Welcome to Ufi Luthfiyah Blog's

Archive for the ‘Tugas Kuliah’ Category

logo umtNama              :      Ufi Luthfiyah Saeruroh

NPM               :      10.84-202.099

Kelas               :      VII B1

Mata Kuliah    :     Matematika Ekonomi

 

Resume Model Pertumbuhan Penduduk

 1. Pengertian Model Pertumbuhan Penduduk

Pertumbuhan penduduk adalah perubahan populasi sewaktu-waktu, dan dapat dihitung sebagai perubahan dalam jumlah individu dalam sebuah populasi menggunakan “per waktu unit” untuk pengukuran.

Penerapan Deret Ukur yang paling sering digunakan dalam perekonomian adalah dalam hal penaksiran jumlah penduduk. Sebagaimana pernah dinyatakan oleh Malthus, penduduk dunia tumbuh mengikuti pola deret ukur.

2. Rumus Model Pertumbuhan Penduduk

               Pn = P1 R n –1

Keterangan :

P= jumlah penduduk tahun ke n

t   = waktu/periode

 r  = tingkat pertumbuhan per periode

P1 = jumlah penduduk tahun ke 1 (tahun dasar)

Dengan R = 1 +r

3. Kasus – kasus Model Pertumbuhan Penduduk

Kasus 1

Penduduk kota Tangerang berjumlah 1 juta jiwa pada tahun 1991, tingkat pertumbuhannya 4% per tahun. Hitunglah jumlah penduduk kota Tangerang pada tahun 2006. jika mulai tahun 2006 pertumbuhannya menurun menjadi 2,5%, berapa jumlah 11 tahun kemudian?

Penyelesaian :

Diketahui :

P1 = 1 juta

r   = 0,04

R  = 1,04

Ditanyakan : Pn

Jawab :

P tahun 2006/P16

Pn = P1 R n –1

P16 = 1 juta (1,04)15

P16 = 1 juta (1,800943)

P16 = 1.800.943 jiwa

Pada tahun 2006 penduduk Kota Tangerang adalah 1.800.943 jiwa.

Pada Tahun 2006 pertumbuhan menurun 2,5%, berapajumlah 11 tahun kemudian?

Diketahui :

P1 = 1 .800.943

r   = 0,025

R  = 1,025

Ditanyakan : Pn

Jawab :

P 11 tahun kemudian/P11

Pn = P1 R n –1

P11 = 1.800.943(1,025)10

P16 = 2.305.359 jiwa

Maka, 11 tahun kemudian penduduk Kota Tangerang menjadi 2.305.359 jiwa.

Kasus 2

Penduduk kota Serang berjumlah 5 juta jiwa pada tahun 2007. Bila diketahui tingkat pertumbuhan penduduk kota  Serang  2 % per tahun, berapa jumlah penduduk tahun 2013?

Penyelesaian :

Diketahui :

P1 = 5 juta

r   = 0,02

R  = 1,02

Ditanyakan : Pn

Jawab :

P tahun 2013/P7

Pn = P1 R n –1

P7 = 5 juta (1,02)6

P7 = 1 juta (1,126162)

P7 = 5.6 juta jiwa

        Maka, jumlah penduduk Kota Serang adalah 5.6 juta jiwa.

Kasus 3

Penduduk daerah cipondoh berjumlah 100.000 jiwa pada tahun 1990, tingkat pertumbuhannya 5% per tahun. Hitunglah jumlah penduduk daerah cipondoh pada tahun 2000 dan 2013.

Penyelesaian :

Diketahui :

P1 = 100.000 jiwa

r   = 0,05

R  = 1,05

Ditanyakan : Pn

Jawab :

P tahun 2000/P11

Pn = P1 R n –1

P11 = 100.000 (1,05)10

P11 = 100.000 (1,62889)

P11 = 162.889 jiwa

Pertumbuhan penduduk daerah cipondoh pada tahun 2000 menjadi 162.889 jiwa.

Diketahui :

P1 = 100.000 jiwa

r   = 0,05

R  = 1,05

Ditanyakan : Pn

Jawab :

P  tahun 2013 /P24

Pn = P1 R n –1

P24 = 100.000 (1,05)23

P24 = 100.000 (3,0715)

P24 = 307.152 jiwa

Maka, pertumbuhan penduduk daerah cipondoh pada tahun 2013 menjadi 307.152 jiwa.

4. Daftar Pustaka

Dumairy.1999.Matematika Terapan Untuk Bisnis dan Ekonomi. Yogyakarta : BPEE

http://id.wikipedia.org/wiki/Pertumbuhan_penduduk

http://id.scribd.com/doc/28019135/Penerapa-Barisan-Dan-Deret-a-Model-Perkembangan

Iklan

TPS

Bab I

Pendahuluan

1.      Latar Belakang

Peranan matematika dalam pengembangan IPTEK sangat besar. Hal tersebut dapat dilihat dalam perhitungan kuantitatif fenomena kehidupan sehari-hari. Belajar matematika tidak sekedar learning to know, melainkan harus ditingkatkan meliputi learning to do, learning to be, hingga learning to life together. Oleh karena itu, filosofi pengajaran matematika perlu diperbaharui menjadi pembelajaran matematika. Dalam pengajaran matematika, guru lebih banyak menyampaikan sejumlah ide atau gagasan matematika. Sedangkan dalam pembelajaran matematika, siswa mendapat porsi lebih banyak dibanding dengan guru, bahkan mereka harus dominan dalam kegiatan belajar mengajar.

Sasaran dari pembelajaran matematika adalah siswa diharapkan mampu berpikir logis, kritis dan sistematis, selain itu juga siswa diharapkan lebih memahami keterkaitan antara topik dalam matematika serta manfaat matematika bagi bidang lain. Berbagai faktor yang mempengaruhi hasil belajar matematika siswa, salah satunya adalah model pembelajaran kooperatif yang dipergunakan guru dalam mengajar. Model pembelajaran kooperatif muncul dari konsep bahwa siswa lebih mudah menemukan dan memahami konsep jika terjadi diskusi antar siswa. pembelajaran kooperatif disusun untuk meningkatkan partisipasi siswa, melalui pemberian pengalaman sikap kepemimpinan dan membuat keputusan dalam kelompok, serta memberikan kesempatan pada siswa untuk berinteraksi dan belajar. Think Pair Share (TPS) termasuk salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa.

Pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share akan menciptakan kondisi lingkungan di dalam kelas yang saling mendukung melalui belajar secara kooperatif dalam kelmpok kecil, serta diskusi kelompok dalam kelas. Aktivitas pembelajaran kooperatif menekankan pada kesadaran siswa perlu belajar untuk mengaplikasikan pengetahuan, konsep, keterampilan tersebut kepada siswa yang membutuhkan dan setiap siswa merasa senang menyumbangkan pengetahuannya kepada anggota lain dalam kelompoknya. Dan pembelajaran kooperatif tipe TPS memberi siswa waktu lebih banyak untuk berfikir, menjawab, dan saling membantu, satu sama lain.

2.      Rumusan Masalah

Adapun beberapa masalah yang dapat kami rumuskan antara lain:

1.      Apa pengertian dari model pembelajaran kooperatif tipe TPS?

2.      Apa saja komponen dalam model pembelajaran kooperatif tipe TPS?

3.      Mengapa harus menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TPS?

4.      Apa kelebihan dan kelemahan dari model pembelajaran kooperatif tipe TPS?

5.      Apa saja langkah-langkah dalam penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TPS?

3.      Tujuan

1.      Mendiskripsikan pengertian dari model pembelajaran kooperatif tipe TPS

2.      Mendiskripsikan komponen dalam model pembelajaran kooperatif tipe TPS

3.      Mendiskripsikan alasan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TPS

4.      Mendiskripsikan kelebihan dan kelemahan dari model pembelajaran kooperatif tipe TPS

5.      Mendiskripsikan langkah-langkah dalam penerapan pembelajaran kooperatif tipe TPS

Bab II

Pembahasan

1.      Pengertian model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS)

Pembelajaran kooperatif tipe TPS merupakan pembelajaran kelompok dimana siswa diberi kesempatan untuk berfikir mandiri dan saling membantu dengan teman yang lain. Pembelajaran Think Pair Share merupakan model pembelajaran kooperatif dengan pendekatan struktural. Pendekatan ini memberi penekanan pada penggunaan struktur tertentu yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa.

 Think Pair Share merupakan suatu cara yang efektif untuk membuat variasi suasana pola diskusi kelas. Pembelajaran TPS membimbing siswa untuk memiliki tanggung jawab individu dan tanggung jawab dalam kelompok atau pasangannya. Prosedur tersebut telah disusun dan dibentuk sedemikian rupa sehingga dapat memberikan waktu yang lebih banyak kepada siswa untuk dapat berpikir dan merespon yang nantinya akan membangkitkan partisipasi siswa. Pelaksanaan Think Pair Share meliputi tiga tahap yaitu Think (berpikir), Pairing (berpasangan), dan Sharing (berbagi). TPS memiliki keistimewaan, yaitu siswa selain bisa mengembangkan kemampuan individunya sendiri, juga bisa mengembangkan kemampuan berkelompoknya serta keterampilan atau kecakapan sosial.

Keterampilan sosial dalam proses pembelajaran tipe TPS antara lain:

1.      Keterampilan sosial siswa dalam berkomunikasi meliputi dua aspek, yaitu:

  • Aspek bertanya

Aspek bertanya meliputi keterampilan sosial siswa dalam hal bertanya kepada teman dalam satu kelompoknya ketika ada materi yang kurang dimengerti serta bertanya pada diskusi kelas.

  • Aspek menyampaikan ide atau pendapat

Meliputi keterampilan siswa menyampaikan pendapat saat diskusi kelompok serta berpendapat (memberikan tanggapan atau sanggahan) saat kelompok lain presentasi.

2.      Keterampilan sosial aspek bekerjasama

Keterampilan sosial siswa pada aspek yang bekerjasama meliputi keterampilan sosial siswa dalam hal bekerjasama dengan teman dalam satu kelompok untuk menyelesaikan soal yang diberikan oleh guru.

3.      Keterampilan sosial aspek menjadi pendengar yang baik

Keterampilan sosial siswa pada aspek menjadi pendengar yang baik yaitu keterampilan dalam hal mendengarkan guru, teman dari kelompok lain saat sedang presentasi maupun saat teman dari kelompok lain berpendapat.

2.      Komponen pembelajaran kooperatif tipe TPS

Pembelajaran Think Pair Share mempunyai beberapa komponen, yaitu

      Think (berpikir)

Pelaksanaan pembelajaran TPS diawali dari berpikir sendiri mengenai pemecahan suatu masalah. Tahap berpikir menuntut siswa untuk lebih tekun dalam belajar dan aktif mencari referensi agar lebih mudah dalam memecahkan masalah atau soal yang diberikan guru.

      Pair (berpasangan)

Setelah diawali dengan berpikir, siswa kemudian diminta untuk mendiskusikan hasil pemikirannya berpasangan. Tahap diskusi merupakan tahap menyatukan pendapat masing-masing siswa guna memperdalam pengetahuan mereka. Diskusi dapat mendorong siswa untuk aktif menyampaikan pendapat dan mendengarkan pendapat orang lain dalam kelompok, serta mampu bekerja sama dengan orang lain.

      Share (berbagi)

Setelah mendiskusikan hasil pemikirannya, pasangan-pasangan siswa yang ada diminta untuk berbagi hasil pemikiran yang telah dibicarakan bersama pasangannya masing-masing kepada seluruh kelas. Tahap berbagi menuntut siswa untuk mampu mengungkapkan pendapatnya secara bertanggung jawab, serta mampu mempertahankan   pendapat yang telah disampaikannya.

3.      Alasan mengguanakan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share

Beberapa alasan mengapa kita perlu menggunakan TPS sebagai berikut :

1.      TPS membantu menstrukturkan diskusi (menyusun diskusi dengan pola tertentu).

2.      TPS meningkatkan partisipasi siswa dan meningkatkan banyaknya informasi yang dapat diingat siswa.

3.      TPS meningkatkan lamanya “Time On Task” (waktu pengerjaan permasalahan) dalam kelas dan kualitas kontribusi dalam diskusi kelas.

4.      Siswa dapat meningkatkan kecakapan sosial hidup mereka.

(kecakapan sosial siswa selama proses pembelajaran yang diamati, meliputi: bertanya, kemampuan bekerjasama dalam berkelompok, menyampaikan ide atau berpendapat, menjadi pendengar yang baik.)

4.      Kelebihan dan kekurangan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share

Model pembelajaran kooperatif tipe TPS, siswa dapat terlibat aktif dalam diskusi atau bekerjasama dengan temannya. Hal ini dikarenakan bahwa tipe TPS, kelompok diskusi tidak terlalu banyak yang terdiri dari 2 orang siswa (kelompok kecil) setiap kelompoknya dan diskusi dengan 2 orang siswa lebih efektif dibandingkan dengan diskusi kelompok yang terdiri dari 4-5 orang siswa.

Kelebihan dari metode TPS yaitu dapat meningkatkan rasa percaya diri, dan memudahkan siswa dalam berkomunikasi sehingga memperlancar jalannya diskusi. Selain itu dikemukakan juga kelebihan dan kekurangan menurut Hartina (2008), yaitu sebagai berikut:

Ø  Kelebihan model pembelajaran koperatif tipe TPS menurut Hartina (2008:12) antara lain sebagai berikut:

1.    Memungkinkan siswa untuk merumuskan dan mengajukan pertanyaan-pertnyaan mengenai materi yang diajarkan karena secara tidak langsung memperoleh contoh pertanyaan yang diajukan oleh guru, serta memperoleh kesempatan untuk memikirkan materi yang diajarkan.

2.    Siswa akan terlatih menerapkan konsep karena bertukar pendapat dan pemikiran dengan temannya untuk mendapatkan kesepakatan dalam memecahkan masalah.

3.    Siswa lebih aktif dalam pembelajaran karena menyelesaikan tugasnya dalam kelompok, dimana tiap kelompok hanya terdiri dari 2 orang.

4.    Siswa memperoleh kesempatan untuk mempresentasikan hasil diskusinya dengan seluruh siswa sehingga ide yang ada menyebar.

5.    Memungkinkan guru untuk lebih banyak memantau siswa dalam proses pembelajaran.

Ø  Adapun kelemahan model pembelajaran kooperatif tipe TPS dikemukakan oleh Hartinah (2008:12) adalah sangat sulit diterapkan disekolah yang rata-rata kemampuan siswanya rendah dan waktu yang terbatas, sedangkan jumlah kelompok yang terbentuk banyak.

Hal yang senada juga diungkapkan oleh Lie (2005:46), kekurangan dari kelompok berpasangan (kelompok yang terdiri dari 2 orang siswa adalah sebagai berikut:

1.      Banyak kelompok yang melapor dan perlu dimonitor

2.      Lebih sedikit ide yang muncul

3.      Jika ada perselisihan, tidak ada penengah

Langkah-langkah dalam penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share

Langkah-langkah dalam pembelajaran Think Pair Share pada umumnya adalah:

a.      Pendahuluan

Fase1: Persiapan

1.      Guru melakukan apersepsi

2.      Guru menjelaskan tentang pembelajaran TPS

3.      Guru menyampaikan tujuan pembelajaran

4.      Guru memberikan motivasi

b.      Kegiatan inti

Fase 2: pelaksanaan pembelajaran tipe TPS

Langkah pertama

1.      Menyampaikan pertanyaan : Guru menyampaikan pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang akan disampaikan.

2.      Siswa memperhatikan/mendengarkan dengan aktif penjelasan dan pertanyaan dari guru.

Langkah kedua

1.      Berpikir : siswa berpikir secara individual.

2.      Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk memikirkan jawaban dari permasalahan yang disampaikan oleh guru. Langkah ini dapat dikembangkan dengan meminta siswa untuk menuliskan hasil pemikiran masing-masing.

Langkah ketiga

1.      Berpasangan : setiap siswa mendiskusikan hasil pemikiran masing-masing dengan pasangan.

2.      Guru mengorganisasikan siswa untuk berpasangan dan memberi kesempatan kepada siswa untuk mendiskusikan jawaban yang menurut mereka paling benar atau meyakinkan. Guru memotivasi siswa untuk aktif dalam kerja kelompoknya. Pelaksanaan model ini dapat dilengkapi dengan LKS sebagai lembar kerja, kumpulan soal latihan atau pertanyaan yang dikerjakan secara kelompok.

Langkah keempat

1.      Berbagi : siswa berbagi jawaban mereka dengan seluruh kelas.

2.      Siswa mempresentasikan jawaban atau pemecahan masalah secara individual atau kelompok didepan kelas. Individu/kelompok yang lain diberi kesempatan untuk bertanya atau memberikan pendapat terhadap hasil diskusi kelompok tersebut.

3.       Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi terhadap hasil pemecahan masalah yang telah mereka diskusikan, dan memberikan pujian bagi kelompok yang berhasil baik dan memberi semangat bagi kelompok yang belum berhasil dengan baik (jika ada).

Fase 3 : Penutup

1.      Dengan bimbingan guru siswa membuat simpulan dari materi yang telah didiskusikan.

2.      Guru memberikan evaluasi atau latihan soal mandiri.

3.      Siswa diberi PR dari buku paket/LKS, atau mengerjakan ulang soal evaluasi

Bab III

Penutup

Simpulan

Pembelajaran Think Pair Share merupakan suatu cara yang efektif untuk membuat variasi suasana pola diskusi kelas. Pembelajaran kooperatif tipe TPS merupakan pembelajaran kelompok dimana siswa diberi kesempatan untuk berfikir mandiri dan saling membantu dengan teman yang lain.

Pembelajaran TPS membimbing siswa untuk memiliki tanggung jawab individu dan tanggung jawab dalam kelompok atau pasangannya. Prosedur tersebut telah disusun dan dibentuk sedemikian rupa sehingga dapat memberikan waktu yang lebih banyak kepada siswa untuk dapat berpikir dan merespon yang nantinya akan membangkitkan partisipasi siswa.

Pelaksanaan Think Pair Share meliputi tiga tahap yaitu Think (berpikir), Pairing (berpasangan), dan Sharing (berbagi).

Saran

1.      Pembelajaran kooperatif tipe TPS dapat digunakan sebagai pembelajaran alternatif untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam memecahkan masalah.

2.      Dalam proses pembelajaran masih memerlukan adanya perbaikan yaitu guru dapat lebih memberikan pengarahan kepada kelompok dan kepada tiap individu yang masih mengalami kesulitan, melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran dan memotivasi siswa agar siswa antusias dalam pembelajaran sehingga suasana kelas menjadi lebih tertib, terkendali, dan kondusif.

UPAYA MENINGKATKAN PEMAHAMAN MATERI DIMENSI TIGA MELALUI PENGGUNAAN MEDIA VISUAL PADA SISWA KELAS X SMA NURUL IMAN

logo umt

DISUSUN OLEH :

1.      EKA WIDYANINGSIH                  10.84.202.113
2.      MIZAN ALFURQAN ZAIDI          10.84.202.129
3.      NESTI ELVIA YURINA                 10.84.202.132
4.      SEVTI MULYANI                           10.84.202.091
5.      UFI LUTHFIYAH SAERUROH    10.84.202.099
6.      YUS AISYAH                                   10.84.202.150

 

PENELITIAN TINDAKAN KELAS

 

 

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

PRODI PENDIDIKAN MATEMATIKA

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH TANGERANG

2013

————————————————————————————————

BAB I

PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang

Pendidikan sebagai salah satu aspek dalam meningkatkan sumber daya manusia terus diperbaiki dan direnovasi. Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap tempat yang memiliki jumlah populasi manusia pasti membutuhkan pendidikan. Perkembangan zaman sekarang ini, menuntut peningkatan kualitas individu. Sehingga dimanapun ia berada dapat digunakan setiap saat. Hal ini tentunya tidak lepas dari peran pendidikan terus diperhatikan dan ditingkatkan dengan berbagai cara, diantaranya mengeluarkan undang-undang sistem pendidikan nasional, mengesahkan undang-undang kesejahteraan guru serta mengadakan perubahan kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan zaman.

Pembelajaran Matematika umumnya didominasi oleh pengenalan rumus-rumus serta konsep-konsep secara verbal, tanpa ada perhatian yang cukup terhadap pemahaman siswa. Disamping itu proses belajar mengajar hampir selalu berlangsung dengan metode “chalk and talk” guru menjadi pusat dari seluruh kegiatan di kelas (Somerset, 1997 dalam Sodikin, 2004:1).

Pada umumnya, sekelompok siswa beranggapan bahwa mata pelajaran matematika sulit difahami. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: Pertama, siswa kurang memiliki pengetahuan prasyarat serta kurang mengetahui manfaat pelajaran matematika yang ia pelajari. Kedua, daya abstraksi siswa kurang dalam memahami konsep-konsep matematika yang bersifat abstrak.

Dari pengalaman peneliti dalam memberikan pembelajaran matematika kepada siswa selama ini, sebagian besar siswa sulit memahami materi dimensi tiga, khususnya tentang luas permukaan dan volume dengan cara klasikal. Meskipun peneliti sudah berupaya membimbing siswa dalam memahami dimensi tiga dengan cara menunjukkan sketsa gambar, namun hasil belajar siswa belum sesuai dengan yang diharapkan, yaitu masih banyak siswa yang nilainya kurang dari standar ketuntasan belajar minimal.

Menurut Dienes (dalam Ruseffendi, 1980:134) menyatakan bahwa setiap konsep matematika dapat difahami dengan mudah apabila kendala utama yang menyebabkan anak sulit memahami dapat dikurangi atau dihilangkan. Dienes berkeyakinan bahwa anak pada umumnya melakukan abstraksi berdasasarkan intuisi dan pengalaman kongkrit, sehingga cara mengajarkan konsep-konsep matematika dapat dilakukan dengan menggunakan bantuan objek kongkrit.

Dengan demikian, dalam mengajarkan matematika perlu adanya benda-benda kongkrit yang merupakan model dari ide-ide matematika, yang selanjutnya disebut sebagai alat peraga sebagai alat bantu pembelajaran. Alat bantu pembelajaran ini digunakan dengan maksud agar anak dapat mengoptimalkan panca inderanya dalam proses pembelajaran, mereka dapat melihat, meraba, mendengar, dan merasakan objek yang sedang dipelajari.Untuk mengatasi masalah di atas, perlu diadakan penelitian tindakan kelas tentang penggunaan media visual atau alat peraga dalam pembelajaran materi dimensi tiga suatu bidang dengan power point. Dengan serangkaian tindakan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, sampai dengan evaluasi, diharapkan dapat meningkatkan pemahaman siswa dalam memahami materi irisan suatu bidang dengan bangun ruang.

B.       Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat diidentifikasikan masalah sebagai berikut:

  1. Apa permasalahan siswa kurang paham dalam materi Dimensi Tiga?
  2. Apakah siswa memahami bangun ruang jika tidak memakai media?
  3. Bagaimana pemahaman siswa jika menggunakan media visual?
  4. Apakah siswa lebih memahami jika diberikan sesuatu yang konkrit?
  5. Apa hubungan antara pemahaman siswa dalam penggunaan media visual dengan hasil belajar siswa pada materi Dimensi Tiga?
  6. Bagaimana penggunaan media visual dalam memahami materi Dimensi Tiga?

C.      Pembatasan Masalah

Peneliti membatasi masalah penelitian pada usaha untuk mencari jawaban atas identifikasi masalah yang diajukan. Batasan masalah yang dirumuskan adalah “penggunaan media visual dalam meningkatkan pemahaman siswa pada materi dimensi tiga”.

D.      Rumusan Masalah

Pada identifikasimasalah yang telah dibuat peneliti dapat merumuskan masalah sebagai berikut : “Bagaimana penggunaan media visual dalam memahami materi Dimensi Tiga pada siswa kelas X SMA NURUL IMAN RAJEG?”.

E.       Tujuan Penelitian

Sesuai dengan permasalahan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang Dimensi Tiga dengan menggunakan media visual.

F.       Manfaat Penelitian

Penelitian ini dapat bermanfaat bagi :

  1. Bagi siswa, penelitian ini dapat mempermudah siswa dalam memahami materi dimensi tiga dan meningkatkan motivasi belajar.
  2. Bagi peneliti, penelitian ini sebagai wahana peningkatan profesionalisme guru yang akan berdampak pada kualitas pendidikan di sekolah
  3. Bagi guru lain, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai rujukan untuk menambah wawasan dalam menentukan strategi dan metode pembelajaran yang sesuai dengan materi pelajaran.
  4. Bagi sekolah, penelitian ini dapat membantu meningkatkan kualitas hasil belajar, khususnya pelajaran matematika, sehingga secara langsung dapat meningkatkan kualitas pendidikan dan out put sekolah.

G.       Definisi Operasional

Teori Belajar Matematika

Menurut Witherington (Udin S Winatapura, 2007:1.5) dalam buku Educational Psychology, mengemukakan bahwa belajar adalah suatu perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru dari pada reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian atau suatu pengertian.

Pengertian Pembelajaran

Pembelajaran adalah upaya untuk menciptakan iklim dan pelayanan terhadap kemampuan,potensi,minat,bakat dan kebutuhan peserta didik yang beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dengan siswa serta antara siswa dengan siswa (Suyitno,2004:1).

Media Pembelajaran

Menurut H.W. Fowler (suyotno,2000:10) matematika adalah ilmu mempelajari tentang bilangan dan ruang yang bersifat abstrak sehingga untuk menunjang pelancaran pembelajaran disamping pemilihan metode yang tepat juga perlu digunakan suatu media pembelajaran yang sangat berperan dalam membimbing abstarksi siswa (Suyitno,2000:37).

Penggunaan media visual

Media visual dapat memperlancar pemahaman dan memperkuat ingatan. Agar menjadi efektif , visual sebaiknya ditempatkan pada konteks yang bermakna dan siswa harus berinteraksi dengan visual untuk meyakinkan terjadinya proses informasi.

———————————————————————————————

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

 

Sebagai landasan dalam merencanakan dan melaksanakan penelitian tindakan kelas akan diuraikan secara berturut – turut, yaitu (1) belajar, (2) pembelajaran, (3) media pembelajaran dan (4) media visual .

A.       Kajian Teori

1.         Pengertian Belajar

Belajar adalah proses yang dilakukan oleh manusia untuk mendapatkan aneka ragam competencies, skill, attitudes (competencies), keterampilan (skill), dan sikap (attitudes) tersebut diperoleh secara bertahap dan berkelanjutan mulai dari masa bayi sampai masa tua melalui rangkaian proses belajar belajar sepanjang hayat. Sedangkan menurut Witherington (Udin S Winatapura, 2007:1.5) dalam buku Educational Psychology, mengemukakan bahwa belajar adalah suatu perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru dari pada reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian atau suatu pengertian[1].

Belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada semua orang dan berlangsung seumur hidup, sejak dia masih bayi hingga ke liang lahat nanti. Proses belajar dapat terjadi kapan saja dimana saja terlepas dari ada yang mengajar atau tidak. Proses belajar terjadi karena adanya interaksi individu dengan lingkungannya[2].

Menurut Moh. Surya (1997), “Belajar dapat diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya”.

Salah satu pertanda bahwa seseorang telah belajar adalah adanya perubahan tingkah laku dalam dirinya, perubahan perilaku tersebut menyangkut perubahan yang bersifat pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotor) ataupun yang menyangkut nilai dan sikap (afektif).

Dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses yang dilakukan oleh manusia yang berlangsung seumur hidup yang terjadi karena adanya interaksi dengan lingkungan dan keterlibatannya dalam pendidikan formal maupun informal.

2.         Pengertian Pembelajaran

Pembelajaran merupakan kegiatan yang dilakukan menginisiasi, memfasilitasi dan meningkatkan intensitas dan kualitas belajar pada diri peserta didik.[3]

Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses perolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik.

Di sisi lain pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan pengajaran, tetapi sebenarnya mempunyai konotasi yang berbeda. Pengajaran merupakan salah satu aspek dari pendidikan, yaitu aspek pengetahuan (kognitif). Pengajaran memberikan ketrampilan dan pengetahuan, sedangkan pendidikan membimbing anak ke arah kehirupan yang baik dan benar[4]. Dalam konteks pendidikan, guru mengajar agar peserta didik dapat belajar dan menguasai isi pelajaran hingga mencapai sesuatu objektif yang ditentukan (aspek kognitif), juga dapat memengaruhi perubahan sikap (aspek afektif), serta keterampilan (aspek psikomotor) seorang peserta didik, namun proses pengajaran ini memberi kesan hanya sebagai pekerjaan satu pihak, yaitu pekerjaan pengajar saja. Sedangkan pembelajaran menyiratkan adanya interaksi antara pengajar dengan peserta didik.

Pembelajaran yang berkualitas sangat tergantung dari motivasi pelajar dan kreatifitas pengajar. Pembelajar yang memiliki motivasi tinggi ditunjang dengan pengajar yang mampu memfasilitasi motivasi tersebut akan membawa pada keberhasilan pencapaian target belajar. Target belajar dapat diukur melalui perubahan sikap dan kemampuan siswa melalui proses belajar. Desain pembelajaran yang baik, ditunjang fasilitas yang memandai, ditambah dengan kreatifitas guru akan membuat peserta didik lebih mudah mencapai target belajar.

Dapat ditarik kesimpulan bahwa pembelajaran adalah tindakan yang dilakukan secara sengaja oleh guru untuk membuat siswa belajar, yaitu terjadinya perubahan aspek pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotor) ataupun yang menyangkut nilai dan sikap (afektif) yang melibatkan interaksi antara pengajar dan peserta didik.

3.         Pengertian Media Pembelajaran

Media pembelajaran merupakan salah satu komponen penting dalam mencapai keberhasilan dalam proses pembelajaran. Dalam kamus Inggris-Indonesia disebutkan bahwa media memilki arti yang sama dengan medium yang mengandung beberapa arti antara lain adalah sebagai berikut:

  1. Perantara
  2. Perantaraan[5]

Sehingga dapat kita pahami bahwa media pembelajaran adalah sesuatu yang dapat dijadikan sarana penghubung untuk mencapai pesan yang harus dicapai oleh siswa dalam kegiatan belajar[6].

Metode mengajar dan media pembelajaran merupakan unsur yang amat penting dalam proses belajar mengajar. Keduanya saling berkaitan. Pemilihan metode yang akan digunakan dalam pembelajaran akan memengaruhi jenis media pembelajaran yang cocok. Salah satu fungsi media pembelajaran adalah sebagai alat bantu mengajar.

Hamalik dalam Azhar Arsyad (2011) mengemukakan bahwa pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar-mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh- pengaruh psikologis terhadap siswa. Selain membangkitkan motivasi dan minat siswa, media pembelajaran juga dapat membantu siswa meningkatkan pemahaman, menyajikan data dengan menarik dan terpercaya, memudahkan penafsiran data, dan memadatkan informasi.

Menurut Kemp & Dayton (1985), media pembelajaran dapat memenuhi tiga fungsi utama apabila media tersebut digunakan untuk perorangan, kelompok, atau kelompok pendengar yang besar jumlahnya, yaitu memotivasi minat, menyajikan informasi, dan memberi instruksi. Fungsi motivasi dapat direalisasikan dengan teknik drama atau hiburan. Untuk tujuan informasi, media pembelajaran dapat digunakan untuk penyajian informasi di hadapan kelompok siswa. Media juga berfungsi untuk tujuan instruksi dimana informasi yang terdapat dalam media itu harus melibatkan siswa baik dalam benak atau mental maupun dalam bentuk aktivitas yang nyata sehingga pembelajaran dapat tercapai.

Levie & Lentz dalam Azhar Arsyad (2011) mengemukakan empat fungsi media pembelajaran, khususnya media visual, yaitu (a) fungsi atensi, (b) fungsi afektif, (c) fungsi kognitif, dan (d) fungsi kompensatoris.

Fungsi atensi, yaitu menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk berkonsentrasi pada isi pelajaran yang berkaitan dengan makna visual yang ditampilkan atau menyertai teks materi pelajaran.

Fungsi afektif media visual dapat terlihat dari tingkat kenikmatan siswa ketika belajar teks yang bergambar.

Fungsi kognitif media visual dapat terlihat dari temuan- temuan penelitian yang mengungkapkan bahwa lambang visual atau gambar memperlancar pencapaian tujuan untuk memahami dan mengingat informasi yang terkandung dalam gambar.

Fungsi kompensatoris, yaitu media pembelajaran berfungsi untuk mengakomodasikan siswa yang lemah dan lambat menerima dan memahami isi pelajaran yang disajikan dengan teks.

Sujana dan Rivai (1990) memberikan alasan mengenai kegunaan media pembelajaran dalam proses belajar mengajar:

  1. Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar;
  2. Bahan pengajaran akan lebih jelas maksudnya, sehingga dapat lebih dipahami oleh para siswa;
  3. Metode mengajar akan lebih bervariasi, sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga;
  4. Siswa lebih banyak melakukan kegiatan, karena tidak hanya mendengarkan uraian guru, tetapi juga mengamati, melaksanakan, mendemonstrasikan, dan lain- lain.

4.         Pengertian Media Visual

Media visual adalah media yang memberikan gambaran menyeluruh dari yang konkrit sampai dengan abstrak. Jadi dapat diambil kesimpulan bahwa media visual merupakan salah satu media untuk pembelajaran.

Media visual ini lebih bersifat realistis dan dapat dirasakan oleh sebagian besar panca indera kita terutama oleh indera penglihatan. Media visual ada yang dapat diproyeksikan dan ada pula yang tidak dapat diproyeksikan.

Dalam penggunaannya media visual memiliki manfaat atau kegunaan. Manfaatnya antara lain:

  1. Media bersifat konkrit, lebih realistis dibandingkan dengan media verbal atau non visual sehingga lebih memudahkan dalam pengaplikasiannya.
  2. Beberapa penelitian membuktikan bahwa pembelajaran yang diserap melalui media penglihatan (media visual), terutama media visual yang menarik dapat mempercepat daya serap peserta didik dalam memahami pelajaran yang disampaikan.
  3. Media visual dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki oleh para peserta didik dan dapat melampaui batasan ruang kelas. Melalui penggunaan media visual yang tepat, maka semua obyek itu dapat disajikan kepada peserta didik.
  4. Lebih efiektif dan efisien  dibandingkan media verbal lainnya karena jenisnya yang beragam, pendidik dapat menggunakan semua jenis media visual yang ada. Hal ini dapat menciptakan sesuatu yang variatif, dan tidak membosankan bagi para peserta didiknya.
  5. Penggunaannya praktis, maksudnya media visual ini mudah dioperasikan oleh setiap orang yang memilih media-media tertentu, misalkan penggunaan media Transparansi Overhead Tranparancy (OHT).

Media pembelajaran visual telah terbukti lebih efisien dalam melakukan komunikasi antara pendidik dengan peserta didik. Dapat kita simpulkan bahwa media pembelajaran visual (seperti gambar diam, gambar bergerak, televise, objek tiga dimensi, dan lain-lain) mempunyai hubungan positif yang cukup tinggi. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa media pembelajaran visual merupakan media pembelajaran yang cukup baik dan efisien.

Media pembelajaran visual baiknya digunakan di tempat yang tepat, sesuai dengan jenis medianya. Misalnya, media yang tidak diproyeksikan dapat dilakukan diluar kelas. Hal itu memungkinakan untuk media pembelajaran visual yang berupa benda nyata dan media grafis. Dalam penggunaan media pembelajaran visual berbentuk benda nyata misalnya, dalam pelajaran biologi kita dapat menggunakan tumbuhan diluar kelas sebagai media pembelajaran visual. Media grafis dan model pun bisa digunakan diluar kelas, apabila media tersebut memungkinkan untuk digunakan diluar kelas.

Sedangkan untuk media pembelajaran yang diproyeksikan, tempat yang tepat adalah di dalam kelas. Mengingat kebutuhannya akan alat-alat yang cukup berat, dan dibutuhkannya aliran listrik, tentu penggunaan media pembelajaran visual yang diproyeksikan ini lebih baik digunakan di dalam kelas.

Cara pemilihan media visual yang tepat adalah :

  1. Media yang digunakan harus memperhatikan konsep pembelajaran atau tujuan dari pembelajaran.
  2. Memperhatikan karakteristik dari media yang akan digunakan ,apakah sesuai dengan situasi dan kondisi yang tepat guna.
  3. Tepat sasaran kepada peserta didik yang sesuai degan kebutuhan zaman.
  4. Waktu , tempat , ketersediaan  dan biaya yang digunakan.
  5. Pilihlah media visual yang menguntungkan agar lebih menarik,variatif, mudah diingat dan tidak membosankan sesuai dengan konteks penggunaannya.

Macam-macam Media Visual

a.        Media yang tidak diproyeksikan

  1. Media realita adalah benda nyata. Benda tersebut tidak harus dihadirkan di ruang kelas, tetapi siswa dapat melihat langsung ke obyek. Kelebihan dari media realita ini adalah dapat memberikan pengalaman nyata kepada siswa
  2. Model adalah benda tiruan dalam wujud tiga dimensi yang merupakan representasi atau pengganti dari benda yang sesungguhnya. Penggunaan model untuk mengatasi kendala tertentu sebagai pengganti realia.
  3. Media grafis tergolong media visual yang menyalurkan pesan melalui simbol-simbol visual. Fungsi dari media grafis adalah menarik perhatian, memperjelas sajian pelajaran, dan mengilustrasikan suatu fakta atau konsep yang mudah terlupakan jika hanya dilakukan melalui penjelasan verbal. Jenis-jenis media grafis adalah:

a)      Gambar / foto merupakan media yang paling umum digunakan.

b)      Sketsa adalah gambar sederhana atau draft kasar yang melukiskan bagian pokok tanpa detail. Dengan sketsa dapat menarik perhatian siswa, menghindarkan verbalisme, dan memperjelas pesan.

c)      Diagram / skema: gambar sederhana yang menggunakan garis dan simbol untuk menggambarkan struktur dari obyek tertentu secara garis besar.

d)     Bagan / chart : menyajikan ide atau konsep yang sulit sehingga lebih mudah dicerna siswa. Selain itu bagan mampu memberikan ringkasan butir-butir penting dari penyajian. Dalam bagan sering dijumpai bentuk grafis lain, seperti: gambar, diagram, kartun, atau lambang verbal.

e)      Grafik yaitu gambar sederhana yang menggunakan garis, titik, simbol verbal atau bentuk tertentu yang menggambarkan data kuantitatif.

b.        Media proyeksi

  1. Transparansi OHP merupakan alat bantu mengajar tatap muka sejati, sebab tata letak ruang kelas tetap seperti biasa, guru dapat bertatap muka dengan siswa (tanpa harus membelakangi siswa). Perangkat media transparansi meliputi perangkat lunak (Overhead transparancy / OHT) dan perangkat keras (Overhead projector / OHP). Teknik pembuatan media transparansi, yaitu:
  • Mengambil dari bahan cetak dengan teknik tertentu
  • Membuat sendiri secara manual
  1. Film bingkai / slide adalah film transparan yang umumnya berukuran 35 mm dan diberi bingkai 2X2 inci. Dalam satu paket berisi beberapa film bingkai yang terpisah satu sama lain. Manfaat film bingkai hampir sama dengan transparansi OHP, hanya kualitas visual yang dihasilkan lebih bagus. Sedangkan kelemahannya adalah beaya produksi dan peralatan lebih mahal serta kurang praktis. Untuk menyajikan dibutuhkan proyektor slide.

B.        Kerangka Berfikir

Kondisi awal siswa belum dilakukan pebaikan pembelajaran adalah siswa kurang antusias terhadap pembelajaran, sehingga kemampuan siswa untuk memahami dimensi tiga siswa kelas X SMA Nurul Iman Kecamatan Rajeg Kabupaten Tangerang rendah. Hal ini disebabkan karena pembelajaran yang dilakukan guru masih bersifat konvensional dan guru tidak menggunakan media yang tepat. Sehingga siswa kesulitan untuk memahami materi yang diajarkan.

Pada perbaikan pembelajaran guru menggunakan media visual berupa power point dan alat peraga. Jika menggunakan media visual ini siswa menjadi lebih aktif dan antusias terhadap pembelajaran, bersemangan untuk menyelesaikan soal – soal luas pemukaan dan volume dan menjadi lebih memahami pelajaran setelah digunakan media visual power point dan alat peraga.

Dalam pembelajaran jika menggunakan media ini pada pembelajaran dimensi tiga siswa kelas X SMA Nurul Iman Kecamatan Rajeg Kabupaten Tangerang Tahun Pelajaran 2012 – 2013, maka diduga pemahaman siswa akan meningkat. Berdasarkan uraian di atas maka alur kerangka berfikir dalam penelitian ini disajikan gambar berikuti ini :

kerangka berfikir

Gambar 1. Kerangka Berfikir

 

C.       Hipotesis Tindakan

Berdasarkan kajian teori dan kerangka berfikir di atas, dirumuskan hipotesis tindakan dalam penelitian ini sebagai berikut : “Dengan menggunakan media visual dalam pembelajaran dimensi tiga, maka pemahaman siswa materi dimensi tiga kelas X SMA Nurul Iman Kecamatan Rajeg Kabupaten Tangerang Tahun Pelajaran 2012 – 2013 diduga dapat meningkat”.


[1] Witherington I, Udin S Winatapura “Educational Psycology”, 2007. Hal 1 – 5

[2] Rahardjito, dkk. “Media Pendidikan”, 2010. Hal 2

[3] Udin S Winatapura, “Educational Psychology”, Bandung. Fontana, 2007. Hal 18

[4] Lydia Harlina Martono, Satya Joewana, 2006

[5]Echol, John M., et.al., 1992, Hal 377

[6] Carapedia.com

———————————————————————————————

BAB III

METODE PENELITIAN

 

A.       Pendekatan Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK), yaitu penelitian yang dimaksudkan untuk memberikan informasi bagaimana tindakan yang tepat untuk meningkatkan aktivitas perserta didik dengan pembelajaran yang menggunakan media visual yang berdampak pada peningkatan pemahaman siswa. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam bentuk siklus – siklus. Peneliti mencoba mencari pemecahan masalah proses pembelajaran matematika, hal ini penting dilaksanakan karena berkaitan dengan penelitian yang dilakukan.

B.        Kehadiran dan Peran Peneliti di Lapangan

Dalam penelitian ini peneliti bertindak sebagai instrumen sekaligus pengumpul data. Instrumen selain manusia (seperti lembar observasi dan angket) dapat pula digunakan. Tetapi fungsinya terbatas sebagai pendukung tugas peneliti sebagai instrumen. Oleh karena itu kehadiran peneliti adalah mutlak.

No Nama Peran
1. Sevti Mulyani Model/penyaji
2. Mizan Al-Furqan Zaidi Dokumentasi
3. Ufi Luthfiyah Saeruroh Observer Siswa
4. Nesti Elvia Yurina
5. Yus Aisyah Observer Guru
6. Eka Widyaningsih

Tabel 1. Peran Peneliti

C.       Lokasi Penelitian
Pelaksanaan penelitian yang peneliti lakukan adalah sebagai berikut:

Waktu              : Mei 2013

Tempat            : SMA Nuru Iman Rajeg

Kp. Baru Ds. Pangarengan Kecamatan Rajeg Kabupaten

Tangerang Banten 15540

D.       Subyek Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada akhir bulan april sampai dengan akhir bulan Mei 2013 di SMA Nurul Iman, dengan subyek penelitian siswa kelas X.2 SMA Nurul Iman tahun ajaran 2012-2013 yang berjumlah 32 orang.Penelitian ini dikhususkan pada materi Tiga dimensi pada bangun ruang dan obyek penelitian adalah pemahaman belajar pada mata pelajaran matematika kelas X pada semester genap dan jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas.

E.        Instrument penelitian

  1. Instrument berupa angket untuk mengungkapkan pemahaman siswa terhadap mata pelajaran matematika.
  2. Instrument berupa tes tertulis atau kuis untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa.

F.        Teknik Pengumpulan Data
Sumber data dalam PTK ini berasal dari sumber data primer : nilai ulangan harian. Sumber data sekunder : data hasil pengamatan yang dilakukan oleh observer.

G.       Teknik Analisis Data

Dalam penelitian tindakan kelas ini pengumpulan data digunakan berbagai teknik antara lain:

  1. Tes tertulis digunakan untuk mengumpulkan data pemahaman siswa dengan yang berkenaan dengan ruang dimensi tiga.
  2. Alat pengumpulan data

Untuk mengetahui pemahaman siswa dalam materi ruang dimensi tiga yang dijadikan obyek penelitian ini :

  1. Peneliti menggunakan alat yang berupa tes tertulis yang dirancang oleh peneliti sesuai dengantujuan pembelajaran yang telah tertuang dalam kisi-kisi soal.
  1. Format penilaian untuk meneliti proses.
  2. Lembar pengamatan aktivitas guru dan lembar pengamatan aktivitas siswa.
  3. Deskripsi pelaku

Pada teknik ini peneliti mencatat observasi dan pemahaman urutan perilaku siswa dengan lengkap meliputi :

  1. Suasana kelas
  2. Perilaku masing-masing siswa
  3. Kemampuan pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran.

H.       Indikator Keberhasilan Tiap Siklus
Indikator keberhasilan merupakan kinerja yang akan dijadikan acuan dalam menentukan keberhasilan atau keefektifan peneliti. Yang menjadi indikator keberhasilan dalam penelitian ini adalah apabila 80% dari jumlah siswa dalam mengerjakan soal tes mendapat nilai >60, maka penelitian yang peneliti lakukan dinyatakan berhasil.

I.          Keabsahan Data

Suatu dapat dikatakan absah yakni terpercaya apabila memenuhi empat kriteria, yaitu :Kepercayaan (crebility),Keteralihan (transferability), Kebergantungan (dependability), dan Kepastian (contfirmability)[6]

Untuk itu peneliti harus menemukan teknik atau cara untuk mengecek keabsahan data dalam hal ini peneliti akan menggunakan teknik triangulasi. Triangulasi merupakan suatu teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu lain diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai perbandingan terhadap data ini.[7]

J.         Prosedur Penelitian

Pembelajaran dengan menggunakan media visual bertujuan untuk mengupayakan tingkat pemahaman siswa dalam materi dimensi tiga yang dilakukan dalam dua siklus berdasarkan waktunya.

Siklus Pertama

  1. Perencanaan, yang meliputi kegiatan sebagai berikut:
  2. Kajian kurikulum, dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).
  3. Pembuatan media visual.
  4. Penyusunan instrumen penelitian.
  5. Penyusunan alat evaluasi.
    1. Pelaksanaan, yang meliputi kegiatan:
    2. Memberikan tes awal kepada siswa.
    3. Melaksanakan kegiatan pembelajaran materi bangun ruangdengan menggunakan media visual.
    4. Memberikan tes akhir siklus-1 kepada siswa.
      1. Pengamatan, yang meliputi kegiatan:
      2. Mengamati aktivitas siswa selama pelaksanaan kegiatan pembelajaran.
      3. Mencatat kejadian-kejadian yang tampak pada siswa selama pelaksanaan kegiatan pembelajaran.
      4. Mengumpulkan data hasil pengamatan selama pelaksanaan kegiatan pembelajaran.
        1. Refleksi, yang meliputi kegiatan:
        2. Menganalisis data hasil pelaksanaan tindakan
        3. Mengevaluasi pelaksanaan tindakan yang telah dilakukan pada siklus I
        4. Merencanakan tindakan pada siklus II

Siklus Kedua

  1. Perencanaan, yang meliputi kegiatan sebagai berikut:
  2. Penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).
  3. Pembuatan media pembelajaran berbentuk media presentasi program power point tentang dimensi tiga.
  4. Penyusunan instrumen penelitian.
  5. Penyusunan alat evaluasi.
    1. Pelaksanaan, yang meliputi kegiatan:
    2. Melaksanakan kegiatan pembelajaran materi bangun ruang dengan menggunakan media visual sebanyak satu kali pertemuan sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran.
    3. Memberikan tes akhir siklus-2 kepada siswa.
      1. Pengamatan, yang meliputi kegiatan:
      2. Mengamati aktivitas siswa selama pelaksanaan kegiatan pembelajaran.
      3. Mencatat kejadian-kejadian yang tampak pada siswa selama pelaksanaan kegiatan pembelajaran.
      4. Mengumpulkan data hasil pengamatan selama pelaksanaan kegiatan pembelajaran.
        1. Refleksi, yang meliputi kegiatan:
        2. Menganalisis data hasil pelaksanaan tindakan
        3. Mengevaluasi pelaksanaan tindakan yang telah dilakukan pada siklus II.

K.       Jadwal Pelaksanaan Penelitian
Jadwal pelaksanaan penelitian yang peneliti lakukan tersedia pada tabel berikut ini :

Tabel 2. Jadwal Pelaksanaan Penelitian

No. Kegiatan Bulan
April Mei Juni
3 4 1 2 3 4 1 2
1. Penyusunan Proposal              
2. Pengajuan Proposal              
3. Pengurusan Izin Penelitian              
4. Persiapan Penelitian            
5. Pelaksanaan Penelitian Siklus 1 dan 2            
6. Penyusunan Laporan            
7. Penyerahan Laporan Hasil Penelitian              

 

 

 


[6] Lexy. J. Moleong. Metodologi Penelitian kualitatif (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2002), hal. 173.

[7]Ibid. 178

———————————————————————————————

BAB IV

BAB V

BIODATA PENULIS

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.      Latar Belakang

Pendidikan sebagai salah satu aspek dalam meningkatkan sumber daya manusia terus diperbaiki dan direnovasi. Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap tempat yang memiliki jumlah populasi manusia pasti membutuhkan pendidikan. Perkembangan zaman sekarang ini, menuntut peningkatan kualitas individu. Sehingga dimanapun ia berada dapat digunakan setiap saat. Hal ini tentunya tidak lepas dari peran pendidikan terus diperhatikan dan ditingkatkan dengan berbagai cara, diantaranya mengeluarkan undang-undang sistem pendidikan nasional, mengesahkan undang-undang kesejahteraan guru serta mengadakan perubahan kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan zaman.

Pembelajaran Matematika umumnya didominasi oleh pengenalan rumus-rumus serta konsep-konsep secara verbal, tanpa ada perhatian yang cukup terhadap pemahaman siswa. Disamping itu proses belajar mengajar hampir selalu berlangsung dengan metode “chalk and talk” guru menjadi pusat dari seluruh kegiatan di kelas (Somerset, 1997 dalam Sodikin, 2004:1).

        Pada umumnya, sekelompok siswa beranggapan bahwa mata pelajaran matematika sulit difahami. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: Pertama, siswa kurang memiliki pengetahuan prasyarat serta kurang mengetahui manfaat pelajaran matematika yang ia pelajari. Kedua, daya abstraksi siswa kurang dalam memahami konsep-konsep matematika yang bersifat abstrak.

        Dari pengalaman peneliti dalam memberikan pembelajaran matematika kepada siswa selama ini, sebagian besar siswa sulit memahami materi dimensi tiga, khususnya tentang irisan bidang dengan bangun ruang. Meskipun peneliti sudah berupaya membimbing siswa dalam memahami konsep irisan bidang dengan bangun ruang dengan cara menunjukkan sketsa gambar, namun hasil belajar siswa belum sesuai dengan yang diharapkan, yaitu masih banyak siswa yang nilainya kurang dari standar ketuntasan belajar minimal.

Menurut Dienes (dalam Ruseffendi, 1980:134) menyatakan bahwa setiap konsep matematika dapat difahami dengan mudah apabila kendala utama yang menyebabkan anak sulit memahami dapat dikurangi atau dihilangkan. Dienes berkeyakinan bahwa anak pada umumnya melakukan abstraksi berdasasarkan intuisi dan pengalaman kongkrit, sehingga cara mengajarkan konsep-konsep matematika dapat dilakukan dengan menggunakan bantuan objek kongkrit.

Dengan demikian, dalam mengajarkan matematika perlu adanya benda-benda kongkrit yang merupakan model dari ide-ide matematika, yang selanjutnya disebut sebagai alat peraga sebagai alat bantu pembelajaran. Alat bantu pembelajaran ini digunakan dengan maksud agar anak dapat mengoptimalkan panca inderanya dalam proses pembelajaran, mereka dapat melihat, meraba, mendengar, dan merasakan objek yang sedang dipelajari.Untuk mengatasi masalah di atas, perlu diadakan penelitian tindakan kelas tentang penggunaan media visual atau alat peraga dalam pembelajaran materi irisan suatu bidang dengan bangun ruang. Dengan serangkaian tindakan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, sampai dengan evaluasi, diharapkan dapat meningkatkan pemahaman siswa dalam memahami materi irisan suatu bidang dengan bangun ruang.

B.       Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat diidentifikasikan masalah sebagai berikut:

  1. Apa permasalahan siswa kurang paham dalam materi Dimensi Tiga?
  2. Apakah siswa memahami bangun ruang jika tidak memakai media?
  3. Bagaimana pemahaman siswa jika menggunakan media visual?
  4. Apakah siswa lebih memahami jika diberikan sesuatu yang konkrit?
  5. Apa hubungan antara pemahaman siswa dalam penggunaan media visual dengan hasil belajar siswa pada materi Dimensi Tiga?
  6. Bagaimana penggunaan media visual dalam memahami materi Dimensi Tiga?

C.      Rumusan Masalah

Pada identifikasimasalah yang telah dibuat peneliti dapat merumuskan masalah sebagai berikut : “Bagaimana penggunaan media visual dalam memahami materi Dimensi Tiga pada siswa kelas X SMA NURUL IMAN RAJEG?”.

D.      Tujuan Penelitian

Sesuai dengan permasalahan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang Dimensi Tiga dengan menggunakan media visual.

E.       Manfaat Penelitian

Penelitian ini dapat bermanfaat bagi :

  1. Bagi siswa, penelitian ini dapat mempermudah siswa dalam memahami konsep irisan bidang dengan bangun ruang dan meningkatkan motivasi belajar.
  2. Bagi peneliti, penelitian ini sebagai wahana peningkatan profesionalisme guru yang akan berdampak pada kualitas pendidikan di sekolah
  3. Bagi guru lain, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai rujukan untuk menambah wawasan dalam menentukan strategi dan metode pembelajaran yang sesuai dengan materi pelajaran.
  4. Bagi sekolah, penelitian ini dapat membantu meningkatkan kualitas hasil belajar, khususnya pelajaran matematika, sehingga secara langsung dapat meningkatkan kualitas pendidikan dan out put sekolah.

F.        Definisi Operasional

Teori Belajar Matematika

Menurut Witherington (Udin S Winatapura, 2007:1.5) dalam buku Educational Psychology, mengemukakan bahwa belajar adalah suatu perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru dari pada reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian atau suatu pengertian.

Pengertian Pembelajaran

Pembelajaran adalah upaya untuk menciptakan iklim dan pelayanan terhadap kemampuan,potensi,minat,bakat dan kebutuhan peserta didik yang beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dengan siswa serta antara siswa dengan siswa (Suyitno,2004:1)

Media Pembelajaran

Menurut H.W. Fowler (suyotno,2000:10) matematika adalah ilmu mempelajari tentang bilangan dan ruang yang bersifat abstrak sehingga untuk menunjang pelancaran pembelajaran disamping pemilihan metode yang tepat juga perlu digunakan suatu media pembelajaran yang sangat berperan dalam membimbing abstarksi siswa (Suyitno,2000:37)

Penggunaan media visual

Media visual dapat memperlancar pemahaman dan memperkuat ingatan. Agar menjadi efektif , visual sebaiknya ditempatkan pada konteks yang bermakna dan siswa harus berinteraksi dengan visual untuk meyakinkan terjadinya proses informasi.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

      Sebagai landasan dalam merencanakan dan melaksanakan penelitian tindakan kelas akan diuraikan secara berturut – turut, yaitu (1) belajar, (2) pembelajaran, (3) media pembelajaran dan (4) pemahaman siswa.

A.       Pengertian Belajar

Belajar adalah proses yang dilakukan oleh manusia untuk mendapatkan aneka ragam competencies, skill, attitudes (competencies), keterampilan (skill), dan sikap (attitudes) tersebut diperoleh secara bertahap dan berkelanjutan mulai dari masa bayi sampai masa tua melalui rangkaian proses belajar belajar sepanjang hayat. Sedangkan menurut Witherington (Udin S Winatapura, 2007:1.5) dalam buku Educational Psychology, mengemukakan bahwa belajar adalah suatu perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru dari pada reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian atau suatu pengertian[1].

Belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada semua orang dan berlangsung seumur hidup, sejak dia masih bayi hingga ke liang lahat nanti. Proses belajar dapat terjadi kapan saja dimana saja terlepas dari ada yang mengajar atau tidak. Proses belajar terjadi karena adanya interaksi individu dengan lingkungannya[2].

Menurut Moh. Surya (1997), “Belajar dapat diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya”.

Salah satu pertanda bahwa seseorang telah belajar adalah adanya perubahan tingkah laku dalam dirinya, perubahan perilaku tersebut menyangkut perubahan yang bersifat pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotor) ataupun yang menyangkut nilai dan sikap (afektif).

Dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses yang dilakukan oleh manusia yang berlangsung seumur hidup yang terjadi karena adanya interaksi dengan lingkungan dan keterlibatannya dalam pendidikan formal maupun informal.

B.        Pengertian Pembelajaran

Pembelajaran merupakan kegiatan yang dilakukan menginisiasi, memfasilitasi dan meningkatkan intensitas dan kualitas belajar pada diri peserta didik.[3]

Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses perolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik.

Di sisi lain pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan pengajaran, tetapi sebenarnya mempunyai konotasi yang berbeda. Pengajaran merupakan salah satu aspek dari pendidikan, yaitu aspek pengetahuan (kognitif). Pengajaran memberikan ketrampilan dan pengetahuan, sedangkan pendidikan membimbing anak ke arah kehirupan yang baik dan benar[4]. Dalam konteks pendidikan, guru mengajar agar peserta didik dapat belajar dan menguasai isi pelajaran hingga mencapai sesuatu objektif yang ditentukan (aspek kognitif), juga dapat memengaruhi perubahan sikap (aspek afektif), serta keterampilan (aspek psikomotor) seorang peserta didik, namun proses pengajaran ini memberi kesan hanya sebagai pekerjaan satu pihak, yaitu pekerjaan pengajar saja. Sedangkan pembelajaran menyiratkan adanya interaksi antara pengajar dengan peserta didik.

Pembelajaran yang berkualitas sangat tergantung dari motivasi pelajar dan kreatifitas pengajar. Pembelajar yang memiliki motivasi tinggi ditunjang dengan pengajar yang mampu memfasilitasi motivasi tersebut akan membawa pada keberhasilan pencapaian target belajar. Target belajar dapat diukur melalui perubahan sikap dan kemampuan siswa melalui proses belajar. Desain pembelajaran yang baik, ditunjang fasilitas yang memandai, ditambah dengan kreatifitas guru akan membuat peserta didik lebih mudah mencapai target belajar.

Dapat ditarik kesimpulan bahwa pembelajaran adalah tindakan yang dilakukan secara sengaja oleh guru untuk membuat siswa belajar, yaitu terjadinya perubahan aspek pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotor) ataupun yang menyangkut nilai dan sikap (afektif) yang melibatkan interaksi antara pengajar dan peserta didik.

C.       Pengertian Media Pembelajaran

Media pembelajaran merupakan salah satu komponen penting dalam mencapai keberhasilan dalam proses pembelajaran. Dalam kamus Inggris-Indonesia disebutkan bahwa media memilki arti yang sama dengan medium yang mengandung beberapa arti antara lain adalah sebagai berikut:

  1. Perantara
  2. Perantaraan[5]

Sehingga dapat kita pahami bahwa media pembelajaran adalah sesuatu yang dapat dijadikan sarana penghubung untuk mencapai pesan yang harus dicapai oleh siswa dalam kegiatan belajar[6].

Metode mengajar dan media pembelajaran merupakan unsur yang amat penting dalam proses belajar mengajar. Keduanya saling berkaitan. Pemilihan metode yang akan digunakan dalam pembelajaran akan memengaruhi jenis media pembelajaran yang cocok. Salah satu fungsi media pembelajaran adalah sebagai alat bantu mengajar.

Hamalik dalam Azhar Arsyad (2011) mengemukakan bahwa pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar-mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh- pengaruh psikologis terhadap siswa. Selain membangkitkan motivasi dan minat siswa, media pembelajaran juga dapat membantu siswa meningkatkan pemahaman, menyajikan data dengan menarik dan terpercaya, memudahkan penafsiran data, dan memadatkan informasi.

Menurut Kemp & Dayton (1985), media pembelajaran dapat memenuhi tiga fungsi utama apabila media tersebut digunakan untuk perorangan, kelompok, atau kelompok pendengar yang besar jumlahnya, yaitu memotivasi minat, menyajikan informasi, dan memberi instruksi. Fungsi motivasi dapat direalisasikan dengan teknik drama atau hiburan. Untuk tujuan informasi, media pembelajaran dapat digunakan untuk penyajian informasi di hadapan kelompok siswa. Media juga berfungsi untuk tujuan instruksi dimana informasi yang terdapat dalam media itu harus melibatkan siswa baik dalam benak atau mental maupun dalam bentuk aktivitas yang nyata sehingga pembelajaran dapat tercapai.

Levie & Lentz dalam Azhar Arsyad (2011) mengemukakan empat fungsi media pembelajaran, khususnya media visual, yaitu (a) fungsi atensi, (b) fungsi afektif, (c) fungsi kognitif, dan (d) fungsi kompensatoris.

Fungsi atensi, yaitu menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk berkonsentrasi pada isi pelajaran yang berkaitan dengan makna visual yang ditampilkan atau menyertai teks materi pelajaran.

Fungsi afektif media visual dapat terlihat dari tingkat kenikmatan siswa ketika belajar teks yang bergambar.

Fungsi kognitif media visual dapat terlihat dari temuan- temuan penelitian yang mengungkapkan bahwa lambang visual atau gambar memperlancar pencapaian tujuan untuk memahami dan mengingat informasi yang terkandung dalam gambar.

Fungsi kompensatoris, yaitu media pembelajaran berfungsi untuk mengakomodasikan siswa yang lemah dan lambat menerima dan memahami isi pelajaran yang disajikan dengan teks.

Sujana dan Rivai (1990) memberikan alasan mengenai kegunaan media pembelajaran dalam proses belajar mengajar:

  1. Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar;
  2. Bahan pengajaran akan lebih jelas maksudnya, sehingga dapat lebih dipahami oleh para siswa;
  3. Metode mengajar akan lebih bervariasi, sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga;
  4. Siswa lebih banyak melakukan kegiatan, karena tidak hanya mendengarkan uraian guru, tetapi juga mengamati, melaksanakan, mendemonstrasikan, dan lain- lain.

D.      PengertianMediaVisual

Media visual adalah media yang memberikan gambaran menyeluruh dari yang konkrit sampai dengan abstrak. Jadi dapat diambil kesimpulan bahwa media visual merupakan salah satu media untuk pembelajaran.

Media visual ini lebih bersifat realistis dan dapat dirasakan oleh sebagian besar panca indera kita terutama oleh indera penglihatan. Media visual ada yang dapat diproyeksikan dan ada pula yang tidak dapat diproyeksikan.

Dalam penggunaannya media visual memiliki manfaat atau kegunaan. Manfaatnya antara lain:

  1. Media bersifat konkrit, lebih realistis dibandingkan dengan media verbal atau non visual sehingga lebih memudahkan dalam pengaplikasiannya.
  2. Beberapa penelitian membuktikan bahwa pembelajaran yang diserap melalui media penglihatan (media visual), terutama media visual yang menarik dapat mempercepat daya serap peserta didik dalam memahami pelajaran yang disampaikan.
  3. Media visual dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki oleh para peserta didik dan dapat melampaui batasan ruang kelas. Melalui penggunaan media visual yang tepat, maka semua obyek itu dapat disajikan kepada peserta didik.
  4. Lebih efiektif dan efisien  dibandingkan media verbal lainnya karena jenisnya yang beragam, pendidik dapat menggunakan semua jenis media visual yang ada. Hal ini dapat menciptakan sesuatu yang variatif, dan tidak membosankan bagi para peserta didiknya.
  5. Penggunaannya praktis, maksudnya media visual ini mudah dioperasikan oleh setiap orang yang memilih media-media tertentu, misalkan penggunaan media Transparansi Overhead Tranparancy (OHT).

Media pembelajaran visual telah terbukti lebih efisien dalam melakukan komunikasi antara pendidik dengan peserta didik. Dapat kita simpulkan bahwa media pembelajaran visual (seperti gambar diam, gambar bergerak, televise, objek tiga dimensi, dll) mempunyai hubungan positif yang cukup tinggi. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa media pembelajaran visual merupakan media pembelajaran yang cukup baik dan efisien.

Media pembelajaran visual baiknya digunakan di tempat yang tepat, sesuai dengan jenis medianya. Misalnya, media yang tidak diproyeksikan dapat dilakukan diluar kelas. Hal itu memungkinakan untuk media pembelajaran visual yang berupa benda nyata dan media grafis. Dalam penggunaan media pembelajaran visual berbentuk benda nyata misalnya, dalam pelajaran biologi kita dapat menggunakan tumbuhan diluar kelas sebagai media pembelajaran visual. Media grafis dan model pun bisa digunakan diluar kelas, apabila media tersebut memungkinkan untuk digunakan diluar kelas.

Sedangkan untuk media pembelajaran yang diproyeksikan, tempat yang tepat adalah di dalam kelas. Mengingat kebutuhannya akan alat-alat yang cukup berat, dan dibutuhkannya aliran listrik, tentu penggunaan media pembelajaran visual yang diproyeksikan ini lebih baik digunakan di dalam kelas.

Cara pemilihan media visual yang tepat adalah :

  1. Media yang digunakan harus memperhatikan konsep pembelajaran atau tujuan dari pembelajaran.
  2. Memperhatikan karakteristik dari media yang akan digunakan ,apakah sesuai dengan situasi dan kondisi yang tepat guna.
  3. Tepat sasaran kepada peserta didik yang sesuai degan kebutuhan zaman.
  4. Waktu , tempat , ketersediaan  dan biaya yang digunakan.
  5. Pilihlah media visual yang menguntungkan agar lebih menarik,variatif, mudah diingat dan tidak membosankan sesuai dengan konteks penggunaannya.

 Macam-macam Media Visual

a.        Media yang tidak diproyeksikan

  1. Media realita adalah benda nyata. Benda tersebut tidak harus dihadirkan di ruang kelas, tetapi siswa dapat melihat langsung ke obyek. Kelebihan dari media realita ini adalah dapat memberikan pengalaman nyata kepada siswa. Misal untuk mempelajari keanekaragaman makhluk hidup, klasifikasi makhluk hidup, ekosistem, dan organ tanaman.
  2. Model adalah benda tiruan dalam wujud tiga dimensi yang merupakan representasi atau pengganti dari benda yang sesungguhnya. Penggunaan model untuk mengatasi kendala tertentu sebagai pengganti realia. Misal untuk mempelajari sistem gerak, pencernaan, pernafasan, peredaran darah, sistem ekskresi, dan syaraf pada hewan.
  3. Media grafis tergolong media visual yang menyalurkan pesan melalui simbol-simbol visual. Fungsi dari media grafis adalah menarik perhatian, memperjelas sajian pelajaran, dan mengilustrasikan suatu fakta atau konsep yang mudah terlupakan jika hanya dilakukan melalui penjelasan verbal. Jenis-jenis media grafis adalah:

a) Gambar / foto merupakan media yang paling umum digunakan.

b)  Sketsa adalah gambar sederhana atau draft kasar yang melukiskan bagian pokok tanpa detail. Dengan sketsa dapat menarik perhatian siswa, menghindarkan verbalisme, dan memperjelas pesan.

c)      Diagram / skema: gambar sederhana yang menggunakan garis dan simbol untuk menggambarkan struktur dari obyek tertentu secara garis besar. Misal untuk mempelajari organisasi kehidupan dari sel samapai organisme.

d)     Bagan / chart : menyajikan ide atau konsep yang sulit sehingga lebih mudah dicerna siswa. Selain itu bagan mampu memberikan ringkasan butir-butir penting dari penyajian. Dalam bagan sering dijumpai bentuk grafis lain, seperti: gambar, diagram, kartun, atau lambang verbal.

e)      Grafik yaitu gambar sederhana yang menggunakan garis, titik, simbol verbal atau bentuk tertentu yang menggambarkan data kuantitatif. Misal untuk mempelajari pertumbuhan.

b.        Media proyeksi

  1. Transparansi OHP merupakan alat bantu mengajar tatap muka sejati, sebab tata letak ruang kelas tetap seperti biasa, guru dapat bertatap muka dengan siswa (tanpa harus membelakangi siswa). Perangkat media transparansi meliputi perangkat lunak (Overhead transparancy / OHT) dan perangkat keras (Overhead projector / OHP). Teknik pembuatan media transparansi, yaitu:
  • Mengambil dari bahan cetak dengan teknik tertentu
  • Membuat sendiri secara manual

2. Film bingkai / slide adalah film transparan yang umumnya berukuran 35 mm dan diberi bingkai 2X2 inci. Dalam satu paket berisi beberapa film bingkai yang terpisah satu sama lain. Manfaat film bingkai hampir sama dengan transparansi OHP, hanya kualitas visual yang dihasilkan lebih bagus. Sedangkan kelemahannya adalah beaya produksi dan peralatan lebih mahal serta kurang praktis. Untuk menyajikan dibutuhkan proyektor slide.

 

BAB III

METODE PENELITIAN

  

A.       Subyek Penelitian

Penelitian dilaksanakan pada akhir bulan april sampai dengan akhir bulan Mei 2013 di SMA Nurul Iman, dengan subyek penelitian siswa kelas X SMA Nurul Iman tahun ajaran 2012-2013 yang berjumlah 38 orang.Penelitian ini dikhususkan pada materi Tiga dimensi pada bangun ruang dan obyek penelitian adalah pemahaman belajar pada mata pelajaran matematika kelas X pada semester genap dan jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas.

B.        Lokasi Penelitian

Pelaksanaan penelitian yang peneliti lakukan adalah sebagai berikut:

Waktu              : Mei 2013

Tempat            : SMA Nuru Iman Rajeg

C.       Data dan Sumber Data

Sumber data dalam PTK ini berasal dari sumber data primer : nilai ulangan harian. Sumber data sekunder : data hasil pengamatan yang dilakukan oleh observer.

D.       Instrument penelitian

  1. Instrument berupa angket untuk mengungkapkan minat siswa terhadap mata pelajaran matematika
  2. Instrument berupa tes tertulis atau kuis untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa.

E.        Teknik analisis data

Dalam penelitian tindakan kelas ini pengumpulan data digunakan berbagai teknik antara lain:

  1. Tes tertulis digunakan untuk mengumpulkan data pemahaman siswa dengan yang berkenaan dengan ruang dimensi tiga.
  2. Alat pengumpulan data

Untuk mengetahui pemahaman siswa dalam materi ruang dimensi tiga yang dijadikan obyek penelitian ini :

  1. Peneliti menggunakan alat yang berupa tes tertulis yang dirancang oleh peneliti sesuai dengantujuan pembelajaran yang telah tertuang dalam kisi-kisi soal.
  2. Format penilaian untuk meneliti proses.
  3. Lembar pengamatan aktivitas guru dan lembar pengamatan aktivitas siswa.
  4. Deskripsi pelaku

Pada teknik ini peneliti mencatat observasi dan pemahaman urutan perilaku siswa dengan lengkap meliputi :

  1. Suasana kelas
  2. Perilaku masing-masing siswa
  3. Kemampuan pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran

F.        Siklus Penelitian

Pembelajaran dengan menggunakan media visual bertujuan untuk mengupayakan tingkat pemahaman siswa dalam materi dimensi tiga yang dilakukan dalam dua siklus berdasarkan waktunya.

Siklus pertama

  1. Perencanaan, yang meliputi kegiatan sebagai berikut:
  2. Kajian kurikulum, penyusunan silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran
  3. Pembuatan media visual
  4. Penyusunan instrumen penelitian
  5. Penyusunan alat evaluasi
  1. Pelaksanaan, yang meliputi kegiatan:
  2. Memberikan tes awal kepada siswa
  3. Melaksanakan kegiatan pembelajaran materi bangun ruangdengan menggunakan media visual
  4. Memberikan tes akhir siklus-1 kepada siswa
  1. Pengamatan, yang meliputi kegiatan:
  2. Mengamati aktivitas siswa selama pelaksanaan kegiatan pembelajaran
  3. Mencatat kejadian-kejadian yang tampak pada siswa selama pelaksanaan kegiatan pembelajaran
  4. Mengumpulkan data hasil pengamatan selama pelaksanaan kegiatan pembelajaran
  1. Refleksi, yang meliputi kegiatan:
  2. Menganalisis data hasil pelaksanaan tindakan
  3. Mengevaluasi pelaksanaan tindakan yang telah dilakukan pada siklus I
  4. Merencanakan tindakan pada siklus II

Siklus kedua

  1. Perencanaan, yang meliputi kegiatan sebagai berikut:
  2. Penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran yang terdiri dari satu pertemuan
  3. Pembuatan media pembelajaran berbentuk media presentasi program power point tentang bangun ruang
  4. Penyusunan instrumen penelitian
  5. Penyusunan alat evaluasi.
  1. Pelaksanaan, yang meliputi kegiatan:
  2. Melaksanakan kegiatan pembelajaran materi bangun ruang dengan menggunakan media visual sebanyak satu kali pertemuan sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran.
  3. Memberikan tes akhir siklus-2 kepada siswa.
    1. Pengamatan, yang meliputi kegiatan:
    2. Mengamati aktivitas siswa selama pelaksanaan kegiatan pembelajaran
    3. Mencatat kejadian-kejadian yang tampak pada siswa selama pelaksanaan kegiatan pembelajaran
    4. Mengumpulkan data hasil pengamatan selama pelaksanaan kegiatan pembelajaran.
  1. Refleksi, yang meliputi kegiatan:
  2. Menganalisis data hasil pelaksanaan tindakan
  3. Mengevaluasi pelaksanaan tindakan yang telah dilakukan pada siklus II.

G.       Jadwal Pelaksanaan Penelitian

No

Kegiatan

Minggu ke-

April

Mei

Juni

1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

1

Persiapan, Penyusunan proposal Ö Ö                    

2

Pelaksanaan Siklus I     Ö  Ö                

3

Pelaksanaan Siklus II          Ö  Ö            

4

Analisis data              Ö          

5

Seminar Lokal hasil PTK                Ö        

6

Pembuatan laporan hasil penelitian                 Ö Ö    

7

Diseminasi hasil penelitian                     Ö  

8

Revisi laporan hasil penelitian                       Ö
                             

 

 


[1] Witherington I, Udin S Winatapura “Educational Psycology”, 2007. Hal 1 – 5

[2] Rahardjito, dkk. “Media Pendidikan”, 2010. Hal 2

[3] Udin S Winatapura, “Educational Psychology”, Bandung. Fontana, 2007. Hal 18

[4] Lydia Harlina Martono, Satya Joewana, 2006

[5]Echol, John M., et.al., 1992, Hal 377

[6] Carapedia.com

PENGGUNAAN ICT DALAM BIDANG PENDIDIKAN

 Potensi setiap teknologi berbeda-beda menurut bagaimana teknologi digunakan. Haddad dan Draxler mengidentifikasi setidak-tidaknya lima tingkat penggunaan teknologi dalam bidang pendidikan, yaitu: presentasi, demonstrasi, drill dan praktik, interaksi dan kolaborasi.

 Bagaimana siaran radio dan televisi digunakan dalam bidang pendidikan?

Ada tiga pendekatan umum pada penggunaan penyiaran radio dan televisi dalam bidang pendidikan:

1)      pengajaran kelas langsung, di mana program siaran    mengganti guru yang sifatnya temporer;

2) penyiaran sekolah, di mana program penyiaran         memberikan/menyediakan sumber-sumber pengajaran dan pembelajaran; dan

3) program pendidikan umum pada stasiun lokal, nasional dan internasional yang menyediakan/memberikan  kesempatan pendidikan informal.

 Contoh terkenal dari pendekatan pengajaran kelas langsung adalah Interactive Radio Instruction (IRI). Pendekatan ini “berdurasi selama 20 – 30 menit, termasuk latihan pembelajaran di kelas yang dilakukan setiap hari. Pelajaran melalui radio, yang dikembangkan seputar tujuan pembelajaran khusus ilmu matematika, pengetahuan, kesehatan dan bahasa menurut kurikulum nasional  dimaksudkan untuk memperbaiki kualitas pengajran kelas dan berperan sebagai bantuan reguler dan terstruktur pada guru yang sangat minim dengan pelatihan dan sumber-sumber yang sangat kurang memadai”. Projek IRI diimplementasikan di Amerika Latin dan Afrika. Di Asia, IRI pertama kali diimplementasikan di Thailand pada tahun 1980; di Indonesia,  Pakistan, Banglades dan Nepal pada tahun 1990an.Riset ektensif di seluruh dunia menunjukkan bahwa projek IRI berdampak positif pada hasil pembelajaran dan pemerataan pendidikan.

Telesecundaria di Meksiko merupakan contoh lain  pengajaran kelas langsung yang menggunakan siaran televisi. Program ini diluncurkan di Meksiko pada tahun 1968 sebagai strategi cost-effective untuk mengembangkan pendidikan sekolah menengah di komunias kecil dan jauh.

Desain program tersebut telah mengalami banyak perubahan selama bertahun-tahun, mulai dari perubahan pendekatan “talking head” menjadi program yang lebih interaktif dan dinanmis yang menghubungkan komunitas dengan program seputar metode pengajaran. Strategi ini berarti menggabungkan isu komunitas menjadi program yang menawarkan anak-anak pendidikan terpadu, yang melibatkan komunitas luas dalam organisasi dan manajemen sekolah dan mendorong siswa untuk melakukan aktivitas komunitas.

Di Asia, 44 radio dan TV universitas di Cina (yang meliputi China Central Radio dan Television University), Universitas Terbuka di Indonesia, dan Indira Ghandi National Open University menggunakan radio dan televisi, baik untuk pengajaran langsung dan untuk siaran sekolah untuk menjangkau populasi yang lebih besar. Berkaitan dengan institusi ini, siaran disertai dengan materi cetak dan kaset audio.

General educational programming terdiri dari berbagai tipe program(program baru, program dokumenter, quiz show, kartun pendidikan, dan lain sebagainya) yang menyajikan kesempatan pendidikan nonformal untuk semua tipe siswa. Dalam suatu pengertian, program radio atau televisi dengan nilai infromasi dan pendidikan merupakan tipe grogram tersebut.

Apakah teleconferencing dan apa fungsi dalam pendidikan?

Teleconferencing  mengacu pada komunikas interaktif elektronik antara dua orang di dua tempat atau lebih yang berbeda. Berdasarkan sifat dan tingkat interaktif dan keunggulan teknologi, ada empat tipe teleconferencing, yaitu 1) audioconferencing; 2) audio-graphic  conferencing, 3) videoconferencing; dan 4) Web-based conferencing.

Audioconferencing melibatkan pertukaran pesan suara melalui jaringan telepon. Teks dan image seperti grafik, diagram atau gambar dapat ditukar dengan pesan suara, yang dinamakan audiographic conferenecing. Videoconferencing menghasilkan petukaran tidak hanya suara dan grafik tetapi juga menggerakkan image. Teknologi tidak hanya menggunakan jaringan telepon tetapi juga  jaringan satelit atau jaringan televisi (siaran/kabel). Web-based conferencing melibatkan transmisi teks, dan grafik, radio dan media visual melalui Internet; conferencing ini menggunakan komputer dengan browser dan komunikasi berupa synchronous  dan asynchronous.

Teleconferencing digunakan dalam konteks pembelajaran formal dan non-formal untuk memudahkan diskusi antara guru dan siswa, dan siswa dengan siswa, juga untuk mengakses para ahli dan sumber-sumber lain dari jarak jauh. Dalam open and distance learning, teleconferencing merupakan suatu alat yang bermanfaat untuk memberikan pelajaran langsung. Jaringan audio-graphic teleconferencing bertujuan untuk pendidikan yang berkelanjutan.

 Bagaimana komputer dan Internet digunakan untuk pengajaran dan pembelajaran?

Ada tiga pendekatan umum terhadap penggunaan komputer dan Internet dalam bidang instruksional, yaitu

1)  Belajar komputer dan Internet, di mana kemampuan menggunakan teknologi merupakan tujuan akhirnya;

2      Belajar dengan komputer dan Internet, di mana teknologi memudahkan pembelajaran kurikulum; dan

3)  Belajar melalui komputer dan Internet, dengan memadukan pengembangan kemampuan mengaplikasikan teknologi dengan kurikulim.

Apa yang dimaksud dengan belajar komputer dan Internet?

Belajar komputer dan Internet  berfokus pada pengembangan kemampuan teknologi. Secara khusus belajar komputer  meliputi:

  • Dasar: istilah-istilah dasar, konsep dan operasional (penggunaan)
  • Menggunakan keyboard dan mouse
  • Menggunakan alat produktivitas seperti word processing, spreadsheets, data base and program grafik
  •    Menggunakan alat riset dan kolaborasi seperti search engines dan email
  •      Keterampilan dasar dalam menggunakan aplikasi program dan aplikasi authoring seperti Logo atau HyperStudio
  •    Mengembangkan pemahaman dampak sosial perubahan teknologi.

Bagaimana pembelajaran dengan komputer dan Internet?

Belajar dengan alat teknologi berarti mengembangkan alat yang berfokus pada bagaimana pengetahuan dapat menjadi cara melakukan pembelajaran. Belajar dengan teknologi tersebut meliput:

  • Presentasi, demonstrasi dan manipulasi data dengan menggunakan alat-alat produktivitas
  • penggunaan tipe aplikasi kurikulum khusus seperti educational games, drill dan praktik, simulasi, tutorial, virtual laboratories, visualisati dan representasi grafik tentang konsep abstrak, komposisi musik dan sistem ahli
  • Pemanfaatan informasi dan sumber CD-ROM atau online seperti ensiklopedia, peta interaktif dan atlas, jornal elektronik dan referensi.

Apa yang dimaksud belajar dengan komputer dan Internet?

Belajar dengan komputer dan Internet  menggabungkan belajar alat teknologi tersebut dengan belajar dengan teknologi tersebut. Belajar dengan komputer melibatkan pembelajaran keterampilan teknologi “just-in-time” atau ketika siswa perlu mempelajarinya ketika dia terlibat dalam aktivitas yang terkait dengan kurikulum. Misalnya, siswa sekolah lanjutan yang harus menyajikan laporan tentang dampak kenaikan harga minyak terhadap komunitas barangkali mulai melakukan riset online, mengguankan program spreadsheet dan database untuk membantu menyusun dan menganalisis data yang telah mereka kumpulkan, dan menggunakan aplikasi word processing  untuk mempersiapkan laporan tulisnya.

Bagaimana komputer dan Internet digunakan dalam pendidikan jarak jauh?

Banyak institusi pendidikan tinggi yang menawarkan proses pendidikan jarak jauh telah memulai mengunakan Internet untuk memperbaiki capaian dan kualitas program. Virtual University of the  Monterrey Institute of Technology di Meksiko menggunakan kombinasi materi cetak dan rekaman siaran langsung dan Internet untuk menyampaikan materi pelajaran pada siswa diseluruh Meksiko dan di beberapa negara Amerika Latin.

Di University of the Philippines Open University (UPOU), materi pelajaran masih didominasi materi cetak tetapi tutorial online menngunakan alternatif lain, yaitu face-to-face tutorials khususnya bagi siswa-siswa yang enggan untuk datang ke pusat-pusat pembelajaran UPOU.

Apa yang dimaksud telekolaborasi?

Pembelajaran online yang melibatkan siswa mengikuti pelajaran formal barangkali merupakan aplikasi Internet yang paling umum dalam pendidikan. Alat-alat kolaborasi berbasis Web seperti email, listservs, message boards, real-time chat, dan konferensi berbasis Web, menghubungkan siswa dengan siswa lain, dengan guru, pendidik, peneliti, artis pemimpin industri dan politisi, dengan akses Internet yang dapat mengembangkan proses pembelajaran.

Penyusunan penggunaan sumber-sumber Web dan alat kolaborasi untuk tujuan kurikulum dinamakan telecollaboration. Judi Harris mendefinisikan telecollaboration sebagai “upaya pendidikan yang melibatkan orang-orang di lokasi yang berbeda-beda dengan menggunakan alat Internet dan sumber untuk difungsikan bersama-sama. Banyak telekolaborasi pendidikan berbasis pada kurikulum, didesain oleh guru dan dikoordinasi oleh guru. Projek kolaborasi terbaik adalah projek-projek yang sepenuhnya dipadukan ke dalam kurikulum dan bukan aktivitas ekstra kurikuler, projek-projek di mana penggunaan teknologi memungkinkan aktivitas, dan projek atau aktivitas yang memberdayakan siswa untuk menjadi siswa yang aktif, kolabortatif, kretaif, integratif, dan evaluatif. Ada banyak projek telekolaboratif yang sedang diimplementasikan di seluruh dunia.

 Di antara projek tersebut adalah projek Voices of Youth yang dikembangkan oleh UNICEF. Projek ini mendorong siswa untuk sharing pandangan tentang HIV/AIDS dan tenaga kerja anak dengan anak usia muda lainnya dan usia dewasa di seluruh dunia melalui forum diskusi elektronik. Web site Voices of Youth juga menyajikan topik yang berbeda-beda untuk membantu guru mengintegrasikan diskusi Voice of Youth di dalam aktivitas kelas lain.

 Barangkali projek telekolabirasi yang paling luas dikenal adalah Program Global Learning and Observations  to Benefit the  Environment  (GLOBE) . GLOBE merupakan program yang disponsori pemerintah AS yang diluncurkan pada tahun 1994 yang menghubungkan siswa sekolah dasar dan sekolah menengah dan guru dari lebih  dari 10.000 sekolah di lebih dari 95 negara dengan komunitas riset ilmiah. GLOBE memberikan kesempatan pada siswa untuk berkolaborasi dengan parailmuwan dalam melakukan riset pengetahuan.

ini adalah file power point nya :

PENGGUNAAN ICT DALAM BIDANG PENDIDIKAN

logo umt

Nama :

Ufi Luthfiyah Saeruroh

Kelas :

5B1

Jurusan :

Pendidikan Matematika

BAB I

PENDAHULUAN

  A.    Latar Belakang

         Pencacahan (counting) adalah bagian dari matematika kombinatorial. Persoalan kombinatorik bukan merupakan persoalan yang baru dalam kehidupan nyata. Banyak persoalan kombinatorik yang sederhana telah diselesaiakan dalam masyarakat. Misalkan, saat pemilihan pemain untuk tim sepak bola yang terdiri dari 11 pemain. Apabila ada20 orang ingin membentuk suatu tim sepak bola, ada berapa kemungkinan komposisi pemain yang dapat terbentuk?

         Contoh lain adalah dalam menentukan sebuah password panjangnya 6 sampai 8 karakter. Karakter boleh berupa huruf atau angka. Berapa banyak kemungkinan password yang dapat dibuat? Tetapi selain itu para ilmuwan pada berbagai bidang juga kerap menemukan sejumlah persoalan yang harus diselesaikan. Pada makalah ini,  kita akan membahas tentang kombinatorik, kaidah pencacah dengan materi aturan penjumlahan dan aturan perkalian.

         Kombinatorika adalah studi tentang pengaturan objek-objek, yaitu pemasangan, pengelompokan, pengurutan, pemilihan, atau penempatan objek- objek dengan karakteristik tertentu. Topik ini mulai berkembang sejak abad ketujuh belas, yakni diawali dengan tulisan Gottfried Wilhelm Leibniz yang berjudul Dissertio de Arte Combinatorica. Selanjutnya, kombinatorika semakin berkembang pesat dengan beragam aplikasinya di berbagai bidang, seperti kimia, biologi, fisika, dan komunikasi.

         Pembahasan mengenai kombinatorika diawali dengan pengenalan dua kaidah pencacahan, yaitu kaidah penjumlahan dan kaidah perkalian. Kedua kaidah ini sangat bermanfaat untuk menyelesaikan masalah yang kompleks dengan cara memecah  atau   mengurai  masalah   tersebut   menjadi   beberapa   bagian yang lebih sederhana yang selanjutnya   dapat diselesaikan    dengan   kedua kaidah tersebut. Misalnya, kaidah pencacahan bermanfaat untuk menentukan apakah terdapat cukup nomor telepon atau  alamat  internet protokol untuk  memenuhi  permintaan pelanggan.

B.     Perumusan Masalah

         Dari latar belakang di atas penulis dapat merumuskan masalah sebagai berikut :

  1. Apa hubungan kombinatorika dengan kaidah pencacah?
  2. Bagaimana menghitung dengan memakai aturan penjumlahan?
  3. Bagaimana menghitung dengan memakai aturan perkalian?

C.    Tujuan Penulisan

         Dari latar latar belakang dan perumusan masalah di atas penulis dapat menuliskan tujuan penulisan sebagai berikut :

  1. Mengetahui tentang kombinatorika
  2. Memahami tentang konsep dasar menghitung.
  3. Memahami tentang aturan penjumlahan dan perkalian.
  4. Tugas mata kuliah matematika diskrit.

D. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan makalah ini terdiri dari :

BAB I PENDAHULUAN

         Di dalam bab pendahuluan meliputi latar belakang, perumusan masalah, tujuan penulisan, dan sistematika penulisan.

BAB II KAJIAN TEORI

        Di dalam bab kajian teori meliputi pengertian dari kaidah pencacahan, dasar-dasar menghitung dengan aturan penjumlahan, perkalian maupun penjumlahan tak langsung.

BAB III PENUTUP

         Di dalam bab penutup atau bab terakhir, penulis menuliskan kesimpulan akhir dari kajian teori dan menuliskan saran untuk para pembaca.

DAFTAR PUSTAKA

         Di dalamnya terdapat referensi buku yang dipakai dalam penulisan makalah ini.

 

BAB II

KAJIAN TEORI

A.    Pengertian Kaidah Pencacahan

         Enumerasi atau pencacahan merupakan bahasan awal dari matematika diskret yang digunakan sebagai alat dasar untuk mempelajari materi-materi lainnya yang umumnya bersifat kombinatorik. Disamping itu ia juga mempunyai aplikasi di banyak area seperti:  teori peluang, statistika, teori graf, teori koding, kriptografidan analisis algoritme. Materi pembahasannya akan ditekankan pada:

  • Aturan penjumlahan
  • Aturan perkalian
  • Permutasi dan Kombinasi
  • Kombinasi dengan Pengulangan.

         Namun yang dibahas pada makalah ini tentang aturan penjumlahan dan aturan perkaliannya.

B.     Konsep Dasar Pencacahan

         Dalam kehidupan sehari-hari kita sering dihadapkan dengan masalah penghitungan. Misalnya ada berapa cara yang dapat dilakukan pada saat   memasukan   sebuah   kelereng   ke dalam sebuah kantung, begitu pula apabila memasukan beberapa kelereng ke dalam beberapa kantung, berapa cara memilih wakil dari bebarapa kelompok mahasiswa dan masih banyak lagi   kasus yang lain. Salah satu prinsip dasar yang mendasari perkembangan   probabilitas terutama yang terkait dengan masalah penghitungan adalah konsep dasar pencacahan. Ada dua perinsip dasar pada konsep dasar pencacahan yaitu aturan penjumlahan  dan aturan perkalian.

1.      Aturan Penjumlahan (Rule Of Sum)

            Kaidah penjumlahan menganut prinsip umum bahwa keseluruhan sama dengan jumlah dari bagian-bagiannya. Secara umum, kaidah penjumlahan dijelaskan sebagai berikut:

“Jika  pekerjaan  jenis  pertama  dapat  dilakukan dengan m cara, pekerjaan jenis kedua dapat dilakukan dengan n cara, dan kedua jenis pekerjaan itu tidak dapat dilakukan secara simultan, maka banyaknya cara untuk menyelesaikan tugas-tugas tersebut adalah m + n  cara”.

Secara umum dirumuskan sebagai berikut:

“Jika ada suatu prosedur terdiri dari m-buah pekerjaan, T1, T2, …, Tm, yang masing-masing dapat dilakukan dengan  cara, dan setiap pasang pekerjaan tersebut tidak dapat dilakukan secara bersamaan, maka akan ada cara untuk melakukan pekerjaan ini”.

Contoh:

1.Di dalam suatu laboratorium komputer ada 4 printer (merk) jenis laserjet dan 6 printer jenis deskjet.

Jawab: Jika seorang praktikan diperbolehkan menggunakan kedua jenis printer tersebut, maka ada 4 + 6 = 10 printer yang bisa dipilih untuk dipakai.

2. Aturan jumlah dapat diperluas untuk lebih dari dua tugas. Misalnya, seorang instruktur laboratorium komputer memiliki 4 jenis buku bahasa pemrograman: 5 buku (judul) tentang C++, 4  buku  tentang  FORTRAN, 3 buku tentang Java, dan 5  buku tentang Pascal.

Jawab: Jika seorang praktikan dianjurkan untuk meminjam satu buku bahasa pemrograman dari sang instruktur, maka ada 5 + 4 + 3 + 5 = 17  buku yang bisa dia pinjam.

2.      Aturan Perkalian (Rule Of Product)

          Secara umum dirumuskan sebagai berikut:

“Jika suatu prosedur dapat dipecah menjadi dua tahap, dan jika tahap pertama menghasilkan m keluaran yang mungkin dan masing-masing  keluaran dilanjutkan ke tahap kedua dengan n keluaran yang mungkin, maka prosedur tersebut akan menghasilkan m x n keluaran yang mungkin”.

     Kaidah perkalian sebgaimana dikemukakan di atas dapat pula dipahami sebagai kaidah pengisian tempat yang tersedia yang diilustrasikan sebagai berikut. Berapa banyak password (kata kunci) dengan panjang 5 angka yang dapat dibentuk dari angka-angka 1, 2, 3, 4, dan 5 jika tidak boleh ada angka berulang?

     Beberapa contoh password itu adalah :

                 12345,

                 23415,

                 54231,

                 Dan seterusnya.

Perhatikan bahwa 22341, 1234, atau 522341 bukan contoh password dimaksud. Mengapa?

Untuk dapat menentukan banyaknya cara dimaksud, dapat dilakukan secara sistematis sebgai berikut. Kita sediakan 5 tempat yang dapat ditempati 5 angka yang disediakan.

Tempat ke- 1 2 3 4 5
Banyak cara 5 4 3 2 1
  • Tempat pertama dapat diisi dengan 5 cara, yakni angka 1, 2, 3, 4, 5
  • Tempat kedua dapat diisi dengan 4 cara
  • Demikian seterusnya, tempat kelima dapat diisi dengan 1 cara.
  • Dengan demikian, total banyaknya cara adalah  cara.

      Ketika kita menghitung banyaknya cara menyusun password di atas, kita telah menggunakan kaidah pengisian tempat yang tersedia, yang secara umum dijelaskan sebagai berikut :

     Misalkan:

      :  banyaknya cara mengisi tempat pertama

      :  banyaknya cara mengisi tempat kedua setelah tempat pertama terisi

      :  banyaknya cara mengisi tempat ke-k setelah (k – 1) tempat

              sebelumnya terisi.

C.    Aturan Perkalian dan Aturan Penumlahan Dalam Operasi Himpunan

Aturan penjumlahan dan aturan perkalian dapat juga dinyatakan kedalam teori himpunan. Pada aturan penjumlahan, misalkan  adalah himpunan-himpunan yang tak beririsan (disjoint). Maka banyaknya cara untuk memilih satu anggota dari himpunan-himpunan ini adalah:

Pada aturan perkalian, misalkan  adalah himpunan-himpunan yang berhingga. Maka banyaknya cara untuk memilih satu anggota dari masing-masing himpunan dengan urutan  adalah kardinalitas dari perkalian Kartesian semua himpunan tersebut

Sebagai gambaran, perhatikan contoh berikut ini. Contoh: berapa banyak bit string dengan panjang 8 bit yang bias dimulai dengan “1” atau berakhir dengan “00”?

Pekerjaan – 1

Bentuk suatu string dengan panjang 8 yang dimulai dengan 1.

                  Ada satu cara untuk mengambil bit pertama (1),

                  Dua cara untuk mengambil bit kedua (0 atau 1),

                  Dua cara untuk mengambil bit ketiga (0 atau 1),

                  . . . .

                  Dua cara untuk mengambil bit kedelapan (0 atau 1)

Maka berdasarkan aturan perkalian, pekerjaan 1 dapat dilakukan dengan I.27 = 128 cara.

      Pekerjaan – 2

Bentuk suatu string dengan panjang 8 yang berakhir dengan 00.

                  Ada dua cara untuk mengambil bit pertama (0 atau 1),

Dua cara untuk mengambil bit kedua (0 atau 1),

. . . .

Dua cara untuk mengambil bit keenam (0 atau 1),

Satu cara untuk mengambil bit ketujuh (0), dan

Satu cara untuk mengambil bit kedelapan (0).

Maka berdasarkan aturan perkalian, pekerjaan 2 dapat dilakukan dengan 26 = 64 cara.

Karena ada 128 buah cara untuk melakukan pekerjaan 1 dan 64 cara untuk melakukan pekerjaan 2, apakah ini berarti ada 192 buah bit string 8 bit berawalan dengan 1 dan berakhiran dengan 00? Pekerjaan 1 dan pekerjaan 2 dapat dilakukan pada waktu yang sama, dimana ketika kita melakukan pekerjaan 1 dan membuat string yang diawali dengan 1, beberapa dari string ini berakhiran 00. Karena kadangkala kita bias melakukan pekerjaan 1 dan 2 pada saat bersamaan, maka aturan penjumlahan tidak berlaku.

         Jika ingin menggunakan aturan penjumlahan dalam kasus ini, maka harus mengurangkan kasus-kasus dimana pekerjaan 1 dan 2 dilakukan secara bersamaan dari total kemungkinan. Ada berapa banyak kasus yang demikian, yaitu berapa banyak string yang berawalan dengan 1 dan berakhiran dengan 00?

Ada satu cara untuk mengambil bit pertama (1),

Ada dua cara untuk bit yang kedua (0 atau 1)

. . . .

Keenam (0 atau 1),

Ada satu cara untuk bit ketujuh (0),

Dan satu cara untuk bit kedelapan (0).

Berdasarkan aturan perkalian, maka ada 25 = 32 buah kasus, dimana pekerjaan 1 dan 2 dapat dikerjakan secara bersamaan.

Karena terdapat 128 cara untuk melakukan pekerjaan 1 dan 64 cara untuk melakukan pekerjaan 2, dan 32 diantaranya kedua pekerjaan tersebut dilakukan pada saat yang bersamaan, maka sebenarnya ada 128 + 64 – 32 = 160 cara untuk melakukan pekerjaan 1 dan pekerjaan 2 (tak bersamaan). Di dalam teori himpunan A1 dan A2 yang tidak beririsan. Maka kita punya:  yang disebut sebagai prinsip inklusi-eksklusi.

BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan

         Pencacahan (counting) adalah bagian dari matematika kombinatorial. Persoalan kombinatorik bukan merupakan persoalan yang baru dalam kehidupan nyata. Materi pembahasannya akan ditekankan pada:

  • Aturan penjumlahan

“Jika  tugas  jenis  pertama  dapat  dilakukan dengan m cara, tugas jenis kedua dapat dilakukan dengan n cara, dan kedua jenis tugas  itu tidak dapat dilakukan secara simultan, maka banyaknya cara untuk menyelesaikan tugas-tugas tersebut adalah m + n  cara”.

  • Aturan perkalian

“Jika  suatu  prosedur   dapat   dipecah   menjadi duatahap, dan jika tahap pertama menghasilkan m  keluaran yang mungkin dan  masing-masing  keluaran  dilanjutkan  ke  tahap  kedua  dengan n  keluaran yang mungkin, maka prosedur tersebut akan menghasilkan m x n keluaran yang mungkin”.

  • Permutasi dan Kombinasi
  • Kombinasi dengan Pengulangan.

         Aturan  penjumlahan dan perkalian  merupakan  pengertian  dasar  untuk memahami bahasan-bahasan selanjutnya yang berkenaan dengan kombinatorika.

B.     Saran

         Kaidah pencacah adalah dasar penghitungan, jadi sangatlah penting untuk diketahui dan dipelajari. Kaidah pencacah ini dari aturan penjumlahan sampai kombinasi denan pengulangan, namun yang kami bahas disini hanya aturan penjumlahan dan perkalian maka dari itu kami berharap untuk mencari referensi buku atau makalah yang lain supaya pengetahuan tentang kaidah pencacah lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

Siang, Jong Jek. 2006. Matematika Diskrit dan Aplikasinya pada Ilmu Komputer. Yogyakarta : Andi.

Budayasa, K. 1995. Matematika Diskret I. Surabaya: Universitiy Press IKIP.

Wibisono, Samuel. 2008. Matematika Diskrit. Yogyakarta: Graha Ilmu

http://jejakjari007.blogspot.com/2010/01/materi-matematika-diskrit.html

http://ard-cerdasnet.blogspot.com/2012/09/kaidah-pencacahan.html

MAKALAH

 “AKTIFITAS ORGANISASI KESISWAAN SEBAGAI UPAYA PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN SISWA

DI SMK NEGERI 3 TANGERANG”

Dibuat untuk tugas Ujian Tengah Semester (UTS)

Mata Kuliah Filsafat Ilmu.

Disusun oleh :

Nama        : Ufi Luthfiyah Saeruroh

Nim           : 10.84-202.099

Kls/Smstr : A2/III

Dosen        : Hasnan,M.Pd.

 

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH TANGERANG

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Jurusan Matematika

2011

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. A.    Latar Belakang Masalah

Sekolah merupakan tempat atau wahana pembentukan kepribadian siswa secara utuh. Disamping transfer ilmu pengetahuan dari guru kepada siswa, juga pembentukan mental kepribadian yang baik seperti disiratkan dalam tujuan pendidikan nasional yaitu terbentuknya manusia yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Melihat dari hal tersebut sudah barang tentu, kemampuan yang dimiliki siswa di luar akademik sedapat mungkin diwadahi dan dikembangkan oleh sekolah melalui kegiatan OSIS beserta ekstra kurikulernya.

Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal berfungsi membelajarkan siswa melalui 2 kegiatan yaitu proses pembelajaran (intra kurikuler) dan kegiatan organisasi (ekstra kurikuler). Organisasi siswa intra sekolah yang ada di sekolah disebut OSIS yang merupakan wadah kegiatan siswa dalam belajar berorganisasi.

Di sekolah, guru bertugas membelajarkan siswa, tugasnya yaitu memberikan bimbingan pada siswa, terlebih lagi dalam kegiatan berorganisasi yang ada di sekolah yaitu OSIS, maka dibentuklah bagian kesiswaan yang berfungsi mengurusi kegiatan siswa.

Sekolah atau lembaga pendidikan merupakan usaha sadar yang bertujuan mengembangkan kepribadian dan kemampuan siswa, maka sekolah merupakan salah satu wadah untuk mewujudkan pembentukan manusia Indonesia seutuhnya sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yang tertuang dalam Bab II pasal 34 UU RI No 20 (2003) tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menyatakan :

“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

Kegiatan organisasi kesiswaan dan ekstrakurikuler merupakan program sekolah, berupa kegiatan siswa yang bertujuan untuk memperdalam dan memperluas pengetahuan siswa, optimasi untuk pelajaran terkait, menyalurkan bakat dan minat serta untuk lebih membentuk kepribadian siswa. Kegiatan ekstrakurikuler ini pada dasarnya merupakan proses pelaksanaan kurikulum pendidikan yang tidak dicakup dalam struktur program pembelajaran di kelas.

 

  1. B.     Pokok Masalah Penelitian
  2. 1.      Identifikasi Masalah

Sejalan dengan latar belakang maslah yang telah diuraikan di atas, maka masalahya dapat diidentifikasi sebagai berikut :

  1. Bagaimana kegiatan ekstrakulikuler agar dapat membentuk kepribadian siswa?
  2. Kegiatan apa saja yang dilakukan OSIS untuk menjadikan siswa dapat membentuk kepribadiannya?
  3. Bagaimana pengembangan soft skills melalui ekstrakulikuler?

 

  1. 2.      Pembatasan Masalah

Untuk mempermudah kajian teori, peneliti membatasi pada permasalahan aktivitas organisasi kesiswaan sebagai upaya pembentukan kepribadian siswa SMK Negeri 3 Kota Tangerang.

  1. Kegiatan ekstrakurikuler merupakan program pembelajaran tambahan yang memberi peluang kepada para siswa untuk memilih jenis dan bentuk program yang memiliki kaitan dengan perluasan pembelajaran terstruktur di kelas. Dengan adanya kebebasan tersebut diharapkan siswa dapat bertanggung jawab terhadap diri sendiri dalam pencapaian kompetensi yang telah ditetapkan dalam standar isi dan proses pendidikan. Demikian pula partisipasi siswa dalam berbagai kelompok kegiatan pengembangan minat dan bakat siswa akan memungkinkan untuk memperkuat konsep diri dan identitas kelompok berdasarkan ciri-ciri kelompoknya. Kecenderungan siswa SMK/SMA membentuk suatu kelompok, perlu diperhatikan untuk dapat dikelola secara arif  dan berorientasi positif.
  2. Pembentukan kepribadian siswa SMK untuk bekal ke jenjang pendidikan yang tinggi atau pun langsung terjun ke dunia industry harus dibentuk di dalam sekolah dengan mengikuti kegiatan ekstrakulikuler yang ada di sekolah. Kegiatan yang ekstrakuler laksanakan akan menambah kepercayaan diri dan kemampuan untuk menunjukan kreativitas siswa SMK Negeri 3 Kota Tangerang.

 

  1. 3.      Perumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi dan pembatasan masalah di atas, maka peneliti merumuskan masalah pada : Bagaimana aktivitas organisasi kesiswaan sebagai upaya pembentukan kepribadian siswa SMK Negeri 3 Kota Tangerang?”

 

  1. C.    Keguanaan Hasil Penelitian

Peneliti yang difokuskan pada permasalahan sebagaimena tersebut di atas, diharapkan berguna untuk :

  1. Dijadikan pedoman sekolah untuk menciptakan siswa berkompetensi di dunia luar sekolah.
  2. Sebagai masukan kepada para guru, agar membimbing para siswa untuk mencari jati diri siswa.
  3. Sebagai evaluasi bagi sekolah yang bersangkutan dalam upaya membentuk kepribadian siswa SMK Negeri 3 Kota Tangerang.
  4. Sebagai tugas Ujian Tengah Semester, mata kuliah Filsafat Ilmu.

 

 

 

  1. D.    Sistematika Penyusunan

Sistematika penulisan dalam penelitaian ini, maka peneliti menyusun sebagai berikut :

BAB I    : Pendahuluan yang berisikan latar belakang masalah, pokok masalah penelitian meliputi identifikasi masalah, pembatasan masalah, dan perumusan masalah, kegunaan hasil penelitian dan sistematika penyusunan.

BAB II   :  Kajian Teori dan Hipotesis tentang deskripsi teori organisasi kesiswaan dan hipotesis penelitian.

BAB III :  Metodologi penelitian, meliputi tempat dan waktu penelitian, metode penelitian, populasi dan sampel.

BAB IV :  Penutup, meliputi kesimpulan dan saran.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS

 

  1. A.    Deskripsi Teori  
  2. 1.      Pengertian Organisasi Kesiswaan

Permendiknas Nomor 39 Tahun 2008 Bab III tentang Organisasi Pasal 4 ayat 1 yang mengemukakan bahwa organisasi kesiswaan di sekolah berbentuk organisasi siswa intra sekolah (OSIS).

  1. Secara sematis

OSIS adalah singkatan dari Organisasi Siswa Intra Sekolah dimana setiap sekolah wajib membentuk organisasi kesiswaan. OSIS merupakan satu-satunya wadah organisasi siswa di sekolah untuk mencapai tujuan pembinaan dan pengembangan kesiswaan. OSIS bersifat intra sekolah, artinya tidak ada hubungan organisatoris dengan OSIS di sekolah lain dan tidak menjadi bagian dari organisasi lain yang ada di sekolah, oleh karena itu setiap siswa secara otomatis menjadi anggota OSIS dari sekolah yang bersangkutan. Keanggotaan itu secara otomatis berakhir dengan keluarnya siswa dari sekolah yang bersangkutan.

  1. Secara Fungsional

Dalam rangka pelaksanaan kebijaksanaan pendidikan, khususnya dibidang pembinaan kesiswaan, arti yang terkandung lebih jauh dalam pengertian OSIS adalah sebagai salah satu dari empat jalur yang lain yaitu: latihan kepemimpinan, ekstrakurikuler, dan wawasan wiyata mandala.

  1. Secara Sistemik

Apabila OSIS dipandang sebagai suatu sistem, berarti OSIS sebagai tempat kehidupan berkelompok siswa yang bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama. Dalam hal ini OSIS dipandang sebagai suatu sistem, di mana sekumpulan para siswa mengadakan koordinasi dalam upaya menciptakan suatu organisasi yang mampu mencapai tujuan. Oleh karena OSIS sebagai suatu sistem ditandai beberapa ciri pokok yaitu:

a)      Berorientasi pada tujuan,

b)      Memilliki suasana kehidupan kelompok,

c)      Memiliki sejumlah peranan,

d)     Terkoordinasi,

e)      Berkelanjutan dalam waktu tertentu.

 

  1. 2.      Visi dan Misi Organisasi Kesiswaan

Pengertian Visi:

  1. Mimpi OSIS ke depan yang dapat dipenuhi (diadakan), bukan fantasi
  2. Gambaran keberhasilan ideal bagaimana OSIS akan diarahkan untuk tahun-tahun mendatang
  3. Mimpi keberhasilan tersebut digambarkan pada nilai-nilai yang diyakini OSIS
  4. Mimpi keberhasilan mengarah langsung pada tujuan dasar OSIS
  5. Dilandasi kesejatian, kejujuran, kesungguhan dan keikhlasan

 

Ciri-ciri Pernyataan Visi yang Efektif:

  1. Mengilhami kerja-kerja OSIS
  2. Menjadi titik dasar OSIS bergerak ke depan
  3. Membantu mengarahkan kemana arah OSIS bekerja
  4. Membantu mengambil keputusan tentang apa yang akan dan tidak akan dilakukan OSIS
  5. Memungkinkan pengurus menyusun petunjuk kerja yang benar
  6. Membantu OSIS dalam menilai dan mengukur perkembangan dalam waktu yang panjang
  7. Rumusan singkat, tegas dan lugas
  8. Mudah dipahami oleh siapapun

 

Perumusan Misi

Misi menggambarkan:

  1. Pandangan dasar OSIS dimana segala sumber daya dan gerak diorientasikan
  2. Apa yang akan digarap oleh OSIS. (mengapa OSIS perlu eksis)
  3. Siapa yang akan diuntungkan oleh kerja-kerja OSIS (siapa yang akan dilayani)
  4. Metode/kegiatan utama yang akan digunakan untuk mencapai tujuan dasar.

 

Pernyataan Misi yang Efektif:

  1. Dapat memberikan petunjuk
  2. Ringkas/singkat dan bermakna
  3. Mudah dipahami dan dapat dikomunikasikan kepada siapapun
  4. Mengandung motivasi dan membantu orang lain dapat memahami tujuan dasar OSIS
  5. Mengidentifikasi pada tujuan utama OSIS
  6. Mengekpresikan nilai-nilai/prisip-prinsip OSIS

 

Contoh bentuk Visi Misi OSIS:

VISI

Disiplin dalam belajar

Unggul dalam prestasi

Taat dan tertib dalam beribadah

Aktif dan kreatif serta Berbudaya lingkungan

 

MISI

Dalam rangka menjabarkan visi tersebut ditetapkan 5

(lima) misi, yaitu:

  1. Suasana kondusif untuk beriman dan bertakwa dengan menjunjung tinggi toleransi dalam melaksanakan ibadah.
  2. Antusias warga sekolah untuk meraih prestasi terbaik dalam setiap kesempatan, baik prestasi akademik, maupun prestasi non akademik.
  3. Tertib belajar dan disiplin dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berwawasan global.
  4. Aktivis, kreativitas yang inovatif dalam rangka mengaktualisasikan potensi diri secara optimal.
  5. Solidaritas dan berbudaya lingkungan sehingga mampu menjadi pelopor masyarakat.

 

  1. 3.      Tujuan dan Program Kegiatan Organisasi Kesiswaan
    1. a.      Tujuan

Organisasi ini bertujuan mempersiapkan siswa sebagai kader penerus cita-cita perjuangan bangsa dan sumber insan pembangunan nasional sebagaimana termaktub dalam Permendiknas No. 39 Tahun 2008, Bab I Pasal I, yaitu untuk:

a)      Mengembangkan potensi siswa secara optimal dan terpadu yang meliputi bakat, minat, dan kreativitas;

b)      Memantapkan kepribadian siswa untuk mewujudkan ketahanan sekolah sebagai lingkungan pendidikan sehingga terhindar dari usaha dan pengaruh negatif dan bertentangan dengan tujuan pendidikan;

c)      Mengaktualisasikan potensi siswa dalam pencapaian prestasi unggulan sesuai bakat dan minat;

d)     Menyiapkan siswa agar menjadi warga masyarakat yang berakhlak mulia, demokratis, menghormati hak-hak asasi manusia dalam rangka mewujudkan masyarakat madani (civil society).

 

  1. b.      Program Materi Pembinaan Organisasi Kesiswaan

Materi pembinaan organisasi kesiswaan sebagaimana termaktub dalam Permendiknas No. 39 Tahun 2008, Pasal 3 ayat 2 meliputi:

a)      Keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa;

b)      Budi pekerti luhur atau akhlak mulia;

c)      Kepribadian unggul, wawasan kebangsaan, dan bela Negara;

d)     Prestasi akademik, seni, dan/olah raga sesuai bakat dan minat;

e)      Demokrasi, hak asasi manusia, pendidikan politik, lingkungan hidup, kepekaan dan toleransi social dalam konteks masyarakat plural;

f)       Kreativitas, keterampilan, dan kewirausahaan;

g)      Kualitas jasmani, kesehatan, dan gizi berbasis sumber gizi yang terdisertivikasi;

h)      Sastra dan budaya;

i)        Teknologi informasi dan komunikasi;

j)        Komunikasi dalam bahasa Inggris.

 

  1. 4.      Peranan Organisasi Kesiswaan

Peranan adalah manfaat atau kegunaan yang dapat disumbangkan OSIS dalam rangka pembinaan kesiswaan.

Sebagai salah satu jalur pembinaan kesiswaan, peranan OSIS adalah:

  1. a.      Sebagai Wadah

Organisasi Siswa Intra Sekolah merupakan satu-satunya wadah kegiatan para siswa di Sekolah bersama dengan jalur pembinaan yang lain untuk mendukung tercapainya tujuan pembinaan kesiswaan. Oleh sebab itu OSIS dalam mewujudkan fungsinya sebagai wadah dan wahana harus selalu bersama-sama dengan jalur lain, yaitu latihan kepemimpinan, ekstrakurikuler, dan wawasan wiyatamandala. Tanpa saling bekerjasama dari berbagai jalur, peranan OSIS sebagai wadah tidak akan berfungsi lagi.

 

  1. b.      Sebagai Penggerak / Motivator

Motivator adalah perangsang yang menyebabkan lahirnya keinginan, semangat para siswa untuk berbuat dan melakukan kegiatan bersama dalam mencapai tujuan. OSIS akan tampil sebagai penggerak apabila para pembina, pengurus mampu membawa OSIS selalu dapat menyesuaikan dan memenuhi kebutuhan yang diharapkan, yaitu menghadapi perubahan, memiliki daya tangkal

terhadap ancaman, memanfaatkan peluang dan perubahan, dan yang paling penting memberikan kepuasan kepada anggota. Dengan bahasa manajemen OSIS mampu memainkan fungsi intelektual, yaitu mampu meningkatkan keberadaan OSIS baik secara internal maupun eksternal.

Apabila OSIS dapat berfungsi demikian sekaligus OSIS berhasil menampilkan peranannya sebagai motivator.

 

  1. c.       Peranan yang bersifat preventif

Apabila peran yang bersifat intelek dalam arti secara internal OSIS dapat menggerakkan sumber daya yang ada secara eksternal OSIS mampu mengadaptasi dengan lingkungan, seperti : menyelesaikan persoalan perilaku menyimpang siswa dan sebagainya. Dengan demikian secara preventif OSIS berhasil ikut mengamankan sekolah dari segala ancaman yang datang dari dalam maupun dari luar. Peranan Preventif OSIS akan terwujud apabila peranan OSIS sebagai pendorong lebih dahulu harus dapat diwujudkan.

Melalui peranan OSIS tersebut dapat ditarik beberapa manfaat sebagai berikut:

  1. Meningkatkan nilai-nilai ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
  2. Meningkatkan kesadaran berbangsa, bernegara, dan cinta tanah air,
  3. Meningkatkan kepribadian dan budi pekerti luhur.
  4. Meningkatkan kemampuan berorganisasi, pendidikan politik dan kepemimpinan.
  5. Meningkatkan ketrampilan, kemandirian dan percaya diri.
  6. Meningkatkan kesehatan jasmani dan rohani.
  7. Menghargai dan menjiwai nilai-nilai seni, meningkatkan dan mengembangkan kreasi seni.

 

  1. B.     Aktifitas Organisasi Kesiswaan
  2. 1.      Tujuan dan Ruang Lingkup Ekstrakulikuler

Tujuan pelaksanaan kegiatan ekstrakulikuler menurut Direktorat Pembinaan Kesiswaan Dikmenum (1996) adalah untuk lebih menetapkan pembentukan kepribadian dan untuk lebih mengaitkan antara pengetahuan yang diperoleh dalam program kurikulum dengan keadaan dan kebutuhan lingkungan.

Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan dalam Suryosubroto (2009:288) lebih rinci lagi memaknai kegiatan ekstrakulikuler sebagai berikut :

  1. Kegiatan ekstrakulikuler harus dapat meningkatkan kemampuan siswa beraspek kognitif, afektif, dan psikomotor.
  2. Mengembangkan bakat dan minat siswa dalam upaya pembinaan pribadi menuju pembinaan manusia seutuhnya yang positif.
  3. Dapat mengetahui, mengenal serta membedakan antara hubungan satu pelajaran dengan mata pelajaran lainnya.

Sedangkan ruang lingkup kegiatan ekstrakulikuler ditegaskan oleh Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan adalah harus berpangkal pada kegiatan yang dapat menunjang serta dapat mendukung program intrakulikuler dan program kokurikuler.

 

  1. 2.      Kebijakan Tentang Ekstrakulikuler

Menurut Kamus umum Bahasa Indonesia, kegiatan diartikan sebagai aktivitas, keaktivitasan : usaha yang sangat giat ( Poerwodarminto, 2002). Ekstrakulikuler dalam kamus Besar Bahasa Indonesia mempunyai arti kegiatan yang bersangkutan di luar kurikulum atau di luar susunan rencana pelajaran (Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1989).

Sedangkan menurut kamus maya Wikipedia, disebutkan : Extracurricular activities are activities porformad by standarts that fall out side the realm of the normal curriculum of school or university educations. Extracurricular activities exist at all levels of education, from 4th-6th, junior high/middle school, high school, college and university education. (http://id.wikipedia.org/wiki/extracurriculer).

Kegiatan ekstrakulikuler ditunjukkan agar siswa atau mahasiswa dapat mengembangkan kepribadian, bakat dan kemampuan diberbagai bidang di luar bidang akademik.

Kegiatan ekstrakulikular pada masa lalu itu dilakukan dengan berlandasan pada Surat Keputusan (SK) Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendibud) No. 0461/U/1964 dan Surat Keputusan (SK) Direktur Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah (Dirjen Dikdasmen) No. 226/C/kep/0/1992. Dinyatakan bahwa kegiatan ekstrakulikuler merupakan salah satu jalur pembinaan kesiswaan di samping jalur Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), Latihan Kepemimpinan dan Wawasan Wiyatamandala.

 

  1. 3.      Kegiatan Ekstrakulikuler

Kegiatan ekstrakulikuler terdapat delapan macam, yaitu :

  1. Kegiatan pembinaan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, seperti memperingati hari-hari besar keagamaan.
  2. Kegiatan pembinaan kehidupan berbangsa dan bernegara, seperti melakukan bakti social.
  3. Kegiatan pembinaan Pendidikan pendahuluan Bela Negara, seperti melakukan wisata siswa (study tour) dan kelestarian lingkungan alam.
  4. Kegiatan pembinaan kepribadian dan budi pekerti luhur, seperti melakukan pedoman penghayatan dan pengamalam pancasila.
  5. Kegiatan pembinaan berorganisasi, pendidikan politik dan kepemimpinan, seperti OSIS.
  6. Kegiatan pembinaan keterampilan dan kewirausahaan, seperti meningkatkan usaha koperasi sekolah.
  7. Kegiatan pembinaan kesegaran jasmani dan daya kreasi, seperti menyelenggarakan lomba berbagai macam olah raga.
  8. Kegiatan pembinaan persepsi, apersepsi dan kreasi seni, seperti mementaskan hasil berbagai cabang seni.
  9. 4.      Pengembangan Soft Skills melalui Ekstrakulikuler di Sekolah

Sekolah perlu membekali siswanya dengan pendidikan kecakapan hidup (life skills) dengan membina dan mengembangkan berbagai keterampilan dasar (soft skills). Siswa yang mengikuti soft skills akan memperoleh banyak keterampilan. Menurut Klaus (2007:2) soft skills meliputi personal (kepribadian) Yaitu mempunyai sikap sosal, komunikasi dan manajement tingkah laku sendiri yang meliputi kemampuan dan sifat bawaan seperti kesadaran diri, tanggung jawab, kepemimpinan, pola pikir kritis, sikap, inisiatif, memecahkan masalah, mau mengambil resiko, percaya diri, empati, dan lain sebagainya.

Klaus (2007:2) membedakan antara soft skills dengan hard skills, yaitu hard skill adalah kemampuan teknik dan pengetahuan nyata (factual) yang diperlukan oleh suatu pekerjaan, sedangkan soft skills akan lebih efektif bila diaplikasikan dalam suatu pekerjaan.

Kegiatan ekstrakulikuler dimaksudkan untuk lebih memantapkan pembentukan kepribadian dan lebih untuk meningkatkan antara pengetahuan yang diperoleh dalam program kurikulum dengan keadaan dan kebutuhan lingkungan. (Petunjuk Teknis Kegiatan Ekstrakulikuler.1996:353)

 

 

 

 

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

 

  1. A.    Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 15 November 2011 sampai 22 November 2011 di SMK Negeri 3 Kota Tangerang Jalan Mochammad Yammin S.H.

 

  1. B.     Metode Penelitian

Metode yang peneliti gunakan adalah metode deskriptif analisis yaitu penelitian yang bertujuan untuk menggambarkan keadaan, status fenomena secara sistematis, aktual dan akurat untuk memperoleh data yang lengkap.

 

  1. C.    Populasi dan Sampel

Populasi adalah keseluruhan objek penelitian. Dalam penelitian ini, peneliti mengambil populasi yaitu semua siswa yang belajar di SMK Negeri 3 Kota Tangerang.

Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Dalam penelitian ini yang dijadikan sampel oleh peneliti adalah siswa kelas XII Teknik Komputer dan Jaringan yang berjumlah 32 siswa.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Abudin Nata. 2007. Manajemen Pendidikan. Jakarta:Kencana Prenada Media Group.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 2008. tentang Pembinaan Kesiswaan.

Depdikbud. 1998. Petunjuk  Pelaksanaan Kegiatan Ekstrakulikuler sebagai Salah Satu Jalur Pembinaan Kesiswaan. Jakarta:Departemen Pendidikan dan Kebudayaan:Dirjend Diksdasmen.

http://id.wikipedia.org/wiki/extracurricular

 

 


Assalamu’alaikum Wr. Wb

It’s Me …………..

Terimakasih telah berkunjung ke blog sederhana ku,
berkunjunglah kembali dan jangan lupa komentari setiap karya tulisan ku.
Salam Kenal.

My Kalender

November 2017
M S S R K J S
« Mar    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 2.040 pengikut lainnya

My Arsip

Hours & Info

021-92833529
masuk kerja : 06.30
pulang kerja : 14.00
kuliah : 18.30 - 22.00

My Instagram

Rujakan paling seru bersama Sunan Ampel. Walau hujan membuat kesan seru banget😄😄😄
Rujak mania 👍👍👍 mantap 😘😘😘
#annuqthahboardingschool
Nanangpati's Blog

AL I'TIMADU 'ALAN NAFSI ASASUN NAJAH

Pagar Alam dot Com

Berbagi Informasi Pendidikan dan Pembelajaran Matematika

Ruang Keluarga

Problematika & Solusi Teruntuk Pasangan Suami Istr

Irfan Handi

Hanya Ingin Berbagi

PressDesain

Just Wanna Share

Syarifah Umamah

Assalamu'alaikum

Made Nuryadi

Belajar dan Berbagi Seputar Dunia Pendidikan

Welcome to Ufi Luthfiyah Blog's

My Word My WordPress.com

tentang PENDIDIKAN

AKHMAD SUDRAJAT

Dunia Seni & Teknologi

Dengan Seni Hidup Lebih Indah, Dengan Teknologi Hidup Lebih Mudah....