Welcome to Ufi Luthfiyah Blog's

Archive for the ‘Penulisan Makalah’ Category

Berbagi untuk yang mencari 47 Selat di Indonesia nih…

peta Indonesia

47 Nama Selat di Indonesia dan Letaknya: 

  1. Selat Alas – berada di antara Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa
  1. Selat Alor – berada di antara Pulau Lombleum dan Pulau Pantar
  1. Selat Badung – berada diantara Pulau Bali dan Pulau Nusa Penida
  1. Selat Bali – berada di antara Pulau Jawa dan Pulau Bali
  1. Selat Bangka – berada di antara Pulau Bangka, Sumatera Selatan
  1. Selat Batahai – berada di antara Pulau Moyo, Nusa Tenggara Barat
  1. Selat Benggala – berada di sebelah selatan Pulau Weh dan Banda Aceh
  1. Selat Bengkalis – berada di antara Pulau Bengkalis, Riau
  1. Selat Berhala – berada di antara Pulau Lingga, Riau
  1. Selat Bunga Laut – berada di antara Pulau Siberut dan Pulau Sipoa
  1. Selat Dampler – berada di antara Pulau Gam dan Pulau Batanta
  1. Selat Dumai – berada di sebelah selatan Pulau Rupat, Riau
  1. Selat Durian – berada di sebelah timur Pulau Kunduran, Riau
  1. Selat Gaspar – berada di antara Pulau Bangka dan Pulau Belitung
  1. Selat Karimata – berada di antara Pulau Sumatera dan Pulau Kalimantan
  1. Selat Lewotobi – berada di sebelah Barat Pulau Solor, Nusa Tenggara Timur
  1. Selat Lembeh – berada di sebelah Utara Pulau Lembeh
  1. Selat Likunang – berada di sebelah Selatan Pulau Talisel
  1. Selat Lintah – berada di antara Pulau Rinca dan Pulau Komodo
  1. Selat Lombok – berada di antara Pulau Bali dan Pulau Lombok
  1. Selat Madura – berada di antara Pulau Jawa dan Pulau Madura
  1. Selat Makassar – berada di antara Pulau Kalimantan dan Pulau Sulawesi
  1. Selat Malaka – berada di antara Pulau Sumatera dan Negara Malaysia
  1. Selat Manipa – berada di antara Pulau Buru dan Pulau Ambon
  1. Selat Ombai – berada di antara Kepulauan Alor dan Pulau Timor
  1. Selat Panaitan – berada di antara Pulau Panaitan, Jawa Barat
  1. Selat Panjang – berada di sebelah Selatan Pulau Padang, Riau
  1. Selat Pantar – berada di antara Pulau Pantar dan Pulau Alor
  1. Selat Patinti – berada di antara Pulau Bacan dan Pulau Makian
  1. Selat Peleng – berada di sebelah Barat Pulau Peleng, Sulawesi
  1. Selat Raas – berada di antara Pulau Sapudi dan Pulau Raas
  1. Selat Riau – berada di sebelah Selatan Pulau Bintan, Riau
  1. Selat Roti – berada di antara Pulau Roti dan Pulau Semau
  1. Selat Rupat – berada di antara Pulau Rupat, Riau
  1. Selat Salabangka – berada di sebelah Timur Propinsi Sulawesi Tenggara
  1. Selat Sanding – berada di sebelah selatan Pulau Pagai
  1. Selat Sapudi – berada di antara Pulau Madura dan Pulau Sapudi
  1. Selat Selayar – berada di antara Pulau Selayar, Sulawesì Selatan
  1. Selat Siberut – berada di antara Pulau Siberut dan Pulau Tanah Bata
  1. Selat Sikakap – berada di antara Pulau Pagai, Sumatera Barat
  1. Selat Sipora – berada di antara Pulau Sipora dan Pulau Pagai
  1. Selat Sumba – berada di antara Pulau Flores dan pulau Sumba
  1. Selat Tioro – berada di sebelah Utara Pulau Muna, Sulawesi Tenggara
  1. Selat Sunda – berada di antara Pulau Sumatera dan Pulau Jawa
  1. Selat Wowoni – berada di sebelah Barat Pulau Wowoni, Sulawesi Tenggara
  1. Selat Ujung Pandang – berada di sebelah Timur Pulau Sebuku, Kalìmantan Timur
  1. Selat Yapen – berada di antara Pulau Yapen dan Pulau Biak.

Letak di Peta Indonesia di bawah ini:

Unduh yap 😉

47-nama-selat-di-indonesia-dan-letaknya

UPAYA MENINGKATKAN PEMAHAMAN MATERI DIMENSI TIGA MELALUI PENGGUNAAN MEDIA VISUAL PADA SISWA KELAS X SMA NURUL IMAN

logo umt

DISUSUN OLEH :

1.      EKA WIDYANINGSIH                  10.84.202.113
2.      MIZAN ALFURQAN ZAIDI          10.84.202.129
3.      NESTI ELVIA YURINA                 10.84.202.132
4.      SEVTI MULYANI                           10.84.202.091
5.      UFI LUTHFIYAH SAERUROH    10.84.202.099
6.      YUS AISYAH                                   10.84.202.150

 

PENELITIAN TINDAKAN KELAS

 

 

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

PRODI PENDIDIKAN MATEMATIKA

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH TANGERANG

2013

————————————————————————————————

BAB I

PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang

Pendidikan sebagai salah satu aspek dalam meningkatkan sumber daya manusia terus diperbaiki dan direnovasi. Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap tempat yang memiliki jumlah populasi manusia pasti membutuhkan pendidikan. Perkembangan zaman sekarang ini, menuntut peningkatan kualitas individu. Sehingga dimanapun ia berada dapat digunakan setiap saat. Hal ini tentunya tidak lepas dari peran pendidikan terus diperhatikan dan ditingkatkan dengan berbagai cara, diantaranya mengeluarkan undang-undang sistem pendidikan nasional, mengesahkan undang-undang kesejahteraan guru serta mengadakan perubahan kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan zaman.

Pembelajaran Matematika umumnya didominasi oleh pengenalan rumus-rumus serta konsep-konsep secara verbal, tanpa ada perhatian yang cukup terhadap pemahaman siswa. Disamping itu proses belajar mengajar hampir selalu berlangsung dengan metode “chalk and talk” guru menjadi pusat dari seluruh kegiatan di kelas (Somerset, 1997 dalam Sodikin, 2004:1).

Pada umumnya, sekelompok siswa beranggapan bahwa mata pelajaran matematika sulit difahami. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: Pertama, siswa kurang memiliki pengetahuan prasyarat serta kurang mengetahui manfaat pelajaran matematika yang ia pelajari. Kedua, daya abstraksi siswa kurang dalam memahami konsep-konsep matematika yang bersifat abstrak.

Dari pengalaman peneliti dalam memberikan pembelajaran matematika kepada siswa selama ini, sebagian besar siswa sulit memahami materi dimensi tiga, khususnya tentang luas permukaan dan volume dengan cara klasikal. Meskipun peneliti sudah berupaya membimbing siswa dalam memahami dimensi tiga dengan cara menunjukkan sketsa gambar, namun hasil belajar siswa belum sesuai dengan yang diharapkan, yaitu masih banyak siswa yang nilainya kurang dari standar ketuntasan belajar minimal.

Menurut Dienes (dalam Ruseffendi, 1980:134) menyatakan bahwa setiap konsep matematika dapat difahami dengan mudah apabila kendala utama yang menyebabkan anak sulit memahami dapat dikurangi atau dihilangkan. Dienes berkeyakinan bahwa anak pada umumnya melakukan abstraksi berdasasarkan intuisi dan pengalaman kongkrit, sehingga cara mengajarkan konsep-konsep matematika dapat dilakukan dengan menggunakan bantuan objek kongkrit.

Dengan demikian, dalam mengajarkan matematika perlu adanya benda-benda kongkrit yang merupakan model dari ide-ide matematika, yang selanjutnya disebut sebagai alat peraga sebagai alat bantu pembelajaran. Alat bantu pembelajaran ini digunakan dengan maksud agar anak dapat mengoptimalkan panca inderanya dalam proses pembelajaran, mereka dapat melihat, meraba, mendengar, dan merasakan objek yang sedang dipelajari.Untuk mengatasi masalah di atas, perlu diadakan penelitian tindakan kelas tentang penggunaan media visual atau alat peraga dalam pembelajaran materi dimensi tiga suatu bidang dengan power point. Dengan serangkaian tindakan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, sampai dengan evaluasi, diharapkan dapat meningkatkan pemahaman siswa dalam memahami materi irisan suatu bidang dengan bangun ruang.

B.       Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat diidentifikasikan masalah sebagai berikut:

  1. Apa permasalahan siswa kurang paham dalam materi Dimensi Tiga?
  2. Apakah siswa memahami bangun ruang jika tidak memakai media?
  3. Bagaimana pemahaman siswa jika menggunakan media visual?
  4. Apakah siswa lebih memahami jika diberikan sesuatu yang konkrit?
  5. Apa hubungan antara pemahaman siswa dalam penggunaan media visual dengan hasil belajar siswa pada materi Dimensi Tiga?
  6. Bagaimana penggunaan media visual dalam memahami materi Dimensi Tiga?

C.      Pembatasan Masalah

Peneliti membatasi masalah penelitian pada usaha untuk mencari jawaban atas identifikasi masalah yang diajukan. Batasan masalah yang dirumuskan adalah “penggunaan media visual dalam meningkatkan pemahaman siswa pada materi dimensi tiga”.

D.      Rumusan Masalah

Pada identifikasimasalah yang telah dibuat peneliti dapat merumuskan masalah sebagai berikut : “Bagaimana penggunaan media visual dalam memahami materi Dimensi Tiga pada siswa kelas X SMA NURUL IMAN RAJEG?”.

E.       Tujuan Penelitian

Sesuai dengan permasalahan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang Dimensi Tiga dengan menggunakan media visual.

F.       Manfaat Penelitian

Penelitian ini dapat bermanfaat bagi :

  1. Bagi siswa, penelitian ini dapat mempermudah siswa dalam memahami materi dimensi tiga dan meningkatkan motivasi belajar.
  2. Bagi peneliti, penelitian ini sebagai wahana peningkatan profesionalisme guru yang akan berdampak pada kualitas pendidikan di sekolah
  3. Bagi guru lain, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai rujukan untuk menambah wawasan dalam menentukan strategi dan metode pembelajaran yang sesuai dengan materi pelajaran.
  4. Bagi sekolah, penelitian ini dapat membantu meningkatkan kualitas hasil belajar, khususnya pelajaran matematika, sehingga secara langsung dapat meningkatkan kualitas pendidikan dan out put sekolah.

G.       Definisi Operasional

Teori Belajar Matematika

Menurut Witherington (Udin S Winatapura, 2007:1.5) dalam buku Educational Psychology, mengemukakan bahwa belajar adalah suatu perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru dari pada reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian atau suatu pengertian.

Pengertian Pembelajaran

Pembelajaran adalah upaya untuk menciptakan iklim dan pelayanan terhadap kemampuan,potensi,minat,bakat dan kebutuhan peserta didik yang beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dengan siswa serta antara siswa dengan siswa (Suyitno,2004:1).

Media Pembelajaran

Menurut H.W. Fowler (suyotno,2000:10) matematika adalah ilmu mempelajari tentang bilangan dan ruang yang bersifat abstrak sehingga untuk menunjang pelancaran pembelajaran disamping pemilihan metode yang tepat juga perlu digunakan suatu media pembelajaran yang sangat berperan dalam membimbing abstarksi siswa (Suyitno,2000:37).

Penggunaan media visual

Media visual dapat memperlancar pemahaman dan memperkuat ingatan. Agar menjadi efektif , visual sebaiknya ditempatkan pada konteks yang bermakna dan siswa harus berinteraksi dengan visual untuk meyakinkan terjadinya proses informasi.

———————————————————————————————

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

 

Sebagai landasan dalam merencanakan dan melaksanakan penelitian tindakan kelas akan diuraikan secara berturut – turut, yaitu (1) belajar, (2) pembelajaran, (3) media pembelajaran dan (4) media visual .

A.       Kajian Teori

1.         Pengertian Belajar

Belajar adalah proses yang dilakukan oleh manusia untuk mendapatkan aneka ragam competencies, skill, attitudes (competencies), keterampilan (skill), dan sikap (attitudes) tersebut diperoleh secara bertahap dan berkelanjutan mulai dari masa bayi sampai masa tua melalui rangkaian proses belajar belajar sepanjang hayat. Sedangkan menurut Witherington (Udin S Winatapura, 2007:1.5) dalam buku Educational Psychology, mengemukakan bahwa belajar adalah suatu perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru dari pada reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian atau suatu pengertian[1].

Belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada semua orang dan berlangsung seumur hidup, sejak dia masih bayi hingga ke liang lahat nanti. Proses belajar dapat terjadi kapan saja dimana saja terlepas dari ada yang mengajar atau tidak. Proses belajar terjadi karena adanya interaksi individu dengan lingkungannya[2].

Menurut Moh. Surya (1997), “Belajar dapat diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya”.

Salah satu pertanda bahwa seseorang telah belajar adalah adanya perubahan tingkah laku dalam dirinya, perubahan perilaku tersebut menyangkut perubahan yang bersifat pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotor) ataupun yang menyangkut nilai dan sikap (afektif).

Dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses yang dilakukan oleh manusia yang berlangsung seumur hidup yang terjadi karena adanya interaksi dengan lingkungan dan keterlibatannya dalam pendidikan formal maupun informal.

2.         Pengertian Pembelajaran

Pembelajaran merupakan kegiatan yang dilakukan menginisiasi, memfasilitasi dan meningkatkan intensitas dan kualitas belajar pada diri peserta didik.[3]

Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses perolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik.

Di sisi lain pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan pengajaran, tetapi sebenarnya mempunyai konotasi yang berbeda. Pengajaran merupakan salah satu aspek dari pendidikan, yaitu aspek pengetahuan (kognitif). Pengajaran memberikan ketrampilan dan pengetahuan, sedangkan pendidikan membimbing anak ke arah kehirupan yang baik dan benar[4]. Dalam konteks pendidikan, guru mengajar agar peserta didik dapat belajar dan menguasai isi pelajaran hingga mencapai sesuatu objektif yang ditentukan (aspek kognitif), juga dapat memengaruhi perubahan sikap (aspek afektif), serta keterampilan (aspek psikomotor) seorang peserta didik, namun proses pengajaran ini memberi kesan hanya sebagai pekerjaan satu pihak, yaitu pekerjaan pengajar saja. Sedangkan pembelajaran menyiratkan adanya interaksi antara pengajar dengan peserta didik.

Pembelajaran yang berkualitas sangat tergantung dari motivasi pelajar dan kreatifitas pengajar. Pembelajar yang memiliki motivasi tinggi ditunjang dengan pengajar yang mampu memfasilitasi motivasi tersebut akan membawa pada keberhasilan pencapaian target belajar. Target belajar dapat diukur melalui perubahan sikap dan kemampuan siswa melalui proses belajar. Desain pembelajaran yang baik, ditunjang fasilitas yang memandai, ditambah dengan kreatifitas guru akan membuat peserta didik lebih mudah mencapai target belajar.

Dapat ditarik kesimpulan bahwa pembelajaran adalah tindakan yang dilakukan secara sengaja oleh guru untuk membuat siswa belajar, yaitu terjadinya perubahan aspek pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotor) ataupun yang menyangkut nilai dan sikap (afektif) yang melibatkan interaksi antara pengajar dan peserta didik.

3.         Pengertian Media Pembelajaran

Media pembelajaran merupakan salah satu komponen penting dalam mencapai keberhasilan dalam proses pembelajaran. Dalam kamus Inggris-Indonesia disebutkan bahwa media memilki arti yang sama dengan medium yang mengandung beberapa arti antara lain adalah sebagai berikut:

  1. Perantara
  2. Perantaraan[5]

Sehingga dapat kita pahami bahwa media pembelajaran adalah sesuatu yang dapat dijadikan sarana penghubung untuk mencapai pesan yang harus dicapai oleh siswa dalam kegiatan belajar[6].

Metode mengajar dan media pembelajaran merupakan unsur yang amat penting dalam proses belajar mengajar. Keduanya saling berkaitan. Pemilihan metode yang akan digunakan dalam pembelajaran akan memengaruhi jenis media pembelajaran yang cocok. Salah satu fungsi media pembelajaran adalah sebagai alat bantu mengajar.

Hamalik dalam Azhar Arsyad (2011) mengemukakan bahwa pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar-mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh- pengaruh psikologis terhadap siswa. Selain membangkitkan motivasi dan minat siswa, media pembelajaran juga dapat membantu siswa meningkatkan pemahaman, menyajikan data dengan menarik dan terpercaya, memudahkan penafsiran data, dan memadatkan informasi.

Menurut Kemp & Dayton (1985), media pembelajaran dapat memenuhi tiga fungsi utama apabila media tersebut digunakan untuk perorangan, kelompok, atau kelompok pendengar yang besar jumlahnya, yaitu memotivasi minat, menyajikan informasi, dan memberi instruksi. Fungsi motivasi dapat direalisasikan dengan teknik drama atau hiburan. Untuk tujuan informasi, media pembelajaran dapat digunakan untuk penyajian informasi di hadapan kelompok siswa. Media juga berfungsi untuk tujuan instruksi dimana informasi yang terdapat dalam media itu harus melibatkan siswa baik dalam benak atau mental maupun dalam bentuk aktivitas yang nyata sehingga pembelajaran dapat tercapai.

Levie & Lentz dalam Azhar Arsyad (2011) mengemukakan empat fungsi media pembelajaran, khususnya media visual, yaitu (a) fungsi atensi, (b) fungsi afektif, (c) fungsi kognitif, dan (d) fungsi kompensatoris.

Fungsi atensi, yaitu menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk berkonsentrasi pada isi pelajaran yang berkaitan dengan makna visual yang ditampilkan atau menyertai teks materi pelajaran.

Fungsi afektif media visual dapat terlihat dari tingkat kenikmatan siswa ketika belajar teks yang bergambar.

Fungsi kognitif media visual dapat terlihat dari temuan- temuan penelitian yang mengungkapkan bahwa lambang visual atau gambar memperlancar pencapaian tujuan untuk memahami dan mengingat informasi yang terkandung dalam gambar.

Fungsi kompensatoris, yaitu media pembelajaran berfungsi untuk mengakomodasikan siswa yang lemah dan lambat menerima dan memahami isi pelajaran yang disajikan dengan teks.

Sujana dan Rivai (1990) memberikan alasan mengenai kegunaan media pembelajaran dalam proses belajar mengajar:

  1. Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar;
  2. Bahan pengajaran akan lebih jelas maksudnya, sehingga dapat lebih dipahami oleh para siswa;
  3. Metode mengajar akan lebih bervariasi, sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga;
  4. Siswa lebih banyak melakukan kegiatan, karena tidak hanya mendengarkan uraian guru, tetapi juga mengamati, melaksanakan, mendemonstrasikan, dan lain- lain.

4.         Pengertian Media Visual

Media visual adalah media yang memberikan gambaran menyeluruh dari yang konkrit sampai dengan abstrak. Jadi dapat diambil kesimpulan bahwa media visual merupakan salah satu media untuk pembelajaran.

Media visual ini lebih bersifat realistis dan dapat dirasakan oleh sebagian besar panca indera kita terutama oleh indera penglihatan. Media visual ada yang dapat diproyeksikan dan ada pula yang tidak dapat diproyeksikan.

Dalam penggunaannya media visual memiliki manfaat atau kegunaan. Manfaatnya antara lain:

  1. Media bersifat konkrit, lebih realistis dibandingkan dengan media verbal atau non visual sehingga lebih memudahkan dalam pengaplikasiannya.
  2. Beberapa penelitian membuktikan bahwa pembelajaran yang diserap melalui media penglihatan (media visual), terutama media visual yang menarik dapat mempercepat daya serap peserta didik dalam memahami pelajaran yang disampaikan.
  3. Media visual dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki oleh para peserta didik dan dapat melampaui batasan ruang kelas. Melalui penggunaan media visual yang tepat, maka semua obyek itu dapat disajikan kepada peserta didik.
  4. Lebih efiektif dan efisien  dibandingkan media verbal lainnya karena jenisnya yang beragam, pendidik dapat menggunakan semua jenis media visual yang ada. Hal ini dapat menciptakan sesuatu yang variatif, dan tidak membosankan bagi para peserta didiknya.
  5. Penggunaannya praktis, maksudnya media visual ini mudah dioperasikan oleh setiap orang yang memilih media-media tertentu, misalkan penggunaan media Transparansi Overhead Tranparancy (OHT).

Media pembelajaran visual telah terbukti lebih efisien dalam melakukan komunikasi antara pendidik dengan peserta didik. Dapat kita simpulkan bahwa media pembelajaran visual (seperti gambar diam, gambar bergerak, televise, objek tiga dimensi, dan lain-lain) mempunyai hubungan positif yang cukup tinggi. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa media pembelajaran visual merupakan media pembelajaran yang cukup baik dan efisien.

Media pembelajaran visual baiknya digunakan di tempat yang tepat, sesuai dengan jenis medianya. Misalnya, media yang tidak diproyeksikan dapat dilakukan diluar kelas. Hal itu memungkinakan untuk media pembelajaran visual yang berupa benda nyata dan media grafis. Dalam penggunaan media pembelajaran visual berbentuk benda nyata misalnya, dalam pelajaran biologi kita dapat menggunakan tumbuhan diluar kelas sebagai media pembelajaran visual. Media grafis dan model pun bisa digunakan diluar kelas, apabila media tersebut memungkinkan untuk digunakan diluar kelas.

Sedangkan untuk media pembelajaran yang diproyeksikan, tempat yang tepat adalah di dalam kelas. Mengingat kebutuhannya akan alat-alat yang cukup berat, dan dibutuhkannya aliran listrik, tentu penggunaan media pembelajaran visual yang diproyeksikan ini lebih baik digunakan di dalam kelas.

Cara pemilihan media visual yang tepat adalah :

  1. Media yang digunakan harus memperhatikan konsep pembelajaran atau tujuan dari pembelajaran.
  2. Memperhatikan karakteristik dari media yang akan digunakan ,apakah sesuai dengan situasi dan kondisi yang tepat guna.
  3. Tepat sasaran kepada peserta didik yang sesuai degan kebutuhan zaman.
  4. Waktu , tempat , ketersediaan  dan biaya yang digunakan.
  5. Pilihlah media visual yang menguntungkan agar lebih menarik,variatif, mudah diingat dan tidak membosankan sesuai dengan konteks penggunaannya.

Macam-macam Media Visual

a.        Media yang tidak diproyeksikan

  1. Media realita adalah benda nyata. Benda tersebut tidak harus dihadirkan di ruang kelas, tetapi siswa dapat melihat langsung ke obyek. Kelebihan dari media realita ini adalah dapat memberikan pengalaman nyata kepada siswa
  2. Model adalah benda tiruan dalam wujud tiga dimensi yang merupakan representasi atau pengganti dari benda yang sesungguhnya. Penggunaan model untuk mengatasi kendala tertentu sebagai pengganti realia.
  3. Media grafis tergolong media visual yang menyalurkan pesan melalui simbol-simbol visual. Fungsi dari media grafis adalah menarik perhatian, memperjelas sajian pelajaran, dan mengilustrasikan suatu fakta atau konsep yang mudah terlupakan jika hanya dilakukan melalui penjelasan verbal. Jenis-jenis media grafis adalah:

a)      Gambar / foto merupakan media yang paling umum digunakan.

b)      Sketsa adalah gambar sederhana atau draft kasar yang melukiskan bagian pokok tanpa detail. Dengan sketsa dapat menarik perhatian siswa, menghindarkan verbalisme, dan memperjelas pesan.

c)      Diagram / skema: gambar sederhana yang menggunakan garis dan simbol untuk menggambarkan struktur dari obyek tertentu secara garis besar.

d)     Bagan / chart : menyajikan ide atau konsep yang sulit sehingga lebih mudah dicerna siswa. Selain itu bagan mampu memberikan ringkasan butir-butir penting dari penyajian. Dalam bagan sering dijumpai bentuk grafis lain, seperti: gambar, diagram, kartun, atau lambang verbal.

e)      Grafik yaitu gambar sederhana yang menggunakan garis, titik, simbol verbal atau bentuk tertentu yang menggambarkan data kuantitatif.

b.        Media proyeksi

  1. Transparansi OHP merupakan alat bantu mengajar tatap muka sejati, sebab tata letak ruang kelas tetap seperti biasa, guru dapat bertatap muka dengan siswa (tanpa harus membelakangi siswa). Perangkat media transparansi meliputi perangkat lunak (Overhead transparancy / OHT) dan perangkat keras (Overhead projector / OHP). Teknik pembuatan media transparansi, yaitu:
  • Mengambil dari bahan cetak dengan teknik tertentu
  • Membuat sendiri secara manual
  1. Film bingkai / slide adalah film transparan yang umumnya berukuran 35 mm dan diberi bingkai 2X2 inci. Dalam satu paket berisi beberapa film bingkai yang terpisah satu sama lain. Manfaat film bingkai hampir sama dengan transparansi OHP, hanya kualitas visual yang dihasilkan lebih bagus. Sedangkan kelemahannya adalah beaya produksi dan peralatan lebih mahal serta kurang praktis. Untuk menyajikan dibutuhkan proyektor slide.

B.        Kerangka Berfikir

Kondisi awal siswa belum dilakukan pebaikan pembelajaran adalah siswa kurang antusias terhadap pembelajaran, sehingga kemampuan siswa untuk memahami dimensi tiga siswa kelas X SMA Nurul Iman Kecamatan Rajeg Kabupaten Tangerang rendah. Hal ini disebabkan karena pembelajaran yang dilakukan guru masih bersifat konvensional dan guru tidak menggunakan media yang tepat. Sehingga siswa kesulitan untuk memahami materi yang diajarkan.

Pada perbaikan pembelajaran guru menggunakan media visual berupa power point dan alat peraga. Jika menggunakan media visual ini siswa menjadi lebih aktif dan antusias terhadap pembelajaran, bersemangan untuk menyelesaikan soal – soal luas pemukaan dan volume dan menjadi lebih memahami pelajaran setelah digunakan media visual power point dan alat peraga.

Dalam pembelajaran jika menggunakan media ini pada pembelajaran dimensi tiga siswa kelas X SMA Nurul Iman Kecamatan Rajeg Kabupaten Tangerang Tahun Pelajaran 2012 – 2013, maka diduga pemahaman siswa akan meningkat. Berdasarkan uraian di atas maka alur kerangka berfikir dalam penelitian ini disajikan gambar berikuti ini :

kerangka berfikir

Gambar 1. Kerangka Berfikir

 

C.       Hipotesis Tindakan

Berdasarkan kajian teori dan kerangka berfikir di atas, dirumuskan hipotesis tindakan dalam penelitian ini sebagai berikut : “Dengan menggunakan media visual dalam pembelajaran dimensi tiga, maka pemahaman siswa materi dimensi tiga kelas X SMA Nurul Iman Kecamatan Rajeg Kabupaten Tangerang Tahun Pelajaran 2012 – 2013 diduga dapat meningkat”.


[1] Witherington I, Udin S Winatapura “Educational Psycology”, 2007. Hal 1 – 5

[2] Rahardjito, dkk. “Media Pendidikan”, 2010. Hal 2

[3] Udin S Winatapura, “Educational Psychology”, Bandung. Fontana, 2007. Hal 18

[4] Lydia Harlina Martono, Satya Joewana, 2006

[5]Echol, John M., et.al., 1992, Hal 377

[6] Carapedia.com

———————————————————————————————

BAB III

METODE PENELITIAN

 

A.       Pendekatan Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK), yaitu penelitian yang dimaksudkan untuk memberikan informasi bagaimana tindakan yang tepat untuk meningkatkan aktivitas perserta didik dengan pembelajaran yang menggunakan media visual yang berdampak pada peningkatan pemahaman siswa. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam bentuk siklus – siklus. Peneliti mencoba mencari pemecahan masalah proses pembelajaran matematika, hal ini penting dilaksanakan karena berkaitan dengan penelitian yang dilakukan.

B.        Kehadiran dan Peran Peneliti di Lapangan

Dalam penelitian ini peneliti bertindak sebagai instrumen sekaligus pengumpul data. Instrumen selain manusia (seperti lembar observasi dan angket) dapat pula digunakan. Tetapi fungsinya terbatas sebagai pendukung tugas peneliti sebagai instrumen. Oleh karena itu kehadiran peneliti adalah mutlak.

No Nama Peran
1. Sevti Mulyani Model/penyaji
2. Mizan Al-Furqan Zaidi Dokumentasi
3. Ufi Luthfiyah Saeruroh Observer Siswa
4. Nesti Elvia Yurina
5. Yus Aisyah Observer Guru
6. Eka Widyaningsih

Tabel 1. Peran Peneliti

C.       Lokasi Penelitian
Pelaksanaan penelitian yang peneliti lakukan adalah sebagai berikut:

Waktu              : Mei 2013

Tempat            : SMA Nuru Iman Rajeg

Kp. Baru Ds. Pangarengan Kecamatan Rajeg Kabupaten

Tangerang Banten 15540

D.       Subyek Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada akhir bulan april sampai dengan akhir bulan Mei 2013 di SMA Nurul Iman, dengan subyek penelitian siswa kelas X.2 SMA Nurul Iman tahun ajaran 2012-2013 yang berjumlah 32 orang.Penelitian ini dikhususkan pada materi Tiga dimensi pada bangun ruang dan obyek penelitian adalah pemahaman belajar pada mata pelajaran matematika kelas X pada semester genap dan jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas.

E.        Instrument penelitian

  1. Instrument berupa angket untuk mengungkapkan pemahaman siswa terhadap mata pelajaran matematika.
  2. Instrument berupa tes tertulis atau kuis untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa.

F.        Teknik Pengumpulan Data
Sumber data dalam PTK ini berasal dari sumber data primer : nilai ulangan harian. Sumber data sekunder : data hasil pengamatan yang dilakukan oleh observer.

G.       Teknik Analisis Data

Dalam penelitian tindakan kelas ini pengumpulan data digunakan berbagai teknik antara lain:

  1. Tes tertulis digunakan untuk mengumpulkan data pemahaman siswa dengan yang berkenaan dengan ruang dimensi tiga.
  2. Alat pengumpulan data

Untuk mengetahui pemahaman siswa dalam materi ruang dimensi tiga yang dijadikan obyek penelitian ini :

  1. Peneliti menggunakan alat yang berupa tes tertulis yang dirancang oleh peneliti sesuai dengantujuan pembelajaran yang telah tertuang dalam kisi-kisi soal.
  1. Format penilaian untuk meneliti proses.
  2. Lembar pengamatan aktivitas guru dan lembar pengamatan aktivitas siswa.
  3. Deskripsi pelaku

Pada teknik ini peneliti mencatat observasi dan pemahaman urutan perilaku siswa dengan lengkap meliputi :

  1. Suasana kelas
  2. Perilaku masing-masing siswa
  3. Kemampuan pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran.

H.       Indikator Keberhasilan Tiap Siklus
Indikator keberhasilan merupakan kinerja yang akan dijadikan acuan dalam menentukan keberhasilan atau keefektifan peneliti. Yang menjadi indikator keberhasilan dalam penelitian ini adalah apabila 80% dari jumlah siswa dalam mengerjakan soal tes mendapat nilai >60, maka penelitian yang peneliti lakukan dinyatakan berhasil.

I.          Keabsahan Data

Suatu dapat dikatakan absah yakni terpercaya apabila memenuhi empat kriteria, yaitu :Kepercayaan (crebility),Keteralihan (transferability), Kebergantungan (dependability), dan Kepastian (contfirmability)[6]

Untuk itu peneliti harus menemukan teknik atau cara untuk mengecek keabsahan data dalam hal ini peneliti akan menggunakan teknik triangulasi. Triangulasi merupakan suatu teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu lain diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai perbandingan terhadap data ini.[7]

J.         Prosedur Penelitian

Pembelajaran dengan menggunakan media visual bertujuan untuk mengupayakan tingkat pemahaman siswa dalam materi dimensi tiga yang dilakukan dalam dua siklus berdasarkan waktunya.

Siklus Pertama

  1. Perencanaan, yang meliputi kegiatan sebagai berikut:
  2. Kajian kurikulum, dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).
  3. Pembuatan media visual.
  4. Penyusunan instrumen penelitian.
  5. Penyusunan alat evaluasi.
    1. Pelaksanaan, yang meliputi kegiatan:
    2. Memberikan tes awal kepada siswa.
    3. Melaksanakan kegiatan pembelajaran materi bangun ruangdengan menggunakan media visual.
    4. Memberikan tes akhir siklus-1 kepada siswa.
      1. Pengamatan, yang meliputi kegiatan:
      2. Mengamati aktivitas siswa selama pelaksanaan kegiatan pembelajaran.
      3. Mencatat kejadian-kejadian yang tampak pada siswa selama pelaksanaan kegiatan pembelajaran.
      4. Mengumpulkan data hasil pengamatan selama pelaksanaan kegiatan pembelajaran.
        1. Refleksi, yang meliputi kegiatan:
        2. Menganalisis data hasil pelaksanaan tindakan
        3. Mengevaluasi pelaksanaan tindakan yang telah dilakukan pada siklus I
        4. Merencanakan tindakan pada siklus II

Siklus Kedua

  1. Perencanaan, yang meliputi kegiatan sebagai berikut:
  2. Penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).
  3. Pembuatan media pembelajaran berbentuk media presentasi program power point tentang dimensi tiga.
  4. Penyusunan instrumen penelitian.
  5. Penyusunan alat evaluasi.
    1. Pelaksanaan, yang meliputi kegiatan:
    2. Melaksanakan kegiatan pembelajaran materi bangun ruang dengan menggunakan media visual sebanyak satu kali pertemuan sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran.
    3. Memberikan tes akhir siklus-2 kepada siswa.
      1. Pengamatan, yang meliputi kegiatan:
      2. Mengamati aktivitas siswa selama pelaksanaan kegiatan pembelajaran.
      3. Mencatat kejadian-kejadian yang tampak pada siswa selama pelaksanaan kegiatan pembelajaran.
      4. Mengumpulkan data hasil pengamatan selama pelaksanaan kegiatan pembelajaran.
        1. Refleksi, yang meliputi kegiatan:
        2. Menganalisis data hasil pelaksanaan tindakan
        3. Mengevaluasi pelaksanaan tindakan yang telah dilakukan pada siklus II.

K.       Jadwal Pelaksanaan Penelitian
Jadwal pelaksanaan penelitian yang peneliti lakukan tersedia pada tabel berikut ini :

Tabel 2. Jadwal Pelaksanaan Penelitian

No. Kegiatan Bulan
April Mei Juni
3 4 1 2 3 4 1 2
1. Penyusunan Proposal              
2. Pengajuan Proposal              
3. Pengurusan Izin Penelitian              
4. Persiapan Penelitian            
5. Pelaksanaan Penelitian Siklus 1 dan 2            
6. Penyusunan Laporan            
7. Penyerahan Laporan Hasil Penelitian              

 

 

 


[6] Lexy. J. Moleong. Metodologi Penelitian kualitatif (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2002), hal. 173.

[7]Ibid. 178

———————————————————————————————

BAB IV

BAB V

BIODATA PENULIS

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.      Latar Belakang

Pendidikan sebagai salah satu aspek dalam meningkatkan sumber daya manusia terus diperbaiki dan direnovasi. Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap tempat yang memiliki jumlah populasi manusia pasti membutuhkan pendidikan. Perkembangan zaman sekarang ini, menuntut peningkatan kualitas individu. Sehingga dimanapun ia berada dapat digunakan setiap saat. Hal ini tentunya tidak lepas dari peran pendidikan terus diperhatikan dan ditingkatkan dengan berbagai cara, diantaranya mengeluarkan undang-undang sistem pendidikan nasional, mengesahkan undang-undang kesejahteraan guru serta mengadakan perubahan kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan zaman.

Pembelajaran Matematika umumnya didominasi oleh pengenalan rumus-rumus serta konsep-konsep secara verbal, tanpa ada perhatian yang cukup terhadap pemahaman siswa. Disamping itu proses belajar mengajar hampir selalu berlangsung dengan metode “chalk and talk” guru menjadi pusat dari seluruh kegiatan di kelas (Somerset, 1997 dalam Sodikin, 2004:1).

        Pada umumnya, sekelompok siswa beranggapan bahwa mata pelajaran matematika sulit difahami. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: Pertama, siswa kurang memiliki pengetahuan prasyarat serta kurang mengetahui manfaat pelajaran matematika yang ia pelajari. Kedua, daya abstraksi siswa kurang dalam memahami konsep-konsep matematika yang bersifat abstrak.

        Dari pengalaman peneliti dalam memberikan pembelajaran matematika kepada siswa selama ini, sebagian besar siswa sulit memahami materi dimensi tiga, khususnya tentang irisan bidang dengan bangun ruang. Meskipun peneliti sudah berupaya membimbing siswa dalam memahami konsep irisan bidang dengan bangun ruang dengan cara menunjukkan sketsa gambar, namun hasil belajar siswa belum sesuai dengan yang diharapkan, yaitu masih banyak siswa yang nilainya kurang dari standar ketuntasan belajar minimal.

Menurut Dienes (dalam Ruseffendi, 1980:134) menyatakan bahwa setiap konsep matematika dapat difahami dengan mudah apabila kendala utama yang menyebabkan anak sulit memahami dapat dikurangi atau dihilangkan. Dienes berkeyakinan bahwa anak pada umumnya melakukan abstraksi berdasasarkan intuisi dan pengalaman kongkrit, sehingga cara mengajarkan konsep-konsep matematika dapat dilakukan dengan menggunakan bantuan objek kongkrit.

Dengan demikian, dalam mengajarkan matematika perlu adanya benda-benda kongkrit yang merupakan model dari ide-ide matematika, yang selanjutnya disebut sebagai alat peraga sebagai alat bantu pembelajaran. Alat bantu pembelajaran ini digunakan dengan maksud agar anak dapat mengoptimalkan panca inderanya dalam proses pembelajaran, mereka dapat melihat, meraba, mendengar, dan merasakan objek yang sedang dipelajari.Untuk mengatasi masalah di atas, perlu diadakan penelitian tindakan kelas tentang penggunaan media visual atau alat peraga dalam pembelajaran materi irisan suatu bidang dengan bangun ruang. Dengan serangkaian tindakan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, sampai dengan evaluasi, diharapkan dapat meningkatkan pemahaman siswa dalam memahami materi irisan suatu bidang dengan bangun ruang.

B.       Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat diidentifikasikan masalah sebagai berikut:

  1. Apa permasalahan siswa kurang paham dalam materi Dimensi Tiga?
  2. Apakah siswa memahami bangun ruang jika tidak memakai media?
  3. Bagaimana pemahaman siswa jika menggunakan media visual?
  4. Apakah siswa lebih memahami jika diberikan sesuatu yang konkrit?
  5. Apa hubungan antara pemahaman siswa dalam penggunaan media visual dengan hasil belajar siswa pada materi Dimensi Tiga?
  6. Bagaimana penggunaan media visual dalam memahami materi Dimensi Tiga?

C.      Rumusan Masalah

Pada identifikasimasalah yang telah dibuat peneliti dapat merumuskan masalah sebagai berikut : “Bagaimana penggunaan media visual dalam memahami materi Dimensi Tiga pada siswa kelas X SMA NURUL IMAN RAJEG?”.

D.      Tujuan Penelitian

Sesuai dengan permasalahan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang Dimensi Tiga dengan menggunakan media visual.

E.       Manfaat Penelitian

Penelitian ini dapat bermanfaat bagi :

  1. Bagi siswa, penelitian ini dapat mempermudah siswa dalam memahami konsep irisan bidang dengan bangun ruang dan meningkatkan motivasi belajar.
  2. Bagi peneliti, penelitian ini sebagai wahana peningkatan profesionalisme guru yang akan berdampak pada kualitas pendidikan di sekolah
  3. Bagi guru lain, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai rujukan untuk menambah wawasan dalam menentukan strategi dan metode pembelajaran yang sesuai dengan materi pelajaran.
  4. Bagi sekolah, penelitian ini dapat membantu meningkatkan kualitas hasil belajar, khususnya pelajaran matematika, sehingga secara langsung dapat meningkatkan kualitas pendidikan dan out put sekolah.

F.        Definisi Operasional

Teori Belajar Matematika

Menurut Witherington (Udin S Winatapura, 2007:1.5) dalam buku Educational Psychology, mengemukakan bahwa belajar adalah suatu perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru dari pada reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian atau suatu pengertian.

Pengertian Pembelajaran

Pembelajaran adalah upaya untuk menciptakan iklim dan pelayanan terhadap kemampuan,potensi,minat,bakat dan kebutuhan peserta didik yang beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dengan siswa serta antara siswa dengan siswa (Suyitno,2004:1)

Media Pembelajaran

Menurut H.W. Fowler (suyotno,2000:10) matematika adalah ilmu mempelajari tentang bilangan dan ruang yang bersifat abstrak sehingga untuk menunjang pelancaran pembelajaran disamping pemilihan metode yang tepat juga perlu digunakan suatu media pembelajaran yang sangat berperan dalam membimbing abstarksi siswa (Suyitno,2000:37)

Penggunaan media visual

Media visual dapat memperlancar pemahaman dan memperkuat ingatan. Agar menjadi efektif , visual sebaiknya ditempatkan pada konteks yang bermakna dan siswa harus berinteraksi dengan visual untuk meyakinkan terjadinya proses informasi.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

      Sebagai landasan dalam merencanakan dan melaksanakan penelitian tindakan kelas akan diuraikan secara berturut – turut, yaitu (1) belajar, (2) pembelajaran, (3) media pembelajaran dan (4) pemahaman siswa.

A.       Pengertian Belajar

Belajar adalah proses yang dilakukan oleh manusia untuk mendapatkan aneka ragam competencies, skill, attitudes (competencies), keterampilan (skill), dan sikap (attitudes) tersebut diperoleh secara bertahap dan berkelanjutan mulai dari masa bayi sampai masa tua melalui rangkaian proses belajar belajar sepanjang hayat. Sedangkan menurut Witherington (Udin S Winatapura, 2007:1.5) dalam buku Educational Psychology, mengemukakan bahwa belajar adalah suatu perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru dari pada reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian atau suatu pengertian[1].

Belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada semua orang dan berlangsung seumur hidup, sejak dia masih bayi hingga ke liang lahat nanti. Proses belajar dapat terjadi kapan saja dimana saja terlepas dari ada yang mengajar atau tidak. Proses belajar terjadi karena adanya interaksi individu dengan lingkungannya[2].

Menurut Moh. Surya (1997), “Belajar dapat diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya”.

Salah satu pertanda bahwa seseorang telah belajar adalah adanya perubahan tingkah laku dalam dirinya, perubahan perilaku tersebut menyangkut perubahan yang bersifat pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotor) ataupun yang menyangkut nilai dan sikap (afektif).

Dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses yang dilakukan oleh manusia yang berlangsung seumur hidup yang terjadi karena adanya interaksi dengan lingkungan dan keterlibatannya dalam pendidikan formal maupun informal.

B.        Pengertian Pembelajaran

Pembelajaran merupakan kegiatan yang dilakukan menginisiasi, memfasilitasi dan meningkatkan intensitas dan kualitas belajar pada diri peserta didik.[3]

Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses perolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik.

Di sisi lain pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan pengajaran, tetapi sebenarnya mempunyai konotasi yang berbeda. Pengajaran merupakan salah satu aspek dari pendidikan, yaitu aspek pengetahuan (kognitif). Pengajaran memberikan ketrampilan dan pengetahuan, sedangkan pendidikan membimbing anak ke arah kehirupan yang baik dan benar[4]. Dalam konteks pendidikan, guru mengajar agar peserta didik dapat belajar dan menguasai isi pelajaran hingga mencapai sesuatu objektif yang ditentukan (aspek kognitif), juga dapat memengaruhi perubahan sikap (aspek afektif), serta keterampilan (aspek psikomotor) seorang peserta didik, namun proses pengajaran ini memberi kesan hanya sebagai pekerjaan satu pihak, yaitu pekerjaan pengajar saja. Sedangkan pembelajaran menyiratkan adanya interaksi antara pengajar dengan peserta didik.

Pembelajaran yang berkualitas sangat tergantung dari motivasi pelajar dan kreatifitas pengajar. Pembelajar yang memiliki motivasi tinggi ditunjang dengan pengajar yang mampu memfasilitasi motivasi tersebut akan membawa pada keberhasilan pencapaian target belajar. Target belajar dapat diukur melalui perubahan sikap dan kemampuan siswa melalui proses belajar. Desain pembelajaran yang baik, ditunjang fasilitas yang memandai, ditambah dengan kreatifitas guru akan membuat peserta didik lebih mudah mencapai target belajar.

Dapat ditarik kesimpulan bahwa pembelajaran adalah tindakan yang dilakukan secara sengaja oleh guru untuk membuat siswa belajar, yaitu terjadinya perubahan aspek pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotor) ataupun yang menyangkut nilai dan sikap (afektif) yang melibatkan interaksi antara pengajar dan peserta didik.

C.       Pengertian Media Pembelajaran

Media pembelajaran merupakan salah satu komponen penting dalam mencapai keberhasilan dalam proses pembelajaran. Dalam kamus Inggris-Indonesia disebutkan bahwa media memilki arti yang sama dengan medium yang mengandung beberapa arti antara lain adalah sebagai berikut:

  1. Perantara
  2. Perantaraan[5]

Sehingga dapat kita pahami bahwa media pembelajaran adalah sesuatu yang dapat dijadikan sarana penghubung untuk mencapai pesan yang harus dicapai oleh siswa dalam kegiatan belajar[6].

Metode mengajar dan media pembelajaran merupakan unsur yang amat penting dalam proses belajar mengajar. Keduanya saling berkaitan. Pemilihan metode yang akan digunakan dalam pembelajaran akan memengaruhi jenis media pembelajaran yang cocok. Salah satu fungsi media pembelajaran adalah sebagai alat bantu mengajar.

Hamalik dalam Azhar Arsyad (2011) mengemukakan bahwa pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar-mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh- pengaruh psikologis terhadap siswa. Selain membangkitkan motivasi dan minat siswa, media pembelajaran juga dapat membantu siswa meningkatkan pemahaman, menyajikan data dengan menarik dan terpercaya, memudahkan penafsiran data, dan memadatkan informasi.

Menurut Kemp & Dayton (1985), media pembelajaran dapat memenuhi tiga fungsi utama apabila media tersebut digunakan untuk perorangan, kelompok, atau kelompok pendengar yang besar jumlahnya, yaitu memotivasi minat, menyajikan informasi, dan memberi instruksi. Fungsi motivasi dapat direalisasikan dengan teknik drama atau hiburan. Untuk tujuan informasi, media pembelajaran dapat digunakan untuk penyajian informasi di hadapan kelompok siswa. Media juga berfungsi untuk tujuan instruksi dimana informasi yang terdapat dalam media itu harus melibatkan siswa baik dalam benak atau mental maupun dalam bentuk aktivitas yang nyata sehingga pembelajaran dapat tercapai.

Levie & Lentz dalam Azhar Arsyad (2011) mengemukakan empat fungsi media pembelajaran, khususnya media visual, yaitu (a) fungsi atensi, (b) fungsi afektif, (c) fungsi kognitif, dan (d) fungsi kompensatoris.

Fungsi atensi, yaitu menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk berkonsentrasi pada isi pelajaran yang berkaitan dengan makna visual yang ditampilkan atau menyertai teks materi pelajaran.

Fungsi afektif media visual dapat terlihat dari tingkat kenikmatan siswa ketika belajar teks yang bergambar.

Fungsi kognitif media visual dapat terlihat dari temuan- temuan penelitian yang mengungkapkan bahwa lambang visual atau gambar memperlancar pencapaian tujuan untuk memahami dan mengingat informasi yang terkandung dalam gambar.

Fungsi kompensatoris, yaitu media pembelajaran berfungsi untuk mengakomodasikan siswa yang lemah dan lambat menerima dan memahami isi pelajaran yang disajikan dengan teks.

Sujana dan Rivai (1990) memberikan alasan mengenai kegunaan media pembelajaran dalam proses belajar mengajar:

  1. Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar;
  2. Bahan pengajaran akan lebih jelas maksudnya, sehingga dapat lebih dipahami oleh para siswa;
  3. Metode mengajar akan lebih bervariasi, sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga;
  4. Siswa lebih banyak melakukan kegiatan, karena tidak hanya mendengarkan uraian guru, tetapi juga mengamati, melaksanakan, mendemonstrasikan, dan lain- lain.

D.      PengertianMediaVisual

Media visual adalah media yang memberikan gambaran menyeluruh dari yang konkrit sampai dengan abstrak. Jadi dapat diambil kesimpulan bahwa media visual merupakan salah satu media untuk pembelajaran.

Media visual ini lebih bersifat realistis dan dapat dirasakan oleh sebagian besar panca indera kita terutama oleh indera penglihatan. Media visual ada yang dapat diproyeksikan dan ada pula yang tidak dapat diproyeksikan.

Dalam penggunaannya media visual memiliki manfaat atau kegunaan. Manfaatnya antara lain:

  1. Media bersifat konkrit, lebih realistis dibandingkan dengan media verbal atau non visual sehingga lebih memudahkan dalam pengaplikasiannya.
  2. Beberapa penelitian membuktikan bahwa pembelajaran yang diserap melalui media penglihatan (media visual), terutama media visual yang menarik dapat mempercepat daya serap peserta didik dalam memahami pelajaran yang disampaikan.
  3. Media visual dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki oleh para peserta didik dan dapat melampaui batasan ruang kelas. Melalui penggunaan media visual yang tepat, maka semua obyek itu dapat disajikan kepada peserta didik.
  4. Lebih efiektif dan efisien  dibandingkan media verbal lainnya karena jenisnya yang beragam, pendidik dapat menggunakan semua jenis media visual yang ada. Hal ini dapat menciptakan sesuatu yang variatif, dan tidak membosankan bagi para peserta didiknya.
  5. Penggunaannya praktis, maksudnya media visual ini mudah dioperasikan oleh setiap orang yang memilih media-media tertentu, misalkan penggunaan media Transparansi Overhead Tranparancy (OHT).

Media pembelajaran visual telah terbukti lebih efisien dalam melakukan komunikasi antara pendidik dengan peserta didik. Dapat kita simpulkan bahwa media pembelajaran visual (seperti gambar diam, gambar bergerak, televise, objek tiga dimensi, dll) mempunyai hubungan positif yang cukup tinggi. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa media pembelajaran visual merupakan media pembelajaran yang cukup baik dan efisien.

Media pembelajaran visual baiknya digunakan di tempat yang tepat, sesuai dengan jenis medianya. Misalnya, media yang tidak diproyeksikan dapat dilakukan diluar kelas. Hal itu memungkinakan untuk media pembelajaran visual yang berupa benda nyata dan media grafis. Dalam penggunaan media pembelajaran visual berbentuk benda nyata misalnya, dalam pelajaran biologi kita dapat menggunakan tumbuhan diluar kelas sebagai media pembelajaran visual. Media grafis dan model pun bisa digunakan diluar kelas, apabila media tersebut memungkinkan untuk digunakan diluar kelas.

Sedangkan untuk media pembelajaran yang diproyeksikan, tempat yang tepat adalah di dalam kelas. Mengingat kebutuhannya akan alat-alat yang cukup berat, dan dibutuhkannya aliran listrik, tentu penggunaan media pembelajaran visual yang diproyeksikan ini lebih baik digunakan di dalam kelas.

Cara pemilihan media visual yang tepat adalah :

  1. Media yang digunakan harus memperhatikan konsep pembelajaran atau tujuan dari pembelajaran.
  2. Memperhatikan karakteristik dari media yang akan digunakan ,apakah sesuai dengan situasi dan kondisi yang tepat guna.
  3. Tepat sasaran kepada peserta didik yang sesuai degan kebutuhan zaman.
  4. Waktu , tempat , ketersediaan  dan biaya yang digunakan.
  5. Pilihlah media visual yang menguntungkan agar lebih menarik,variatif, mudah diingat dan tidak membosankan sesuai dengan konteks penggunaannya.

 Macam-macam Media Visual

a.        Media yang tidak diproyeksikan

  1. Media realita adalah benda nyata. Benda tersebut tidak harus dihadirkan di ruang kelas, tetapi siswa dapat melihat langsung ke obyek. Kelebihan dari media realita ini adalah dapat memberikan pengalaman nyata kepada siswa. Misal untuk mempelajari keanekaragaman makhluk hidup, klasifikasi makhluk hidup, ekosistem, dan organ tanaman.
  2. Model adalah benda tiruan dalam wujud tiga dimensi yang merupakan representasi atau pengganti dari benda yang sesungguhnya. Penggunaan model untuk mengatasi kendala tertentu sebagai pengganti realia. Misal untuk mempelajari sistem gerak, pencernaan, pernafasan, peredaran darah, sistem ekskresi, dan syaraf pada hewan.
  3. Media grafis tergolong media visual yang menyalurkan pesan melalui simbol-simbol visual. Fungsi dari media grafis adalah menarik perhatian, memperjelas sajian pelajaran, dan mengilustrasikan suatu fakta atau konsep yang mudah terlupakan jika hanya dilakukan melalui penjelasan verbal. Jenis-jenis media grafis adalah:

a) Gambar / foto merupakan media yang paling umum digunakan.

b)  Sketsa adalah gambar sederhana atau draft kasar yang melukiskan bagian pokok tanpa detail. Dengan sketsa dapat menarik perhatian siswa, menghindarkan verbalisme, dan memperjelas pesan.

c)      Diagram / skema: gambar sederhana yang menggunakan garis dan simbol untuk menggambarkan struktur dari obyek tertentu secara garis besar. Misal untuk mempelajari organisasi kehidupan dari sel samapai organisme.

d)     Bagan / chart : menyajikan ide atau konsep yang sulit sehingga lebih mudah dicerna siswa. Selain itu bagan mampu memberikan ringkasan butir-butir penting dari penyajian. Dalam bagan sering dijumpai bentuk grafis lain, seperti: gambar, diagram, kartun, atau lambang verbal.

e)      Grafik yaitu gambar sederhana yang menggunakan garis, titik, simbol verbal atau bentuk tertentu yang menggambarkan data kuantitatif. Misal untuk mempelajari pertumbuhan.

b.        Media proyeksi

  1. Transparansi OHP merupakan alat bantu mengajar tatap muka sejati, sebab tata letak ruang kelas tetap seperti biasa, guru dapat bertatap muka dengan siswa (tanpa harus membelakangi siswa). Perangkat media transparansi meliputi perangkat lunak (Overhead transparancy / OHT) dan perangkat keras (Overhead projector / OHP). Teknik pembuatan media transparansi, yaitu:
  • Mengambil dari bahan cetak dengan teknik tertentu
  • Membuat sendiri secara manual

2. Film bingkai / slide adalah film transparan yang umumnya berukuran 35 mm dan diberi bingkai 2X2 inci. Dalam satu paket berisi beberapa film bingkai yang terpisah satu sama lain. Manfaat film bingkai hampir sama dengan transparansi OHP, hanya kualitas visual yang dihasilkan lebih bagus. Sedangkan kelemahannya adalah beaya produksi dan peralatan lebih mahal serta kurang praktis. Untuk menyajikan dibutuhkan proyektor slide.

 

BAB III

METODE PENELITIAN

  

A.       Subyek Penelitian

Penelitian dilaksanakan pada akhir bulan april sampai dengan akhir bulan Mei 2013 di SMA Nurul Iman, dengan subyek penelitian siswa kelas X SMA Nurul Iman tahun ajaran 2012-2013 yang berjumlah 38 orang.Penelitian ini dikhususkan pada materi Tiga dimensi pada bangun ruang dan obyek penelitian adalah pemahaman belajar pada mata pelajaran matematika kelas X pada semester genap dan jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas.

B.        Lokasi Penelitian

Pelaksanaan penelitian yang peneliti lakukan adalah sebagai berikut:

Waktu              : Mei 2013

Tempat            : SMA Nuru Iman Rajeg

C.       Data dan Sumber Data

Sumber data dalam PTK ini berasal dari sumber data primer : nilai ulangan harian. Sumber data sekunder : data hasil pengamatan yang dilakukan oleh observer.

D.       Instrument penelitian

  1. Instrument berupa angket untuk mengungkapkan minat siswa terhadap mata pelajaran matematika
  2. Instrument berupa tes tertulis atau kuis untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa.

E.        Teknik analisis data

Dalam penelitian tindakan kelas ini pengumpulan data digunakan berbagai teknik antara lain:

  1. Tes tertulis digunakan untuk mengumpulkan data pemahaman siswa dengan yang berkenaan dengan ruang dimensi tiga.
  2. Alat pengumpulan data

Untuk mengetahui pemahaman siswa dalam materi ruang dimensi tiga yang dijadikan obyek penelitian ini :

  1. Peneliti menggunakan alat yang berupa tes tertulis yang dirancang oleh peneliti sesuai dengantujuan pembelajaran yang telah tertuang dalam kisi-kisi soal.
  2. Format penilaian untuk meneliti proses.
  3. Lembar pengamatan aktivitas guru dan lembar pengamatan aktivitas siswa.
  4. Deskripsi pelaku

Pada teknik ini peneliti mencatat observasi dan pemahaman urutan perilaku siswa dengan lengkap meliputi :

  1. Suasana kelas
  2. Perilaku masing-masing siswa
  3. Kemampuan pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran

F.        Siklus Penelitian

Pembelajaran dengan menggunakan media visual bertujuan untuk mengupayakan tingkat pemahaman siswa dalam materi dimensi tiga yang dilakukan dalam dua siklus berdasarkan waktunya.

Siklus pertama

  1. Perencanaan, yang meliputi kegiatan sebagai berikut:
  2. Kajian kurikulum, penyusunan silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran
  3. Pembuatan media visual
  4. Penyusunan instrumen penelitian
  5. Penyusunan alat evaluasi
  1. Pelaksanaan, yang meliputi kegiatan:
  2. Memberikan tes awal kepada siswa
  3. Melaksanakan kegiatan pembelajaran materi bangun ruangdengan menggunakan media visual
  4. Memberikan tes akhir siklus-1 kepada siswa
  1. Pengamatan, yang meliputi kegiatan:
  2. Mengamati aktivitas siswa selama pelaksanaan kegiatan pembelajaran
  3. Mencatat kejadian-kejadian yang tampak pada siswa selama pelaksanaan kegiatan pembelajaran
  4. Mengumpulkan data hasil pengamatan selama pelaksanaan kegiatan pembelajaran
  1. Refleksi, yang meliputi kegiatan:
  2. Menganalisis data hasil pelaksanaan tindakan
  3. Mengevaluasi pelaksanaan tindakan yang telah dilakukan pada siklus I
  4. Merencanakan tindakan pada siklus II

Siklus kedua

  1. Perencanaan, yang meliputi kegiatan sebagai berikut:
  2. Penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran yang terdiri dari satu pertemuan
  3. Pembuatan media pembelajaran berbentuk media presentasi program power point tentang bangun ruang
  4. Penyusunan instrumen penelitian
  5. Penyusunan alat evaluasi.
  1. Pelaksanaan, yang meliputi kegiatan:
  2. Melaksanakan kegiatan pembelajaran materi bangun ruang dengan menggunakan media visual sebanyak satu kali pertemuan sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran.
  3. Memberikan tes akhir siklus-2 kepada siswa.
    1. Pengamatan, yang meliputi kegiatan:
    2. Mengamati aktivitas siswa selama pelaksanaan kegiatan pembelajaran
    3. Mencatat kejadian-kejadian yang tampak pada siswa selama pelaksanaan kegiatan pembelajaran
    4. Mengumpulkan data hasil pengamatan selama pelaksanaan kegiatan pembelajaran.
  1. Refleksi, yang meliputi kegiatan:
  2. Menganalisis data hasil pelaksanaan tindakan
  3. Mengevaluasi pelaksanaan tindakan yang telah dilakukan pada siklus II.

G.       Jadwal Pelaksanaan Penelitian

No

Kegiatan

Minggu ke-

April

Mei

Juni

1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

1

Persiapan, Penyusunan proposal Ö Ö                    

2

Pelaksanaan Siklus I     Ö  Ö                

3

Pelaksanaan Siklus II          Ö  Ö            

4

Analisis data              Ö          

5

Seminar Lokal hasil PTK                Ö        

6

Pembuatan laporan hasil penelitian                 Ö Ö    

7

Diseminasi hasil penelitian                     Ö  

8

Revisi laporan hasil penelitian                       Ö
                             

 

 


[1] Witherington I, Udin S Winatapura “Educational Psycology”, 2007. Hal 1 – 5

[2] Rahardjito, dkk. “Media Pendidikan”, 2010. Hal 2

[3] Udin S Winatapura, “Educational Psychology”, Bandung. Fontana, 2007. Hal 18

[4] Lydia Harlina Martono, Satya Joewana, 2006

[5]Echol, John M., et.al., 1992, Hal 377

[6] Carapedia.com

PENGGUNAAN ICT DALAM BIDANG PENDIDIKAN

 Potensi setiap teknologi berbeda-beda menurut bagaimana teknologi digunakan. Haddad dan Draxler mengidentifikasi setidak-tidaknya lima tingkat penggunaan teknologi dalam bidang pendidikan, yaitu: presentasi, demonstrasi, drill dan praktik, interaksi dan kolaborasi.

 Bagaimana siaran radio dan televisi digunakan dalam bidang pendidikan?

Ada tiga pendekatan umum pada penggunaan penyiaran radio dan televisi dalam bidang pendidikan:

1)      pengajaran kelas langsung, di mana program siaran    mengganti guru yang sifatnya temporer;

2) penyiaran sekolah, di mana program penyiaran         memberikan/menyediakan sumber-sumber pengajaran dan pembelajaran; dan

3) program pendidikan umum pada stasiun lokal, nasional dan internasional yang menyediakan/memberikan  kesempatan pendidikan informal.

 Contoh terkenal dari pendekatan pengajaran kelas langsung adalah Interactive Radio Instruction (IRI). Pendekatan ini “berdurasi selama 20 – 30 menit, termasuk latihan pembelajaran di kelas yang dilakukan setiap hari. Pelajaran melalui radio, yang dikembangkan seputar tujuan pembelajaran khusus ilmu matematika, pengetahuan, kesehatan dan bahasa menurut kurikulum nasional  dimaksudkan untuk memperbaiki kualitas pengajran kelas dan berperan sebagai bantuan reguler dan terstruktur pada guru yang sangat minim dengan pelatihan dan sumber-sumber yang sangat kurang memadai”. Projek IRI diimplementasikan di Amerika Latin dan Afrika. Di Asia, IRI pertama kali diimplementasikan di Thailand pada tahun 1980; di Indonesia,  Pakistan, Banglades dan Nepal pada tahun 1990an.Riset ektensif di seluruh dunia menunjukkan bahwa projek IRI berdampak positif pada hasil pembelajaran dan pemerataan pendidikan.

Telesecundaria di Meksiko merupakan contoh lain  pengajaran kelas langsung yang menggunakan siaran televisi. Program ini diluncurkan di Meksiko pada tahun 1968 sebagai strategi cost-effective untuk mengembangkan pendidikan sekolah menengah di komunias kecil dan jauh.

Desain program tersebut telah mengalami banyak perubahan selama bertahun-tahun, mulai dari perubahan pendekatan “talking head” menjadi program yang lebih interaktif dan dinanmis yang menghubungkan komunitas dengan program seputar metode pengajaran. Strategi ini berarti menggabungkan isu komunitas menjadi program yang menawarkan anak-anak pendidikan terpadu, yang melibatkan komunitas luas dalam organisasi dan manajemen sekolah dan mendorong siswa untuk melakukan aktivitas komunitas.

Di Asia, 44 radio dan TV universitas di Cina (yang meliputi China Central Radio dan Television University), Universitas Terbuka di Indonesia, dan Indira Ghandi National Open University menggunakan radio dan televisi, baik untuk pengajaran langsung dan untuk siaran sekolah untuk menjangkau populasi yang lebih besar. Berkaitan dengan institusi ini, siaran disertai dengan materi cetak dan kaset audio.

General educational programming terdiri dari berbagai tipe program(program baru, program dokumenter, quiz show, kartun pendidikan, dan lain sebagainya) yang menyajikan kesempatan pendidikan nonformal untuk semua tipe siswa. Dalam suatu pengertian, program radio atau televisi dengan nilai infromasi dan pendidikan merupakan tipe grogram tersebut.

Apakah teleconferencing dan apa fungsi dalam pendidikan?

Teleconferencing  mengacu pada komunikas interaktif elektronik antara dua orang di dua tempat atau lebih yang berbeda. Berdasarkan sifat dan tingkat interaktif dan keunggulan teknologi, ada empat tipe teleconferencing, yaitu 1) audioconferencing; 2) audio-graphic  conferencing, 3) videoconferencing; dan 4) Web-based conferencing.

Audioconferencing melibatkan pertukaran pesan suara melalui jaringan telepon. Teks dan image seperti grafik, diagram atau gambar dapat ditukar dengan pesan suara, yang dinamakan audiographic conferenecing. Videoconferencing menghasilkan petukaran tidak hanya suara dan grafik tetapi juga menggerakkan image. Teknologi tidak hanya menggunakan jaringan telepon tetapi juga  jaringan satelit atau jaringan televisi (siaran/kabel). Web-based conferencing melibatkan transmisi teks, dan grafik, radio dan media visual melalui Internet; conferencing ini menggunakan komputer dengan browser dan komunikasi berupa synchronous  dan asynchronous.

Teleconferencing digunakan dalam konteks pembelajaran formal dan non-formal untuk memudahkan diskusi antara guru dan siswa, dan siswa dengan siswa, juga untuk mengakses para ahli dan sumber-sumber lain dari jarak jauh. Dalam open and distance learning, teleconferencing merupakan suatu alat yang bermanfaat untuk memberikan pelajaran langsung. Jaringan audio-graphic teleconferencing bertujuan untuk pendidikan yang berkelanjutan.

 Bagaimana komputer dan Internet digunakan untuk pengajaran dan pembelajaran?

Ada tiga pendekatan umum terhadap penggunaan komputer dan Internet dalam bidang instruksional, yaitu

1)  Belajar komputer dan Internet, di mana kemampuan menggunakan teknologi merupakan tujuan akhirnya;

2      Belajar dengan komputer dan Internet, di mana teknologi memudahkan pembelajaran kurikulum; dan

3)  Belajar melalui komputer dan Internet, dengan memadukan pengembangan kemampuan mengaplikasikan teknologi dengan kurikulim.

Apa yang dimaksud dengan belajar komputer dan Internet?

Belajar komputer dan Internet  berfokus pada pengembangan kemampuan teknologi. Secara khusus belajar komputer  meliputi:

  • Dasar: istilah-istilah dasar, konsep dan operasional (penggunaan)
  • Menggunakan keyboard dan mouse
  • Menggunakan alat produktivitas seperti word processing, spreadsheets, data base and program grafik
  •    Menggunakan alat riset dan kolaborasi seperti search engines dan email
  •      Keterampilan dasar dalam menggunakan aplikasi program dan aplikasi authoring seperti Logo atau HyperStudio
  •    Mengembangkan pemahaman dampak sosial perubahan teknologi.

Bagaimana pembelajaran dengan komputer dan Internet?

Belajar dengan alat teknologi berarti mengembangkan alat yang berfokus pada bagaimana pengetahuan dapat menjadi cara melakukan pembelajaran. Belajar dengan teknologi tersebut meliput:

  • Presentasi, demonstrasi dan manipulasi data dengan menggunakan alat-alat produktivitas
  • penggunaan tipe aplikasi kurikulum khusus seperti educational games, drill dan praktik, simulasi, tutorial, virtual laboratories, visualisati dan representasi grafik tentang konsep abstrak, komposisi musik dan sistem ahli
  • Pemanfaatan informasi dan sumber CD-ROM atau online seperti ensiklopedia, peta interaktif dan atlas, jornal elektronik dan referensi.

Apa yang dimaksud belajar dengan komputer dan Internet?

Belajar dengan komputer dan Internet  menggabungkan belajar alat teknologi tersebut dengan belajar dengan teknologi tersebut. Belajar dengan komputer melibatkan pembelajaran keterampilan teknologi “just-in-time” atau ketika siswa perlu mempelajarinya ketika dia terlibat dalam aktivitas yang terkait dengan kurikulum. Misalnya, siswa sekolah lanjutan yang harus menyajikan laporan tentang dampak kenaikan harga minyak terhadap komunitas barangkali mulai melakukan riset online, mengguankan program spreadsheet dan database untuk membantu menyusun dan menganalisis data yang telah mereka kumpulkan, dan menggunakan aplikasi word processing  untuk mempersiapkan laporan tulisnya.

Bagaimana komputer dan Internet digunakan dalam pendidikan jarak jauh?

Banyak institusi pendidikan tinggi yang menawarkan proses pendidikan jarak jauh telah memulai mengunakan Internet untuk memperbaiki capaian dan kualitas program. Virtual University of the  Monterrey Institute of Technology di Meksiko menggunakan kombinasi materi cetak dan rekaman siaran langsung dan Internet untuk menyampaikan materi pelajaran pada siswa diseluruh Meksiko dan di beberapa negara Amerika Latin.

Di University of the Philippines Open University (UPOU), materi pelajaran masih didominasi materi cetak tetapi tutorial online menngunakan alternatif lain, yaitu face-to-face tutorials khususnya bagi siswa-siswa yang enggan untuk datang ke pusat-pusat pembelajaran UPOU.

Apa yang dimaksud telekolaborasi?

Pembelajaran online yang melibatkan siswa mengikuti pelajaran formal barangkali merupakan aplikasi Internet yang paling umum dalam pendidikan. Alat-alat kolaborasi berbasis Web seperti email, listservs, message boards, real-time chat, dan konferensi berbasis Web, menghubungkan siswa dengan siswa lain, dengan guru, pendidik, peneliti, artis pemimpin industri dan politisi, dengan akses Internet yang dapat mengembangkan proses pembelajaran.

Penyusunan penggunaan sumber-sumber Web dan alat kolaborasi untuk tujuan kurikulum dinamakan telecollaboration. Judi Harris mendefinisikan telecollaboration sebagai “upaya pendidikan yang melibatkan orang-orang di lokasi yang berbeda-beda dengan menggunakan alat Internet dan sumber untuk difungsikan bersama-sama. Banyak telekolaborasi pendidikan berbasis pada kurikulum, didesain oleh guru dan dikoordinasi oleh guru. Projek kolaborasi terbaik adalah projek-projek yang sepenuhnya dipadukan ke dalam kurikulum dan bukan aktivitas ekstra kurikuler, projek-projek di mana penggunaan teknologi memungkinkan aktivitas, dan projek atau aktivitas yang memberdayakan siswa untuk menjadi siswa yang aktif, kolabortatif, kretaif, integratif, dan evaluatif. Ada banyak projek telekolaboratif yang sedang diimplementasikan di seluruh dunia.

 Di antara projek tersebut adalah projek Voices of Youth yang dikembangkan oleh UNICEF. Projek ini mendorong siswa untuk sharing pandangan tentang HIV/AIDS dan tenaga kerja anak dengan anak usia muda lainnya dan usia dewasa di seluruh dunia melalui forum diskusi elektronik. Web site Voices of Youth juga menyajikan topik yang berbeda-beda untuk membantu guru mengintegrasikan diskusi Voice of Youth di dalam aktivitas kelas lain.

 Barangkali projek telekolabirasi yang paling luas dikenal adalah Program Global Learning and Observations  to Benefit the  Environment  (GLOBE) . GLOBE merupakan program yang disponsori pemerintah AS yang diluncurkan pada tahun 1994 yang menghubungkan siswa sekolah dasar dan sekolah menengah dan guru dari lebih  dari 10.000 sekolah di lebih dari 95 negara dengan komunitas riset ilmiah. GLOBE memberikan kesempatan pada siswa untuk berkolaborasi dengan parailmuwan dalam melakukan riset pengetahuan.

ini adalah file power point nya :

PENGGUNAAN ICT DALAM BIDANG PENDIDIKAN

BAB 4

Cerdas dengan Pengayaan

Temple Garden merupakan anak autis,tetapi ia seorang jenius autis, ia lahir secara normal. Pada usia enam bulan, ia uka kejang-kejang ketika disentuh ibunya dan berusaha melepaskan dirinya dari pelukan ibunya . ia tidak tahan merasakan kulit yang lain menyentuh kulitnya. Bunyi dering telepon dan mobil yang lewat di depan rumahnya, menyebabkan kebingunan besar dan rasa sakit pada telinganya sehingga ia sering mengamuk dan memikul siapa saja yang ada di dekatnya.

Ketika ia berusi tiga tahun, Dokter berkata bahwa Temple mengalami “kerusakan otak”. Orang tuanya menyewa seorang perawat yang tegas, yang memaksa anak itu setiap hari melakukan latihan fisik dan permainan yang berulang-ulang seperti  marching band. Terkadang kegiatan rutin itu menyebaabkan Temple dapat memusatkan perhatian pada apa yang ia lakukan bahkan membuatnya berbicara. Ia belajar untuk menghindari stimulasi doi sekitarnya yang menyebabkan rasa sakit pada system sarafnya yang terlalu sensitive dengan berimajinasi tentang gambaran tempat-tempat yang jauh.

Begitu mencapai uia sekolah menengah, ia mengalami kemajuan besar. Ia berhasil lulus dalam berbagai mata pelajaran, kadang-kadang ia sanggup mengendalikan reaksinya yang hiper-sensitif terhadap kekacauan di sekitarnya, terutama dengan menutup diri untu7k mengurangi kecemasan dan ketakutan. Ini membut anak-anak yang lain menganggapnya dingin dan jauh. Ia hidup sangat kesepian da kadang-kadang mengamuk sebagai upaya untuk melawan  perasaan tertolak. Sekolah mengeluarkannya.

Ketika ia berusia enam belas tahun, orangtua Temple mengirimkanya kesebuah ranca milik bibinya di Califoria. Jadwal harian yang sangat ketat untuk melakukan pekerjaan fiik membantu dia untuk konsentrasi. Ia memusatkan perhatian pada “mein ternak”sebuah mesin besar dengan dua plat logam besar yang bdapat menjepit sisi kanan-kiri sapi. Ia membayangkan mesin jepit itu untuk dirinya agar ia dapat merasakan stimulasi sentuhan yang ia rindukan tanpa berhubunga dengan manusia; karena sentuhan fisik dengan manusia terasa keras, eperti gelombang ombak yang menelannya.

Temple dan dokternya meyadari bahwa ia mempunyai ingatan fotografis. Dengan kesulitan emosional satu-satunya pilihan sekolah yang teredia para penasehatnya mengizinkan dia untuk membangun mesin jepit manusia. Proyek ini membuatnya berkonsentrasi untuk belajar teknik mesin matematik dan memecahkan soal. Ternyata ia melebihi rekan-rekannya. Ia membangun sebuah prototip. Ia mulai melakuka eksperimen yang terkendali dengan alat itu dan menjadi ssangat ahli dalam teknik riset dan laboratorium yang memberikannya dorongan untuk mengajukan lamaran ke universitas.

Keadaan Temple yang amat mudah terangsang, dan ketidak mampuannya mengendalikan stimulasi lingkungan, melumpuhkan kemampuannya untuk menghadapi lingkungan normal dari keluarganya atau teman sepermainannya. Sampai usia dua puluhn tahun ia belum mampu menjalani hubungan social. Ia selalu demam panggug. Ia kadang-kadang begitu cema ketika mendekati seseorang sehingga ia bia mencengkeramnya dan memukul orang itu secara harafiah, karena tidak mampu menahan otot-ototya ketika emosinya menggelegak. Pada akhirnya ia berhasil berhenti, ia akan berdiri dalam jarak satu jengkal, berbicara tepat dihadapan muka orag itu, suatu keadaan yang tidak menenakkan.

Temple mengumpulkan seluluh kekuatannya. Berjala mendekati seseorang dega cara yang bias diterima secara social. Ia berlatih mendekati pintu berjam-jam saampai prosesnya berlangsung otomatis. Latihan itu manjur. Ia akhirya dapat mendekati orang secara benar jika ia membayangkan dirinya mendekati pintu. Pintu semacam peta fisik; memberikan gambaran visual yang konkret tentang gagasan abstrak mendekati interaksi social ecara hati-hati.

Temple menggunakan teknik latihan lainnya untuk belajar bagaimana bernegosiasi dengan orang, interaksi yang penuh stress sering membuatnya limbung. Ia membaca laporan New York Times tentang perundingan damai Camp David, antara Presiden Jimmy Carter, Anwar Sadat dari Mwir, dan Menachem Begin dari Israel. Ia membaca setiap kata dan mengingatnya waktu itu jiga sebagai orang jenius. Ia memutar percakapan itu berulag-ulang dalam otaknyaq serperti menonton videotape batin dan menggunakannya untuk memandu perilakunya ketika bernegosiasi dengan orang yang sebenarnya.

Pada usia lima puluh ssatu tahun, hidup sebagai seorang profeianal dengan kehidupan social yang bahagia. Kini ia telah mengetahui caranya memperhatikan stimulasi tertentu sambil mengabaikan yang lain sehingga ia tidak terlalu sakit karena rangsangan. Ia juga menelan obat anti-depresi dalam dosis rendah yang membantunya menghilangkan perasaan tidak enak; ;lebih baik dari mesin jepit.

Temple melakukan berbagai latihan yang luar biasa untuk menyuun kembali (rewire) jaringan listrik otaknya yang rusak untuk mengendalikanb perilakunya. Temple, dalam usia dewasa telah berhasil mengembangkan sirkuit otak yang tidak terdapat pada masa kecilnya.

Lingkungan sebagai Arsitek Bangunan Otak

 

Kisah di atas, yang diceritakan kembali oleh John J. Ratey, menunjukkan beberapa pelajaran yang menarik. Seperti kata Hohmann, “Gen menjadi batu bata untuk membangun otak, dan lingkungan adalah arsiteknya.” Dalam Bab 1, kita sudah menjelaskan interaksi yang menakjubkan antara gen dengan lingkungan, antara neuron dengan timulasi. Jaringan-jaringan sirkuit dalam computer disusun oleh ahli hardware. Sirkuit dalam otak kita dibuat dan diatur oleh bagian-bagian otak itu sendiri. Anda harus membayangkan otak sebagai computer dengan sepasukan teknisi kecil yang tidak henti-hentunya bekerja, membuat jaringan-jaringan baru untuk menyesuaikan otak dengan perubahan lingkungan.

Grandin lahir dengan otak yang sudah membentuk jaringan neuron autistic. Ini terjadi ketika ia masih berada dalam perut ibunya. Mungki terjadi ketika 200 miliar neuron melakukan perjalanan panjang dari lap[isan otak paling dalam ke lapisan paling luarnya. Dalam bab ini, kita akan membicarakan perkembangan otak dalam rahim sebagaimna dipengaruhi oleh lingkungannya.

Yang mengubah Grandin yang autis menjadi Grandin + yang dokter hewan caliber internasional adalah kemauannya yang kuat ditambah disiplinnya yang ketat untuk mengubah pengkabelan dalam otaknya, untuk melakukan “rewiring” dalam koneksi-koneksi neuronnya, yang membuat Grandin berubah. Grandin dianggap sebagai neurology yang melakukan eksperimen dengan dirinya sebagai subjek dan kehidup[an ebenarnya sebagai laboratorium. Topic eksperimennya adalah plasticity, yakni kemampuan otak untik secara fisik mengubah sinapsis dalam jaringan-jaringan neuronnya. Teori yang doijadikan rujukannya adalah apa yang disebut Neural Darwinism oleh Gerald Edelman, neurology pemenang hadiah Nobel dan kepala The Neurological Institute di the Scripps Clinic, La Jolla, California.

Neural Darwinism aqdalah teori yang menjelaskan bahwa otak memang harus plastis (lentur), yakni harus berubah ketika lingkugan dan pengalaman berubah. Itulah ssebabnya mengapa kita bia memperoleh pe;lajaran (learn) dan juga bidsa menghilangkan pelajaranj (unlearn). Itu juga ebabnya mengapa orang yang mengalami kerusakan otak dapat memperoleh kembali fungsi-fungsinys yang hilang. Teori inilah yang mendasari dua buahy mantra dalam buku ini. “Neurons that fire together, wire together” berarti bahwa makin sering kita mengulangi tindakan dan pikiran yang sama sejak melatih teni sampai mengingat table perkalian, makin kuat kita membentiuk koneksi-kopneksi tertentu dan makin kukuh sirkuit saraf di dalam otak untuk tindakan tersebut. “Use it or lose it” menjadi akibat logis: jiika kita tidak melatih sirkuit otak kita, koneksi tidak akan sesuai lagi dengan lingkungan, perlahan-lahan akan melemah dan akhirnya hilang (Ratey, 2005).

Film A Beatiful Mind, John Nash, pemenang hadiah Nobel dalam ekonomi, selalu diganggu oleh “makhluk halus” yang mengejarnya kemanapun ia pergi. Mula-mula ia mematuhi perintahnya, sehingga hidupnya menjadi kacau balau. Terapi yang diberikan para psikiater tidak mampu mengusir makhluk itu. John Nash menyembuhka dirinya dengan mengacuhkan makhluk itu, dengan ignore, dengan menganggapnya tidak ada. Pada hakikatnya, Nash mempraktikkan teori Neural Darwinism dengan latihan mental.

Teori Neural Darwinism inilah basiss kita untuk menaklukkan program pengayaan (enrichment). Secara singkat, pengayaan adalah upaya untuk mengembangkan jaringan-jaringan neuron yang baru atau menghidupkan kembali fungsi-fungsi neural yang hilang. Salah satu contohnya adalah latihan mental yang digunakan oleh Nash dan Grandin. Bab ini akan dimulai dengan membicarakan pengaruh lingkungan prenatal pada perkembangan otak janin. Pengetahuan ini akan membantu kita untuk melakukan pengayaan dalam lingkungan yang relevan dengan kehidupan janin.

Kemampuan otak untuk merespons perubahan lingkungan dengan melakukan pengkabelan (rewiring) otak berulang kali menunjukkan kelenturan otak (plasticity). Neurogenesi melahirkan neuron-neuron baru bias terus terjadi sepanjang hidup kita.

Pengaruh Lingkungan Prenatal

Sekarang ini otak kita masing-maing yang beratnya hanya tiga pon itu mempunyai 100 miliar neuron, 16 kali lebih banyak dari jumlah penduduk bumi, atau kira-kira sama banyaknya dengan jumlah geminang di galaksi Bimasakti. Etiap[ veuron mempunyai cabang hingga 10 ribu cabang dendrite, yang dapat membangun sejumlah satu kuadrilion (angka 1 diikuti 15 angka nol) koneksi komunikasi. Jumlah yang dahsyat itu ternyata hanya setengah dari jumlah neuron yang dibekalkan Tuhan kepada kita pafda empat bulan pertama kehamilan.

Perkembangan otak hamper mirip perkembangan alam semesta. Jika alam emesta lahir karena ledakan dahsyat, The Big Bang, maka perkembangan oatak ju7ga dimulai dengan overproduksi neuron pada minggu-miggu pertama kehamilan. Setiap hari diproduksi 250.000 neuroblat, sel saraf yang berlum matang.

Neuron-neuron yang menuju lapisan otak paling luar harus menempuh perjalanan panjang. Mereka menempel pada sel glial, merayap dengan kecepatan 60 per sejuta meter setiap jam. Dalam perjalanan panjang itu, mereka berhenti diberbagai tempat. Tidak semuahnya menuju lapisan terluar otak. Di tempat tijuannya, mereka bergabung dengan neuron-neuron lain, membentuk koloni-koloni neuron dengan tugas-tugas khasnya. Ada koloni system visual, ada kampong istem pendengaran, dan sebagainya.

Neuron tidak menjadi neuron visual begitu dia lahir. Neuron memperoleh jabatan neuron visual hanya karena ia berhenti di tempat yang nanti akan menjadi tempat datangnya informasi visual. Begitu pula neuron-neuron yang lain. Di situ, setiap neuron membangun dendrite dan akson untuk berkomunikasi dengan dendrite dan aksonlainnya.

Aksson dan dendrite berkomunikasi dengan megirimkan zat kimia, neurotransmitter, melalui sinapsis. Setiap neuron boleh jadi berkomunikasi melalui 100.000 sinapsi. Zat-zat kimia disebut secara teknis factor trofik mengatur dimana dan bagaimana akson harus berhubungan, membuat koneksi-koneksi.

Selama perjalanan, neuron-neuron itu merayap di atas sel-sel glial, yang menjadi penunjuk jalan, pelindung, dan pemeliharanya. Ada dua macam glial: yang satu mengontrol metabolism dan fungsi neuron. Yang lainnya membungkus akson dengan zat lemak yang disebut myelin. Myelin mengatur seberapah cepat akson menyampaikan informasi. Sesudah neuron mencapai tujuannya, sel-sel glial tetap tinggal, walaupun bentuk dan sifat-sifat molekulnya berubah. Di mana neuron itu berkedudukan menentukan temperamen, watak, sifat-sifat fisik dan psikologis, termasuk cara berpikir dan merasa kita. Pendeknya, tempat berhentinya neuron itu menentukan siapa kita.

Ada neuron yang berhenti di tengah jalan; ada yang keasar dan menempati “kampong” yang salah. Ada juga sel-sel otak lainnya dan msnghidupkan atau mematikan “stop kontak genetis” yang ada didalamnya. Ada juga malah banyak yang mati dalam perjalanan. Di sini masuk pengaruh lingkungan.

Banyak factor yang mengganggu migrasi neuron yang berasal dari lingkungan termasuk radiasi, mutasi genetis, obat-obatan, dan stress. Belakangan ilmuan menemukan beberapa buah gen yang diubah karena kekacauan migrasi. Perubahan genetis itu menimbulkan penyakit. Tahun 1991, mereka menemukan gen, yang setelah berubah, menyebabkan sindrom Kallmann, penyakit langka yang menyebabkan hilangnya indra penciuman dan kelamin yang abnormal. Dalam Sindrom Kallmann, neuron yang menghasilkan hormone seks dan bebauan gagal dalam migrasinya dan tidak dapat berfungsi dengan baik.

Gen yang menimbulkan gangguan migrasi neuron lainnya, lissencephaly menyebabkan retardasi mental dan problem lain. Beberapa peneliti menduga penyakit-panyakit lain seperti disleksia dan skizoprenia sebagian disebabkan kegagalan dalam migrasi neuron.[1]

Pengaruh Merokok, Alkohol, Malnutrisi, Stres

Apa yang diisap, dimakan, diminum, dan dirasakan oleh ibu-ibu yang hamil dapat mengganggu perkembangan otak bayi. Contohnya: merokok, alcohol, kekurangan gizi dan stress.

Merokok dapt meningkatkan risiko aborsi spontan 1,7 kali lebih besar, risiko abnormalitas congenital 2,3 kalim lebih tinggi, menambah kemungkinan anak mengalami retardasi mental (sampai 50%), attention deficit disorder (tiga kali lebih tinggi), dan bahkan sudden infant death, kematian anak yang mendadak. Karena nikotin mengganggu migrasi neuron, menghambat koneksi, dan memangkas neuron secara keliru. Ada bukti juga yang menunjukkan bahwa nikotin mengacau-balaukan system dopamine. Dopamine, seperti neurotransmitter yang membantu proses mengingat.

Alcohol juga mengganggu migrasi sel. Karena pengaruh alcohol yang diminum ibu, neuron-neuron tidak tahu dimana harus berhenti, gagal mencapai tujuan, dan sering kali mati dijalan. Akibatnya, otak bayi dari ibu-ibu yang peminum menjadi kecil, mengkerut, dan berbentuk buruk, dengan kepadatan neuron yang rendah. Gejala ini, yang disebut sebagai fetal alcohol syndrome (FAS), menyebabkan anak punya IQ yang rendah, sulit membaca, sukar memahami matematika. Ketika anak-anakmitu menjadi remaja atau dewasa, FAS menyebabkan kenakalan (maladaptive behavior), hiperaktivitas, dan depresi. Beberapa penelitian mutakhir tentang FAS dan FAE (fetal alcohol effect) menunjukkan data yang mengerikan: 90% menderita penyakit mental, 60% gagal dalam pendidikan, 60% melakukan tindak pidana, 50% kepergok melakukan perilaku seksual yang menyimpang.

Malnutrisi. Selama kehamilan, janin memang lebih mudah dirusak karena makan zat yang beracun ketimbang kekurangan gizi. Busung lapar tidak lagi dapat disebut kekurangan gizi. Busung lapar adalah pembunuhan. Yang dimaksud kekurangan gizi disini adalah kurangnya zat besi, vitamin B                           asam folat, dan asam lemak. Kekurangan asam folat menyebabkan tingginya insidensi spina befida. Jika ibu kehilangan zat-zat bergizi, pembentukan neuron berhenti, maka terhenti juga perkembangan kognitif janin. Setelah lahir, bayi yang kekurangan gizi aka mengalami kelambatan dalam pertumbuhan alat-alat indranya, kesukara dalam belajar, dan kerentanan menderita beberapa penyakit.

Stres. Sangat mudah dipahami kalau zat-zat kimia seperti nikotin dan alkohol merusak komposisi kimiawi dalam otak janin. Stress menunjukkan kepada kita hubungan yang sangat kuat antara otak dan tubuh. Pada tahun 1920-an, Dr. Walter Cannon, seorang fisiolog yang dianggap sebagai kakeknya peneliian stress, menulis tentang pengaruh emosi pada tubuh. Rasa takut atau cemas menimbulkan akibat berantai dalam mekanisme4 tubuh kita. Ketika kita mengalami stress, otak memicu hypothalamus, kelenjar pituitary, dan adrenal untuk mengeluarkan hormone tertentu. Maka kelenjar adrenal megeluarkan epinephrine, yang disebut juga adrenalin. Saraf simpatetik dirangsang untuk menyebarkan epinephrine ke seluruh tubuh. Ketika saraf simpatetik dirangsang, jantung kita berdetak lebih cepat, usus dirangsang (sehingga kita bias menderita diare), kulit berkeringat, dan tuba bronkhial melebar (sehingga oksigen lebih banyak masuk).

Ketika tubuh memproduksi adrenalin. Ia juga mengeluarkan hormone yang bernama kortisol. Tingginya kortisol menaikkan kadar gula, insulin, trigliserid dan kolesterol. Kebanyakan kortisol menguras kalsium, magnesium, dan potassium dari tulang. Pada saat yang sama, kartisol menahan sodium (garam) dalam tubuh.

Naiknya kortisol melumpuhkan system kekebalan tubuh, sehingga mengundang berbagai penyakit pada tubuh ibu. Sebagian diantara penyakit itu dapat merusak perkembangan otak janin dalam kandungn. Kortisol yang tinggi juga mengurangi penggunaan glukosa (jadi menyebabkan diabetes), merapuhka tulang ( jadi mempercepat ostereoporosis ), menghambat regenerasi kulit ( jadi mempercepat penuaan ), menambah akumulasi lemak, dan ujung-ujungya merusak sel-sel otak ( Colbert 2003 ).

Pada tahun 70-an dan 80-an, kita mengetahui bahwa jika ibu selama kehamilan mengkonsumsi zat-zat seperti alcohol, kokain, kafein, dan tembakau, ia akan merusak kesehatan bayi secara fisik da mental, menurunkan berat badan, tinggi, dan lingkaran kepala, serta merusak perhatian, memori, kecerdasan, dan temperamen. Jika ibu mengalami stress berlebihan, atau menderita trauma emosional, bayinya mungkin lahir dengan cacat tertentu yang terbawa sampai keusia dewasa dan menyebabkan banyak komplikasi.

Pada tahun 90-an, kita mulai memahami bahwa stress dan keadaan emosional ibu mempengaruhi bayi yang belum lahir. Contoh, hormone stress yang disebut kartisol. Ketika kita mengalami stress, kita memproduksi kartisol. Jika kita mengalami stress sewaku-waktu, kortisol tiudak menimbulkan masalah. Tetapi, jika kita terus menderita stress untuk waktu yang lama, kortisol terlalu berat untuk diatasi tubuh kita. Kortisol dapat menyebabkan masalah tekanan darah tinggi. Kortisol berlebihan dapat menyerang bayi di dalam rahim dan menaikkan titik awal tekanan darah untuk selama-lamanya. Bayi ini, kelak seterah dewasa, besar kemungkinan menderita tekanan darah tinggi.

Banyak ibu yang mengalami situasi penuh stress ketika mengandung. Mereka dihadapkan pada situasi yang tidak sehat seperti perceraian, pelecehan emosional dan fisik, perselingkuha terbuka atau pengabaian dari pasangan yang lebih senang tinggal di luar rumah ketimbang berada di rumah dan membantu pasangannya yang hamil. Ibi-ibu yang seperti ini megalami terus menerus stress, rasa malu, kesepian, dan kadang-kadang depresi klinis selama kehamilan atau sesudah melahirkan.

Bayi-bayi yang dikandung mereka berhadapan dengan berbagai jenis hormone stress, toksin, dan kekurangan gizi di dalam rahim. Sebagian dari bayi-bayi ini akan hidup dalam lingkungan yang sama atau mungkin lebih buruk lagi. Tidak mengherakan jika sebagian  darinya kemudian menjadi hiperaktif, hipoaktif, tidak bisa menaruh perhatian, atau temperamental dan menunjukkan pengendalian diri yang buruk. Kebanyaka anak-anak ini nanti diobati dengan Ritalin atau anti depresan.

8        Cara Mencerdaskan Bayi

Cerdaskan Sejak di dalam Rahim

Ada beberapa hal yang diperintahkan yang mempengaruhi perkembangan otak janin yang sehat. Makin baik Anda merawat tubuh Anda, makin baik Anda merawat otak bayi yang sedang tumbuh.

Apa yang terjadi pada pikiran ibu dapat juga mempengaruhi perkembangan mental bayi. Walaupun psikologi janin masih baru, ada banyak bukti bahwa otak bayi dipengaruhi oleh peristiwa di luar rahim. Misalnya orang tua yang menyanyikan dan memainkan Mozart ketika bayi masih berada dalam kandungan akan meningkatkan kemungkinan bayi itu untuk menyukai Mozart di kemudian hari dan mendapat ketenangan karena nyanyian itu. Konon pemain cello Poblo Casals mulai membaca komposisi music yang baru dan segera meyadari bahwa ia mengetahui yang berikutnya walaupun belum membacaya. Kemudian ia tahu bahwa ibunya, juga seorang pemain cello, telah melatih komposisi ini setiap hari pada usia terakhir kehamilannya.

Ibu yang kehamilanya dipenuhi dengan ketakutan dan kecemasan yang tidak kunjung selesai, besar kemungkinan melahirkan anak yang penuh kecemasan pula. Ibu dan bayi berbagi hormone, dan lingkungan yang penuh hormone stress dapat mempengaruhi pengkabelan otak yang sedang berkembang. Stress adalah bagian kehidupan, terutama pada saat-saat perubahan seperti kehamilan. Yang penting adalah penyikapan Anda terhadap stress. Ibu yang makan dengan baik, berolahraga secara teratur dan menyisihkan waktu untuk mengatasi takut dan cemasnya akan menciptakan lingkungan rahim yang lebih sehat bagi bayinya. Pentingya menjaga perasaan ibu, sehingga ia dapat mengalami keadaan setenang-tenangnya untuk merawat kehidupan baru yang berkembang di dalam rahimnya.

Permulaan Gizi yang Cerdas

Ada empat alasan mengapa air susu ibu dapat membangun otak yang lebih baik:

  • Meningkatan Perawatan

Penelitian membuktikan bahwa bayi yang mendapat ASI lebih seriong makan ketimbang bayi-bayi yang diberi susu formula yang juga lebih mungkin untuk disusui dengan jadwal. Juga, karena bayi yang mendapat ASI lebih sering makan, mereka juga sering disentuh, dipegang, dan dilayani.

  • Meningkatkan Sentuhan

Bayi-bayi ASI lebih besar kemungkinannya tidur sebagian atau sepanjang malam pada ranjang yang sama dengan ibunya, praktik perawatan ibu yang sehat yang dapat meningkatkan lamanya “waktu sentuh” harian. Dokter spesialis anak meyakini bahwa sentuhan da kekurangannya berpengaruh besar pada perkembangan intelektual dan fisikal anak, ibu-ibu yang menyusui juga lebih sensitive pada isyarat-isyarat anaknya. Agar berhasil menyusui, seorang ibu harus mengawasi bayinya dan bukan jam atau tanda pada botol susu. Kepekaan ini akan berlanjut pada hal-hal lainnya.

  • Meningkatkan Nutrisi Pembangun Otak

ASI mengandung sekitar 400 nutrien yang tidak terdapat pada susu formula. Misalnya, ASI mengandung lemak yang membangun otak dan menyediakan komponen pembangun myelin, lapisan insulasi sekitar serat-serat saraf yang mempercepat perjalanan pesan. ASI menyesuaikan diri dengan sempura pafda perkembangan otak manusia, jauh sebelum sains modern mempelajari pemberian makan kepada bayi.

ASI mengandung banyak kolesterol ( tidak terlalu banyak, dan tidak terlalu sedikit diet kolesterol yang pas ), dan kolesterol meningkatkan pertumbuhan otak. Susu formula mengandung sedikit atau tidak ada sama sekali kolesterol; keputusan pedagaaang yang barangkali didasarkan pada pemasaran ketimbang prinsip-prinsip nutrisi karena orang secara otomatis meninggalkan produk yang mengandung kolesterol. ASI juga kaya dengan nutrient pembangun otak lainnya. Laktosa, karbohidrat utama pada ASI, adalah gula yang disukai otak. Taurin adalah protein pembangun otak yang ada pada ASI.

  • Meningkatkan Kepekaan Orangtua

Kepekaan orangtua pada isyarat-isyarat anaknya adalah salah satu di antara pembangun sikap yang paling sehat. Ibi-ibi yang menyusui lebih mungkin memberikan respons kepada kebutuhan dan tangisan bayi dengan cara yang lebih alamiah dan lebih sehat kerena ia mempunyai bekal hormonal yang baik. Ketika bayinya menangis, aliran darah pada payudaranya meningkat dan ia akan didesak oleh dorongan biologis yang kuat untuk mengambil dan merawat bayinya. Makin sering ia merawat, makin tinggi tingkat hormone keibuannya ( prolaktin dan oxytosyn ) pembawaan pesan biokimia yang berjalan ke seluruh otak ibu dan mempengaruhi bagaimana ia bertindak terhadap bayinya. Hormone-hormon ini dianggap membangun intuisi ibu yang tidak terukur tetapi sangat penting.

  • Menggendong Cerdas

Bayi yang digendong lebih jarang menangis. Bayi yang jarang menangis menggunakan lebih banyak waktu da energy untuk tumbuh dan belajar. Alas an neurologisnya adalah bahwa gerakan mengatur bayi. Bayi yang digendong menunjukkan pertambahan waktu bangun, yang disebut kesadaran tenang. Inilah keadaan ketika bayi dalam keadaan yang paling tenang dan paling mampu berinteraksi dengan lingkungan. Buaian menempatkan bayi dalam posisi yang memungkinkannya untuk bergerak dan dengan memegang buaian itu, bayi mengatur dirinya secara neurologis.

Keuntungan lainnya digendong dalam buaian adalah bayi menerima lebioh banyak perhatian orang tua dan lebih banyak interaksi dengan lingkungan, dank arena itu lebih banyak membangun koneksi-koneksi sel otak. Para peneliti melaporkan bahwa bayi-bayi yang digendong menunjukkan kesiapan visual dan auditif yang lebih tinggi. Demikian pula keadaa kesadaran yang tenang akan memberikan kepada orangtua peluang lebih baik untuk berinteraksi dengan bayinya. Ketika dihadapkan ke depan dalam buaian, bayi memiliki pemandangan yang luas dari lingkungannya, ia dapat mangamati dunianya.

Bayi banyak belajar pada tangan pengasuh yang sibuk. Menggendong bayi juga membantu otak bayi yang berkembang untuk membuat hubungan yang tepat. Karena bayi secara dekat terlibat dalam dunia pengasuhnya dan ikut berpartisipasi dalam apapun yang sedang dilakukan pengasuhnya, ia akan melatih dirinya untuk peka terhadap apa yang dikatakan dan dilakukan pengasuhnya. Otaknya yang sedang berkembang menyimpan pengalaman-pengalaman ini sebagai ribuan potongan film pendek yang tersusun dalam “Perpustakaan Neuronnya”, untuk diputar ulang.

  • Berkata Cerdas

Untuk memastikan bahwa sang bayi menerima pesan yang tepat, para ibu secara ilmiah memanjangkal vocal dalam kata-kata mereka: Bayiii pintaaar. Bagaimana cara ibu berbicara lebih pentig buat sang bayi daripada apa yang dibicarakannya

Ibu akan berbicara dengan meninggirendahkan suaranya. Kadang-kadang dengan banyak kejutan dan jeda, dengan demikian memberikan waktu kepada bayi untuk mengolah setiap kumpulan kata-kata pendek itu sebelum pesan berikutnya tiba. Apalagi jika ibu itu berbicara dengan format Tanya jawab. Ini pelajaran bicara bayi yang paling awal. Di sinilah para ibu membentuk kemampuan bayinya untuk mendengar. Inilah beberapa latihan yang dapat digunakan para ibu dan ayah untuk berbicara dengan bayi yang dapat mengembangkan kemampuan otaknya.

  • Pandanglah si pendengar. Tangkap mata bayi itu sebelum memulai pembicaraanmu. Kau dapat menahan perhatiannya lebih lama dan kemungkinan untuk mendapatkan respons yang baik lebih besar.
  • Usahakan responsive. Kau mungkin berpikir bahwa bayi tidak berbicara banyak sampai ia berusia satu setengah atau dua tahun. Tetapi sebenarnya, bayi mulai bicara pada detik ketika ia dilahirkan. Bagi bayi yang sangat kecil, bahasa adalah setiap suara atau gerakan yang menunjukkan respons pengasuhnya. Kemudian bayi akan belajar bahwa bahasanya adalah alat baginya untuk sebuah interaksi social, ketika ia dapat memperoleh perhatian dan memenuhi keperluannya. Media komunikasi bayi berkembang seiring dengan pertumbuhannya. Mimic wajah, bahasa tubuh, isyarat tangan, gumaman, dan pada akhirnya kata yang diucapkan. Dengan merespons secara baik terhadap tangisan bayimu, berbicara kepadanya, kau membantunya mengembangkan kemampuan komunikasinya. Ketika bayi bicara, orangtua belajar untuk mendengar. Ketika bayi menyampaikan tanda, misalnya untuk memangkunya, orang tua belajar untuk membaca tanda itu dengan memangku bayinya. Karena isyarat bayi itu direrspons sesuai keinginannya, bayi termotivasdi untuk memberikan lebih banyak isyarat. Pada bayi yang tidak mendapat respons yang baik dari para pengasuhnya. Bayi-bayi inin tidak berkembang dengan baik.
  • Panggil bayi dengan namanya. Meskipun bayi baru sadar ada nama yang dihubungkan dengan dirinya pada akhir tahun pertamanya, nama yang secara khusus dialamatkan kepadanya akan memicu hubungan mental yang khusus dengannya: bahwa nama ini mempunyai suara yang khas yang pernah ia dengar sebelumnya, dan bahwa nama itu adalah pertanda akan banyak suara asyik lainnya yang akan ia dengar.
  • Sederhanakan. Gunakan kalimat-kalimat pendek dengan bunyi vocal yang dipanjangkan: cantiiik.
  • Buat gerakan yang hidup. Katakanlah, “ayo, katakan ‘bye’ kepada kucing,” sambil melambaikan tangan kepada kucing. Bayi lebih mudah mengungat kata-kata yang dihubungkan dengan gerakan-gerakan yang hidup. Berbicarah dengan nada panjang pada ujung kalimat. Keraskan kata-kata kunci. Bayi mudah bosan dengan bunyi-bunyi yang sama.
  • Ajukan pertanyaan. “susi mau makan ?” berbicara dengan bertanya akan mengeraskan suara pada ujung kalimat sambil menunggu respons bayi.
  • Bicarakan pada apa yang Anda lakukan. Sambil melakukan tugas harian seperti mengenakan pakaian, memandikan, dan menggantikan popok, ceritakan apa yang sedang Anda lakukan, mirip laporan pandangan mata yang melaporkan pertandingan sepakbola, “Nah, sekarang bapak lepasdin popoknya ya, diganti dengan yang baru.” Wajar kalau mula-mula Anda merasa kikuk. Tetapi, Anda tidak berbicara pada tembok batu. Ada manusia kecil dengan telinga besar dan otak berkembang yang mengolah setiap kata yang ia dengar, menyimpannya pada catatan memori tanpa akhir.
  • Bacalah untuk bayi. Bacalah majalah favorit Anda atau buku dengan suara keras di hadapan bayi. Mendongenglah khusus untuk telinga bayi. Bayi belajar mengasosiakan orangtua dengan permainan, yang juga menjadi latihan yang membangun otak. Bagi bayi, bermain adalah belajar. Untuk orangtua, menyediakan waktu yang teratur untuk melakukan sesuatu berarti besar kemungkinan ia akan melakukannya. Kegiatan rutin akan menumbuhkan hubungan. Jadi, aturlah pertemuan tetap untuk membaca. Sediakan waktu khusus “Bapak dan aku”. Tangan,pengakuan, dan intonasi vocal laki-laki dari suara Anda akan berbekas jauh pada peningkatan keterampilan membaca anak di masa depan.
  • Katakana dengan music. Peneliti anak yakin bahwa bernyanyi lebih banyak mempengaruhi pusat bahasa di dalam otak bayi ketimbang sekadar kata-kata tanpa music. Susunlah sepuluh lagu favorit bayi dan mainkanlah berulang-ulang. Bayi menikmati perulangan.

Respons Cerdas

Cara Anda mendengar akan membantu membangun bayi yang cerdas. Banyak peneliti menunjukkan bahwa cara mengembangkan otak yang paling kuat ialah kualitas hubungan ortu-anak dan respons lingkungan pengasuh pada idyarat-isyarat anak. Respons dengan sentuhan hangat meningkatkan perkembangan oatak bayi karena memasok oatak dengan ingformasi yang benar dalam kehidupan anak ketika otak sedang memerlukan perawatan yang sebanyak-banyaknya.

Tidak ada bukti bahwa permainan yang mewah dan kursus yang mahal membuat bayi lebih cerdas. Karena ibu tetap paling atas.

Dr. Lewis menegaskan bahwa satu-satunya pengaruh yang paling penting dalam perkembangan intelektual anak adalah sikap responsive pengasuh pada isyarat bayi. Isyarat membangun koneksi.

Musik Cerdas

Musik menenangkan pikiran dan tubuh. Musik dapat membuat anak-anak lebih tenang, dan lebih cerdas. Minat terhadap music sebagai stimulasi otak berasal dari pengamatan pada bayi-bayi premature yang berkembang lebih baik ketika diperdengarkan kepadanya music klasik. Music mempunyai efek menenangkan dan merangsang keluarnya hormone endorfin.

Bermain Cerdas

Bayi belajar tentang dunia mereka melalui permainan, dan orangtua dapat memahami apa yang dipikirkan bayi dengan mengamatinya bermain. Dengan mengamati dan ikut serta dalam permainan bayi, orangtua dapat menangkap secara samar-samar semua proses pengambilan keputusan pemecahan soal yang berlangsung dalam otak bayi yang sedang berkembang.

PERMAINAN CERDAS

Permainan yang dilakukan bayi dapat merangsang triliunan sel-sel saraf otak untuk membuat koneksi-koneksi cerdas. Tetapi jagalah agar dalam bermain itu Anda memperhatikan keperluan bayi untuk istirahat atau mengakhiri permainan dengan meninggalkan Anda.

Permainan tatap muka. Ketika bayi Anda dalam keadaan sadar tenang, peganglahn ia dalam jarak paling teopat, sekitar delapan sampai sepuluh inci, lalu julurkan lidah Anda sedapat mungkin. Ketika bayi mulai menggerakkan lidahnya, kadang-kadang ju8ga mengeluarkannya, Anda tahu bahwa Anda sudah berhasil. Usahakan lagi permainan yang sama dengan membuka mulut Anda lebar-lebar atau mengubah kontur bibir. Ekspresi wajah dapat menular.

Permainan tiruan. Dalam permainan maniru wajah, Anda memantulkan kembali ekspresi bayi kepadanya. Ketika bayi membuka lebar mata atau mulutnya, tirulah ekspresi wajahnya dengan cara yang berlebihan. Bayi melihat mukanya pada ibunya. Melihat cermin pada wajah ibunya adalah cara yang paling kuat untuk meningkatkan kesadaran diri bayi. Bayi senang meniru ekspresi wajah Anda yang berubah-ubah.

PERMAINAN DENGAN BAYI BERUMUR EMPAT BULAN

  • Pegang dan goyang. Bayi senang bermain dengan benda-benda yang berisik, boneka kasar, dan selimut kecil.
  • Duduk dan pukul. Gantungkan mainan yang menarik dalam jangkauan bayi. Perhatikan dia ketika berusaha memukulnya atau menangkapnya dengan tangannya.
  • Tending. Menendang mainan adalah kesenangan bayi pada usia ini. Gantungkanlah pada pergelangan kaki bayi mainan yang gemerincing sehingga bayi dapat membunyikannya dengan tendangannya.
  • Jari. Berikan kepada bayi tali untuk dia mainkan. Perhatikan bagaimana ia menggunakan jari, tangan, lengannya, dan bagaimana ia dengan sengaja memperhatikan tali. Awasi bayi Anda dengan cermat untuk menghindari risiko tercekik.
  • Main bola. Bola atau balok selalu menjadi permainan bayi yang paling baik. Bayi dapat melakukan apa pun denga mainan yang sederhana ini.
  • Bermain cermin. Dudukkan bayi pada jarak yang memungkinkannya untuk menyentuh cermin. Perhatukan bayi Anda yang berusaha menyesuaikan tangannya diwajahnya dengan bayangan dalam cermin. Ketika Anda muncul disampingnya, bayi makin tertarik dengan bayangan Anda di dekat bayangan dia dalam cermin.
  • Berguling. Bermain diatas kasur yang dapat Anda mulai sekitar usia empat bulan, makin menarik pada usia ini karena bayi dapat merangkak ke atas bantal dan menyenangkan dirinya. Letakkan bayi Anda di atas bantal. Simpan mainan di luar jangkauan dia. Perhatikan bagaimana bayi memaukkan kakinya, mendorong dan menggulingkan tubuhnya ke depan dalam usahanya untuk menggapai mainan.

PERMAINAN ENAM SAMPAI SEMBILAN BULAN

Bayi pada tahap ini sangat ingin tahu hubungan di antara macam-macam mainan. Inilah tahap main mengisikan, yakni bayi dapat mem,ikirkan kombinasi objek-objek mainan ( seperti membenturkan, menyusun, mengisi, dan membuang ).

  • Membenturkan ( banging games ). Masukkan kapas di telinga Anda. Keluarkan panci dan piring. Bayi senang mendengar suara benturan dan jatuh.
  • Menyusun ( stacking games ). Bayi senang memasukkan pot kecil dalam pot besar. Cawan plastid an mengukur besarnya cawan juga sangat mengasyikkan.
  • Menyimpan dan membuang ( fill-and-dump games ). Berikan kepada bayi balok seukuran tangan dan kotak sepatu atau wadah plastic yang besar. Lihatlah bagaimana tangan-tangan kecil dan pikiran bekerja sama untuk membayangkan bagaimana memasukkan balok-balok itu kapada wadah dan tentu saja bagaimana mengeluarkannya. Ketika Anda mau mencuci pakaian, masukkan bayi pada wadah cucian yang besar tetapi setengah penuhdengan baju-baju kecil, paling bagus kaus kaki dan pakaian bayi. Setelah bayi itu mengeluarkan pakaian itu dari keranjang, bantulah dia sedikit dengan menunjukkan bagaimana cara memasukkannya. Pungut kaus kaki dan masukkan ke dalam keranjang.
  • Main air ( water play ). Beri dia latihan memasukkan dan mencurahkan air dari wadahnya. Perlu diawasi dengan baik.

PERMAINAN SEMBILAN SAMPAI DUA BELAS BULAN

Keterampilan mental yang mulai tumbuh pada usia ini adalah konsep tetapnya objek kemampuan mengingat di mana mainan disembunyikan. Jika Anda sembunyikanmainan dalam selimut, bayi tidak menunjukkan keinginan untuk menemukannya kembali. Cobalah eksperimen ini. Tunjukkan kepada bayi Anda mainan kesenangannya dan masukkan mainan kesenangannya dan masukkan mainan itu ke salah satu di antara dua buah popok yang terletak di hadapannya. Perhatikan bagaimana bayi sekali-sekali mempelajari popok, seakan-akan memikirkan popok mana yang menutupi mainannya. Dengan melihat wajah yang “sedang berpikir”, Anda merasa ia sedang mencoba mengingat dalam memorinya di bawah popok mana mainan itu disembunyikan.

  • Main petak umpat (play hide-and-seek). Biarkan bayi mencari Anda di sekitar ranjang. Kalau ia sudah tidak melihat Anda, intip dia dari sudut ranjang dan panggil namanya. Bayi akan merangkak menuju tempat Anda tadi mengintipnya. Akhirnya ia pun akan meniru Anda dengan bersembunyi dan mengintip di sekitar ranjang.
  • Main petak umpat dengan suara (hide-and-seek with sounds). Sekarang bayi tidak lagi melihat Anda nongol dari tempat sembunyi. Tetaplah bersembunyi dan panggil namanya. Perhatikan ia merangkak dan berlatih di sekitar rumah mencari suara yang ia pasangkan dengan orang yang hilang. Teruskan suara Anda untuk menarik perhatiannya.
  1. Mainan Cerdas

Mainan adalah gula di atas kue pembangun otak. Hubungan Anda dengan bayi itulah kue yang sebenarnya. Basis teori perkembangan utuk mainan bayi adalah permainan kebentulan, ketika bayi “secara kebetulan” menemukan hubungan sebab akibat.

Pengaruh Lingkungan Neonatal: Jendela Peluang

Kalau tidak ada gangguan dalam lingkungan prenatal (sebelum kelahiran), bayi lahir dengan bekal sebanyak 100 miliar neuron dengan koneksi-koneksi awal. Supaya koneksi-koneksi sinaptik dalam sistem visual bertahan lama, otak memerlukan masukan visual cahaya yang mengenai retina dan mengaktifkan neurotranmiter yang disebut glutamate. Masukan visual yang datang dari lingkungan itu bukan saja membentuk gambaran dunia visual, tetapi juga memperkuat dan menghidupkan koneksi-koneksi pada daerah otak yang bertugas memproses penglihatan. Waktu tiga tahun adalah waktu peluang bagi mata untuk memperkuat koneksi itu. Jika waktu itu terlewati, “sketsa” sistem visual bayi akan tetap menjadi sketsa. Setelah tiga tahun, jendela peluang itu tertutup sudah. “Jendela peluang ialah periode ketika otak memerlukan jenis-jenis masukan tertentu untuk menciptakan atau menstabilkan strukutur yang bertahan lama”[2]

            Jendela peluang itu bukan hanya ada pada proses penglihatan; juga kemampuan lingustik, gerakan, perasaan, musik, matematika, logika, dan sebagainya. Jendela peluang ini adalah periode kritis. Masa terbukannya jendela-jendela peluang itu berbeda-beda. Namun, betapa pun berbedanya, kerusakan yang terjadi pada masa ini mungkin sulit bahkan tidak bisa diperbaiki.

            Jendela peluang untuk belajar bahasa mulai terbuka pada usia dua bulan. Daerah otak yang berhubungan dengan bahasa menjadi sangat aktif pada usia 18 sampai 20 bulan. Bayo menguasai sekitar sepuluh kata per hari, sehingga ia menguasai sekitar 900 kata pada usia tiga tahun, dan terus-menerus meningkat sampai 3.000 kata pada usia lima tahun. Jika orang tuanya jarang berbicara, anak menguasai lebih sedikit perbendaharaan kata. Banyak penelitian menunjukkan bahwa bayi yang ibunya sering mengajaknya berbicara menguasai lebih banyak kata dan lebih cerdas.

            Jendela peluang untuk berbahasa tetap terbuka sepanjang hidup kita. Tetapi beberapa komponen bahasa tertutup lebih awal. Jendela bahasa tutur (Spoken language) tertutup pada usia sepuluh atau sebelas tahun.

Latihan Mental

Walaupun ada jendela-jendela peluang yang memberikan batasan pada kelenturan otak, proses belajar yang menumbuhkan, melestarikan, dan mengembangkan sel-sel otak dapat berlanjut samapi usia tua.

Rahasia Otak Einstein

Jelaslah bagi Dr. Diamond bahwa Einstein memiliki Area 39 yang sangat berkembang. Dia dan para peniliti lainnya percaya bahwa Area 39 adalah situs yang paling canggih dan paling berkembang (highly evolved) dalam otak kita. Jika ada kerusakan pada bagian ini, orang akan mengalami kesulitan dalam pencitraan abstrak, mengingat, perhatian dan kesadaran diri. Secara garis besar, mereka akan kesulitan dalam membaca, mengenali huruf, mengeja, atau menghitung. Mereka juga akan kesulitan dalam menyatupadukan masukan yang diperoleh melalui penglihatan, pendengaran, atau perbuatan. Pendeknya, bila Area 39 ini rusak, orang akan kehilangan banyak potensi intelektualnya.

            Sel special yang terdapat dengan jumlah yang sangat banyak pada Area 39 otak Einstein itu adalah sel glial. Bagi Dr. Diamond, inilah temuannya yang paling penting. Sel glial sebetulnya sangat umum terdapat dalam otak. Bahkan, glial adalah sel “bagian rumah tangga” bukan sel “pemikir”. Tugasnya adalah mendukung proses metabolism neuron-neuron “pikiran”.

            Einstein memiliki sel pemelihara ini dalam jumlah yang sangat banyak, jauh lebih banyak dari pada sel “pemikir”. Bagi Dr. Diamond, sel “pemikir” pada Area 39 otak Einstein membutuhkan dukungan metabolis yang sangat besar. Einstein mungkin dilahirkan dengan otak yang brilian, sangat kaya dengan kecerdasan cair. Kecerdasan cair adalah ukuran efisiensi kerja otak bukan ukuran jumlah fakta yang tersimpan di dalamnya. Ia telah berhasil memaksimalkan bagian terpenting otaknya dengan melatihnya secara mentali. Ia adalah seorang “atlit mental” yang “berlatih keras” sepanjang hidupnya.

            Bila memang benar bahwa berpikir telah memperbesar Area 39 Einstein, maka Dr. Diamond berkata gejala yang sama seharusnya berlaku juga pada binatang. Untuk menguji teori ini, Dr. Diamond membangun dua sangkar yang berbeda untuk tikus. Yang pertama sebuah sangkar kecil, kosong hanya berisikan seekor tikus betina dan tiga ekor anaknya. Yang lainnya sebuah sangkar besar yang diisi dengan aneka macam “permainan” yang merangsang pikiran. Pada sangkar yang lingkungannya diperkaya ini, Dr. Diamond menempatkan tiga tikus betina dengan masing-masing tiga anak.

            Dr. Diamond menemukan bahwa otak tikus dapat mengecil bila ia dihindarkan dari lingkungan yang menantangnya. Ketika sekelompok tikus dibiakkan di tengah lingkungan yang miskin, salah satu bagian dari cortex mereka (cortex dorsal) mengecil hingga sembilan persen. Bahkan, bagian otak yang berhubungan erat dengan memori (cortex entohorinal) mengcil hingga 25 persen. Dari percobaan ini, para peneliti menyiratkan bahwa gangguan memori yang dihubungkan dengan usia sebagiannya dapat disebabkan oleh kurangnya stimulasi intelektual.

            Ketika kita menyerap informasi baru, dendrite kita membuat cabang-cabang baru. Setiap cabang ini akan mengembangkan lagi ranting-ranting lainnya. Dr. Diamond menemukan bahwa cbang dendrite yang pertama tidak lagi tumbuh berkembang dikarenakan pengayaan mental ini. Begitu juga cabang yang kedua, ketiga, keempat, dan kelima. Tetapi cabang yang keenam, terlihat jelas bertambah panjangnya ketika merespons lingkungan mental yang diperkaya. Penemuain ini menegaskan pendapat Dr. Diamond bahwa “tidak pernah ada kata terlambat dalam belajar”. Belajar, tampaknya, lebij efektif bagi orang tua yang memiliki enam cabang dendrite, lebih banyak dari yang dimiliki orang yang lebih muda.

            Pengayaan secara mental dapat memberikan kepada kita kapasitas fisik yang lebih luas bagi kecerdasan intelek dan emosi. Dan tipe kecerdasan seperti inilah yang ditunjukkan begitu indah oleh Daniel Goleman dalam bukunya Emotional Intelligence, yang sering kali lebih penting dibandingkan kecerdasan intelektual.

Lingkungan yang Diperkaya: Menantang dan Merangsang

Memberikan tantangan pada otak adalah melakukan pengayaan. Dr. Diamond, dalam pembedahan otak Einstein berkata :

                  Rentangan lingkungan yang dipekaya bagi manusia tidak terbatas. Bagi sebagian orang, interaksi dengan objek sudah menyenangkan; bagi yang lain, memperoleh informasi sangat memuaskan; dan bagi yang lainnya lagi, bekerja dengan pikiran-pikiran kreatif sangat membahagiakan. Tetapi apa pun jenis pengayaan, tantangan yang dihadapi sel-sel otak itulah yang penting. … Salah satu cara yang memastika kesinambungan pengayaan adalah mempertahankan rasa ingin tahu sepanjang hidup kita. Selalu bertanya tentang diri Anda dan orang lain dan pada gilirannya mencari jawabannya akan memberikan tantangan terus menerus pada sel-sel otak.[3]

            Ada dua cara mengayakan lingkungan. Pertama, memberikan latihan mental yang menantang otak. Memperhatikan rasa ingin tahu, yang disarankan Diamond, termasuk di sini. Kedua, menyediakan lingkungan belajar yang merangsang otak.

Penelitian pengayaan lingkungan tikus (bab ini dan bab 1). Ada tiga hasil penelitian Surevaag dan Greenough yang sangat penting yaitu :

  1. Tikus dalam lingkungan yang diperkaya mengembangkan otak yang lebih berat, dengan koneksi dendrit yang lebih banyak dan berkomunikasi lebih baik. Tikus-tikus itu juga menunjukkan sinapsis yang bertambah, daerah pengindraan yang lebih tebal, peningkatan jumlah enzim dan sel glial (yang membantu pertumbuhan sel dan transmisi signal).
  2. Lingkungan yang diperkaya harus sering diubah dan diganti (setiap dua atau empat minggu) untuk mempertahankan perbedaan positif pada kecerdasan tikus. Ini berarti tempat tikusnya diubah, mainanya diperbanyak dan tantangan-tantangannya ditingkatkan.
  3. Tikus-tikus pada usia berapa pun dapat meningkatkan kecerdasannya jika diberi pengalaman belajar baru yang menantang dan berulangkali.
  4. Dunia sebenarnya di luar sangkar (bahkan yang diperkaya sekali pun) adalah lingkungan terbaik bagi pertumbuhan otak.[4]

Eric Jensen, dalam Teaching with the Brain in Mind, memasukkan unsure kebaruan atau tantangan itu dalam lim teknik pengayaan: membaca dan bahasa, stimulasi motor, kesenian, berpikir dan memecahkan soal, pengayaan lingkungan sekitar.

Membaca dan pengembangan bahasa. Bagi anak-anak, membaca mengembangakan perbendaharaan kata dan koneksi-koneksi baru pada sistem auditifnya. Bagi orang dewasa, membaca adalah latihan mental untuk mempelajari hal-hal baru, sekaligus mengembangkan apa yang disebut Barbara Given sebagai lima sistem belajar: emosional, sosial, kognitif, fisikal, reflektif. Dengan membaca, kita mengembangkan kemampuan empati kita untuk merasakan apa yang dirasakan orang lain; memasuki ruang sosial dan berinteraksi dengan dunia-dunia baru yang lebih luas; menajamkan kemampuan memecahkan persoalan; mendorong perencanaan untuk melakukan tindakan-tindakan produktif; dan membangkitkan rasa ingin tahu untuk melakukan ekplorasi dan eksperimen.

Stimulasi motor. “Cerdas dengan Gerakan”. Ada satu daerah istimewa dalam otak yang menjadi aktif kalau menerima informasi gerakan-gerakan baru atau kombinasi gerakan baru. Daerah itu namanya anterior cingulate. Daerah inilah yang menghubungkan gerakan tubuh dengan pembelajaran.

Kesenian. Ada beberapa kesenian yang melibatkan gerak, the movement arts. Dalam penelitian sistem pendidikan internasional, tiga Negara yang menduduki posisi puncak dalam matematika dan sains—Jepang, Hungaria, dan Belanda—semuanya mempunyai program latihan intensif seni dan music pada sekolah dasar. Penelitian-penelitian membuktikan hubungan erat antara kemampuan music dengan kemampuan yang lebih tinggi dalam berpikir visual, memcahkan soal, bahasa dan kreativitas.

Berpikir dan memecahkan soal. Latihan mental yang berupa pemecahan adalah cara paling efektif untuk mengembangkan otak lebih efektif dari obat-obatan atau bahkan gerakan. Pilihlah atau ciptakanlah masalah baru, dan Anda akan merangsang keluarnya noradrenalin dan menciptakan pertumbuhan dendrite. Videogame yang memberikan tantangan baru dapat merangsang kegiatan neural.

Menciptakan lingkungan yang merangsang. Lingkungan yang “brain-based” adalah lingkungan yang dipenuhi dengan stimulan-stimulan sensori merangsang penglihatan, pendengaran, pengecapan, penciuman, dan perabaan. Dalam hal ini, Anda dapat membaca saran-saran praktis berikut ini :

MAKALAH

 “AKTIFITAS ORGANISASI KESISWAAN SEBAGAI UPAYA PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN SISWA

DI SMK NEGERI 3 TANGERANG”

Dibuat untuk tugas Ujian Tengah Semester (UTS)

Mata Kuliah Filsafat Ilmu.

Disusun oleh :

Nama        : Ufi Luthfiyah Saeruroh

Nim           : 10.84-202.099

Kls/Smstr : A2/III

Dosen        : Hasnan,M.Pd.

 

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH TANGERANG

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Jurusan Matematika

2011

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. A.    Latar Belakang Masalah

Sekolah merupakan tempat atau wahana pembentukan kepribadian siswa secara utuh. Disamping transfer ilmu pengetahuan dari guru kepada siswa, juga pembentukan mental kepribadian yang baik seperti disiratkan dalam tujuan pendidikan nasional yaitu terbentuknya manusia yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Melihat dari hal tersebut sudah barang tentu, kemampuan yang dimiliki siswa di luar akademik sedapat mungkin diwadahi dan dikembangkan oleh sekolah melalui kegiatan OSIS beserta ekstra kurikulernya.

Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal berfungsi membelajarkan siswa melalui 2 kegiatan yaitu proses pembelajaran (intra kurikuler) dan kegiatan organisasi (ekstra kurikuler). Organisasi siswa intra sekolah yang ada di sekolah disebut OSIS yang merupakan wadah kegiatan siswa dalam belajar berorganisasi.

Di sekolah, guru bertugas membelajarkan siswa, tugasnya yaitu memberikan bimbingan pada siswa, terlebih lagi dalam kegiatan berorganisasi yang ada di sekolah yaitu OSIS, maka dibentuklah bagian kesiswaan yang berfungsi mengurusi kegiatan siswa.

Sekolah atau lembaga pendidikan merupakan usaha sadar yang bertujuan mengembangkan kepribadian dan kemampuan siswa, maka sekolah merupakan salah satu wadah untuk mewujudkan pembentukan manusia Indonesia seutuhnya sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yang tertuang dalam Bab II pasal 34 UU RI No 20 (2003) tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menyatakan :

“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

Kegiatan organisasi kesiswaan dan ekstrakurikuler merupakan program sekolah, berupa kegiatan siswa yang bertujuan untuk memperdalam dan memperluas pengetahuan siswa, optimasi untuk pelajaran terkait, menyalurkan bakat dan minat serta untuk lebih membentuk kepribadian siswa. Kegiatan ekstrakurikuler ini pada dasarnya merupakan proses pelaksanaan kurikulum pendidikan yang tidak dicakup dalam struktur program pembelajaran di kelas.

 

  1. B.     Pokok Masalah Penelitian
  2. 1.      Identifikasi Masalah

Sejalan dengan latar belakang maslah yang telah diuraikan di atas, maka masalahya dapat diidentifikasi sebagai berikut :

  1. Bagaimana kegiatan ekstrakulikuler agar dapat membentuk kepribadian siswa?
  2. Kegiatan apa saja yang dilakukan OSIS untuk menjadikan siswa dapat membentuk kepribadiannya?
  3. Bagaimana pengembangan soft skills melalui ekstrakulikuler?

 

  1. 2.      Pembatasan Masalah

Untuk mempermudah kajian teori, peneliti membatasi pada permasalahan aktivitas organisasi kesiswaan sebagai upaya pembentukan kepribadian siswa SMK Negeri 3 Kota Tangerang.

  1. Kegiatan ekstrakurikuler merupakan program pembelajaran tambahan yang memberi peluang kepada para siswa untuk memilih jenis dan bentuk program yang memiliki kaitan dengan perluasan pembelajaran terstruktur di kelas. Dengan adanya kebebasan tersebut diharapkan siswa dapat bertanggung jawab terhadap diri sendiri dalam pencapaian kompetensi yang telah ditetapkan dalam standar isi dan proses pendidikan. Demikian pula partisipasi siswa dalam berbagai kelompok kegiatan pengembangan minat dan bakat siswa akan memungkinkan untuk memperkuat konsep diri dan identitas kelompok berdasarkan ciri-ciri kelompoknya. Kecenderungan siswa SMK/SMA membentuk suatu kelompok, perlu diperhatikan untuk dapat dikelola secara arif  dan berorientasi positif.
  2. Pembentukan kepribadian siswa SMK untuk bekal ke jenjang pendidikan yang tinggi atau pun langsung terjun ke dunia industry harus dibentuk di dalam sekolah dengan mengikuti kegiatan ekstrakulikuler yang ada di sekolah. Kegiatan yang ekstrakuler laksanakan akan menambah kepercayaan diri dan kemampuan untuk menunjukan kreativitas siswa SMK Negeri 3 Kota Tangerang.

 

  1. 3.      Perumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi dan pembatasan masalah di atas, maka peneliti merumuskan masalah pada : Bagaimana aktivitas organisasi kesiswaan sebagai upaya pembentukan kepribadian siswa SMK Negeri 3 Kota Tangerang?”

 

  1. C.    Keguanaan Hasil Penelitian

Peneliti yang difokuskan pada permasalahan sebagaimena tersebut di atas, diharapkan berguna untuk :

  1. Dijadikan pedoman sekolah untuk menciptakan siswa berkompetensi di dunia luar sekolah.
  2. Sebagai masukan kepada para guru, agar membimbing para siswa untuk mencari jati diri siswa.
  3. Sebagai evaluasi bagi sekolah yang bersangkutan dalam upaya membentuk kepribadian siswa SMK Negeri 3 Kota Tangerang.
  4. Sebagai tugas Ujian Tengah Semester, mata kuliah Filsafat Ilmu.

 

 

 

  1. D.    Sistematika Penyusunan

Sistematika penulisan dalam penelitaian ini, maka peneliti menyusun sebagai berikut :

BAB I    : Pendahuluan yang berisikan latar belakang masalah, pokok masalah penelitian meliputi identifikasi masalah, pembatasan masalah, dan perumusan masalah, kegunaan hasil penelitian dan sistematika penyusunan.

BAB II   :  Kajian Teori dan Hipotesis tentang deskripsi teori organisasi kesiswaan dan hipotesis penelitian.

BAB III :  Metodologi penelitian, meliputi tempat dan waktu penelitian, metode penelitian, populasi dan sampel.

BAB IV :  Penutup, meliputi kesimpulan dan saran.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS

 

  1. A.    Deskripsi Teori  
  2. 1.      Pengertian Organisasi Kesiswaan

Permendiknas Nomor 39 Tahun 2008 Bab III tentang Organisasi Pasal 4 ayat 1 yang mengemukakan bahwa organisasi kesiswaan di sekolah berbentuk organisasi siswa intra sekolah (OSIS).

  1. Secara sematis

OSIS adalah singkatan dari Organisasi Siswa Intra Sekolah dimana setiap sekolah wajib membentuk organisasi kesiswaan. OSIS merupakan satu-satunya wadah organisasi siswa di sekolah untuk mencapai tujuan pembinaan dan pengembangan kesiswaan. OSIS bersifat intra sekolah, artinya tidak ada hubungan organisatoris dengan OSIS di sekolah lain dan tidak menjadi bagian dari organisasi lain yang ada di sekolah, oleh karena itu setiap siswa secara otomatis menjadi anggota OSIS dari sekolah yang bersangkutan. Keanggotaan itu secara otomatis berakhir dengan keluarnya siswa dari sekolah yang bersangkutan.

  1. Secara Fungsional

Dalam rangka pelaksanaan kebijaksanaan pendidikan, khususnya dibidang pembinaan kesiswaan, arti yang terkandung lebih jauh dalam pengertian OSIS adalah sebagai salah satu dari empat jalur yang lain yaitu: latihan kepemimpinan, ekstrakurikuler, dan wawasan wiyata mandala.

  1. Secara Sistemik

Apabila OSIS dipandang sebagai suatu sistem, berarti OSIS sebagai tempat kehidupan berkelompok siswa yang bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama. Dalam hal ini OSIS dipandang sebagai suatu sistem, di mana sekumpulan para siswa mengadakan koordinasi dalam upaya menciptakan suatu organisasi yang mampu mencapai tujuan. Oleh karena OSIS sebagai suatu sistem ditandai beberapa ciri pokok yaitu:

a)      Berorientasi pada tujuan,

b)      Memilliki suasana kehidupan kelompok,

c)      Memiliki sejumlah peranan,

d)     Terkoordinasi,

e)      Berkelanjutan dalam waktu tertentu.

 

  1. 2.      Visi dan Misi Organisasi Kesiswaan

Pengertian Visi:

  1. Mimpi OSIS ke depan yang dapat dipenuhi (diadakan), bukan fantasi
  2. Gambaran keberhasilan ideal bagaimana OSIS akan diarahkan untuk tahun-tahun mendatang
  3. Mimpi keberhasilan tersebut digambarkan pada nilai-nilai yang diyakini OSIS
  4. Mimpi keberhasilan mengarah langsung pada tujuan dasar OSIS
  5. Dilandasi kesejatian, kejujuran, kesungguhan dan keikhlasan

 

Ciri-ciri Pernyataan Visi yang Efektif:

  1. Mengilhami kerja-kerja OSIS
  2. Menjadi titik dasar OSIS bergerak ke depan
  3. Membantu mengarahkan kemana arah OSIS bekerja
  4. Membantu mengambil keputusan tentang apa yang akan dan tidak akan dilakukan OSIS
  5. Memungkinkan pengurus menyusun petunjuk kerja yang benar
  6. Membantu OSIS dalam menilai dan mengukur perkembangan dalam waktu yang panjang
  7. Rumusan singkat, tegas dan lugas
  8. Mudah dipahami oleh siapapun

 

Perumusan Misi

Misi menggambarkan:

  1. Pandangan dasar OSIS dimana segala sumber daya dan gerak diorientasikan
  2. Apa yang akan digarap oleh OSIS. (mengapa OSIS perlu eksis)
  3. Siapa yang akan diuntungkan oleh kerja-kerja OSIS (siapa yang akan dilayani)
  4. Metode/kegiatan utama yang akan digunakan untuk mencapai tujuan dasar.

 

Pernyataan Misi yang Efektif:

  1. Dapat memberikan petunjuk
  2. Ringkas/singkat dan bermakna
  3. Mudah dipahami dan dapat dikomunikasikan kepada siapapun
  4. Mengandung motivasi dan membantu orang lain dapat memahami tujuan dasar OSIS
  5. Mengidentifikasi pada tujuan utama OSIS
  6. Mengekpresikan nilai-nilai/prisip-prinsip OSIS

 

Contoh bentuk Visi Misi OSIS:

VISI

Disiplin dalam belajar

Unggul dalam prestasi

Taat dan tertib dalam beribadah

Aktif dan kreatif serta Berbudaya lingkungan

 

MISI

Dalam rangka menjabarkan visi tersebut ditetapkan 5

(lima) misi, yaitu:

  1. Suasana kondusif untuk beriman dan bertakwa dengan menjunjung tinggi toleransi dalam melaksanakan ibadah.
  2. Antusias warga sekolah untuk meraih prestasi terbaik dalam setiap kesempatan, baik prestasi akademik, maupun prestasi non akademik.
  3. Tertib belajar dan disiplin dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berwawasan global.
  4. Aktivis, kreativitas yang inovatif dalam rangka mengaktualisasikan potensi diri secara optimal.
  5. Solidaritas dan berbudaya lingkungan sehingga mampu menjadi pelopor masyarakat.

 

  1. 3.      Tujuan dan Program Kegiatan Organisasi Kesiswaan
    1. a.      Tujuan

Organisasi ini bertujuan mempersiapkan siswa sebagai kader penerus cita-cita perjuangan bangsa dan sumber insan pembangunan nasional sebagaimana termaktub dalam Permendiknas No. 39 Tahun 2008, Bab I Pasal I, yaitu untuk:

a)      Mengembangkan potensi siswa secara optimal dan terpadu yang meliputi bakat, minat, dan kreativitas;

b)      Memantapkan kepribadian siswa untuk mewujudkan ketahanan sekolah sebagai lingkungan pendidikan sehingga terhindar dari usaha dan pengaruh negatif dan bertentangan dengan tujuan pendidikan;

c)      Mengaktualisasikan potensi siswa dalam pencapaian prestasi unggulan sesuai bakat dan minat;

d)     Menyiapkan siswa agar menjadi warga masyarakat yang berakhlak mulia, demokratis, menghormati hak-hak asasi manusia dalam rangka mewujudkan masyarakat madani (civil society).

 

  1. b.      Program Materi Pembinaan Organisasi Kesiswaan

Materi pembinaan organisasi kesiswaan sebagaimana termaktub dalam Permendiknas No. 39 Tahun 2008, Pasal 3 ayat 2 meliputi:

a)      Keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa;

b)      Budi pekerti luhur atau akhlak mulia;

c)      Kepribadian unggul, wawasan kebangsaan, dan bela Negara;

d)     Prestasi akademik, seni, dan/olah raga sesuai bakat dan minat;

e)      Demokrasi, hak asasi manusia, pendidikan politik, lingkungan hidup, kepekaan dan toleransi social dalam konteks masyarakat plural;

f)       Kreativitas, keterampilan, dan kewirausahaan;

g)      Kualitas jasmani, kesehatan, dan gizi berbasis sumber gizi yang terdisertivikasi;

h)      Sastra dan budaya;

i)        Teknologi informasi dan komunikasi;

j)        Komunikasi dalam bahasa Inggris.

 

  1. 4.      Peranan Organisasi Kesiswaan

Peranan adalah manfaat atau kegunaan yang dapat disumbangkan OSIS dalam rangka pembinaan kesiswaan.

Sebagai salah satu jalur pembinaan kesiswaan, peranan OSIS adalah:

  1. a.      Sebagai Wadah

Organisasi Siswa Intra Sekolah merupakan satu-satunya wadah kegiatan para siswa di Sekolah bersama dengan jalur pembinaan yang lain untuk mendukung tercapainya tujuan pembinaan kesiswaan. Oleh sebab itu OSIS dalam mewujudkan fungsinya sebagai wadah dan wahana harus selalu bersama-sama dengan jalur lain, yaitu latihan kepemimpinan, ekstrakurikuler, dan wawasan wiyatamandala. Tanpa saling bekerjasama dari berbagai jalur, peranan OSIS sebagai wadah tidak akan berfungsi lagi.

 

  1. b.      Sebagai Penggerak / Motivator

Motivator adalah perangsang yang menyebabkan lahirnya keinginan, semangat para siswa untuk berbuat dan melakukan kegiatan bersama dalam mencapai tujuan. OSIS akan tampil sebagai penggerak apabila para pembina, pengurus mampu membawa OSIS selalu dapat menyesuaikan dan memenuhi kebutuhan yang diharapkan, yaitu menghadapi perubahan, memiliki daya tangkal

terhadap ancaman, memanfaatkan peluang dan perubahan, dan yang paling penting memberikan kepuasan kepada anggota. Dengan bahasa manajemen OSIS mampu memainkan fungsi intelektual, yaitu mampu meningkatkan keberadaan OSIS baik secara internal maupun eksternal.

Apabila OSIS dapat berfungsi demikian sekaligus OSIS berhasil menampilkan peranannya sebagai motivator.

 

  1. c.       Peranan yang bersifat preventif

Apabila peran yang bersifat intelek dalam arti secara internal OSIS dapat menggerakkan sumber daya yang ada secara eksternal OSIS mampu mengadaptasi dengan lingkungan, seperti : menyelesaikan persoalan perilaku menyimpang siswa dan sebagainya. Dengan demikian secara preventif OSIS berhasil ikut mengamankan sekolah dari segala ancaman yang datang dari dalam maupun dari luar. Peranan Preventif OSIS akan terwujud apabila peranan OSIS sebagai pendorong lebih dahulu harus dapat diwujudkan.

Melalui peranan OSIS tersebut dapat ditarik beberapa manfaat sebagai berikut:

  1. Meningkatkan nilai-nilai ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
  2. Meningkatkan kesadaran berbangsa, bernegara, dan cinta tanah air,
  3. Meningkatkan kepribadian dan budi pekerti luhur.
  4. Meningkatkan kemampuan berorganisasi, pendidikan politik dan kepemimpinan.
  5. Meningkatkan ketrampilan, kemandirian dan percaya diri.
  6. Meningkatkan kesehatan jasmani dan rohani.
  7. Menghargai dan menjiwai nilai-nilai seni, meningkatkan dan mengembangkan kreasi seni.

 

  1. B.     Aktifitas Organisasi Kesiswaan
  2. 1.      Tujuan dan Ruang Lingkup Ekstrakulikuler

Tujuan pelaksanaan kegiatan ekstrakulikuler menurut Direktorat Pembinaan Kesiswaan Dikmenum (1996) adalah untuk lebih menetapkan pembentukan kepribadian dan untuk lebih mengaitkan antara pengetahuan yang diperoleh dalam program kurikulum dengan keadaan dan kebutuhan lingkungan.

Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan dalam Suryosubroto (2009:288) lebih rinci lagi memaknai kegiatan ekstrakulikuler sebagai berikut :

  1. Kegiatan ekstrakulikuler harus dapat meningkatkan kemampuan siswa beraspek kognitif, afektif, dan psikomotor.
  2. Mengembangkan bakat dan minat siswa dalam upaya pembinaan pribadi menuju pembinaan manusia seutuhnya yang positif.
  3. Dapat mengetahui, mengenal serta membedakan antara hubungan satu pelajaran dengan mata pelajaran lainnya.

Sedangkan ruang lingkup kegiatan ekstrakulikuler ditegaskan oleh Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan adalah harus berpangkal pada kegiatan yang dapat menunjang serta dapat mendukung program intrakulikuler dan program kokurikuler.

 

  1. 2.      Kebijakan Tentang Ekstrakulikuler

Menurut Kamus umum Bahasa Indonesia, kegiatan diartikan sebagai aktivitas, keaktivitasan : usaha yang sangat giat ( Poerwodarminto, 2002). Ekstrakulikuler dalam kamus Besar Bahasa Indonesia mempunyai arti kegiatan yang bersangkutan di luar kurikulum atau di luar susunan rencana pelajaran (Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1989).

Sedangkan menurut kamus maya Wikipedia, disebutkan : Extracurricular activities are activities porformad by standarts that fall out side the realm of the normal curriculum of school or university educations. Extracurricular activities exist at all levels of education, from 4th-6th, junior high/middle school, high school, college and university education. (http://id.wikipedia.org/wiki/extracurriculer).

Kegiatan ekstrakulikuler ditunjukkan agar siswa atau mahasiswa dapat mengembangkan kepribadian, bakat dan kemampuan diberbagai bidang di luar bidang akademik.

Kegiatan ekstrakulikular pada masa lalu itu dilakukan dengan berlandasan pada Surat Keputusan (SK) Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendibud) No. 0461/U/1964 dan Surat Keputusan (SK) Direktur Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah (Dirjen Dikdasmen) No. 226/C/kep/0/1992. Dinyatakan bahwa kegiatan ekstrakulikuler merupakan salah satu jalur pembinaan kesiswaan di samping jalur Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), Latihan Kepemimpinan dan Wawasan Wiyatamandala.

 

  1. 3.      Kegiatan Ekstrakulikuler

Kegiatan ekstrakulikuler terdapat delapan macam, yaitu :

  1. Kegiatan pembinaan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, seperti memperingati hari-hari besar keagamaan.
  2. Kegiatan pembinaan kehidupan berbangsa dan bernegara, seperti melakukan bakti social.
  3. Kegiatan pembinaan Pendidikan pendahuluan Bela Negara, seperti melakukan wisata siswa (study tour) dan kelestarian lingkungan alam.
  4. Kegiatan pembinaan kepribadian dan budi pekerti luhur, seperti melakukan pedoman penghayatan dan pengamalam pancasila.
  5. Kegiatan pembinaan berorganisasi, pendidikan politik dan kepemimpinan, seperti OSIS.
  6. Kegiatan pembinaan keterampilan dan kewirausahaan, seperti meningkatkan usaha koperasi sekolah.
  7. Kegiatan pembinaan kesegaran jasmani dan daya kreasi, seperti menyelenggarakan lomba berbagai macam olah raga.
  8. Kegiatan pembinaan persepsi, apersepsi dan kreasi seni, seperti mementaskan hasil berbagai cabang seni.
  9. 4.      Pengembangan Soft Skills melalui Ekstrakulikuler di Sekolah

Sekolah perlu membekali siswanya dengan pendidikan kecakapan hidup (life skills) dengan membina dan mengembangkan berbagai keterampilan dasar (soft skills). Siswa yang mengikuti soft skills akan memperoleh banyak keterampilan. Menurut Klaus (2007:2) soft skills meliputi personal (kepribadian) Yaitu mempunyai sikap sosal, komunikasi dan manajement tingkah laku sendiri yang meliputi kemampuan dan sifat bawaan seperti kesadaran diri, tanggung jawab, kepemimpinan, pola pikir kritis, sikap, inisiatif, memecahkan masalah, mau mengambil resiko, percaya diri, empati, dan lain sebagainya.

Klaus (2007:2) membedakan antara soft skills dengan hard skills, yaitu hard skill adalah kemampuan teknik dan pengetahuan nyata (factual) yang diperlukan oleh suatu pekerjaan, sedangkan soft skills akan lebih efektif bila diaplikasikan dalam suatu pekerjaan.

Kegiatan ekstrakulikuler dimaksudkan untuk lebih memantapkan pembentukan kepribadian dan lebih untuk meningkatkan antara pengetahuan yang diperoleh dalam program kurikulum dengan keadaan dan kebutuhan lingkungan. (Petunjuk Teknis Kegiatan Ekstrakulikuler.1996:353)

 

 

 

 

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

 

  1. A.    Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 15 November 2011 sampai 22 November 2011 di SMK Negeri 3 Kota Tangerang Jalan Mochammad Yammin S.H.

 

  1. B.     Metode Penelitian

Metode yang peneliti gunakan adalah metode deskriptif analisis yaitu penelitian yang bertujuan untuk menggambarkan keadaan, status fenomena secara sistematis, aktual dan akurat untuk memperoleh data yang lengkap.

 

  1. C.    Populasi dan Sampel

Populasi adalah keseluruhan objek penelitian. Dalam penelitian ini, peneliti mengambil populasi yaitu semua siswa yang belajar di SMK Negeri 3 Kota Tangerang.

Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Dalam penelitian ini yang dijadikan sampel oleh peneliti adalah siswa kelas XII Teknik Komputer dan Jaringan yang berjumlah 32 siswa.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Abudin Nata. 2007. Manajemen Pendidikan. Jakarta:Kencana Prenada Media Group.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 2008. tentang Pembinaan Kesiswaan.

Depdikbud. 1998. Petunjuk  Pelaksanaan Kegiatan Ekstrakulikuler sebagai Salah Satu Jalur Pembinaan Kesiswaan. Jakarta:Departemen Pendidikan dan Kebudayaan:Dirjend Diksdasmen.

http://id.wikipedia.org/wiki/extracurricular

 

 


Assalamu’alaikum Wr. Wb

It’s Me …………..

Terimakasih telah berkunjung ke blog sederhana ku,
berkunjunglah kembali dan jangan lupa komentari setiap karya tulisan ku.
Salam Kenal.

My Kalender

Juli 2017
M S S R K J S
« Mar    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 2.040 pengikut lainnya

My Arsip

Hours & Info

021-92833529
masuk kerja : 06.30
pulang kerja : 14.00
kuliah : 18.30 - 22.00

My Instagram

Pembukaan MOS
Wefie an dulu kita👏👏
#annuqthahboardingschool
Nanangpati's Blog

AL I'TIMADU 'ALAN NAFSI ASASUN NAJAH

Pagar Alam dot Com

Berbagi Informasi Pendidikan dan Pembelajaran Matematika

Ruang Keluarga

Problematika & Solusi Teruntuk Pasangan Suami Istr

Irfan Handi

Hanya Ingin Berbagi

PressDesain

Just Wanna Share

Syarifah Umamah

Assalamu'alaikum

Made Nuryadi

Belajar dan Berbagi Seputar Dunia Pendidikan

Welcome to Ufi Luthfiyah Blog's

My Word My WordPress.com

tentang PENDIDIKAN

AKHMAD SUDRAJAT

Dunia Seni & Teknologi

Dengan Seni Hidup Lebih Indah, Dengan Teknologi Hidup Lebih Mudah....