa atau mencapai katarsis

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.      Latar Belakang

Pendidikan sebagai salah satu aspek dalam meningkatkan sumber daya manusia terus diperbaiki dan direnovasi. Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap tempat yang memiliki jumlah populasi manusia pasti membutuhkan pendidikan. Perkembangan zaman sekarang ini, menuntut peningkatan kualitas individu. Sehingga dimanapun ia berada dapat digunakan setiap saat. Hal ini tentunya tidak lepas dari peran pendidikan terus diperhatikan dan ditingkatkan dengan berbagai cara, diantaranya mengeluarkan undang-undang sistem pendidikan nasional, mengesahkan undang-undang kesejahteraan guru serta mengadakan perubahan kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan zaman.

Pembelajaran Matematika umumnya didominasi oleh pengenalan rumus-rumus serta konsep-konsep secara verbal, tanpa ada perhatian yang cukup terhadap pemahaman siswa. Disamping itu proses belajar mengajar hampir selalu berlangsung dengan metode “chalk and talk” guru menjadi pusat dari seluruh kegiatan di kelas (Somerset, 1997 dalam Sodikin, 2004:1).

        Pada umumnya, sekelompok siswa beranggapan bahwa mata pelajaran matematika sulit difahami. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: Pertama, siswa kurang memiliki pengetahuan prasyarat serta kurang mengetahui manfaat pelajaran matematika yang ia pelajari. Kedua, daya abstraksi siswa kurang dalam memahami konsep-konsep matematika yang bersifat abstrak.

        Dari pengalaman peneliti dalam memberikan pembelajaran matematika kepada siswa selama ini, sebagian besar siswa sulit memahami materi dimensi tiga, khususnya tentang irisan bidang dengan bangun ruang. Meskipun peneliti sudah berupaya membimbing siswa dalam memahami konsep irisan bidang dengan bangun ruang dengan cara menunjukkan sketsa gambar, namun hasil belajar siswa belum sesuai dengan yang diharapkan, yaitu masih banyak siswa yang nilainya kurang dari standar ketuntasan belajar minimal.

Menurut Dienes (dalam Ruseffendi, 1980:134) menyatakan bahwa setiap konsep matematika dapat difahami dengan mudah apabila kendala utama yang menyebabkan anak sulit memahami dapat dikurangi atau dihilangkan. Dienes berkeyakinan bahwa anak pada umumnya melakukan abstraksi berdasasarkan intuisi dan pengalaman kongkrit, sehingga cara mengajarkan konsep-konsep matematika dapat dilakukan dengan menggunakan bantuan objek kongkrit.

Dengan demikian, dalam mengajarkan matematika perlu adanya benda-benda kongkrit yang merupakan model dari ide-ide matematika, yang selanjutnya disebut sebagai alat peraga sebagai alat bantu pembelajaran. Alat bantu pembelajaran ini digunakan dengan maksud agar anak dapat mengoptimalkan panca inderanya dalam proses pembelajaran, mereka dapat melihat, meraba, mendengar, dan merasakan objek yang sedang dipelajari.Untuk mengatasi masalah di atas, perlu diadakan penelitian tindakan kelas tentang penggunaan media visual atau alat peraga dalam pembelajaran materi irisan suatu bidang dengan bangun ruang. Dengan serangkaian tindakan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, sampai dengan evaluasi, diharapkan dapat meningkatkan pemahaman siswa dalam memahami materi irisan suatu bidang dengan bangun ruang.

B.       Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat diidentifikasikan masalah sebagai berikut:

  1. Apa permasalahan siswa kurang paham dalam materi Dimensi Tiga?
  2. Apakah siswa memahami bangun ruang jika tidak memakai media?
  3. Bagaimana pemahaman siswa jika menggunakan media visual?
  4. Apakah siswa lebih memahami jika diberikan sesuatu yang konkrit?
  5. Apa hubungan antara pemahaman siswa dalam penggunaan media visual dengan hasil belajar siswa pada materi Dimensi Tiga?
  6. Bagaimana penggunaan media visual dalam memahami materi Dimensi Tiga?

C.      Rumusan Masalah

Pada identifikasimasalah yang telah dibuat peneliti dapat merumuskan masalah sebagai berikut : “Bagaimana penggunaan media visual dalam memahami materi Dimensi Tiga pada siswa kelas X SMA NURUL IMAN RAJEG?”.

D.      Tujuan Penelitian

Sesuai dengan permasalahan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang Dimensi Tiga dengan menggunakan media visual.

E.       Manfaat Penelitian

Penelitian ini dapat bermanfaat bagi :

  1. Bagi siswa, penelitian ini dapat mempermudah siswa dalam memahami konsep irisan bidang dengan bangun ruang dan meningkatkan motivasi belajar.
  2. Bagi peneliti, penelitian ini sebagai wahana peningkatan profesionalisme guru yang akan berdampak pada kualitas pendidikan di sekolah
  3. Bagi guru lain, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai rujukan untuk menambah wawasan dalam menentukan strategi dan metode pembelajaran yang sesuai dengan materi pelajaran.
  4. Bagi sekolah, penelitian ini dapat membantu meningkatkan kualitas hasil belajar, khususnya pelajaran matematika, sehingga secara langsung dapat meningkatkan kualitas pendidikan dan out put sekolah.

F.        Definisi Operasional

Teori Belajar Matematika

Menurut Witherington (Udin S Winatapura, 2007:1.5) dalam buku Educational Psychology, mengemukakan bahwa belajar adalah suatu perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru dari pada reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian atau suatu pengertian.

Pengertian Pembelajaran

Pembelajaran adalah upaya untuk menciptakan iklim dan pelayanan terhadap kemampuan,potensi,minat,bakat dan kebutuhan peserta didik yang beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dengan siswa serta antara siswa dengan siswa (Suyitno,2004:1)

Media Pembelajaran

Menurut H.W. Fowler (suyotno,2000:10) matematika adalah ilmu mempelajari tentang bilangan dan ruang yang bersifat abstrak sehingga untuk menunjang pelancaran pembelajaran disamping pemilihan metode yang tepat juga perlu digunakan suatu media pembelajaran yang sangat berperan dalam membimbing abstarksi siswa (Suyitno,2000:37)

Penggunaan media visual

Media visual dapat memperlancar pemahaman dan memperkuat ingatan. Agar menjadi efektif , visual sebaiknya ditempatkan pada konteks yang bermakna dan siswa harus berinteraksi dengan visual untuk meyakinkan terjadinya proses informasi.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

      Sebagai landasan dalam merencanakan dan melaksanakan penelitian tindakan kelas akan diuraikan secara berturut – turut, yaitu (1) belajar, (2) pembelajaran, (3) media pembelajaran dan (4) pemahaman siswa.

A.       Pengertian Belajar

Belajar adalah proses yang dilakukan oleh manusia untuk mendapatkan aneka ragam competencies, skill, attitudes (competencies), keterampilan (skill), dan sikap (attitudes) tersebut diperoleh secara bertahap dan berkelanjutan mulai dari masa bayi sampai masa tua melalui rangkaian proses belajar belajar sepanjang hayat. Sedangkan menurut Witherington (Udin S Winatapura, 2007:1.5) dalam buku Educational Psychology, mengemukakan bahwa belajar adalah suatu perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru dari pada reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian atau suatu pengertian[1].

Belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada semua orang dan berlangsung seumur hidup, sejak dia masih bayi hingga ke liang lahat nanti. Proses belajar dapat terjadi kapan saja dimana saja terlepas dari ada yang mengajar atau tidak. Proses belajar terjadi karena adanya interaksi individu dengan lingkungannya[2].

Menurut Moh. Surya (1997), “Belajar dapat diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya”.

Salah satu pertanda bahwa seseorang telah belajar adalah adanya perubahan tingkah laku dalam dirinya, perubahan perilaku tersebut menyangkut perubahan yang bersifat pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotor) ataupun yang menyangkut nilai dan sikap (afektif).

Dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses yang dilakukan oleh manusia yang berlangsung seumur hidup yang terjadi karena adanya interaksi dengan lingkungan dan keterlibatannya dalam pendidikan formal maupun informal.

B.        Pengertian Pembelajaran

Pembelajaran merupakan kegiatan yang dilakukan menginisiasi, memfasilitasi dan meningkatkan intensitas dan kualitas belajar pada diri peserta didik.[3]

Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses perolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik.

Di sisi lain pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan pengajaran, tetapi sebenarnya mempunyai konotasi yang berbeda. Pengajaran merupakan salah satu aspek dari pendidikan, yaitu aspek pengetahuan (kognitif). Pengajaran memberikan ketrampilan dan pengetahuan, sedangkan pendidikan membimbing anak ke arah kehirupan yang baik dan benar[4]. Dalam konteks pendidikan, guru mengajar agar peserta didik dapat belajar dan menguasai isi pelajaran hingga mencapai sesuatu objektif yang ditentukan (aspek kognitif), juga dapat memengaruhi perubahan sikap (aspek afektif), serta keterampilan (aspek psikomotor) seorang peserta didik, namun proses pengajaran ini memberi kesan hanya sebagai pekerjaan satu pihak, yaitu pekerjaan pengajar saja. Sedangkan pembelajaran menyiratkan adanya interaksi antara pengajar dengan peserta didik.

Pembelajaran yang berkualitas sangat tergantung dari motivasi pelajar dan kreatifitas pengajar. Pembelajar yang memiliki motivasi tinggi ditunjang dengan pengajar yang mampu memfasilitasi motivasi tersebut akan membawa pada keberhasilan pencapaian target belajar. Target belajar dapat diukur melalui perubahan sikap dan kemampuan siswa melalui proses belajar. Desain pembelajaran yang baik, ditunjang fasilitas yang memandai, ditambah dengan kreatifitas guru akan membuat peserta didik lebih mudah mencapai target belajar.

Dapat ditarik kesimpulan bahwa pembelajaran adalah tindakan yang dilakukan secara sengaja oleh guru untuk membuat siswa belajar, yaitu terjadinya perubahan aspek pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotor) ataupun yang menyangkut nilai dan sikap (afektif) yang melibatkan interaksi antara pengajar dan peserta didik.

C.       Pengertian Media Pembelajaran

Media pembelajaran merupakan salah satu komponen penting dalam mencapai keberhasilan dalam proses pembelajaran. Dalam kamus Inggris-Indonesia disebutkan bahwa media memilki arti yang sama dengan medium yang mengandung beberapa arti antara lain adalah sebagai berikut:

  1. Perantara
  2. Perantaraan[5]

Sehingga dapat kita pahami bahwa media pembelajaran adalah sesuatu yang dapat dijadikan sarana penghubung untuk mencapai pesan yang harus dicapai oleh siswa dalam kegiatan belajar[6].

Metode mengajar dan media pembelajaran merupakan unsur yang amat penting dalam proses belajar mengajar. Keduanya saling berkaitan. Pemilihan metode yang akan digunakan dalam pembelajaran akan memengaruhi jenis media pembelajaran yang cocok. Salah satu fungsi media pembelajaran adalah sebagai alat bantu mengajar.

Hamalik dalam Azhar Arsyad (2011) mengemukakan bahwa pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar-mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh- pengaruh psikologis terhadap siswa. Selain membangkitkan motivasi dan minat siswa, media pembelajaran juga dapat membantu siswa meningkatkan pemahaman, menyajikan data dengan menarik dan terpercaya, memudahkan penafsiran data, dan memadatkan informasi.

Menurut Kemp & Dayton (1985), media pembelajaran dapat memenuhi tiga fungsi utama apabila media tersebut digunakan untuk perorangan, kelompok, atau kelompok pendengar yang besar jumlahnya, yaitu memotivasi minat, menyajikan informasi, dan memberi instruksi. Fungsi motivasi dapat direalisasikan dengan teknik drama atau hiburan. Untuk tujuan informasi, media pembelajaran dapat digunakan untuk penyajian informasi di hadapan kelompok siswa. Media juga berfungsi untuk tujuan instruksi dimana informasi yang terdapat dalam media itu harus melibatkan siswa baik dalam benak atau mental maupun dalam bentuk aktivitas yang nyata sehingga pembelajaran dapat tercapai.

Levie & Lentz dalam Azhar Arsyad (2011) mengemukakan empat fungsi media pembelajaran, khususnya media visual, yaitu (a) fungsi atensi, (b) fungsi afektif, (c) fungsi kognitif, dan (d) fungsi kompensatoris.

Fungsi atensi, yaitu menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk berkonsentrasi pada isi pelajaran yang berkaitan dengan makna visual yang ditampilkan atau menyertai teks materi pelajaran.

Fungsi afektif media visual dapat terlihat dari tingkat kenikmatan siswa ketika belajar teks yang bergambar.

Fungsi kognitif media visual dapat terlihat dari temuan- temuan penelitian yang mengungkapkan bahwa lambang visual atau gambar memperlancar pencapaian tujuan untuk memahami dan mengingat informasi yang terkandung dalam gambar.

Fungsi kompensatoris, yaitu media pembelajaran berfungsi untuk mengakomodasikan siswa yang lemah dan lambat menerima dan memahami isi pelajaran yang disajikan dengan teks.

Sujana dan Rivai (1990) memberikan alasan mengenai kegunaan media pembelajaran dalam proses belajar mengajar:

  1. Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar;
  2. Bahan pengajaran akan lebih jelas maksudnya, sehingga dapat lebih dipahami oleh para siswa;
  3. Metode mengajar akan lebih bervariasi, sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga;
  4. Siswa lebih banyak melakukan kegiatan, karena tidak hanya mendengarkan uraian guru, tetapi juga mengamati, melaksanakan, mendemonstrasikan, dan lain- lain.

D.      PengertianMediaVisual

Media visual adalah media yang memberikan gambaran menyeluruh dari yang konkrit sampai dengan abstrak. Jadi dapat diambil kesimpulan bahwa media visual merupakan salah satu media untuk pembelajaran.

Media visual ini lebih bersifat realistis dan dapat dirasakan oleh sebagian besar panca indera kita terutama oleh indera penglihatan. Media visual ada yang dapat diproyeksikan dan ada pula yang tidak dapat diproyeksikan.

Dalam penggunaannya media visual memiliki manfaat atau kegunaan. Manfaatnya antara lain:

  1. Media bersifat konkrit, lebih realistis dibandingkan dengan media verbal atau non visual sehingga lebih memudahkan dalam pengaplikasiannya.
  2. Beberapa penelitian membuktikan bahwa pembelajaran yang diserap melalui media penglihatan (media visual), terutama media visual yang menarik dapat mempercepat daya serap peserta didik dalam memahami pelajaran yang disampaikan.
  3. Media visual dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki oleh para peserta didik dan dapat melampaui batasan ruang kelas. Melalui penggunaan media visual yang tepat, maka semua obyek itu dapat disajikan kepada peserta didik.
  4. Lebih efiektif dan efisien  dibandingkan media verbal lainnya karena jenisnya yang beragam, pendidik dapat menggunakan semua jenis media visual yang ada. Hal ini dapat menciptakan sesuatu yang variatif, dan tidak membosankan bagi para peserta didiknya.
  5. Penggunaannya praktis, maksudnya media visual ini mudah dioperasikan oleh setiap orang yang memilih media-media tertentu, misalkan penggunaan media Transparansi Overhead Tranparancy (OHT).

Media pembelajaran visual telah terbukti lebih efisien dalam melakukan komunikasi antara pendidik dengan peserta didik. Dapat kita simpulkan bahwa media pembelajaran visual (seperti gambar diam, gambar bergerak, televise, objek tiga dimensi, dll) mempunyai hubungan positif yang cukup tinggi. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa media pembelajaran visual merupakan media pembelajaran yang cukup baik dan efisien.

Media pembelajaran visual baiknya digunakan di tempat yang tepat, sesuai dengan jenis medianya. Misalnya, media yang tidak diproyeksikan dapat dilakukan diluar kelas. Hal itu memungkinakan untuk media pembelajaran visual yang berupa benda nyata dan media grafis. Dalam penggunaan media pembelajaran visual berbentuk benda nyata misalnya, dalam pelajaran biologi kita dapat menggunakan tumbuhan diluar kelas sebagai media pembelajaran visual. Media grafis dan model pun bisa digunakan diluar kelas, apabila media tersebut memungkinkan untuk digunakan diluar kelas.

Sedangkan untuk media pembelajaran yang diproyeksikan, tempat yang tepat adalah di dalam kelas. Mengingat kebutuhannya akan alat-alat yang cukup berat, dan dibutuhkannya aliran listrik, tentu penggunaan media pembelajaran visual yang diproyeksikan ini lebih baik digunakan di dalam kelas.

Cara pemilihan media visual yang tepat adalah :

  1. Media yang digunakan harus memperhatikan konsep pembelajaran atau tujuan dari pembelajaran.
  2. Memperhatikan karakteristik dari media yang akan digunakan ,apakah sesuai dengan situasi dan kondisi yang tepat guna.
  3. Tepat sasaran kepada peserta didik yang sesuai degan kebutuhan zaman.
  4. Waktu , tempat , ketersediaan  dan biaya yang digunakan.
  5. Pilihlah media visual yang menguntungkan agar lebih menarik,variatif, mudah diingat dan tidak membosankan sesuai dengan konteks penggunaannya.

 Macam-macam Media Visual

a.        Media yang tidak diproyeksikan

  1. Media realita adalah benda nyata. Benda tersebut tidak harus dihadirkan di ruang kelas, tetapi siswa dapat melihat langsung ke obyek. Kelebihan dari media realita ini adalah dapat memberikan pengalaman nyata kepada siswa. Misal untuk mempelajari keanekaragaman makhluk hidup, klasifikasi makhluk hidup, ekosistem, dan organ tanaman.
  2. Model adalah benda tiruan dalam wujud tiga dimensi yang merupakan representasi atau pengganti dari benda yang sesungguhnya. Penggunaan model untuk mengatasi kendala tertentu sebagai pengganti realia. Misal untuk mempelajari sistem gerak, pencernaan, pernafasan, peredaran darah, sistem ekskresi, dan syaraf pada hewan.
  3. Media grafis tergolong media visual yang menyalurkan pesan melalui simbol-simbol visual. Fungsi dari media grafis adalah menarik perhatian, memperjelas sajian pelajaran, dan mengilustrasikan suatu fakta atau konsep yang mudah terlupakan jika hanya dilakukan melalui penjelasan verbal. Jenis-jenis media grafis adalah:

a) Gambar / foto merupakan media yang paling umum digunakan.

b)  Sketsa adalah gambar sederhana atau draft kasar yang melukiskan bagian pokok tanpa detail. Dengan sketsa dapat menarik perhatian siswa, menghindarkan verbalisme, dan memperjelas pesan.

c)      Diagram / skema: gambar sederhana yang menggunakan garis dan simbol untuk menggambarkan struktur dari obyek tertentu secara garis besar. Misal untuk mempelajari organisasi kehidupan dari sel samapai organisme.

d)     Bagan / chart : menyajikan ide atau konsep yang sulit sehingga lebih mudah dicerna siswa. Selain itu bagan mampu memberikan ringkasan butir-butir penting dari penyajian. Dalam bagan sering dijumpai bentuk grafis lain, seperti: gambar, diagram, kartun, atau lambang verbal.

e)      Grafik yaitu gambar sederhana yang menggunakan garis, titik, simbol verbal atau bentuk tertentu yang menggambarkan data kuantitatif. Misal untuk mempelajari pertumbuhan.

b.        Media proyeksi

  1. Transparansi OHP merupakan alat bantu mengajar tatap muka sejati, sebab tata letak ruang kelas tetap seperti biasa, guru dapat bertatap muka dengan siswa (tanpa harus membelakangi siswa). Perangkat media transparansi meliputi perangkat lunak (Overhead transparancy / OHT) dan perangkat keras (Overhead projector / OHP). Teknik pembuatan media transparansi, yaitu:
  • Mengambil dari bahan cetak dengan teknik tertentu
  • Membuat sendiri secara manual

2. Film bingkai / slide adalah film transparan yang umumnya berukuran 35 mm dan diberi bingkai 2X2 inci. Dalam satu paket berisi beberapa film bingkai yang terpisah satu sama lain. Manfaat film bingkai hampir sama dengan transparansi OHP, hanya kualitas visual yang dihasilkan lebih bagus. Sedangkan kelemahannya adalah beaya produksi dan peralatan lebih mahal serta kurang praktis. Untuk menyajikan dibutuhkan proyektor slide.

 

BAB III

METODE PENELITIAN

  

A.       Subyek Penelitian

Penelitian dilaksanakan pada akhir bulan april sampai dengan akhir bulan Mei 2013 di SMA Nurul Iman, dengan subyek penelitian siswa kelas X SMA Nurul Iman tahun ajaran 2012-2013 yang berjumlah 38 orang.Penelitian ini dikhususkan pada materi Tiga dimensi pada bangun ruang dan obyek penelitian adalah pemahaman belajar pada mata pelajaran matematika kelas X pada semester genap dan jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas.

B.        Lokasi Penelitian

Pelaksanaan penelitian yang peneliti lakukan adalah sebagai berikut:

Waktu              : Mei 2013

Tempat            : SMA Nuru Iman Rajeg

C.       Data dan Sumber Data

Sumber data dalam PTK ini berasal dari sumber data primer : nilai ulangan harian. Sumber data sekunder : data hasil pengamatan yang dilakukan oleh observer.

D.       Instrument penelitian

  1. Instrument berupa angket untuk mengungkapkan minat siswa terhadap mata pelajaran matematika
  2. Instrument berupa tes tertulis atau kuis untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa.

E.        Teknik analisis data

Dalam penelitian tindakan kelas ini pengumpulan data digunakan berbagai teknik antara lain:

  1. Tes tertulis digunakan untuk mengumpulkan data pemahaman siswa dengan yang berkenaan dengan ruang dimensi tiga.
  2. Alat pengumpulan data

Untuk mengetahui pemahaman siswa dalam materi ruang dimensi tiga yang dijadikan obyek penelitian ini :

  1. Peneliti menggunakan alat yang berupa tes tertulis yang dirancang oleh peneliti sesuai dengantujuan pembelajaran yang telah tertuang dalam kisi-kisi soal.
  2. Format penilaian untuk meneliti proses.
  3. Lembar pengamatan aktivitas guru dan lembar pengamatan aktivitas siswa.
  4. Deskripsi pelaku

Pada teknik ini peneliti mencatat observasi dan pemahaman urutan perilaku siswa dengan lengkap meliputi :

  1. Suasana kelas
  2. Perilaku masing-masing siswa
  3. Kemampuan pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran

F.        Siklus Penelitian

Pembelajaran dengan menggunakan media visual bertujuan untuk mengupayakan tingkat pemahaman siswa dalam materi dimensi tiga yang dilakukan dalam dua siklus berdasarkan waktunya.

Siklus pertama

  1. Perencanaan, yang meliputi kegiatan sebagai berikut:
  2. Kajian kurikulum, penyusunan silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran
  3. Pembuatan media visual
  4. Penyusunan instrumen penelitian
  5. Penyusunan alat evaluasi
  1. Pelaksanaan, yang meliputi kegiatan:
  2. Memberikan tes awal kepada siswa
  3. Melaksanakan kegiatan pembelajaran materi bangun ruangdengan menggunakan media visual
  4. Memberikan tes akhir siklus-1 kepada siswa
  1. Pengamatan, yang meliputi kegiatan:
  2. Mengamati aktivitas siswa selama pelaksanaan kegiatan pembelajaran
  3. Mencatat kejadian-kejadian yang tampak pada siswa selama pelaksanaan kegiatan pembelajaran
  4. Mengumpulkan data hasil pengamatan selama pelaksanaan kegiatan pembelajaran
  1. Refleksi, yang meliputi kegiatan:
  2. Menganalisis data hasil pelaksanaan tindakan
  3. Mengevaluasi pelaksanaan tindakan yang telah dilakukan pada siklus I
  4. Merencanakan tindakan pada siklus II

Siklus kedua

  1. Perencanaan, yang meliputi kegiatan sebagai berikut:
  2. Penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran yang terdiri dari satu pertemuan
  3. Pembuatan media pembelajaran berbentuk media presentasi program power point tentang bangun ruang
  4. Penyusunan instrumen penelitian
  5. Penyusunan alat evaluasi.
  1. Pelaksanaan, yang meliputi kegiatan:
  2. Melaksanakan kegiatan pembelajaran materi bangun ruang dengan menggunakan media visual sebanyak satu kali pertemuan sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran.
  3. Memberikan tes akhir siklus-2 kepada siswa.
    1. Pengamatan, yang meliputi kegiatan:
    2. Mengamati aktivitas siswa selama pelaksanaan kegiatan pembelajaran
    3. Mencatat kejadian-kejadian yang tampak pada siswa selama pelaksanaan kegiatan pembelajaran
    4. Mengumpulkan data hasil pengamatan selama pelaksanaan kegiatan pembelajaran.
  1. Refleksi, yang meliputi kegiatan:
  2. Menganalisis data hasil pelaksanaan tindakan
  3. Mengevaluasi pelaksanaan tindakan yang telah dilakukan pada siklus II.

G.       Jadwal Pelaksanaan Penelitian

No

Kegiatan

Minggu ke-

April

Mei

Juni

1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

1

Persiapan, Penyusunan proposal Ö Ö                    

2

Pelaksanaan Siklus I     Ö  Ö                

3

Pelaksanaan Siklus II          Ö  Ö            

4

Analisis data              Ö          

5

Seminar Lokal hasil PTK                Ö        

6

Pembuatan laporan hasil penelitian                 Ö Ö    

7

Diseminasi hasil penelitian                     Ö  

8

Revisi laporan hasil penelitian                       Ö
                             

 

 


[1] Witherington I, Udin S Winatapura “Educational Psycology”, 2007. Hal 1 – 5

[2] Rahardjito, dkk. “Media Pendidikan”, 2010. Hal 2

[3] Udin S Winatapura, “Educational Psychology”, Bandung. Fontana, 2007. Hal 18

[4] Lydia Harlina Martono, Satya Joewana, 2006

[5]Echol, John M., et.al., 1992, Hal 377

[6] Carapedia.com

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

(RPP)

Nama Sekolah                     :   MTs Miftahussalam Tangerang

Mata Pelajaran                    :   Matematika

Kelas                                   :   VIII  (Delapan)

Semester                             :   1 (Ganjil)

Standar Kompetensi   :  1. Memahami bentuk aljabar, relasi, fungsi dan persamaan garis lurus.

Kompetensi Dasar       :     1.5. Membuat sketsa grafik fungsi aljabar sederhana pada sistem koordinat Cartesius.

Indikator                     :   1. Menyusun tabel pasangan nilai peubah dengan nilai   fungsi.

2. Menggambar grafik fungsi pada koordinat Cartesius.

Alokasi Waktu            :   1 x 45 menit

A.    Tujuan Pembelajaran

  1. Siswa dapat menyusun tabel pasangan nilai peubah dengan nilai fungsi.
  2. Siswa dapat menggambar grafik fungsi pada koordinat Cartesius.

 Karakter Siswa yang Diharapkan      :  

Disiplin, (Discipline), Rasa hormat dan perhatian (Respect), Tekun (Diligence), Tanggung jawab (Responsibility).

 B.     Materi Ajar

Membuat sketsa grafik fungsi aljabar sederhana pada sistem koordinat Cartesius.

C.    Kegiatan Pembelajaran

Pendekatan                            :  Kooperatif tipe STAD

Metode                                   :  Kombinasi ceramah, tanya jawab, diskusi kelompok dan pemberian tugas.

Alat dan Sumber Belajar        :  

Alat                       :    Spidol, penggaris, laptop, dan proyektor.

Sumber Belajar     :    Buku Siswa (halaman 1 – 2), Lembar Kegiatan Siswa (LKS).

  

D.    Langkah – langkah Kegiatan
1.      Pendahuluan

Apersepsi  :   –   Mengingatkan kembali masalah penghitungan nilai fungsi dan

–          Mengingatkan kembali masalah diagram cartesius

Motivasi    :   Memberikan penjelasan tentang pentingnya mempelajari materi hari ini.

2.      Kegiatan Inti

No.

Kegiatan Guru

Kegiatan Siswa

Perkiraan Waktu

Metode

1.

Fase 1 Ceramah, tanya jawab
a. Menyampaikan tujuan pembelajaran dan membagikan buku siswa. Memperhatikan penyampaian guru

7 menit

b. Meningatkan kembali materi mengenai cara menghitung nilai fungsi dan diagram cartesius dengan menyajikan contoh beserta pembahasannya.
Fase 2
c. Menginformasikan kepada siswa materi yang akan dipelajari dengan membaca buku siswa halaman 1 – 2. Memperhatikan informasi yang disampaikan guru dan membaca buku siswa

10 menit

Fase 3
d. Menginformasikan kepada siswa bahwa mereka akan berkerja dalam kelompok dan setiap anggota kelompok bertanggung jawab terhadap kelompoknya masing – masing dan terhadap diri sendiri. Memperhatikan informasi yang disampaikan guru

5 menit

Penugasan
e. Mengelompokkan siswa terdiri dari 3 kelompok bagian yang tidak memperhatikan tingkat kepandaian, jenis kelamin, suku dan agama, sehingga kelompok yang terbentuk merupakan kelompok yang heterogen. Berkelompok sesuai arahan guru
2. Fase 4
a. Membagikan 2 LKS nomor 1 sampai 5 kepada setiap kelompok. Menerima LKS nomor 1 sampai 5

10 menit

Ceramah, tanya jawab
b. Menjelaskan (secara klasikal) cara mengerjakan LKS. Memperhatikan informasi yang disampaikan oleh guru
c. Menugaskan kepada siswa untuk mengerjakan LKS secara berkelompok. Menyelesaikan tugas yang diberikan secara berkelompok
d. Selama siswa bekerja dalam kelompok guru memantau tiap kelompok, memberikan motivasi kepada kelompok yang kurang bersemangat dan dapat memberikan bantuan jika diperoleh. Sekaligus melatih keterampilan kooperatif. Bekerja dalam kelompok dan mendapat kesempatan untuk bertanya kepada guru

3.

Fase 5
a. Menunjuk salah satu siswa untuk memprsentasikan hasil kerja kelompoknya dan memberikan kesempatan kepada kelompok lain untuk memberikan tanggapan. Mempresentasik-an hasil kerja kelompok dan kelompok lain memberikan tanggapan

10 menit

Tanya Jawab
b. Memandu siswa membuat kesimpulan Membuat kesimpulan
4. Penutup
Memberikan tugas kepada siswa untuk dikerjakan di rumah yaitu soal latihan pada LKS nomor 6 sampai 10. Mancatat tugas yang harus diselesaikan di rumah.

3 menit

Ceramah

  

E.     Penilaian

Indikator Pencapaian   Kompetensi

Penilaian

Teknik

Bentuk Instrumen

Instrumen/ Soal

  1. Menyusun tabel pasangan nilai peubah dengan nilai fungsi.
  1.  Menggambar grafik fungsi pada koordinat Cartesius.

Tes tertulis

Tes tertulis

Isian singkat

Uraian

  1. Salin dan lengkapilah tabel fungsi  dengan daerah asalnya
  1. Gambarlahgrafik fungsi  dengan domain .

Tangerang,    Juli 2013

Mengetahui,

Kepala MTs Miftahussalam                                             Guru Mata Pelajaran

Drs. H. Saerodji, M.Pd                                                  Ufi Luthfiyah Saeruroh


Assalamu’alaikum Wr. Wb

It’s Me …………..

Terimakasih telah berkunjung ke blog sederhana ku,
berkunjunglah kembali dan jangan lupa komentari setiap karya tulisan ku.
Salam Kenal.

My Kalender

November 2017
M S S R K J S
« Mar    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 2.040 pengikut lainnya

My Arsip

Hours & Info

021-92833529
masuk kerja : 06.30
pulang kerja : 14.00
kuliah : 18.30 - 22.00

My Instagram

Rujakan paling seru bersama Sunan Ampel. Walau hujan membuat kesan seru banget😄😄😄
Rujak mania 👍👍👍 mantap 😘😘😘
#annuqthahboardingschool
Nanangpati's Blog

AL I'TIMADU 'ALAN NAFSI ASASUN NAJAH

Pagar Alam dot Com

Berbagi Informasi Pendidikan dan Pembelajaran Matematika

Ruang Keluarga

Problematika & Solusi Teruntuk Pasangan Suami Istr

Irfan Handi

Hanya Ingin Berbagi

PressDesain

Just Wanna Share

Syarifah Umamah

Assalamu'alaikum

Made Nuryadi

Belajar dan Berbagi Seputar Dunia Pendidikan

Welcome to Ufi Luthfiyah Blog's

My Word My WordPress.com

tentang PENDIDIKAN

AKHMAD SUDRAJAT

Dunia Seni & Teknologi

Dengan Seni Hidup Lebih Indah, Dengan Teknologi Hidup Lebih Mudah....