Welcome to Ufi Luthfiyah Blog's

Archive for the ‘Pengetahuan’ Category

Berbagi untuk yang mencari 47 Selat di Indonesia nih…

peta Indonesia

47 Nama Selat di Indonesia dan Letaknya: 

  1. Selat Alas – berada di antara Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa
  1. Selat Alor – berada di antara Pulau Lombleum dan Pulau Pantar
  1. Selat Badung – berada diantara Pulau Bali dan Pulau Nusa Penida
  1. Selat Bali – berada di antara Pulau Jawa dan Pulau Bali
  1. Selat Bangka – berada di antara Pulau Bangka, Sumatera Selatan
  1. Selat Batahai – berada di antara Pulau Moyo, Nusa Tenggara Barat
  1. Selat Benggala – berada di sebelah selatan Pulau Weh dan Banda Aceh
  1. Selat Bengkalis – berada di antara Pulau Bengkalis, Riau
  1. Selat Berhala – berada di antara Pulau Lingga, Riau
  1. Selat Bunga Laut – berada di antara Pulau Siberut dan Pulau Sipoa
  1. Selat Dampler – berada di antara Pulau Gam dan Pulau Batanta
  1. Selat Dumai – berada di sebelah selatan Pulau Rupat, Riau
  1. Selat Durian – berada di sebelah timur Pulau Kunduran, Riau
  1. Selat Gaspar – berada di antara Pulau Bangka dan Pulau Belitung
  1. Selat Karimata – berada di antara Pulau Sumatera dan Pulau Kalimantan
  1. Selat Lewotobi – berada di sebelah Barat Pulau Solor, Nusa Tenggara Timur
  1. Selat Lembeh – berada di sebelah Utara Pulau Lembeh
  1. Selat Likunang – berada di sebelah Selatan Pulau Talisel
  1. Selat Lintah – berada di antara Pulau Rinca dan Pulau Komodo
  1. Selat Lombok – berada di antara Pulau Bali dan Pulau Lombok
  1. Selat Madura – berada di antara Pulau Jawa dan Pulau Madura
  1. Selat Makassar – berada di antara Pulau Kalimantan dan Pulau Sulawesi
  1. Selat Malaka – berada di antara Pulau Sumatera dan Negara Malaysia
  1. Selat Manipa – berada di antara Pulau Buru dan Pulau Ambon
  1. Selat Ombai – berada di antara Kepulauan Alor dan Pulau Timor
  1. Selat Panaitan – berada di antara Pulau Panaitan, Jawa Barat
  1. Selat Panjang – berada di sebelah Selatan Pulau Padang, Riau
  1. Selat Pantar – berada di antara Pulau Pantar dan Pulau Alor
  1. Selat Patinti – berada di antara Pulau Bacan dan Pulau Makian
  1. Selat Peleng – berada di sebelah Barat Pulau Peleng, Sulawesi
  1. Selat Raas – berada di antara Pulau Sapudi dan Pulau Raas
  1. Selat Riau – berada di sebelah Selatan Pulau Bintan, Riau
  1. Selat Roti – berada di antara Pulau Roti dan Pulau Semau
  1. Selat Rupat – berada di antara Pulau Rupat, Riau
  1. Selat Salabangka – berada di sebelah Timur Propinsi Sulawesi Tenggara
  1. Selat Sanding – berada di sebelah selatan Pulau Pagai
  1. Selat Sapudi – berada di antara Pulau Madura dan Pulau Sapudi
  1. Selat Selayar – berada di antara Pulau Selayar, Sulawesì Selatan
  1. Selat Siberut – berada di antara Pulau Siberut dan Pulau Tanah Bata
  1. Selat Sikakap – berada di antara Pulau Pagai, Sumatera Barat
  1. Selat Sipora – berada di antara Pulau Sipora dan Pulau Pagai
  1. Selat Sumba – berada di antara Pulau Flores dan pulau Sumba
  1. Selat Tioro – berada di sebelah Utara Pulau Muna, Sulawesi Tenggara
  1. Selat Sunda – berada di antara Pulau Sumatera dan Pulau Jawa
  1. Selat Wowoni – berada di sebelah Barat Pulau Wowoni, Sulawesi Tenggara
  1. Selat Ujung Pandang – berada di sebelah Timur Pulau Sebuku, Kalìmantan Timur
  1. Selat Yapen – berada di antara Pulau Yapen dan Pulau Biak.

Letak di Peta Indonesia di bawah ini:

Unduh yap 😉

47-nama-selat-di-indonesia-dan-letaknya

Iklan

Berbagi pengalaman tentang menghitung deskripsi data kelompok pada skripsi yang pernah saya laksanakan tahun 2014. semoga bermanfaat 🙂

 

No. Resp

Pretes

Skor

Nilai
K1 8

32

K2

15 60

K3

10 40

K4

17 68

K5

10 40

K6

18 72
K7 12

48

K8

11

44

K9 13

52

K10

14

56

K11 17

68

K12

15

60

K13

16

64

K14

6

24

K15

8

32

K16

8

32

K17

5

20

K18

8

32

K19

9

36

K20

5

20

K21

13

52

K22

5

20

K23

8

32

K24

11 44

K25

14 56

K26

11

44

K27 12

48

K28 8

32

K29

16 64
K30 6

24

K31

11

44

K32 13

52

Rata-rata

44,5

di atas data pretes yang akan kita hitung

Perhitungan Deskripsi Data

Dari data hasil penelitian

Maka dapat dihitung perhitungan deskripsi data, yang meliputi:

1.      Deskripsi Data Pretes pada Kelas Kontrol

Langkah-langkah:

a.      Menghitung Jumlah Kelas Interval

K= 1+3,3 log n

K= 1+3,3 log(32)

K= 1+3,3 (1,51)

K= 5,983 ≈ 6

b.      Menghitung Rentang Data

R= Dmax – Dmin

R= 72 – 20

R= 52

c.       Menghitung Panjang Kelas

P= Rentang Data/Kelas Interval

P= 52/6

P= 8,67 ≈ 9

         d.      Menyusun Tabel Distribusi Frekuensi

 

 

 

Kelas

Interval

Frekuensi

(fi)

1

20 – 28

5

2

29 – 37

7

3

38 – 46

6

4

47 – 55

5

5

56 – 64

6

6

65 – 73

3

Jumlah

32

 

Perhitungan Ukuran Pemusatan Data Pretes Kelas Kontrol

Kelas

Interval fi xi

fi.xi

1

20 – 28 5 24

120

2

29 – 37 7 33

231

3

38 – 46 6 42

252

4

47 – 55 5 51

255

5

56 – 64 6 60

360

6

65 – 73 3 69

207

Jumlah

32  

1425

 

e.           Menghitung Mean (X)

X= ∑fi.xi/∑fi

X= 1425 / 32

X= 44,5

f.            Modus (Mo)

Mo= Lo + I (b1/b1+b2)

Mo= 28,5 + 9 (2/2+1)

Mo= 28,5 + 9 (2/3)

Mo= 28,5 + 18/3

Mo= 34,5

g.           Median (Me)

Me= Lo + I (n/2-F / f)

Me= 37,5 + 9 (32/2 – 12 / 6)

Me= 37,5 + 9 (4/6)

Me= 37,5 + 36/6

Me= 43,5

 

Perhitungan Ukuran Penyebaran Data Pretes Kelas Kontrol

Kelas

Interval fi xi (xi -X ) (xi -X )2

fi.(xi -X )2

1

20 – 28 5 24 -20,5 420,3

2101,3

2

29 – 37 7 33 -11,5 132,3 925,8
3 38 – 46 6 42 -2,5 6,3

37,5

4

47 – 55 5 51 6,5 42,3 211,3
5 56 – 64 6 60 15,5 240,3

1441,5

6

65 – 73 3 69 24,5 600,3 1800,8
Jumlah 32   12  

6518

 

h.         Rentang Data (R)

R= Dmax – Dmin

R= 72 – 20

R= 52

i.           Deviasi Mean (DM)

MD= ∑|Xi-X| / N

MD= |12| / 32

MD= 0,4

j.            Simpangan Baku (S)

S= √ ∑fi.(xi -X )2/ n-1

S=  √ 6518 / 32-1

S= √ 210,3

S= 14,5

k.          Varians (S2)

S2= ∑fi.(xi -X )2 / n-1

S2= 6518 / 32-1

S2= 210,3

 

Semoga bermanfaat ya teman…

itu untuk perhitungan penyebaran dan pemusatan data pada kelas kontrol

next saya update Menghitung Persyaratan Data

coba lihat dan pilih salah satu pintu favorit Anda. Pintu yang Anda pilih bisa meng ungkapkan tentang kepribadian Anda. Dari beberapa percobaan hasilnya cukup akurat.

Tes pintu pilihan Anda dan lebih seberapa cocok dengan kepribadian Anda.


pintu

via chicinitie.com

 

 

Pintu nomor satu

Anda adalah tipe orang yang butuh banyak ruang. Anda butuh kebebasan untuk melakukan sesuatu dan memilih jalan yang bisa Anda atur dan bentuk sendiri, terlebih jalan dengan peluang yang jelas dan pasti.

Anda juga pribadi yang tidak suka dikekang dan tidak suka dengan konfrontasi. Selain itu, Anda tidak suka dengan hal yang terburu-buru karena lebih suka untuk menikmati waktu yang sesuai dengan keinginan Anda sendiri.

Pintu nomor dua

Anda adalah tipe orang yang suka bertualang seorang diri. Anda sangat suka meneliti, berpikir, dan memilih segala sesuatu yang ada di kepala Anda. Anda tidak suka berpura-pura dan melihat dunia dengan cara yang unik. Mungkin Anda adalah seorang penyendiri tapi Anda bisa berhubungan sangat baik dengan orang di sekitar Anda ketika menemukan waktu yang pas. Anda juga orang yang sangat pengertian.

Pintu nomor tiga

Pilihan pintu nomor tiga artinya Anda orang yang mudah akrab dengan orang lain. Anda suka menjadi bagian dari dunia dan suka dengan segala pengalaman yang Anda punya.

Bagi Anda, hal yang terpenting adalah perjalanannya bukan tujuannya. Semangat belajar yang tinggi dan rasa ingin tahu akan segala sesuatu bisa jadi kekuatan terbesar Anda.

Pintu nomor empat

Anda adalah tipe orang yang selalu melihat ke depan. Anda bisa dengan mudah menerima segala sesuatu atau membuat keputusan dan baru memikirkan konsekuensinya nanti.

Kadang Anda melakukan sesuatu tanpa berpikir terlebih dahulu. Tapi di satu sisi, hal itu bisa jauh lebih menguntungkan untuk anda. Anda adalah orang yang spontan dan tidak mudah merasa takut terhadap tantangan atau masalah yang ada di depan.

Pintu nomor lima

Pilihan pintu nomor lima menunjukkan bahwa Anda sangat suka dengan kedamaian dan kondisi yang tenang. Anda tidak suka diganggu dan jalan terbaik bagi Anda adalah jalan yang sudah jelas dan menyenangkan. Anda dikenal sebagai tipikal orang yang stabil, suportif, dan dikenal sebagai orang yang konsisten.

Pintu nomor enam

Anda adalah tipikal orang yang bisa menghabiskan banyak waktu sendiri tanpa pernah merasa kesepian. Anda bisa menyerap segala sesuatu di sekitar Anda tanpa merasa terbebani.

Anda akan selalu berupaya untuk menemukan makna di setiap aspek kehidupan. Meskipun Anda tidak suka keramaian, Anda sangat menyukai orang atau manusia di sekitar Anda. Anda cenderung lebih suka berhubungan dengan satu orang dan hanya empat mata saja.

Sebagai catatan, apa yang baru saja Anda simak bukan hal yang perlu dicermati dengan serius. Anda boleh percaya, boleh juga tidak, membaca dan mengetahui kepribadian hal yang menyenangkan bukan?

 

 

Melanjutkan artikel yang kemarin, saya akan menjelaskan langkah-langkah untuk membuat grafik ogive menggunakan Ms. Excel. berikut langkah-langkahnya ….
cek ki dot

Dari data yang sama seperti kemarin yaitu data yang digunakan untuk membuat grafik historgam dan poligon. Tetapi kita harus mencari frekuensi kumulatif kurang dari dan lebih dari . . .

Kelas Interval Kelas Frekuensi Absolut (fo) F. Kumulatif Data Kurang Dari F. Kumulatif Data Lebih Dari
1 20 – 28 5 5 27
2 29 – 37 7 12 20
3 38 – 46 6 18 14
4 47 – 55 5 23 9
5 56 – 64 6 29 3
6 65 – 73 3 32 0

 

Selanjutnya membuka Ms. Excel nya

Membuat data yang akan di buat grafik ogive nya

Blok dari interval kelas sampai F. Kmulatif data lebih dari

Gambar 1

————————————————————————————————————————————————

Selanjutnya, klik Insert – Line – Klik Line With Markers

gambar 2

————————————————————————————————————————————————

Setelah grafik ogive terlihat kita setting sesuai keinginan dengan cara: sorot ke bagiatn Chart Layout

Gambar 3.1

————————————————————————————————————————————————

Tada . . . .
Gambar 4

————————————————————————–

jadi juga Grafik Ogive . . .

Selamat mencoba kawan

Kali ini saya akan membahas tentang membuat grafik histogram, poligon dan ogive. Kenapa??? karena teman-teman saya menanyakan bagaimana caranya. Nah, dengan itu saya memposting tentang yang teman-teman saya tanyakan.

Cek ki dot . . .
_________________________________________________________

sebelum membuat diagram atau pun grafik kita harus punya data terlebih dahulu.

Kelas Interval Kelas Frekuensi Absolut (fo) Frekuensi Relatif (%)
1 20 – 28 5 18,75
2 29 – 37 7 18,75
3 38 – 46 6 21,875
4 47 – 55 5 12,5
5 56 – 64 6 12,5
6 65 – 73 3 15,625
Jumlah 32 100

selanjutnya, kalian buka Ms. Excel yang kalian gunakan. Sudah tahukan cara membukanya!!!

Ikuti langkah saya yap…

Dari data yang sudah ada kita blok data dari interval kelas sampai frekuensinya.

gambar 1

 

 

 

 

 

 

Klik Insert – Column – pilih 2-D Colum yang pertama

gambar 2

 

 

 

 

 

 

 

 

Grafik akan muncul dan setting-lah sesuai keinginan anda dengan mengatur Chart Layouts

Gambar 3

 

 

 

 

 

 

 

Selesai membuat grafik Histogram,

sekarang kita gabungkan histogram dengan poligon

dengan grafik yang sama dan data yang sama mari kita ikuti langkah membuat grafik poligon.
Klik pada grafik histogram – klik kanan Select Data

Gambar 4

 

 

 

 

 

 

 

Akan keluar kotak dialog Select Data Source – Add

Gambar 5

 

 

 

 

 

 

 

 

Setelah di klik Add, kotak dialog Edit Series – Series Name di blok data interval – Series Values di blok data frekuensi – Lalu OK

Gabar 6

 

 

 

 

 

 

 

Terlihat di gambar ada dua grafik yang berbeda warna dengan grafik histogram

Langkah seanjutnya, Klik kanan pada grafik berwarna merah – pilih Change Series Chart Type

Gambar 7

 

 

 

 

 

 

 

 

Pilih Line – Line With Markers

Gambar 8 .1

 

 

 

 

 

 

 

 

Setelah itu muncul grafik Histogram dan Poligon seperti ini

Gambar 9

 

 

 

 

 

 

 

 

Selesai, artikel selanjutnya mengenai membuat grafik ogive ….

 
Kelas   XII,   Semester  1     

Standar Kompetensi

Kompetensi Dasar

Nilai Budaya Dan Karakter Bangsa

Kewirausahaan/

Ekonomi Kreatif

1.  Menampilkan sikap positif terhadap Pancasila sebagai ideologi terbuka

1.1Mendeskripsikan Pancasila sebagai ideologi terbuka

1.2  Menganalisis Pancasila sebagai sumber nilai dan paradigma pembangunan

1.3 Menampilkan sikap positif terhadap Pancasila sebagai ideologi terbuka

  • Religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, tanggung jawab
  • Percaya diri (keteguhan hati, optimis).
  • Berorientasi pada tugas (bermotivasi, tekun/tabah, bertekad, enerjik).
  • Pengambil resiko (suka tantangan, mampu memimpin)
  • Orientasi ke masa depan (punya perspektif untuk masa depan)
 

2. Mengevaluasi berbagai sistem pemerintahan

2.1  Menganalisis sistem pemerintahan di berbagai negara

2.2  Menganalisis pelaksanaan sistem pemerintahan Negara Indonesia

2.3Membandingkan pelaksanaan sistem pemerintahan yang berlaku di  Indonesia dengan negara lain

  • Religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, tanggung jawab
  • Percaya diri (keteguhan hati, optimis).
  • Berorientasi pada tugas (bermotivasi, tekun/tabah, bertekad, enerjik).
  • Pengambil resiko (suka tantangan, mampu memimpin)
  • Orientasi ke masa depan (punya perspektif untuk masa depan)
 
 
 
Kelas   XII,    Semester   2

 

Standar Kompetensi

Kompetensi Dasar

Nilai Budaya Dan Karakter Bangsa

Kewirausahaan/

Ekonomi Kreatif

3. Mengevaluasi peranan pers dalam masyarakat demokrasi 

 

 

 

3.1 Mendeskripsikan pengertian, fungsi dan peran serta perkembangan pers di Indonesia

3.2  Menganalisis  pers yang bebas dan bertanggung jawab sesuai kode etik jurnalistik dalam masyarakat demokratis di Indonesia

3.3  Mengevaluasi  kebebasan pers dan dampak penyalahgunaan kebebasan media massa dalam masyarakat demokratis di Indonesia

  • Religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, tanggung jawab
  • Percaya diri (keteguhan hati, optimis).
  • Berorientasi pada tugas (bermotivasi, tekun/tabah, bertekad, enerjik).
  • Pengambil resiko (suka tantangan, mampu memimpin)
  • Orientasi ke masa depan (punya perspektif untuk masa depan)
 

4. Mengevaluasi dampak globalisasi

 

 

1.1       Mendeskripsikan  proses, aspek, dan dampak  globalisasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara

1.2    Mengevaluasi pengaruh globalisasi terhadap kehidupan Bangsa dan Negara Indonesia

1.3    Menentukan sikap terhadap pengaruh dan implikasi    globalisasi terhadap Bangsa dan Negara Indonesia

1.4    Mempresentasikan tulisan tentang pengaruh globalisasi terhadap Bangsa dan Negara Indonesia

  • Religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, tanggung jawab
  • Percaya diri (keteguhan hati, optimis).
  • Berorientasi pada tugas (bermotivasi, tekun/tabah, bertekad, enerjik).
  • Pengambil resiko (suka tantangan, mampu memimpin)
  • Orientasi ke masa depan (punya perspektif untuk masa depan)
 
 
    

.

 

 

 

BEBERAPA PENGERTIAN TEATER

Kata ‘drama’ berasal dari bahasa Yunani Draomai yang berarti berbuat, berlaku, bertindak. Jadi drama bisa berarti perbuatan atau tindakan.

 ARTI DRAMA

Arti pertama dari Drama adalah kualitas komunikasi, situasi, action (segala yang terlihat di pentas) yang menimbulkan perhatian, kehebatan (axciting), dan ketegangan pada para pendengar.

Arti kedua, menurut Moulton Drama adalah hidup yang dilukiskan dengan gerak (life presented in action).

Menurut Ferdinand Brunetierre : Drama haruslah melahirkan  kehendak dengan action.

Menurut Balthazar Vallhagen : Drama adalah kesenian melukiskan sifat dan sifat manusia dengan gerak.

Arti ketiga drama adalah cerita konflik manusia dalam bentuk dialog yang diproyeksikan pada pentas dengan menggunakan percakapan dan action di hadapan penonton (audience).

ARTI TEATER

Ada yang mengartikan sebagai “gedung pertunjukan”, ada yang mengartikan sebagai “panggung” (stage). Secara Etimologi (asal kata) Teater adalah Gedung Pertunjukan (auditorium).

Dalam arti luas Teater adalah kisah hidup dah kehidupan manusia yang dipertunjukan di depan orang banyak. Misalnya Wayang Orang, Ludruk, Lenong, Reog, Sulapan.

Dalam arti sempit Teater adalah kisah hidup dan kehidupan manusia yang diceritakan dalam pentas, disaksikan oleh orang banyak, dengan media, gerak, percakapan dan laku, dengan atau tanpa dekor (layer); Didasarkan pada naskah yang tertulis (hasil seni sastra) dengan atau tanpa musik.

APA PERBEDAAN DRAMA DENGAN TEATER

Teater dan drama, memiliki arti yang sama, tapi berbeda ungkapannya.Teater berasal dari kata Yunani kuno “theatron” yang secara harfiah berarti gedung/tempat pertunjukan. Dengan demikian maka kata teater selalu mengandung arti pertunjukan/tontonan. Drama juga dari kata Yunani ‘draomai’ yang berarti berbuat, berlaku atau berakting. Drama cenderung memiliki pengertian ke seni sastra. Di dalam seni sastra, drama setaraf dengan jenis puisi, prosa/esai. Drama juga berarti suatu kejadian atau peristiwa tentang manusia. Apalagi peristiwa atau cerita tentang manusia kemudian diangkat ke suatu pentas sebagai suatu bentuk pertunjukan maka menjadi suatu peristiwa Teater. Kesimpulan teater tercipta karena adanya drama.

METODE TERAPAN LATIHAN TEATER

 ARTI DRAMA

  1. Drama berarti perbuatan, tindakan. Berasal dari bahasa Yunani “draomai” yang berarti berbuat, berlaku, bertindak dan sebagainya.
  2. Drama adalah hidup yang dilukiskan dengan gerak
  3. Konflik dari sifat manusia merupakan sumber pokok drama

Dalam bahasa Belanda, drama adalah Toneel, yang kemudian oleh PKG Mangkunegara VII dibuat istilah Sandiwara.

 

ARTI TEATER

  1. Secara etimologis : Teater adalah gedung pertunjukan atau auditorium.
  2. Dalam arti luas : Teater ialah segala tontonan yang dipertunjukkan di depan orang banyak
  3. Dalam arti sempit : Teater adalah drama, kisah hidup dan kehidupan manusia yang diceritakan di atas pentas dengan media : Percakapan, gerak dan laku didasarkan pada naskah yang tertulis ditunjang oleh dekor, musik, nyanyian, tarian, dsb.

MENGENAL PANGGUNG

Dalam sejarah perkembangannya, seni teater memiliki berbagai macam jenis pang-gung yang dijadikan tempat pementasan. Perbedaan jenis panggung ini dipengaruhi oleh tempat dan zaman dimana teater itu berada serta gaya pementasan yang dila-kukan. Bentuk panggung yang berbeda memiliki prinsip artistik yang berbeda. Mi-salnya, dalam panggung yang penontonnya melingkar, membutuhkan tata letak perabot yang dapat enak dilihat dari setiap sisi. Berbeda dengan panggung yang penontonnya hanya satu arah dari depan. Untuk memperoleh hasil terbaik, penata panggung diharuskan memahami karakter jenis panggung yang akan digunakan serta bagian-bagian panggung tersebut.

Jenis-jenis Panggung

Panggung adalah tempat berlangsungnya sebuah pertunjukan dimana interaksi antara kerja penulis lakon, sutradara, dan aktor ditampilkan di hadapan penonton. Di atas panggung inilah semua laku lakon disajikan dengan maksud agar penonton menangkap maksud cerita yang ditampilkan. Untuk menyampaikan maksud tersebut pekerja teater mengolah dan menata panggung sedemikian rupa untuk mencapai maksud yang dinginkan. Seperti telah disebutkan di atas bahwa banyak sekali jenis panggung tetapi dewasa ini hanya tiga jenis panggung yang sering digunakan. Ketiganya adalah panggung proscenium, panggung thrust, dan panggung arena. Dengan memahami bentuk dari masingmasing panggung inilah, penata panggung dapat merancangkan karyanya berdasar lakon yang akan disajikan dengan baik.

Arena

Panggung arena adalah panggung yang penontonnya melingkar atau duduk mengelilingi panggung (Gb.274). Penonton sangat dekat  sekali dengan pemain. Agar semua pemain dapat terlihat dari setiap sisi maka penggunaan set dekor berupa bangunan tertutup vertikal tidak diperbolehkan karena dapat menghalangi pandangan penonton. Karena bentuknya yang dikelilingi oleh penonton, maka penata panggung dituntut kreativitasnya untuk mewujudkan set dekor. Segala perabot yang digunakan dalam panggung arena harus benar-benar dipertimbangkan dan dicermati secara hati-hati baik bentuk, ukuran, dan penempatannya. Semua ditata agar enak dipandang dari berbagai sisi.

Panggung arena biasanya dibuat secara terbuka (tanpa atap) dan tertutup. Inti dari pangung arena baik terbuka atau tertutup adalah mendekatkan penonton dengan pemain. Kedekatan jarak ini membawa konsekuensi artistik tersendiri baik bagi pemain dan (terutama) tata panggung. Karena jaraknya yang dekat, detil perabot yang diletakkan di atas panggung harus benar-benar sempurna sebab jika tidak maka cacat sedikit saja akan nampak. Misalnya, di atas panggung diletakkan kursi dan meja berukir. Jika bentuk ukiran yang ditampilkan tidak nampak sempurna – berbeda satu dengan yang lain – maka penonton akan dengan mudah melihatnya. Hal ini mempengaruhi nilai artistik pementasan.

Lepas dari kesulitan yang dihadapi, panggun arena sering menjadi pilihan utama bagi teater tradisional. Kedekatan jarak antara pemain dan penonton dimanfaatkan untuk melakukan komunikasi langsung di tengah-tengah pementasan yang menjadi ciri khas teater tersebut. Aspek kedekatan inilah yang dieksplorasi untuk menimbulkan daya tarik penonton. Kemungkinan berkomunikasi secara langsung atau bahkan bermain di tengah-tengah penonton ini menjadi tantangan kreatif bagi teater modern. Banyak usaha yang dilakukan untuk mendekatkan pertunjukan dengan penonton, salah satunya adalah penggunaan panggung arena. Beberapa pengembangan desain dari teater arena melingkar dilakukan sehingga bentuk teater arena menjadi bermacammacam.

Masing-masing bentuk memiliki keunikannya tersendiri tetapi semuanya memiliki tujuan yang sama yaitu mendekatkan pemain dengan penonton.

Proscenium

Panggung proscenium bisa juga disebut sebagai panggung bingkai karena penonton menyaksikan aksi aktor dalam lakon melalui sebuah bingkai atau lengkung proscenium (proscenium arch). Bingkai yang dipasangi layar atau gorden inilah yang memisahkan wilayah akting pemain dengan penonton yang menyaksikan pertunjukan dari satu arah (Gb.276). Dengan pemisahan ini maka pergantian tata panggung dapat dilakukan tanpa sepengetahuan penonton. Panggung proscenium sudah lama digunakan dalam dunia teater. Jarak yang sengaja diciptakan untuk memisahkan pemain dan penonton ini dapat digunakan untuk menyajikan cerita seperti apa adanya. Aktor dapat bermain dengan leluasa seolah-olah tidak ada penonton yang hadir melihatnya. Pemisahan ini dapat membantu efek artistik yang dinginkan terutama dalam gaya realisme yang menghendaki lakon seolah-olah benar-benar terjadi dalam kehidupan nyata.

Tata panggung pun sangat diuntungkan dengan adanya jarak dan pandangan satu arah dari penonton. Perspektif dapat ditampilkan dengan memanfaatkan kedalaman panggung (luas panggung ke belakang). Gambar dekorasi dan perabot tidak begitu menuntut kejelasan detil sampai hal-hal terkecil. Bentangan jarak dapat menciptkan bayangan arstisitk tersendiri yang mampu menghadirkan kesan. Kesan inilah yang diolah penata panggung untuk mewujudkan kreasinya di atas panggung proscenium. Seperti sebuah lukisan, bingkai proscenium menjadi batas tepinya. Penonton disuguhi gambaran melalui bingkai tersebut. Hampir semua sekolah teater memiliki jenis panggung proscenium. Pembelajaran tata panggung untuk menciptakan ilusi (tipuan) imajinatif sangat dimungkinkan dalam panggung proscenium.

Jarak antara penonton dan panggung adalah jarak yang dapat dimanfaatkan untuk menciptakan gambaran kreatif pemangungan. Semua yang ada di atas panggung dapat disajikan secara sempurna seolah-olah gambar nyata. Tata cahaya yang memproduksi sinar dapat dihadirkan dengan tanpa terlihat oleh penonton dimana posisi lampu berada. Intinya semua yang di atas panggung dapat diciptakan untuk mengelabui pandangan penonton dan mengarahkan mereka pada pemikiran bahwa apa yang terjadi di atas pentas adalah kenyataan. Pesona inilah yang membuat penggunaan panggung proscenium bertahan sampai sekarang.

ARTISTIK

Penataan artistic meliputi set-dekor property, busana, rias wajah dan rambut, serta pencahayaan.  Set panggung adalah dekorasi yang ada diatas panggung.

Properti bisa dibagi dua, yaitu :

  1. Set panggung yang bisa dipindah-pindah, misalnya meja, kursi, lemari, karpet, pohon dan sebagainya.
  2. Hand property atau property yang bisa dibawa-bawa pemain, misalnya kipas, pulpen, buku, tas, laptop dan sebagainya.

KERJASAMA AKTOR DAN PENATA ARTISTIK.

Segala bentuk ekspresi aritstik di atas pentas diwujudkan dalam satu kesatuan pesan yang padu. Makanya seluruh objek yang ada di atas pentas memiliki peran seimbang. Artinya, unsur aktor dan tata artistik pementasan saling mendukung satu sama lain.

Kerjasama antara aktor dan penata artistik menjadi kunci utama sebuah pementasan teater. Fungsi tata artistik panggung dalam hal ini selain sebagai karya rupa juga memberikan gambaran suasana cerita, menguatkan karakter peran, dan mempertegas makna pesan.

Dengan demikian kerja interpretasi lakon adalah kerja awal yang berfungsi sebagai titik awal dari  kerja berikutnya. Masing-masing unsur pembentuk pementasan kemudian bekerja menurut wilayah artistiknya masing-masing dengan berdasar titik tersebut. Sutradara mewujudkannya dalam konsep pemeranan dan pementasan, pemeran mewujudkannya dalam laku peran, dan penata artistik panggung mewujudkannya dalam karya rupa pementasan. 

GAYA TEATERIKAL

Dalam perkembangan teater kontemporer dikenal tiga gaya teatrikal, yaitu; Presentasional, Realisme, dan Pos Realisme.

Presentasional merupakan gaya yang menyuguhkan lakon secara sengaja kepada penonton dan bukan sebagai sebuah penyamaran kehidupan. Aktor memang sengaja bermain, memperindah gaya, untuk dipertontonkan kepada penonton. Yang dapat digolongkan dalam gaya ini adalah; teater klasik Yunani dan drama Romawi, teater oriental (kerakyatan), teater abad pertengahan, teater Shakespearean, Elizabethan. Elemen gaya presentasional adalah; 1) Aktor bermain langsung kepada penonton, 2) Memiliki konvensi; akting yang diperbesar, dialog menyamping serta soliloki, 3) Bahasa yang digunakan adalah puitis.

Realisme (representasional) sebuah gaya yang sama sekali berbeda dengan presentasional. Realisme mencoba menampilkan kehidupan nyata di atas pentas. Para aktor tidak sengaja bermain untuk penonton melainkan mereka memainkan peristiwa hidup mereka sendiri seolah-olah tidak ditonton. Untuk itu mereka sengaja menjadikan frame panggung proscenium sebagai dinding keempat (dinding imajiner yang membatasi antara penonton dan pemain). Elemen gaya realisme adalah; 1) Aktor saling bermain sendiri, 2) Membatasi dialog menyamping dan soliloki, 3) Menggunakan bahasa sehari-hari.
Pos Realisme sebuah gaya perlawanan yang mencoba mendobrak batas-batas yang diciptakan dalam gaya realisme. Pemberontakan terhadap gaya realisme ini menjadi begitu berpengaruh dan berkembang secara unik sehingga melahirkan berbagai macam gaya (yang berpengaruh) seperti; simbolisme, Ekspresionisme, surealisme, teatrikalisme, epik, dan absurdisme. Elemen gaya pos realis; 1) mengkombinasikan antara gaya presentasional dan realis, 2) Mematahkan dinding keempat; berbicara langsung kepada penonton, 3) Bahasa puitis dan formal dicampur dengan bahasa slank. 

PENGARUH GAYA TERHADAP ARTISTIK

Kelahiran sebuah gaya pementasan membawa pengaruh terhadap tata rupa pentas. Bahkan munculnya sebuah gaya terkadang dipengaruhi oleh visi penata artistik. Keterkaitan antara gaya pementasan dengan disain tata rupa pentas sangat erat karena simbol artistik dapat menemukan perluasan makna di dalamnya. Memahami sebuah gaya pementasan dengan sendirinya memahami konsep tata rupa pentas.
Pada gaya Presentasional, sengaja memamerkan tontonan dengan pernak-pernik yang sengaja diperindah. Aspek cerita yang istana centris mendukung hadirnya bangunan (pilar) kerajaan dengan perspektif lorong yang menciptakan efek keluasan area bangunan untuk memberi kesan megah dan mewah.
Sedangkan pada gaya Realisme, tujuan menampilkan kenyataan hidup di atas pentas maka tata rupa yang hadirpun dibuat semirip mungkin dengan kenyataan.

Pada Pos Realisme, gaya yang hadir dalam lingkup ini, masing-masing memiliki konsepsi artistiknya tersendiri. Simbolisme menghadirkan beragam simbol untuk mengungkapkan makna atau emosi. Gaya ini juga disebut sebagai teater multi media karena beragam media digunakan dan sengaja dihadirkan untuk memberi makna-makna tertentu. Simbolisme mencoba mensitesiskan seluruh elemen seni dalam sebuah pementasan termasuk; seni musik, tari, rupa, cahaya, tari, dan media seni lain.

Dari serangkaian gaya yang ditulis di atas dapat dilihat bahwa kaitan antara tata rupa pentas dengan model pertunjukan sangat erat. Penempatan bentuk, penciptaan ruang, dan penentuan perspektif tata rupa pentas juga membawa pengaruh terhadap pertunjukan teater. Demikian pula konsepsi dasar pementasan membawa pengaruh bagi perwujudan tata rupa pentas. 

MEMPELAJARI  NASKAH DENGAN TELITI

Tugas piñata artistic  tidak hanya sekedar membuat set dekor tetapi juga memperhatikan detil perabot yang digunakan oleh pemain. Untuk itu seorang penata artistik wajib mempelajari dialog tokoh dalam lakon karena bisanya perabot atau piranti tangan (handprops) yang tidak diterangkan dalam narasi akan diungkap di sini. Detil semacam ini perlu untuk menghindari kesalahan.

Detil-detil kecil seperti tersebut di atas sangatlah penting terutama dalam drama realis yang serius. Untuk menghindari hal tersebut maka sekali lagi wajib bagi penata artistik pentas untuk mempelajari dialog tokoh serta memberi tanda terhadap hal-hal yang perlu diperhatikan serta dituntut kehadirannya di atas pentas. 

Pada ahirnya, panggung adalah kanvas kosong yang membutuhkan gambar indah dan gambar indah tersebut adalah tata rupa pentas (set dekor) serta aktor. Jika pertunjukan sudah berjalan maka tidak ada apapun di panggung selain aktor, ruang, cahaya, dan lukisan (Appia, 1993). Ruang, cahaya dan lukisan adalah wilayah penata artistik yang tentunya harus mampu bekerja sama dengan aktor yang menggunakannya. Membuat set berarti menciptakan ruang bagi aktor dan lakon secara keseluruhan. 
 

SENI PERAN / SENI AKTING

AKTING YANG BAIK

Akting tidak hanya berupa dialog saja tetapi juga berupa gerak.

Dialog yang baik ialah dialog yang :

  1. Terdengar (volume baik)
  2. Jelas (artikulasi baik)
  3. Dimengerti (lafal benar)
  4. Menghayati (sesuai dengan tuntutan/jiwa peran yang ditentukan dalam naskah)

 

Gerak yang baik ialah gerak yang :

  1. Terlihat (blocking baik)
  2. Jelas (tidak ragu‑ragu, meyakinkan)
  3. Dimengerti (sesuai dengan hukum gerak dalam kehidupan)
  4. Menghayati (sesuai dengan tuntutan/jiwa peran yang ditentukan dalam naskah)

Penjelasan :

  • Volume suara yang baik ialah suara yang dapat terdengar sampai jauh.
  • Artikulasi yang baik ialah pengucapan yang jelas. Setiap suku kata terucap dengan jelas dan terang meskipun diucapkan dengan cepat sekali. Jangan terjadi kata‑kata yang diucapkan menjadi tumpang tindih.
  • Lafal yang benar pengucapan kata yang sesuai dengan hukum pengucapan bahasa yang dipakai . Misalnya berani yang berarti “tidak takut” harus diucapkan berani bukan ber‑ani.
  • Menghayati atau menjiwai berarti tekanan atau lagu ucapan harus dapat menimbulkan kesan yang sesuai dengan tuntutan peran dalam naskah.
  • Blocking ialah penempatan pemain di panggung, diusahakan antara pemain yang satu de-ngan yang lainnya tidak saling menutupi sehingga penonton tidak dapat melihat pemain yang ditutupi. Pemain lebih baik terlihat sebagian besar bagian depan tubuh daripada terlihat sebagian besar belakang tubuh. Hal ini dapat diatur dengan patokan sebagai berikut :

>  Kalau berdiri menghadap ke kanan, maka kaki kanan sebaiknya berada didepan.

>  Kalau berdiri menghadap ke kiri, maka kaki kiri sebaiknya berada didepan.

Harus diatur pula balance para pemain di panggung. Jangan sampai seluruh pemain mengelompok di satu tempat. Dalam hal mengatur balance, komposisinya:

>  Bagian kanan lebih berat daripada kiri

>  Bagian depan lebih berat daripada belakang

>  Yang tinggi lebih berat daripada yang rendah

>  Yang lebar lebih berat daripada yang sempit

>  Yang terang lebih berat daripada yang gelap

>  Menghadap lebih berat daripada yang membelakangi

Komposisi diatur tidak hanya bertujuan untuk enak dilihat tetapi juga untuk mewarnai sesuai adegan yang berlangsung. Pergerakan pemain di atas panggung haruslah :

1.  Jelas, tidak ragu‑ragu, meyakinkan, mempunyai pengertian bahwa gerak yang dilaku-

     kan jangan setengah‑setengah bahkan jangan sampai berlebihan. Kalau ragu‑ragu

     terkesan kaku sedangkan kalau berlebihan terkesan over acting.

2.  Dimengerti, berarti apa yang kita wujudkan dalam bentuk gerak tidak menyimpang dari

     hukum gerak dalam kehidupan. Misalnya bila mengangkat barang yang berat dengan  

     tangan kanan, maka tubuh kita akan miring ke kiri, dsb.

3.  Menghayati, berarti gerak‑gerak anggota tubuh maupun gerak wajah harus sesuai tuntutan

     peran dalam naskah, termasuk pula bentuk dan usia.

 MEDITASI dan KONSENTRASI

 MEDITASI

Secara umum meditasi artinya adalah menenangkan pikiran. Dalam teater dapat diartikan sebagai suatu usaha untuk menenangkan dan mengosongkan pikiran dengan tujuan untuk memperoleh kestabilan diri.

Tujuan Meditasi :

1.  Mengosongkan pikiran.

     Kita mencoba mengosongkan pikiran kita, dengan jalan membuang segala sesuatu yang

     ada dalam pikiran kita, tentang berbagai masalah baik itu masalah keluarga, sekolah,

     pribadi dan sebagainya. Kita singkirkan semua itu dari otak kita agar pikiran kita bebas

    dari segala beban dan ikatan.

2.  Meditasi sebagai jembatan.

     Disini alam latihan kita sebut sebagai alam “semu”, karena segala sesuatu yang kita

     kerjakan dalam latihan adalah semu, tidak pernah kita kerjakan dalam kehidupan sehari-

     hari. Jadi setiap gerak kita akan berbeda dengan kelakuan kita sehari-hari. Untuk itulah

     kita memerlukan suatu jembatan yang akan membawa kita dari alam kehidupan kita

     sehari-hari ke alam latihan.

Cara Meditasi :

>  Posisi tubuh tidak terikat, dalam arti tidak dipaksakan. Tetapi yang biasa dilakukan adalah

    dengan duduk bersila, badan usahakan tegak. Cara ini dimaksudkan untuk memberi bidang/

    ruangan pada rongga tubuh sebelah dalam.

>  Atur pernapasan dengan baik, hirup udara pelan-pelan dan keluarkan juga dengan perlahan.

    Rasakan seluruh gerak peredaran udara yang masuk dan keluar dalam tubuh kita.

>  Kosongkan pikiran kita, kemudian rasakan suasana yang ada di sekeliling kita dengan se-

    gala perasaan. Kita akan merasakan suasana yang hening, tenang, bisu, diam tak bergerak.

    Kita menyuruh syaraf kita untuk lelap, kemudian kita siap untuk berkonsentrasi.

Catatan :

Pada suatu saat mungkin kita kehilangan rangsangan untuk berlatih, seolah-olah timbul kelesuan dalam setiap gerak dan ucapan. Hal ini sering terjadi akibat diri terlalu lelah atau terlalu banyak pikiran. Jika hal ini tidak diatasi dan kita paksakan untuk berlatih, maka akan sia-sia belaka. Cara untuk mengatasi adalah dengan MEDITASI. Meditasi juga perlu dilaku-kan bila kita akan bermain di panggung, agar kita dapat mengkonsentrasikan diri kita pada peran yang hendak kita bawakan.

 

KONSENTRASI

Konsentrasi secara umum berarti “pemusatan”. Dalam teater kita mengartikannya dengan pemusatan pikiran terhadap alam latihan atau peran-peran yang akan kita bawakan agar kita tidak terganggu dengan pikiran-pikiran lain, sehingga kita dapat menjiwai segala sesuatu yang kita kerjakan.

Cara konsentrasi :

  • Kita harus melakukan dahulu meditasi. Kita kosongkan dulu pikiran kita, dengan cara-cara yang sudah ditentukan. Kita kerjakan sesempurna mungkin agar pikiran kita benar-benar kosong dan siap berkonsentrasi.
  • Setelah pikiran kita kosong, mulailah memasuki otak kita dengan satu unsur pikiran. Rasakan bahwa saat ini sedang latihan, kita memasuki alam semu yang tidak kita dapati dalam kehidupan sehari-hari. Jangan memikirkan yang lain, selain bahwa kita saat ini sedang latihan teater.

Catatan :

Pada saat kita akan membawakan suatu peran, misalnya sebagai ayah, nenek, gadis pemalu dan sebagainya, baik itu dalam latihan atau pementasan, konsentrasikan pikiran kita pada hal tersebut. Jangan sekali-kali memikirkan yang lain.

 

VOKAL dan PERNAFASAN

PERNAFASAN

Seorang artis panggung, baik itu dramawan ataupun penyanyi, untuk memperoleh suara yang baik ia memerlukan pernapasan yang baik pula. Oleh karena itu ia harus melatih pernafasan/ alat-alat pernafasannya serta mempergunakannya secara tepat agar dapat diperoleh hasil yang maksimum, baik dalam latihan ataupun dalam pementasan.

Ada empat macam pernafasan yang biasa dipergunakan :

1.  Pernafasan Dada

     Pada pernapasan dada kita menyerap udara kemudian kita masukkan ke rongga dada

     sehingga dada kita membusung. Di kalangan orang‑orang teater pernafasan dada biasanya

     tidak dipergunakan karena disamping daya tampung atau kapasitas dada untuk udara

     sangat sedikit,  juga dapat mengganggu gerak/akting kita, karena bahu menjadi kaku.

2.  Pernafasan Perut

     Dinamakan pernafasan perut jika udara yang kita hisap kita masukkan ke dalam perut

     sehingga perut kita menggelembung. Pernafasan perut dipergunakan oleh sebagian

     dramawan, karena tidak banyak mengganggu gerak dan daya tampungnya lebih banyak

     dibandingkan dada.

3.  Pernafasan Lengkap

     Pada pernafasan lengkap kita mempergunakan dada dan perut untuk menyimpan udara,

     sehingga udara yang kita serap sangat banyak (maksimum).  Pernafasan lengkap diper-

     gunakan oleh sebagian artis panggung yang biasanya tidak terlalu mengutamakan akting,

     tetapi mengutamakan vokal.

4.  Pernafasan Diafragma

     Pernafasan diafragma ialah jika pada waktu kita mengambil udara, maka diafragma kita

     mengembang. Hat ini dapat kita rasakan dengan mengembangnya perut, pinggang, bahkan

     bagian belakang tubuh di sebelah atas pinggul kita juga turut mengembang.

     Menurut perkembangan akhir‑akhir ini, banyak orang‑orang teater yang mempergunakan

     pernafasan diafragma, karena tidak banyak mengganggu gerak dan daya tampungnya lebih

     banyak dibandingkan dengan pernafasan perut.

Latihan‑latihan Pernafasan :

*  Pertama kita menyerap udara sebanyak mungkin. Kemudian masukkan ke dalam dada,  

    kemudian turunkan ke perut, sampai di situ nafas kita tahan. Dalam keadaan demikian

    tubuh kita gerakkan turun sampai ke batas maksimum bawah. Setelah sampai di bawah,

    lalu naik lagi ke posisi semula, barulah nafas kita keluarkan kembali.

*  Cara kedua adalah menarik nafas dan mengeluarkannya kembali dengan cepat.

*  Cara berikutnya adalah menarik nafas dalam‑dalam, kemudian keluarkan lewat mulut

    dengan mendesis, menggumam, ataupun cara‑cara lain. Di sini kita sudah mulai menying-

    gung vokal.

Catatan : Bila sudah menentukan pernafasan apa yang akan kita pakai, maka janganlah beralih ke bentuk pernafasan yang lain.

 

VOKAL

Untuk menjadi seorang pemain drama yang baik, maka dia harus mernpunyai dasar vokal yang baik pula. “Baik” di sini diartikan sebagai :

>  Dapat terdengar (dalam jangkauan penonton, sampai penonton, yang paling belakang).

>  Jelas (artikulasi/pengucapan yang tepat).

> Tersampaikan misi (pesan) dari dialog yang diucapkan.

> Tidak monoton.

Untuk mempunyai vokal yang baik ini, maka perlu dilakukan latihan‑latihan vokal. Banyak cara yang dilakukan untuk melatih vokal, antara lain :

*  Tariklah nafas, lantas keluarkan lewat mulut sambil menghentakkan suara “wah…” dengan

    energi suara. Lakukan ini berulang kali.

*  Tariklah nafas, lantas keluarkan lewat mulut sambil menggumam “mmm…mmm…”  (suara  

    keluar lewat hidung).

*  Sama dengan latihan kedua, hanya keluarkan dengan suara mendesis,”ssss…….”

*  Hirup udara banyak‑banyak, kemudian keluarkan vokal “aaaaa…….”  sampai batas nafas

    yang terakhir. Nada suara jangan berubah.

*  Sama dengan latihan di atas, hanya nada (tinggi rendah suara) diubah-ubah naik turun

    (dalam satu tarikan nafas)

*  Keluarkan vokal “a…..a……” secara terputus-putus.

*  Keluarkan suara vokal “a‑i‑u‑e‑o”, “ai‑ao‑au‑ae‑”, “oa‑oi‑oe‑ou”, “iao‑iau‑iae‑aie‑aio‑aiu‑

    oui‑oua‑uei‑uia‑……” dan sebagainya.

*  Berteriaklah sekuat‑kuatnya sampai ke tingkat histeris.

*  Bersuara, berbicara, berteriak sambil berjalan, jongkok, bergulung‑gulung, berlari,

    berputar‑putar dan berbagai variasi lainnnya.

Catatan :

Apabila suara kita menjadi serak karena latihan‑latihan tadi, janganlah takut. Hal ini biasa terjadi apabila kita baru pertama kali melakukan. Sebabnya adalah karena lendir‑lendir di tenggorokan terkikis, bila kita bersuara keras. Tetapi bila kita sudah terbiasa, tenggorokan kita sudah agak longgar dan selaput suara (larink) sudah menjadi elastis. Maka suara yang serak tersebut akam menghilang dengan sendirinya. Dan ingat, janganlah terlalu memaksa alat‑alat suara untuk bersuara keras, sebab apabila dipaksakan akan dapat merusak alat‑alat suara kita. Berlatihlah dalam batas-batas yang wajar.

Latihan ini biasanya dilakukan di alam terbuka. misalnya di gunung, di tepi sungai, di dekat air terjun dan sebagainya. Di sana kita mencoba mengalahkan suara‑suara di sekitar kita, di samping untuk menghayati karunia ciptaan Tuhan.

 

ARTIKULASI

Yang dimaksud dengan artikulasi pada teater adalah pengucapan kata melalui mulut agar terdengar dengan baik dan benar serta jelas, sehingga telinga pendengar/penonton dapat mengerti pada kata‑kata yang diucapkan.

Pada pengertian artikulasi ini dapat ditemukan beberapa sebab yang mengakibatkan terjadinya artikulasi yang kurang/tidak benar, yaitu :

  • Cacat artikulasi alam : cacat artikulasi ini dialami oleh orang yang berbicara gagap atau orang yang sulit mengucapkan salah satu konsonon, misalnya ‘r’, dan sebagainya.
  • Artikulasi jelek ini bukan disebabkan karena cacat artikulasi, melainkan terjadi sewaktu‑waktu. Hal ini sering terjadi pada pengucapan naskah/dialog.

Misalnya:

Kehormatan menjadi kormatan

Menyambung menjadi mengambung, dan sebagainya.

Artikulasi jelek disebabkan karena belum terbiasa pada dialog, pengucapan terlalu cepat, gugup, dan sebagainya. Artikulasi tak tentu : hal ini terjadi karena pengucapan kata/dialog terlalu cepat, seolah‑olah kata demi kata berdempetan tanpa adanya jarak sama sekali.

Untuk mendapatkan artikulasi yang baik maka kita harus melakukan latihan mengucapkan alfabet dengan benar, perhatikan bentuk mulut pada setiap pengucapan. Ucapkan setiap huruf dengan nada‑nada tinggi, rendah, sengau, kecil, besar, dsb. Juga ucapkanlah dengan berbisik. Variasikan dengan pengucapan lambat, cepat, naik, turun, dsb. Membaca kalimat dengan berbagai variasi seperti di atas. Perhatikan juga bentuk mulut.

 

INTONASI

Seandainya pada dialog yang kita ucapkan, kita tidak menggunakan intonasi, maka akan terasa monoton, datar dan membosankan. Yang dimaksud intonasi di sini adalah tekanan‑ tekanan yang diberikan pada kata, bagian kata atau dialog. Dalam tatanan intonasi, terdapat tiga macam, yaitu :

1.   Tekanan Dinamik (keras‑lemah)

      Ucapkanlah dialog pada naskah dengan melakukan penekanan‑penekanan pada setiap kata

      yang memerlukan penekanan. Misainya saya pada kalimat “Saya membeli pensil ini”  

      Perhatikan bahwa setiap tekanan memiliki arti yang berbeda, contoh:

      SAYA membeli pensil ini. (Saya, bukan orang lain)

      Saya MEMBELI pensil ini. (Membeli, bukan, menjual)

      Saya membeli PENSIL ini. (Pensil, bukan buku tulis)

2.   Tekanan Nada (tinggi-rendah)

      Cobalah mengucapkan kalimat/dialog dengan memakai nada/aksen, artinya tidak

      mengucapkan seperti biasanya. Yang dimaksud di sini adalah membaca/mengucapkan

      dialog dengan Suara yang naik turun dan berubah‑ubah. Jadi yang dimaksud dengan

      tekanan nada ialah tekanan tentang tinggi rendahnya suatu kata.

3.   Tekanan Tempo (cepat-lambat)

      Tekanan tempo adalah memperlambat atau mempercepat pengucapan. Tekanan ini sering

      dipergunakan untuk lebih mempertegas apa yang kita maksudkan. Untuk latihannya

      cobalah membaca naskah dengan tempo yang berbeda‑beda. Lambat atau cepat silih

      berganti.

IMAJINASI

Imajinasi adalah suatu cara untuk menganggap sesuatu yang tidak ada menjadi seolah-olah ada. Kalau ilusi obyeknya adalah peristiwa, maka imajinasi obyeknya benda atau sesuatu yang dibendakan. Tujuannya adalah agar kita tidak hanya selalu menggantungkan diri pada benda-benda yang kongkret. Juga di atas pentas, penonton akan melihat bahwa apa yang ditampilkan tampak benar-benar terjadi walaupun sesungguhnya tidak terlihat, benar-benar dialami sang pelaku. Kemampuan untuk berimajinasi benar-benar diuji bilamana kita sedang memainkan sebuah pantomim.

Sebagai contoh, dalam naskah OBSESI, terjadi dialog antara pemimpin koor dengan roh suci. Roh suci disini hanya terdengar suaranya, tetapi pemain harus menganggap bahwa roh suci benar-benar ada. Dalam contoh lain dapat kita lihat pada sebuah naskah yang didalamnya terdapat sebuah dialog, sebagai berikut : “ Hei letnan, coba perhatikan perempuan berkaca mata gelap di depan toko itu. Perhatikan topi dan tas hitam yang dipakainya. Rasa-rasanya aku pernah melihat tas dan topi itu dipakai Nyonya Lisa beberapa saat sebelum terjadi pembunuhan”. Yang dibicarakan tokoh di atas sebenarnya hanya khayalan saja. Perempuan berkaca mata gelap, bertopi, dan bertas hitam tidak terlihat atau tidak tampak dalam pentas.

Telah disebutkan bahwa obyek imajinasi adalah benda atau sesuatu yang dibendakan, termasuk disini segala sifat dan keadaannya. Sebagai latihan dapat dipakai cara-cara sebagai berikut :

*  Sebutkan sebanyak mungkin benda-benda yang terlintas di otak kita. Jangan sampai

    menyebutkan sebuah benda lebih dari satu kali.

*  Sebutkan sebuah benda yang tidak ada di sekitar kita kemudian bayangkan dan sebutkan

    bentuk benda itu, ukurannya, sifatnya, keadaannya, warna, dsb.

*  Menganggap atau memperlakukan sebuah benda lain dari yang sebenarnya. Contohnya,

    menganggap sebuah batu adalah suatu barang yang sangat lucu, baik itu bentuknya,

    letaknya, dsb. Sehingga dengan memandang batu tersebut kita jadi tertawa terpingkal-

    pingkal.

*  Menganggap sesuatu benda memiliki sifat yang berbeda-beda. Misalnya sebuah pensil

    rasanya menjadi asin, pahit, manis kemudian berubah menjadi benda yang panas, dingin,

    kasar, dsb.

 

EMOSI

Emosi dapat diartikan sebagai ungkapan perasaan. Emosi dapat berupa perasaan sedih, marah,

benci, bingung, gugup, dsb. Dalam drama, seorang pemain harus dapat mengendalikan dan

menguasai emosinya. Hal ini penting untuk memberikan warna bagi tokoh yang diperankan  dan untuk menunjang karakter tokoh tersebut. Emosi juga sangat mempengaruhi tubuh, yaitu tingkah laku, roman muka (ekspresi), pengucapan dialog, pernapasan, niat. Niat disini timbul setelah emosi itu terjadi, misalnya setelah marah maka tinbul niat untuk memukul, dsb.

 

PENGHAYATAN

Penghayatan adalah mengamati serta mempelajari isi dari naskah untuk diterpakan tubuh kita. Misalnya pada waktu kita berperan sebagai Pak Usman yang berprofesi sebagai polisi, maka saat itu kita tidak lagi berperan sebagai diri kita sendiri melainkan menjadi Pak Usman yang berprofesi sebagai polisi. Hal inilah yang harus kita terapkan dengan baik jika kita akan memainkan sebuah naskah drama.

Cara-cara yang dipergunakan dalam penghayatan adalah :

>  Pelajari naskah secara keseluruhan, supaya dapat mengetahui apa yang dikehendaki oleh

    naskah, problema apa yang ditonjolkan, serta apa titik tolak dan inti dari naskah.

>  Melakukan gerak serta dialog yang terdapat dalam naskah. Jadi disini kita sudah mendapat

    gambaran tentang akting dari tokoh yang akan kita perankan.

>  Sebagai latihan cobalah membaca sebuah naskah / dialog dengan diiringi musik sebagai

    pembantu pemberi suasana. Hayati dulu musiknya baru mulailah membaca.

BLOCKING

 Yang dimaksud dengan blocking adalah kedudukan tubuh pada saat di atas pentas. Dalam permainan drama, blocking yang baik sangat diperlukan, oleh karena itu pada waktu bermain kita harus selalu mengontrol tubuh kita agar tidak merusak blocking. Yang dimaksud dengan blocking yang baik adalah blocking tersebut harus seimbang, utuh, bervariasi dan memiliki titik pusat perhatian serta wajar.

Seimbang : berarti kedudukan pemain, termasuk juga benda-benda yang ada diatas panggung (setting) tidak mengelompok di satu tempat, sehingga mengakibatkan adanya kesan berat sebelah. Jadi semua bagian panggung harus terwakili oleh pemain atau benda-benda yang ada di panggung. Penjelasan lebih lanjut mengenai keseimbangan panggung ini akan disampaikan pada bagian mengenai “Komposisi Pentas “.

Utuh : berarti blocking yang ditampilkan hendaknya merupakan suatu kesatuan. Semua penempatan dan gerak yang harus dilakukan harus saling menunjang dan tidak saling menutupi.

Bervariasi : artinya bahwa kedudukan pemain tidak disuatu tempat saja, melainkan mem-bentuk komposisi-komposisi baru sehingga penonton tidak jenuh. Keadaan seorang pemain jangan sama dengan kedudukan pemain lainnya. Misalnya sama-sama berdiri, sama-sama jongkok, menghadap ke arah yang sama, dsb. Kecuali kalau memang dikehendaki oleh naskah.

Memiliki titik pusat : artinya setiap penampilan harus memiliki titik pusat perhatian. Hal ini penting artinya untuk memperkuat peranan lakon dan mempermudah penonton  untuk melihat dimana sebenarnya titik pusat dari adegan yang sedang berlangsung. Antara pemain juga ja-ngan saling mengacau sehingga akan mengaburkan dimana sebenarnya letak titik perhatian.

Wajar : artinya setiap penempatan pemain ataupun benda-benda haruslah tampak wajar, tidak dibuat-buat. Di samping itu setiap penempatan juga harus memiliki motivasi dan harus beralasan.

Dalam drama kontemporer kadang-kadang naskah tidak menuntut blocking yang sempurna, bahkan kadang-kadang juga sutradara atau naskah itu sendiri sama sekali meninggalkan prinsip-prinsip blocking. Ada juga naskah yang menuntut adanya gerak-gerak yang seragam di antara para pemainnya.

NASKAH

Setelah kita mengenal berbagai macam dasar yang diperlukan untuk bermain drama, akhirnya sampailah kita pada naskah. Naskah disini diartikan sebagai bentuk tertulis dari suatu drama. Sebuah naskah walaupun telah dimainkan berkali-kali, dalam bentuk yang berbeda-beda, naskah tersebut tidak akan berubah mutunya. Sebaliknya sebuah atau beberapa drama yang dipentaskan berdasarkan naskah yang sama dapat berbeda mutunya. Hal ini tergantung pada penggarapan dan situasi, kondisi, serta tempat di mana dimainkan naskah tersebut.

Sebuah naskah yang baik harus memiliki tema, pemain / lakon dan plot atau rangka cerita.

Tema : adalah rumusan inti sari cerita yang dipergunakan dalam menentukan arah dan tujuan cerita. Dari tema inilah kemudian ditentukan lakon-lakonnya.

Lakon : dalam cerita drama lakon merupakan unsur yang paling aktif yang menjadi pengge-rak cerita. Oleh karena itu seorang lakon haruslah memiliki karakter, agar dapat berfungsi sebagai penggerak cerita yang baik. Di samping itu dalam naskah akan ditentukan dimensi-dimensi sang lakon. Biasanya ada 3 dimensi yang ditentukan yaitu :

Dimensi fisiologi    : ciri-ciri badani

    usia, jenis kelamin, keadaan tubuh, cirri-ciri muka,dll.

Dimensi sosiologi   : latar belakang kemasyarakatan

    status sosial, pendidikan, pekerjaan, peranan dalam masyarakat, kehidupan pribadi,

    pandangan hidup, agama, hobby, dll.

Dimensi psikologis : latar belakang kejiwaan

    temperamen, mentalitas, sifat, sikap dan kelakuan, tingkat kecerdasan, keahlian dalam

    bidang tertentu, kecakapan, dll. 

Apabila kita mengabaikan salah satu saja dari ketiga dimensi di atas, maka lakon yang akan kita perankan akan menjadi tokoh yang kaku, timpang, bahkan cenderung menjadi tokoh yang mati.

Plot : adalah alur atau kerangka cerita. Plot adalah suatu keseluruhan peristiwa di dalam naskah. Secara garis besar, plot drama dapat dibagi menjadi beberapa bagian yaitu :

*  Pemaparan (eksposisi)

Bagian pertama dari suatu pementasan drama adalah pemaparan atau eksposisi. Pada bagian ini diceritakan mengenai tempat, waktu dan segala situasi dari para pelakunya. Kepada penonton disajikan sketsa cerita sehingga penonton dapat meraba dari mana cerita ini dimulai. Jadi eksposisi berfungsi sebagai pengantar cerita.

*  Dialog

Dialog berisikan kata-kata. Dalam drama para lakon harus berbicara dan apa yang diutarakan mesti sesuai dengan perannya, dengan tingkat kecerdasannya, pendidikannya, dsb. Dialog berfungsi untuk mengemukakan persoalan, menjelaskan perihal tokoh, menggerakkan plot maju, dan membukakan fakta.

*  Komplikasi awal atau konflik awal

Kalau pada bagian pertama tadi situasi cerita masih dalam keadaan seimbang maka pada bagian ini mulai timbul suatu perselisihan atau komplikasi. Konflik merupakan kekuatan penggerak drama.

*  Klimaks dan krisis

Klimaks dibangun melewati krisis demi krisis. Krisis adalah puncak plot dalam adegan. Konflik adalah satu komplikasi yang bergerak dalam suatu klimaks.

*  Penyelesaian (denouement)

Drama terdiri dari sekian adegan, dimana didalamnya terdapat krisis-krisis yang memunculkan beberapa klimaks. Satu klimaks terbesar dibagian akhir selanjutnya diikuti adegan penyelesaian.

MEMPELAJARI TATA CAHAYA

Proses kerja penataan cahaya dalam pementasan teater membutuhkan waktu yang lama. Seorang penata cahaya tidak hanya bekerja sehari atau dua hari menjelang pementasan. Kejelian sangat diperlukan, karena fungsi tata cahaya tidak hanya se-kedar menerangi panggung pertunjukan. Kehadiran tata cahaya sangat membantu dramatika lakon yang dipentaskan. Tidak jarang sebuah pertunjukan tampak spekta-kuler karena kerja tata cahayanya yang hebat. Untuk hasil yang terbaik, penata cahaya perlu mengikuti prosedur kerja mulai dari menerima naskah sampai pementasan.

Prosedur atau langkah kerja pada dasarnya dibuat untuk mempermudah kerja seseorang. Dari gambar di atas dapat diketahui bahwa kerja penata cahaya tidak hanya sekedar menata lampu, menghidupkan, dan mematikannya.

Mempelajari Naskah

Naskah lakon adalah bahan dasar ekspresi artistik pementasan teater. Semua kreativitas yang dihasilkan mengacu pada lakon yang dipilih. Tidak hanya sutradara dan aktor yang perlu mempelajari naskah lakon. Penata cahaya pun perlu mempela-jari naskah lakon. Berbeda dengan aktor yang berkutat pada karakter tokoh peran, penata cahaya mempelajari lakon untuk menangkap maksud lakon serta mempela-jari detil latar waktu, dan tempat kejadian peristiwa.

Mempelajari tempat kejadian peristiwa akan memberikan gambaran pada penata cahaya tempat cerita berlangsung, suasana dan piranti yang digunakan. Mungkin ada piranti yang menghasilkan cahaya seperti obor, lilin, lampu belajar, dan lain sebagainya yang digunakan dalam cerita tersebut. Ini semua menjadi catatan penata cahaya. Setiap sumber cahaya menghasilkan warna dan efek cahaya yang berbeda yang pada akhirnya akan memberikan gambaran suasana.

Tempat berlangsungnya cerita juga memberikan gambaran cahaya. Peristiwa yang terjadi di dalam ruang memiliki pencahaayaan yang berbeda dengan di luar ruang. Jika dihubungkan dengan waktu kejadian maka gambaran detil cahaya secara keseluruhan akan didapatkan. Jika perstiwa terjadi di luar ruang pada siang hari berbeda dengan sore hari. Persitiwa yang terjadi di luar ruang memerlukan pencahayaan yang bebeda antara di sebuah taman kota dan di teras sebuah rumah. Semua hal yang berkaitan dengan ruang dan waktu harus menjadi catatan penata cahaya.

Diskusi Dengan Sutradara

Penata cahaya perlu meluangkan waktu khusus untuk berdiskusi dengan sutradara. Setelah mempelajari naskah dan mendapatkan gambaran keseluruhan kejadian peristiwa lakon, penata cahaya perlu mengetahui interpretasi dan keinginan sutradara mengenai lakon yang hendak dimainkan tersebut. Mungkin sutradara mengehendaki penonjolan pada adegan tertentu atau bahkan menghendaki efek khusus dalam persitiwa tertentu. Catatan penata cahaya yang didapatkan setelah mempelajari naskah digabungkan dengan catatan dari sutradara sehingga gambaran keseluruhan pencahayaan yang diperlukan didapatkan.

Mempelajari Desain Tata Busana

Berdiskusi dengan penata busana lebih khusus adalah untuk menyesuaikan warna dan bahan yang digunakan dalam tata busana. Seperti yang telah disebut di atas, bahan-bahan tertentu dapat menghasilkan refleksi tertentu serta warna tertentu dapat memantulkan warna cahaya atau menyerapnya. Untuk menghindari hal-hal yang tidak dinginkan maka kerjasama antara penata cahaya dan penata busana perlu dijalin.

Hal ini juga berkaitan juga dengan catatan sutradara. Misalnya, dalam satu peristiwa sutradara menghendaki cahaya berwarna kehijauan untuk menyimbolkan sebuah mimpi, penata busana juga membuat baju berwarna hijau untuk menegaskan suasana tersebut. Penata cahaya bisa memberikan saran penggunaan warna hijau pada busana karena warna hijau cahaya jika mengenai warna hijau tertentu pada busana bisa saling meniadakan. Artinya, warna hijau yang ingin ditampilkan justru hilang. Untuk itu, diskusi dan saling mempelajari desain perlu dilakukan.

Mempelajari Desain Tata Panggung

Diskusi dengan penata panggung sangat diperlukan karena tugas tata cahaya selain menyinari aktor dan area juga menyediakan cahaya khusus untuk set dan properti yang ada di panggung. Selain bahan dan warna, penataan dekor di atas pentas penting untuk dipelajari. Jika desain tata panggung memperlihatkan sebuah konstruksi maka tata cahaya harus membantu memberikan dimensi pada konstruksi tersebut. Jika desain tata panggung menampilkan bangunan arsitektural gaya tertentu maka tata cahaya harus mampu membantu menampilkan keistemewaan gaya arstitektur yang ditampilkan.

Penyinaran pada set dekor tidak hanya berlaku untuk set dekor saja tetapi juga ber-laku untuk lingkungan sekitarnya. Misalnya, di atas panggung menampakkan sebuah ruang yang di bagian belakangnya ada jendela. Ketika jendela itu dibuka dan lampu ruangan tersebut dinyalakan maka pendar cahaya dalam ruangan harus sampai ke luar ruangan melalui jendela tersebut. Tugas tata cahaya adalah menyajikan efek sinar lampu ruangan yang menerobos ke luar ruangan. Intinya, setiap detil efek ca-haya yang dihasilkan berkaitan dengan tata panggung harus diperhitungkan. Semua harus nampak logis bagi mata penonton.

Memeriksa Panggung dan Perlengkapan

Memeriksa panggung dan perlengkapan adalah tugas berikutnya bagi penata caha-ya. Dengan mempelajari ukuran panggung maka akan diketahui luas area yang perlu disinari. Penempatan baris bar lampu menentukan sudut pengambilan cahaya yang akan ditetapkan. Ketersediaan lampu yang ada dipanggung juga menentukan pele-takan lampu berdasar kepentingan penyinaran berkaitan dengan karakter dan ke-mampuan teknis lampu tersebut. Semua kelengkapan pernak-pernik yang ada di panggung harus diperiksa.

Ketersediaan peralatan seperti, tangga, tali, pengerek, rantai pengaman lampu, sabuk pengaman, sekrup, obeng, gunting, dan perlatan kecil lainnya harus diperiksa. Ketersediaan lampu baik jumlah, jenis, dan kekuatan dayanya harus dicatat. Asesoris yang dibutuhkan untuk lampu seperti; filter warna, kelem, pengait, barndoor, stand, iris, gobo, dan asesoris lain yang ada juga harus diperiksa. Ketersediaan dimmer dan kontrol serta kelistrikan yang menjadi sumber daya utama juga harus diteliti.

Semua yang ada di panggung yang berkaitan dengan kerja tata cahaya dicatat. Berikutnya adalah kalkulasi keperluan tata cahaya berdasar capaian artistik yang dinginkan dan dibandingkan dengan ketersediaan perlengkapan yang ada. Dengan mempelajari panggung dan segala perlengkapan yang disediakan penata cahaya akan menemukan kekurangan atau problem yang perlu diatasi. Misalnya, penataan boom pada panggung kurang sesuai dengan sudut pengambilan lampu samping untuk menyinari set dekor. Oleh karena itu diperlukan stand tambahan. Lampu yang tersedia masih kurang mencukupi untuk menerangi beberapa bagian arsitektur tata panggung, untuk itu diperlukan lampu tambahan.

Semua problem yang ditemui dan solusi yang bisa dilakukan kemudian dicatat dan diajukan ke sutradara atau tim produksi. Jika tim produksi tidak bisa menyediakan kelengkapan yang diperlukan maka penata cahaya harus mengoptimalkan ketersediaan perlengkapan tata cahaya yang ada. Misalnya, dengan menerapkan prinsip penerangan area dan memanfaat beberapa lampu sisa yang ada untuk efek tertentu.

Menghadiri Latihan

Untuk mendapatkan gambaran lengkap dari situasi masingmasing adegan yang diinginkan penata cahaya wajib mendatangi sesi latihan aktor. Selain untuk mema-hami suasana adegan, penata cahaya juga mencatat hal-hal khusus yang menjadi fokus adegan. Hal ini sangat penting bagi penata cahaya untuk merencanakan perpindahan cahaya dari adegan satu ke adegan lain. Perpindahan cahaya yang halus membuat penonton tidak sadar digiring ke suasana yang berbeda. Hasilnya, efek dramatis yang akan ditampilkan oleh cerita jadi semakin mengena. Sesi latihan dengan aktor akan memberikan gambaran detil setiap pergerakan aktor di atas pentas. Setelah mencatat hal-hal yang berkaitan dengan suasana adegan maka proses pergerakan dan posisi aktor di atas pentas perlu diperhatikan. Penyinaran berdasar area memang memberi penerangan pada seluruh area permainan tetapi tidak pada aktor secara khsusus. Dalam satu adegan tertentu mungkin saja aktor berada di luar jangkauan optimal lingkaran sinar cahaya. Oleh karena itu, aktor yang berdiri atau berpose pada area tertentu memerlukan pencahayaan tersendiri. Hal ini berlaku juga untuk tata panggung pada saat latihan teknik dijalankan. Penata cahaya perlu mendapatkan gambaran riil letak set dekor dan seluruh perabot di atas pentas. Dengan demikian, detil pencahayaan pada set dan perabot bisa dirancang dan diperhitungkan dengan baik.

Membuat Konsep

Setelah mendapatkan keseluruhan gambaran dan pemahaman penata cahaya mulai membuat konsep pencahayaan. Konsep ini hanya berupa gambaran dasar penata cahaya terhadap lakon dan pencahayaan yang akan diterapkan untuk mendukung lakon tersebut. Warna, intensitas, dan makna cahaya dituangkan oleh penata cahaya pada konsepnya. Tidak hanya penggambaran suasana yang dituangkan tetapi bisa saja simbol-simbol tertentu yang hendak disampaikan untuk mendukung makna adegan. Misalnya, dalam satu adegan di ruang tamu ada foto besar seorang pejuang yang dipasang di dinding. Untuk memberi kesan bahwa pemiliki rumah sangat mengagumi tokoh tersebut maka foto diberi pencahayaan khusus. Juga dalam setiap perubahan dan perjalanan adegan konsep pencahayaan digambarkan. Konsep bisa ditulis atau ditambahi dengan gambar rencana dasar. Intinya, komsep ini membicarakan gagasan pencahayaan lakon yang akan dimainkan menurut penata cahaya. Selanjutnya konsep didiskusikan dengan sutradara untuk mendapatkan kesesuaian dengan rencana artistik secara keseluruhan.

Plot Tata Cahaya

Konsep yang sudah jadi dan disepakati selanjutnya dijabarkan secara teknis pertama kali dalam bentuk plot tata cahaya. Plot ini akan memberikan gambaran laku tata cahaya mulai dari awal sampai akhir pertunjukan. Seperti halnya sebuah sinopsis cerita, perjalanan tata cahaya ditgambarkan dengan jelas termasuk efek cahaya yang akan ditampilkan dalam adegan demi adegan. Plot ini juga merupakan cue atau penanda hidup matinya cahaya pada area tertentu dalam adegan tertentu. Dengan membuat plot maka penata cahaya bisa memperhitungkan jenis lampu serta warna cahaya yang dibutuhkan, memperkirakan lamanya waktu penyinaran area atau aksi tertentu, merencanakan pemindahan aliran cahaya, dan suasana yang dikehendaki.

Gambar di atas menjelaskan plot tata cahaya pada adegan satu cerita Menanti Pagi. Kolom “Hal” menjelaskan adegan tersebut terjadi pada naskah di halaman tertentu. Kolom “Aksi” menjelaskan kejadian peristiwa atau adegan. Kolom “cue” menjelaskan tanda perubahan cahaya yang harus dilakukan. Kolom “waktu” menjelaskan lamanya waktu adegan dengan cahaya tertentu. Kolom ”cahaya” menjelaskan hasil pencaha-yaan yang akan dicapai. Dengan membaca plot tersebut dapat diketahui bahwa cerita yang akan ditampilkan bernuansa horror di mana pada malam yang diterangi sinar bulan Anton dan Amir sedang duduk berbincang di kursi. Pintu tiba-tiba ter-buka, kemudian tertutup dan lampu ruangan mati. Amir dan Anton lari keluar. Dari sekilas gambaran adegan tersebut dapat diketahui lampu yang akan digunakan dan efek cahaya yang dihasilkan. Setiap perubahan pencahayaan menjadi catatan dan bisa dijadikan cue. Dalam gambar dijelaskan ada empat cue perubahan.

Pada saat adegan dimulai, lampu sudah dipreset sehingga tingal dinaikkan intensitasnya. Cue perubahan tata cahaya pertama adalah ketika Anton dan Amir masuk ke ruangan, duduk di kursi dan menyalakan lampu yang ada di dekat kursi. Efek cahaya dari lampu yang dinyalakan ini menjadi penanda perubahan. Cue perubahan kedua terjadi ketika pintu terbuka dan efek cahaya bulan masuk melalui pintu. Demikian seterusnya sampai adegan tersebut berakhir dan lampu panggung dipadamkan (black out).

TUGAS SEORANG SUTRADARA

Idealnya syarat yang diperlukan untuk menjadi sutradara tampaknya memang berat, seperti yang dijelaskan N. Riantiarno dalam buku Kitab Teater (penerbit Grasindo, 2011).  Syaratnya adalah :

a)     Memiliki ide, konsep, sistem dan teknik mewujudkan pementasan.

b)     Memahami pengetahuan penyutradaraan, seni peran, seni rupa, sejarah, sastra, filsafat, ilmu jiwa, sosiologi, dan berbagai pengetahuan umum yang bisa mendukung pekerjaannya sebagai sutradara. Tetapi yang paling utama memahami ilmu teater.

c)     Memahami elemen dan alat-alat panggung, serta mengetahui kelemahan dan kekuatan tempat pementasan (panggung, lapangan terbuka, aula, atau ruang kelas).

d)    Memiliki kepekaan terhadap jiwa dari manajemen teater. Berjiwa pemimpin. Mempu mengkoordinasikan banyak orang dan menyatukannya sehingga menjadi suatu tindakan demi sebuah tujuan. Tidak keras kepala. Siap menerima masukan/ide/kritik dari siapa pun. Selain itu juga jujur, disiplin, teliti, bersemangat, dan bertanggungjawab terhadap apa yang dilakukan. Dan, yang paling utama adalah mencintai pekerjaannya lahir batin.

Syarat tersebut di atas tidaklah menjadi ketentuan mutlak yang harus dimiliki seseorang (atau guru) yang untuk pertama kali berminat menjadi sutradara.  Sejalan dengan proses pelatihan dan perkembangannya nanti syarat-syarat tersebut bisa diasah, ditambah dan dikuasainya. Memang semua tergantung pada motivasi dan ketekunan sang sutradara untuk terus berupaya meningkatkan kualitas dirinya.

Sutradara adalah pemimpin dalam pementasan drama. Sebagai pemimpin yang bertanggung jawab terhadap kesuksesan pementasan drama, ia tentu harus membuat perencanaan dan melaksanakannya. Sutradara juga bertanggung jawab menyatukan seluruh elemen teater. Seorang sutradara harus mempunyai argumen/alasan yang kuat dan jelas mengapa memilih tema tertentu. Selain itu, dia juga harus bisa mewujudkan tujuan yang hendak dicapai melalui pementasan teater yang dilakukan.

Menurut N. Riantiarno lagi setidaknya ada tujuh tugas sutradara, yakni:

  1.  Memilih naskah lakon.
  2.  Memilih pemain dan pekerja artistik.
  3.  Bekerja sama dengan staf artistik dan non artistik.
  4.  Menafsir naskah lakon dan menginformasikannya kepada seluruh pekerja (artistik dan non-artistik).
  5.  Menafsir karakter peranan dan menginformasikannya kepada seluruh pemain (aktor-aktris).
  6.  Melatih pemain agar bisa memainkan peranan berdasar tafsir yang sudah dipilih.
  7.  Mempersatukan seluruh kekuatan dari berbagai elemen teater sehingga menjadi sebuah pergelaran yang bagus, menarik dan bermakna.

Sesudah tema/naskah dipilih, pemain dan pekerja pun mulai dipilih berdasarkan kebutuhan pemanggungan. Pemain dilatih secara tekun dan bertahap. Kelengkapan panggung juga dipersiapkan. Gladi kotor dan gladi bersih dijalankan. Akhirnya penyelenggaraan pertunjukan sebagai hasil ujung dari seluruh kegiatan.

Hasil akhir memang penting, tapi yang paling penting, menurut N. Riantiarno, adalah proses mengalami sejak perencanaan, pelatihan, hingga pementasan. Bagaimana mengatasi problem, menggali alternatif, dan mengeksekusi pilihan. Sebuah penyajian yang melewati perjalanan panjang. Daya kreatif dan inisiatif yang diasah sejak masa-masa dini. Inilah gol yang ingin dicapai oleh program-program pelatihan dan pembimbingan ini.

Seringkali kita menjumpai dalam kelompok-kelompok teater amatir, bagaimana sutradara bekerja hingga terlalu jauh mencampuri pekerjaan-pekerjaan yang seharusnya menjadi “jatah” aktor. Hal ini, menurut Tim Penulis buku “Teater Asyik, Asyik Teater” disebabkan bukan saja karena sutradara harus berhadapan dengan para aktor yang sama sekali belum siap disebut aktor, acap juga disebabkan sutradara sendiri belum bekerja berdasarkan metode penyutradaraan atau bahkan tak mengerti apa saja yang menjadi tugas-tugas pentingnya sebagai sutradara.

Dalam banyak teori, diktat, dan buku-buku penyutradaraan yang diajarkan di lingkungan akademik/Perguruan Tinggi Seni, Sutradara disebut sebagai “Penafsir Utama” naskah lakon. Tim Penulis buku ”Teater Asyik, Asyik Teater” memaparkan apa saja yang menjadi tugas sutradara selaku penafsir utama.

  1.  Menafsirkan tema utama naskah lakon yang telah dipilih sebelumnya dan mempresentasikannya kepada para aktor dan seluruh tim pendukung.
  2.  Menafsirkan bentuk seni yang akan dimainkan berkaitan dengan lakon yang dipilih dan mempresentasikannya kepada kelompok. Hal ini akan menentukan pula perancangan artistik: set panggung, cahaya, kostum dan make up, dan musik.
  3.  Menafsirkan perwatakan yang terdapat pada setiap tokoh dalam lakon dan menyosialisasikannya kepada para aktor.
  4.  Menafsir alur cerita dan sasaran utama yang hendak dicapai pengarang lakon dalam lakon tersebut.
  5.  Menentukan/menafsirkan sasaran setiap adegan yang terdapat di dalam lakon.
  6.  Menafsirkan suasana, ritme, dan tempo yang terdapat dalam setiap peristiwa dan adegan
  7.  Menentukan garis-garis blocking dan komposisi untuk menafsirkan dan menggambarkan sejelas mungkin suasana dan peristiwa-peristiwa yang terdapat dalam lakon.
  8.  Membantu dan membimbing seluruh aktor dalam setiap latihan untuk mendapatkan, memahami, dan mengalami semua yang telah ia tafsirkan di atas.

ORGANISASI PRODUKSI TEATER

Di Indonesia seorang sutradara terpaksa harus mengurusi segalanya. Dia harus mencari naskah yang cocok, mencari pemain-pamin yang cocok, pekerja yang bisa diajak bekerja sama. Lalu dia akan mengkoordinir semuanya. Tak jarang dia juga ikut mencari sponsor, memilih gedung pertunjukan, memikirkan strategi penjualan karcis, mngurusi strategi publikasi, mengurus poster/pamplet/spanduk/ buklet, dan bukan mustahil dia juga harus berhadapan dengan polisi jika sandiwaranya kebetulan tak berkenan di hati penguasa.

Bagi seorang sutradara yang kreatif dan energik, menurut N. Riantiarno, kerja serabutan macam itu tidak menjadi soal, meski yang dia urus sebagian besar adalah hal-hal yang non-artistik. Dia justru akan memetik manfaat dari “pengalaman batin”-nya saat berhadapan dengan masalah-masalah non-artistik. Tapi bagi sutradara yang “tak kuat”, segi artistik kemudian menjadi terabaikan. Lantaran waktu, konsentrasi dan enerjinya sudah terkuras habis saat mengurusi segi-segi non-artistik itu.

Inilah dilema, kata N. Riantiarno, yang mau tak mau harus dihadapi oleh hampir semua sutradara di Indonesia. Termasuk oleh guru yang bertindak sebagai sutradara untuk pentas di sekolah. Walau mungkin jumlah sumber daya manusia (baca: siswa) di sekolah relatif cukup banyak untuk dikerahkan dan diperbantukan tetapi kemampuan untuk memahami lingkup tugas masing-masingnya masih menjadi persoalan utama.

Di bawah ini adalah bagan organisasi produksi teater (yang ideal) yang penulis kutip dari buku Kitab Teater karya N. Riantiarno :

Bagan Organisasi Produksi Teater

 
   

Bagan organisasi poduksi teater di atas adalah sebuah struktur kerja kreatif untuk sebuah pentas besar, seperti halnya yang dilakukan oleh sejenis Teater Koma. Penyerderhanaan dari struktur kerja di atas masih sangat mungkin jika pentas yang kita lakukan hanyalah se-level pentas sekolah. Beberapa bagian baik dari unsur Manajemen Artistik maupun unsur Manajemen Produksi bisa tidak kita pergunakan. Bahkan bisa saja beberapa bagian tugas kerja tersebut dirangkap oleh satu orang sehingga tim organisasi produksi teater-nya bisa lebih ramping, relatif tidak banyak membutuhkan orang walau hierarki tugasnya tetap sama.

Tim Penulis buku “Teater Asyik, Asyik Teater” menjelaskan lebih sederhana perihal bagaimana sebuah produksi teater (di sekolah) ditangani oleh tim pekerja (manajemen) produksi, yaitu:

  1.  Mencari dan memilih tempat latihan baik di sekolah maupun di luar sekolah yang tentunya atas ijin dan kesepakatan bersama yaitu pihak sekolah, sutradara, manajer panggung/stage manager (orang yang bertanggungjawab dengan segala sesuatu yang berlangsung di atas panggung selama pertunjukan berlangsung).
  2.  Merencanakan dan mengurus perijinan tempat latihan atau pementasan baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah. Apabila bertempat di luar sekolah pihak sekolah pun ikut dilibatkan secara administrasi.
  3.  Merencanakan dan mengurus konsumsi selama proses latihan dan pementasan berlangsung. Kita akan menghitung berapa kali konsumsi dapat diberikan berdasarkan prioritas dan keadaan keuangan. Atau kalau mungkin kita juga dapat mengusahakan sumbangan konsumsi dari pihak manapun yang mungkin berkenan.
  4.  Merencanakan dan mengadakan promosi pementasan, baik di dalam sekolah maupun di luar sekolah.
  5.  Merencanakan, menjadwalkan dan mengadakan publikasi yang merupakan media promosi.
  6.  Merencanakan, menjadwalkan dan mengurus penjualan tiket. Tiket dapat dijual sebelum pementasan berlangsung. Tiket dapat dijual di koperasi sekolah, sanggar seni sekolah, bekerja sama dengan sekolah lain atau di tempat-tempat yang lain yang mudah dijangkau dan strategis. Dan pada hari pelaksanaan tiket biasa dijual di tempat pertunjukan.
  7.  Menggalang bantuan atau fundraising. Untuk mewujudkan sebuah impian mementaskan sebuah pertunjukan teater tentunya kita tak ingin pentas seadanya. Untuk itu kita perlu memikirkan langkah-langkah kerjasama dengan pihak-pihak lain. Menggalang bantuan ini bisa berupa uang atau sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk menunjang produksi.
  8.  Merencanakan dan menjadwal segala sesuatu yang berhubungan dengan produksi dan kegiatan artistik, tentu saja atas kesepakatan bersama dengan tim artistik.
  9.  Mengadakan evaluasi terhadap pekerjaan produksi yang sudah dicapai sebelum pelaksanaan pementasan berlangsung dan sesudah pementasan.

 

ISTILAH-ISTILAH DALAM TEATER

Adegan : Bagian dari babak yang menggambarkan satu suasana dari beberapa suasana dalam babak

Akting : Tingkah laku yang dilakukan pemain sebagai wujud penghayatan peran yang dimainkan

Aktor : orang yang melakukan akting

Amphiteater : Panggung pertunjukan jaman Yunani Kuno

Apron : Daerah yang terletak di depan layar atau persis di depan bingkai proscenium

Arena : Salah satu bentuk panggung yang tidak dibatasi oleh konvensi empat dinding imajiner

Artikulasi : Hubungan antara apa yang dikatakan dan bagaimana mengatakanya, dan dipengaruhi oleh penguasaan organ produksi suara

Atmosfir : Isitlah teater untuk menyebutkan suasana atau kondisi lingkungan

Auditorium : Ruang tempat duduk penonton dalam panggung proscenium

Backdrop : Layar paling belakang. Kain yang dapat digulung atau diturun-naikkan dan membentuk latar belakang panggung

Bahasa tubuh : Bahasa yang ditimbulkan oleh isyarat-isyarat dan ekspresi tubuh

Bar : Pipa bisa yang digunakan sebagai baris untuk pemasangan lampu

Batten : (1) Lampu flood yang dirangkai dalam satu kompartemen (wadah). (2) Perlengkapan panggung yang dapat digunakan untuk mengaitkan sesuatu dan dapat dipindahpindahkan

Blocking : Gerak dan perpindahan pemain dari satu area ke area lain di panggung

Dialog : Percakapan para pemain.

Diafragma : Sekat yang memisahkan antara rongga dada dan rongga perut

Dimmer ; Alat pengatur tinggi rendahnya intensitas cahaya

Distorsi : Hasil rekaman suara melebihi standar batas maksimal yang ditentukan

Drama : Salah satu jenis lakon serius dan berisi kisah kehidupan manusia yang memiliki konflik yang rumit dan penuh daya emosi tetapi tidak mengagungkan sifat tragedi

Emosi : Proses fisik dan psikis yang kompleks yang bisa muncul secara tiba-tiba dan spontan atau diluar kesadaran

Filter : Palstik atau mika berwarna untuk mengubah warna lampu

Flashback : Kilas balik peristiwa lampau yang dikisahkan kembali pada saat ini

Flat Karakter : Karakter tokoh yang ditulis oleh penulis lakon secara datar dan biasanya bersifat hitam putih

Fokus : (1) Istilah dalam penyutradaraan untuk menonjolkan adegan atau permainan aktor. (2) Istilah tata cahaya untuk area yang disinari cahaya dengan tepat dan jelas Follow Spot ; Jenis lampu spot yang dapat dikendalikan secara manual untuk mengikuti arah gerak pemain

Foyer : Ruang tunggu penonton sebelum pertunjukan dimulai atau saat istirahat Frequency

Respon : Kemampuan dalam menangkap frekuensi pada batas maksimum dan minimum

Fresnel : (1) Lensa yang mukanya bergerigi. (2) Jenis lampu yang menggunakan lensa bergerigi

Gesture : sikap tubuh yang memiliki makna, bisa juga diartikan dengan gerak tubuh sebagai isyarat

Gimmick : Adegan awal dari sebuah lakon yang berfungsi sebagai pemikat minat penonton untuk menyaksikan kelanjutan dari lakon tersebut

Gobo : Pelat metal yang dicetak membentuk pola atau motif tertentu dan digunakan untuk membuat lukisan sinar cahaya

Imajinasi : Proses pembentukan gambaran-gambaran baru dalam pikiran, dimana gambaran tersebut tidak pernah dialami sebelumnya atau mungkin hanya sedikit yang dialaminya

Improvisasi : Gerakkan dan ucapan yang tidak terencana untuk menghidupkan permainan.

Intonasi : Nada suara (dalam bahasa jawa disebut langgam), irama bicara, atau alunan nada dalam melafalkan kata-kata, sehingga tidak datar atau tidak monoton.

Irama : Gelombang naik turun, longgar kencangnya gerakkan atau suara yang berjalan dengan teratur

Iris : Piranti untuk memperbesar atau memperkecil diameter lingkaran sinar cahaya yang dihasilkan oleh lampu

Jeda : Pemenggalan kalimat dengan maksud untuk memberi tekanan pada kata.

Karakter : Gambaran tokoh peran yang diciptakan oleh penulis lakon melalui keseluruhan ciri-ciri jiwa dan raga seorang peran

Karakter Teatrikal: Karakter tokoh yang tidak wajar, unik, dan lebih bersifat simbolis.

Komedi : salah satu jenis lakon yang mengungkapkan cacat dan kelemahan sifat manusia dengan cara yang lucu, sehingga para penonton bisa lebih menghayati kenyataan hidupnya

Komedi Stamboel : Pertunjukan teater yang mendapat pengaruh dari Turki dan sangat populer di Indonesia pada jaman sebelum kemerdekaan

Komunikan : Penerima komunikasi

Komunikator : Penyampai komunikasi

Konflik : Ketegangan yang muncul dalam lakon akibat adanya karakter yang bertentangan, baik dengan dirinya sendiri maupun yang ada di luar dirinya.

Konotasi : Arti kata yang bukan sebenarnya dan lebih dipengaruhi oleh konteks kata tersebut dalam kalimat.

Konsentrasi : Kesanggupan atau kemampuan yang diperlukan untuk mengerahkan pikiran dan kekuatan batin yang ditujukan ke suatu sasaran tertentu sehingga dapat menguasai diri dengan baik.

Lakon : Penuangan ide cerita penulis menjadi alur cerita yang berisi peristiwa yang saling mengait dan tokoh atau peran yang terlibat, disebut juga naskah cerita

Lakon Satir : Salah satu jenis lakon yang mengemas kebodohan, perlakuan kejam, kelemahan seseorang untuk mengecam, mengejek bahkan menertawakan suatu keadaan dengan maksud membawa sebuah perbaikan

Latar Peristiwa : Peristiwa yang melatari adegan itu terjadi dan bisa juga yang melatari lakon itu terjadi

Latar Tempat : Tempat yang menjadi latar peristiwa lakon itu terjadi.

Latar Waktu : Waktu yang menjadi latar belakang peristiwa, adegan, dan babak itu terjadi

Level : (1) Istilah pemeranan dan penyutradraan untuk mengatur tinggi rendah pemain. (2) Isitilah tata suara untuk tingkat ukuran besar kecilnya suara yang terdengar

Melodrama : Salah satu jenis lakon yang isinya mengupas suka duka kehidupan dengan cara yang menimbulkan rasa haru kepada penonton

Mimik : Ekspresi gerak wajah untuk menunjukkan emosi yang dialami pemain

Monolog : Cakapan panjang seorang aktor yang diucapkan di hadapan aktor lain

Noise : Gangguan suara yang tidak diinginkan dalam memproses suara atau rekaman

Observasi : Kegiatan mengamati yang bertujuan menangkap atau merekam hal apa saja yang terjadi dalam kehidupan

Pantomimik : Ekspresi gerak tubuh untuk menunjukkan emosi yang dialami pemain

Pemanasan : Serial dari latihan gerakan tubuh dimaksudkan untuk meningkatkan sirkulasi dan meregangkan otot dengan cara progresif (bertahap).

Pemeran : Seorang seniman yang menciptakan peran yang digariskan oleh penulis naskah, sutradara, dan dirinya sendiri.

Penonton : Orang yang hadir untuk menyaksikan pertunjukan teater

Pernafasan : Peristiwa menghirup udara dari luar yang mengandung oksigen ke dalam tubuh serta menghembuskan udara yang banyak mengandung karbondioksida

Plot : Biasa disebut dengan alur adalah kontruksi atau bagan atau skema atau pola dari peristiwa-peristiwa dalam lakon, puisi atau prosa dan selanjutnya bentuk peristiwa dan perwatakan itu menyebabkan pembaca atau penonton tegang dan ingin tahu

Profile : Jenis lampu spot yang dapat ukuran dan bentuk sinarnya dapat disesuaikan

Properti : Benda atau pakaian yang digunakan untuk mendukung dan menguatkan akting pemeran.

Protagonis : Peran utama yang merupakan pusat atau sentral dari cerita

Proscenium : Bentuk panggung berbingkai

Resonansi : Bergema atau bergaung

Rias Fantasi : Tata rias yang diterapkan untuk menggambarkan sifat atau karakter yang imajinatif

Rias Karakter : Tata rias yang diterapkan untuk menegaskan gambaran karakter tokoh peran

Rias Korektif : Tata rias yang diterapkan untuk memperbaiki kekurangan sehingga pemain nampak cantik

Ritme : Tempo atau cepat lambatnya dialog akibat variasi penekanan kata-kata yang penting.

Skenario : Susunan lakon yang diperagakan oleh pemeran

Soliloki : Cakapan panjang aktor yang diucapkan seorang diri dan kepada diri sendiri

Struktur Dramatik : Rangkaian alur cerita yang saling bersinambung dari awal cerita sampai akhir.

Sutradara : Orang yang mengatur dan memimpin dalam sebuah permainan.

Teknik Muncul : Suatu teknik seorang pemeran dalam memainkan peran untuk pertama kali memasuki sebuah pentas lakon.

Teknik Timing : Teknik ketepatan waktu antara aksi tubuh dan aksi ucapan atau ketepatan antara gerak tubuh dengan dialog yang diucapkan.

Tema : Ide dasar, gagasan atau pesan yang ada dalam naskah lakon dan ini menentukan arah jalannya cerita.

Tempo : Cepat lambatnya suatu ucapan yang kita lakukan

Tragedi : Salah satu jenis lakon yang meniru sebuah aksi yang sempurna dari seorang tokoh besar dengan menggunakan bahasa yang menyenangkan supaya para penonton merasa belas kasihan dan ngeri sehingga penonton mengalami pencucian jiwa atau mencapai katarsis

 

 


Assalamu’alaikum Wr. Wb

It’s Me …………..

Terimakasih telah berkunjung ke blog sederhana ku,
berkunjunglah kembali dan jangan lupa komentari setiap karya tulisan ku.
Salam Kenal.

My Kalender

November 2017
M S S R K J S
« Mar    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 2.040 pengikut lainnya

My Arsip

Hours & Info

021-92833529
masuk kerja : 06.30
pulang kerja : 14.00
kuliah : 18.30 - 22.00

My Instagram

Rujakan paling seru bersama Sunan Ampel. Walau hujan membuat kesan seru banget😄😄😄
Rujak mania 👍👍👍 mantap 😘😘😘
#annuqthahboardingschool
Nanangpati's Blog

AL I'TIMADU 'ALAN NAFSI ASASUN NAJAH

Pagar Alam dot Com

Berbagi Informasi Pendidikan dan Pembelajaran Matematika

Ruang Keluarga

Problematika & Solusi Teruntuk Pasangan Suami Istr

Irfan Handi

Hanya Ingin Berbagi

PressDesain

Just Wanna Share

Syarifah Umamah

Assalamu'alaikum

Made Nuryadi

Belajar dan Berbagi Seputar Dunia Pendidikan

Welcome to Ufi Luthfiyah Blog's

My Word My WordPress.com

tentang PENDIDIKAN

AKHMAD SUDRAJAT

Dunia Seni & Teknologi

Dengan Seni Hidup Lebih Indah, Dengan Teknologi Hidup Lebih Mudah....