Welcome to Ufi Luthfiyah Blog's

Pada masa lalu, metode kualitatif dan metode kuantitatif juga sering digunakan sebagai penciri, penanda, dan pembeda antara antropologi dan sosiologi. Kesan tersebut muncul karena masing-masing disiplin ilmu tersebut terus menerus menggunakan metode secara konsisten. Antropologi sering menggunakan metode kualitatif, sedangkan sosiologi hampir selalu menggunakan metode kuantitatif. Asumsi ini didasarkan atas kenyataan bahwa antropologi ingin mendeskripsikan, menginterpretasikan, dan mengklasifikasikan masyarakat yang masih tradisonal. Hal tersebut seolah-olah menempatkan antropologi dalam posisi memiliki satu pendekatan, yaitu interpretasi atau penafsiran. Sementara itu, sosiologi sudah terlanjur dikenal sering menggunakan metode kuantitatif dan melakukan penelitian terhadap masyarakat modern yang kompleks. Ada kesan bahwa penelitian sosiologis selalu menggunakan metode kuantitatif.
Penelitian kualitatif dan kuantitatif hendaknya tidak dilawankan, melainkan dikontraskan. Kontras ini diperlukan untuk melihat keunggulan dan kelemahannya masing-masing dalam memecahkan masalah dan atau dalam pengembangan teori. Metode penelitian kualitatif dan kuantitatif masing-masing berkembang berdasarkan paradigma tertentu (yang berbeda) yang menjadi acuannya.
Jenis penelitian apa yang harus digunakan, selalu didasarkan pada masalah yang diteliti, bukan ditetapkan jenis penelitiannya dulu baru ditetapkan masalahnya. Hal ini disebabkan karena adanya kenyataan bahwa penelitian itu dilakukan karena ada masalah. Alasan pemilihan suatu metode, tentunya didasarkan pada kesesuaiannya dengan masalah penelitian, tujuan penelitian, serta prosedur penelitian yang cocok, hasil yang diharapkan, dan kondisi kelompok sasaran atau objek penelitiannya.
Paradigma
- Suatu perangkat kepercayaan, nilai-nilai, suatu pandangan tentang dunia sekitarnya. Paradigma berfungsi mengarahkan penelitian (Nasution).
- Seperangkat bentuk yang berbeda-beda dari sebuah kata seperti pada ungkapan verb paradigm atau jenis sesuatu, pola, model. Paradigma berperan sebagai rujukan dan sudut pandang (A. Chaedar Alawasilah).
- A set of interrelated assumptions about the social world which provides a philosophical and conceptual framework for the organized study of that world. A paradigm represents a disciplinary matrix which encompasses the commonly shared generalizations, assumptions, values, belief, and examples of what contributes the discipline’s interest (Thomas Kuhn).
- Pandangan mendasar dari suatu disiplin ilmu tentang apa yang menjadi pokok persoalan (subject matter) dalam ilmu pengetahuan. Sesuatu yang menjadi pokok persoalan dalam satu cabang ilmu menurut versi ilmuwan tertentu. Kesatuan konsensus yang terluas dalam suatu bidang ilmu pengetahuan dan membantu membedakan antara komunitas ilmuwan yang satu dengan yang lain (Ritzer)
Paradigma menggolong-golongkan, mendefinisikan, dan menghubungkan eksemplar, teori-teori, metode-metode, serta instrumen-instrumen yang terdapat di dalamnya. Paradigma membantu merumuskan tentang apa yang harus dipelajari, persoalan-persoalan apa yang mesti dijawab, bagaimana seharusnya menjawab, serta aturan-aturan apa yang harus diikuti dalam menginterpterasikan informasi yang dikumpulkan dalam rangka menjawab persoalan-persoalan tersebut. Dalam satu paradigma tertentu, terdapat kesamaan pandangan tentang apa yang menjadi pokok persoalan dari cabang ilmu itu serta kesamaan metode serta instrumen yang dipergunakan sebagai peralatan analisa.
Mengapa paradigma berbeda-beda ?
- Karena perbedaan pandangan filsafat yang mendasari masing-masing komunitas sosiologi tentang pokok persoalan yang semestinya dipelajari sosiologi.
- Sebagai konsekuensi logis alasan pertama, maka teori-teori yang dibangun dan dikembangkan masing-masing komunitas ilmuwan menjadi berbeda.
- Metode yang dipakai untuk memahami dan menjelaskan substansi disiplin inipun berbeda.

Ritzer menilai, bahwa dalam sosiologi terdapat multiple paradigm. Pertentangan antar paradigma juga dirasuki unsur politik. Ritzer melihat ada potensi negatif dalam perkembangan sosiologi, dari perbedaan antar paradigma tersebut. Ritzer kemudian mengajukan paradigma terpadu, bukan untuk menggantikan, tetapi untuk mengatasi kelemahan pendekatan paradigma yang ada
Penelitian
Penelitian dapat dipahami sebagai suatu dialog yang terjadi secara terus menerus antara dua jenis kenyataan, yaitu antara agreement reality dan experiential reality. Penelitian merupakan suatu usaha menghubungkan kenyataan empirik dengan teori, apabila teori sudah ada. Mengapa ? Karena dalam penelitian kualitatif, penelitian dilakukan bukan dalam rangka menguji teori atau hipotesis, melainkan menemukannya.
Teori dalampenelitian kuantitatif bersifat a priori yang disusun melalui deduktif dan logis, sedangkan teori dalam penelitian kualitatif disusun melalui dasar (grounded) ditemukan melalui induktif. Teori yang ditemukan melalui dasar itu memenuhi dua kriteria, yaitu sesuai dengan situasi empiris dan fungsi teori, yaitu : meramalkan, menerangkan, menafsirkan, dan mengaplikasikan.
Penelitian Kualitatif
Pendekatan penelitian kualitatif sering disebut dengan naturalistic inquiry (inkuiri alamiah). Apapun macam, cara atau corak analisis data kualitatif suatu penelitian, perbuatan awal yang senyatanya dilakukan adalah membaca fenomena. Setiap data kualitatif mempunyai karakteristiuknya sendiri. Data kualitatif berada secara tersirat di dalam sumber datanya. Sumber data kualitatif adalah catatan hasil observasi, transkrip interviu mendalam (depth interview), dan dokumen-dokumen terkait berupa tulisan ataupun gambar.
Karakteristik Penelitian Kualitatif
1. Setting/latar alamiah atau wajar dengan konteks utuh (holistik).
2. Instrumen penelitian berupa manusia (human instrument).
3. Metode pengumpulan data observasi sebagai metode utama.
4. Analisis data secara induktif.
5. Proses lebih berperanan penting daripada hasil.
6. Penelitian dibatasi oleh fokus.
7. Desain penelitian bersifat sementara.
8. Laporan bernada studi kasus.
9. Interpretasi ideografik.

Metode Pengumpulan Data
1. Pengamatan dengan berpartisipasi (Participant Observation)
2. Wawancara Mendalam (Indepth Interview)
3. Penyelidikan Sejarah Hidup (Life Historical Investigation)
4. Analisis Konten (Content Analysis)

Proposal Penelitian Kualitatif
1. Judul Penelitian
Bersifat umum, belum terfokus, sehingga memberi kemungkinan untuk berkembang sesuai dengan kondisi yang dihadapi di lapangan, tidak menggambarkan variabel-variabel secara eksplisit.
2. Pendahuluan
a. Latar Belakang Masalah
- Masalah : suatu keadaan yang bersumber dari hubungan antara dua faktor atau lebih yang menghasilkan situasi yang membingungkan
- Terkait dengan isu-isu yang sedang berkembang
- Masalah yang belum banyak diteliti menjadi prioritas
- Perlu memperhatikan aksesibilitas, signifikansinya dengan isu-isu yang berkembang, relevansinya bagi masyarakat, seringnya diteliti, sentral tidaknya permasalahan, kesesuaiannya dengan tingkat perkembangan suatu disiplin.
b. Rumusan Masalah
- Bukan harga mati (kaku), bersifat tentatif, artinya penyempurnaan rumusan masih mungkin dilakukan sewaktu di lapangan.
- Meski rumusan masalah telah dirumuskan berdasarkan telaah pustaka dan pengalaman tertentu, bisa jadi situasi di lapangan tidak memungkinkan peneliti untuk melakukannya.
c. Tujuan Penelitian
- Memecahkan masalah. Sejalan dengan rumusannya.
d. Pertanyaan Fokus
- Fokus sebagai wahana untuk membatasi studi
- Pilihan subjektif peneliti dihormati dan dihargai
- Bila peneliti telah menetapkan masalah dan tujuannya, harus memegang posisi paradigmanya
- Pertanyaan harus sudah difokuskan pada hal-hal yang terkait dengan masalah dan tujuannya.

3. Kajian Pustaka
- Kajian pustaka dan hasil penelitian terdahulu
- Kerangka berfikir atau analisis yang sifatnya teoritis
- Kajian ini tidak diperlukan dalam Grounded Research (model anti teori, menolak perumusan maslaah, rancangan penelitian, kajian teori yang mendikte arah penelitian, data merupakan sumber teori)

4. Metode Penelitian
- Penentuan Subjek Penelitian Nara sumber/informan, peristiwa/aktivitas, tempat/lokasi, dokumen, arsip Penentuan sampel (cuplikan) bersifat selektif, tidak mewakili populasi, tetapi mewakili informasinya (perlu memperhatikan ciri-ciri tertentu pada informan)
- Pemilihan Setting/Latar Penelitian Penjajagan lapangan Setting penelitian di tempat yang dikenal baik (di tempat sendiri) tidak dianjurkan karena pengambilan jarak antara peneliti dengan yang diteliti menjadi sukar dilakukan (ada subjektivitas)
- Teknik Pengumpulan Data Data adalah kata-kata yang diucapkan/ditulis dan perilaku. Alat pengumpul data adalah peneliti sendiri. Sumber data adalah manusia (hasil pengamatan berpartisipasi dan wawancara mendalam) dan non manusia (dokumen, catatan)
- Analisis Data Interactive Model : pengumpulan data, reduksi data, display data, kesimpulan/verifikasi. Ethnographic Model : domain analysis, taxonmy analysis, componential analysis, theme analysis.
- Teknik untuk Mencapai Keabsahan/Kredibilitas
Untuk menghindari/menghilangkan unsur subjektivitas : perpanjangan keikutsertaan, ketekunan pengamatan, triangulasi, pemeriksaan sejawat melalui diskusi (peer debriefing, member check, dll).

5. Daftar Pustaka
Sumber Pustaka
Darmiyati. 1998. Penelitian Kualitatif. Makalah Penataran Pengenalan Berbagai Pendekatan dan Metode Penelitian Lemlit UNY.
Dwiyanto, Djoko. Metode Kualitatif : Penerapannya dalam Penelitian. http://www.inparametric.com

Gunawan. 2007. Teknik Analisis Data Kualitatif. Makalah Lokakarya Analisis Data Kualitatif Lemlit UNY.
Muhadjir, Noeng. 2002. Trend Perkembangan Penelitian Kualitatif. Makalah Sarasehan Penelitian Dosen FIP UNY.
Siti Partini. 1998. Penelitian Survei. Makalah Penataran Pengenalan Berbagai Pendekatan dan Metode Penelitian Lemlit UNY.
————— 2002. Proposal Penelitian Kualitatif. Makalah Lokakarya Penyusuna Proposal Penelitian Lemlit UNY.
Sudarsono, FX. 2004. Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif. Makalah Lokakarya Penyusunan Proposal Penelitian TP FIP UNY.
Zamzani. 2007. Pokoknya Penelitian Kualitatif. Makalah Lokakarya Analisis Data Kualitatif Lemlit UNY.

MatematikaPasti kamu pernah bertanya, kenapa sih kita mesti belajar matematika? dari mulai kita kecil, SD, SMP, SMA/SMK, bahkan kuliah pun matematika seolah-olah menjadi mata pelajaran yang wajib. Bahkan saat ujian nasional pun matematika termasuk mata pelajaran yang diujikan.

Kadang malah kita berpikir apa ya manfaatnya belajar matematika?

Apakah ada hubungan belajar matematika dalam kehidupan nyata?

Trus belajar integral, differensial, aljabar linier, fungsi kompleks apakah memberikan pengaruh bagi kehidupan kita?

Buat yang penasaran, liat nih beberapa manfaat yang kamu dapet kalo kamu belajar matematika

1. Cara berpikir matematika itu sistematis, melalui urutan-urutan yang teratur dan tertentu. dengan belajar matematika, otak kita terbiasa untuk memecahkan masalah secara sistematis. Sehingga bila diterapkan dalam kehidupan nyata, kita bisa menyelesaikan setiap masalah dengan lebih mudah
2. Cara berpikir matematika itu secara deduktif. Kesimpulan di tarik dari hal-hal yang bersifat umum. bukan dari hal-hal yang bersifat khusus. Sehingga kita menjadi terhindar dengan cara berpikir menarik kesimpulan secara “kebetulan”. Misalnya kita tidak bisa menyatakan kalo “kita tidak boleh lewat jalan A pada hari sabtu, karena jalan tersebut meminta tumbal tiap hari sabtu” hanya karena ada beberapa orang yang kebetulan kecelakaan dan meninggal di jalan tersebut pada hari sabtu. Kita seharusnya berpikir bahwa orang yang meninggal di jalan tersebut pada hari sabtu bukan karena tumbal. tapi harus dianalisa lagi apakah karena orang tersebut tidak hati-hati, ataukah jalan yang sudaha agak rusak, atau sebab lain yang lebih rasional.
3. Belajar matematika melatih kita menjadi manusia yang lebih teliti, cermat, dan tidak ceroboh dalam bertindak. Bukankah begitu? coba saja. Masih ingatkah teman-teman saat mengerjakan soal-soal matematika? kita harus memperhatikan benar-benar berapa angkanya, berapa digit nol dibelakang koma, bagaimana grafiknya, bagaimana dengan titik potongnya dan lain sebagainya. Jika kita tidak cermat dalam memasukkan angka, melihat grafik atau melakukan perhitungan, tentunya bisa menyebabkan akibat yang fatal. Jawaban soal yang kita peroleh menjadi salah dan kadang berbeda jauh dengan jawaban yang sebenarnya.
4. Belajar matematika juga mengajarkan kita menjadi orang yang sabar dalam menghadapi semua hal dalam hidup ini. Saat kita mengerjakan soal dalam matematika yang penyelesaiannya sangat panjang dan rumit, tentu kita harus bersabar dan tidak cepat putus asa. jika ada langkah yang salah, coba untuk diteliti lagi dari awal. Jangan-jangan ada angka yang salah, jangan-jangan ada perhitungan yang salah. Namun, jika kemudian kita bisa mengerjakan soal tersebut, ingatkah bagaimana rasanya? rasa puas dan bangga.( tentunya jika dikerjakan sendiri, buakn hasil contekan,. he.he.he). begitulah hidup. Kesabaran akan berbuah hasil yang teramat manis.
5. Yang tidak kalah pentingnya, sebenarnya banyak kok penerapan matematika dalam kehidupan nyata. Tentunya dalam dunia ini, menghitung uang, laba dan rugi, masalah pemasaran barang, dalam teknik, bahkan hampir semua ilmu di dunia ini pasti menyentuh yang namanya matematika.

Maka sering kali kita mendengar bahwa matematika itu sulit, padahal kesulitan itu bisa diatasi apabila didukung dengan banyaknya latihan dirumah, mungkin bukan hanya matematika saja yang perlu latihan di rumah pada pelajaran lain pun sama. Menurut Robert K. Cooper dan Ayman Sawaf, membuat satu konsep bahwa “Kecerdasan emosional” dianggap akan dapat membantu siswa dalam mengatasi hambatan-hambatan psikologis yang ditemuinya dalam belajar. Menurutnya kecerdasan emosional adalah “Kemampuan merasakan, memahami dan secara eefktif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi, informasi, koneksi, dan pengaruh manusiawi”.

Kecerdasan emosional yang dimiliki siswa sangat berpengaruh terhadap hasil belajar, karena emosi memancing tindakan seorang terhadap apa yang dihadapinya.

Pembelajaran matematika merupakan pengembangan pikiran yang rasional bagaimana kita dapat mereflesikan dalam kehidupan sehari-hari. Dari alasan tersebut penulis tertarik untuk meneliti tentang pengaruh kecerdasan emosional siswa terhadap prestasi hasil belajar matematik.

Matematika dalam pengembangan SDM.

Secara umum, matematika juga berperan dalam pengembangan sumber daya manusia. Secara lebih umum, untuk mengoptimalkan SDM perlu adanya manajemen sumber daya manusia. Setelah disadari bahwa sumber daya manusia perlu dikaji faktor apa saja dari sumber daya manusia tersebut yang perlu ditingkatkan. Dalam model awal pada kajian di tersebut, karakter yang memegang peran pada SDM diprioritaskan antara lain: cerdas (c), tenggap/responsif (r), cermat/teliti (l) dan taat SOP/disiplin (d). Nampak bahwa karakter sumber daya manusia, misalnya teliti, akan berhubungan dengan cerdas, taat melakukan prosedur perhitungan, dengan diulang-ulang sebanyak iterasi tertentu, tergantung dari proses penyelesaian permasalahan yang dihadapi. Hal ini menunjukkan bahwa di antara faktor-faktor yang ada pada sumber daya manusia masih saling berpengaruh antar yang satu dengan yang lain. Jika pengaruh ini signifikan maka ada kemungkinan model yang dipakai bukan lagi linier. Jadi, bisa disimpulkan bahwa model pengembangan sumber daya manusia dapat berbentuk regresi linier berganda yang akan ditentukan oleh koefisien dari masing-masing faktor yang berupa karakter yang bersangkutan. Makin banyak jenis data yang terkumpul akan diperoleh model yang semakin halus, iterasi yang lebih tinggi.

Dari sisi pelajar, pemahaman tentang manfaat matematika dalam kehidupan sangat berperan penting. Ada pepatah “Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta”. Artinya dalam proses belajar khususnya belajar matematika, siswa harus mengenal dulu apa itu matematika ? bagaimana proses matematika ? untuk apa itu matematika ?. Motivasi tersebut harus diberikan sehingga minat atau kemauan siswa untuk mempelajari matematika muncul, sehingga pada proses belajarnya mereka akan fokus dan dapat menerima dengan baik materi yang dipelajari.

Pendidikan matematika dapat diartikan sebagai proses perubahan baik kognitif, afektif, dan kognitif kearah kedewasaan sesuai dengan kebenaran logika.

Ada beberapa karakteristik matematika, antara lain :

1. Objek yang dipelajari abstrak.

Sebagian besar yang dipelajari dalam matematika adalah angka atau bilangan yang secara nyata tidak ada atau merupakan hasil pemikiran otak manusia.

2. Kebenaranya berdasarkan logika.

Kebenaran dalam matematika adalah kebenaran secara logika bukan empiris. Artinya kebenarannya tidak dapat dibuktikan melalui eksperimen seperti dalam ilmu fisika atau biologi. Contohnya nilai √-2 tidak dapat dibuktikan dengan kalkulator, tetapi secara logika ada jawabannya sehingga bilangan tersebut dinamakan bilangan imajiner (khayal).

3. Pembelajarannya secara bertingkat dan kontinu.

Pemberian atau penyajian materi matematika disesuaikan dengan tingkatan pendidikan dan dilakukan secara terus-menerus. Artinya dalam mempelajari matematika harus secara berulang melalui latihan-latihan soal.

4. Ada keterkaitan antara materi yang satu dengan yang lainnya.

Materi yang akan dipelajari harus memenuhi atau menguasai materi sebelumnya. Contohnya ketika akan mempelajari tentang volume atau isi suatu bangun ruang maka harus menguasai tentang materi luas dan keliling bidang datar.

5. Menggunakan bahasa simbol.

Dalam matematika penyampaian materi menggunakan simbol-simbol yang telah disepakati dan dipahami secara umum. Misalnya penjumlahan menggunakan simbol “+” sehingga tidak terjadi dualisme jawaban.

6. Diaplikasikan dibidang ilmu lain.

Materi matematika banyak digunakan atau diaplikasikan dalam bidang ilmu lain. Misalnya materi fungsi digunakan dalam ilmu ekonomi untuk mempelajari fungsi permintan dan fungsi penawaran.

Berdasarkan karakteristik tersebut maka matematika merupakan suatu ilmu yang penting dalam kehidupan bahkan dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Hal ini yang harus ditekankan kepada siswa sebelum mempelajari matematika dan dipahami oleh guru.

Logika sebagai matematika murni

Logika termasuk matematika murni karna matematika adalah logika yang tersistematika. Matematika adalah pendekatan logika kepada metode ilmu ukur yang menggunakan tanda-tanda atau simbol-simbol matematik (logika simbolik).

Selain materi himpunan, ada pembelajaran Matematika realistik yang membantu agar matematika jadi lebih akrab dengan kehidupan.

Materi matematika tentang Himpunan misalnya. Dengan mempelajari Himpunan, diharapkan kemampuan logika akan semakin terasah. Sebaliknya, untuk mempelajari Himpunan secara tidak langsung akan memacu kita agar kita mampu berpikir secara logis.

Logis

Logika seperti apa yang perlu kita asah? berpikir logis yang bagaimana yang di kehidupan kita?

Logika sendiri berasal dari kata Yunani kuno logos yang artinya hasil pertimbangan akal pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa. Logika juga sering disebut dengan logike episteme atau ilmu logika yang mempelajari kecakapan untuk berpikir secara lurus, tepat, dan teratur.

Dalam hidup, logika memiliki peran penting. Karena logika berkaitan dengan akal pikir. Banyak kegunaan logika antara lain:

1. Membantu setiap orang yang mempelajari logika untuk berpikir secara rasional, kritis, lurus, tetap, tertib, metodis dan koheren
2. Meningkatkan kemampuan berpikir secara abstrak, cermat, dan objektif
3. Menambah kecerdasan dan meningkatkan kemampuan berpikir secara tajam dan mandiri
4. Memaksa dan mendorong orang untuk berpikir sendiri dengan menggunakan asas-asas sistematis
5. Meningkatkan cinta akan kebenaran dan menghindari kesalahan-kesalahan berpikir, kekeliruan serta kesesatan
6. Mampu melakukan analisis terhadap suatu kejadian

Jadi logika matematika membantu agar matematika jadi lebih akrab dengan kehidup.

Sumber :

http://choeronisa619.wordpress.com/2013/08/17/pentingnya-matematika-dalam-kehidupan-sehari-hari/

logo umtNama              :      Ufi Luthfiyah Saeruroh

NPM               :      10.84-202.099

Kelas               :      VII B1

Mata Kuliah    :     Matematika Ekonomi

 

Resume Model Pertumbuhan Penduduk

 1. Pengertian Model Pertumbuhan Penduduk

Pertumbuhan penduduk adalah perubahan populasi sewaktu-waktu, dan dapat dihitung sebagai perubahan dalam jumlah individu dalam sebuah populasi menggunakan “per waktu unit” untuk pengukuran.

Penerapan Deret Ukur yang paling sering digunakan dalam perekonomian adalah dalam hal penaksiran jumlah penduduk. Sebagaimana pernah dinyatakan oleh Malthus, penduduk dunia tumbuh mengikuti pola deret ukur.

2. Rumus Model Pertumbuhan Penduduk

               Pn = P1 R n –1

Keterangan :

P= jumlah penduduk tahun ke n

t   = waktu/periode

 r  = tingkat pertumbuhan per periode

P1 = jumlah penduduk tahun ke 1 (tahun dasar)

Dengan R = 1 +r

3. Kasus – kasus Model Pertumbuhan Penduduk

Kasus 1

Penduduk kota Tangerang berjumlah 1 juta jiwa pada tahun 1991, tingkat pertumbuhannya 4% per tahun. Hitunglah jumlah penduduk kota Tangerang pada tahun 2006. jika mulai tahun 2006 pertumbuhannya menurun menjadi 2,5%, berapa jumlah 11 tahun kemudian?

Penyelesaian :

Diketahui :

P1 = 1 juta

r   = 0,04

R  = 1,04

Ditanyakan : Pn

Jawab :

P tahun 2006/P16

Pn = P1 R n –1

P16 = 1 juta (1,04)15

P16 = 1 juta (1,800943)

P16 = 1.800.943 jiwa

Pada tahun 2006 penduduk Kota Tangerang adalah 1.800.943 jiwa.

Pada Tahun 2006 pertumbuhan menurun 2,5%, berapajumlah 11 tahun kemudian?

Diketahui :

P1 = 1 .800.943

r   = 0,025

R  = 1,025

Ditanyakan : Pn

Jawab :

P 11 tahun kemudian/P11

Pn = P1 R n –1

P11 = 1.800.943(1,025)10

P16 = 2.305.359 jiwa

Maka, 11 tahun kemudian penduduk Kota Tangerang menjadi 2.305.359 jiwa.

Kasus 2

Penduduk kota Serang berjumlah 5 juta jiwa pada tahun 2007. Bila diketahui tingkat pertumbuhan penduduk kota  Serang  2 % per tahun, berapa jumlah penduduk tahun 2013?

Penyelesaian :

Diketahui :

P1 = 5 juta

r   = 0,02

R  = 1,02

Ditanyakan : Pn

Jawab :

P tahun 2013/P7

Pn = P1 R n –1

P7 = 5 juta (1,02)6

P7 = 1 juta (1,126162)

P7 = 5.6 juta jiwa

        Maka, jumlah penduduk Kota Serang adalah 5.6 juta jiwa.

Kasus 3

Penduduk daerah cipondoh berjumlah 100.000 jiwa pada tahun 1990, tingkat pertumbuhannya 5% per tahun. Hitunglah jumlah penduduk daerah cipondoh pada tahun 2000 dan 2013.

Penyelesaian :

Diketahui :

P1 = 100.000 jiwa

r   = 0,05

R  = 1,05

Ditanyakan : Pn

Jawab :

P tahun 2000/P11

Pn = P1 R n –1

P11 = 100.000 (1,05)10

P11 = 100.000 (1,62889)

P11 = 162.889 jiwa

Pertumbuhan penduduk daerah cipondoh pada tahun 2000 menjadi 162.889 jiwa.

Diketahui :

P1 = 100.000 jiwa

r   = 0,05

R  = 1,05

Ditanyakan : Pn

Jawab :

P  tahun 2013 /P24

Pn = P1 R n –1

P24 = 100.000 (1,05)23

P24 = 100.000 (3,0715)

P24 = 307.152 jiwa

Maka, pertumbuhan penduduk daerah cipondoh pada tahun 2013 menjadi 307.152 jiwa.

4. Daftar Pustaka

Dumairy.1999.Matematika Terapan Untuk Bisnis dan Ekonomi. Yogyakarta : BPEE

http://id.wikipedia.org/wiki/Pertumbuhan_penduduk

http://id.scribd.com/doc/28019135/Penerapa-Barisan-Dan-Deret-a-Model-Perkembangan

TPS

Bab I

Pendahuluan

1.      Latar Belakang

Peranan matematika dalam pengembangan IPTEK sangat besar. Hal tersebut dapat dilihat dalam perhitungan kuantitatif fenomena kehidupan sehari-hari. Belajar matematika tidak sekedar learning to know, melainkan harus ditingkatkan meliputi learning to do, learning to be, hingga learning to life together. Oleh karena itu, filosofi pengajaran matematika perlu diperbaharui menjadi pembelajaran matematika. Dalam pengajaran matematika, guru lebih banyak menyampaikan sejumlah ide atau gagasan matematika. Sedangkan dalam pembelajaran matematika, siswa mendapat porsi lebih banyak dibanding dengan guru, bahkan mereka harus dominan dalam kegiatan belajar mengajar.

Sasaran dari pembelajaran matematika adalah siswa diharapkan mampu berpikir logis, kritis dan sistematis, selain itu juga siswa diharapkan lebih memahami keterkaitan antara topik dalam matematika serta manfaat matematika bagi bidang lain. Berbagai faktor yang mempengaruhi hasil belajar matematika siswa, salah satunya adalah model pembelajaran kooperatif yang dipergunakan guru dalam mengajar. Model pembelajaran kooperatif muncul dari konsep bahwa siswa lebih mudah menemukan dan memahami konsep jika terjadi diskusi antar siswa. pembelajaran kooperatif disusun untuk meningkatkan partisipasi siswa, melalui pemberian pengalaman sikap kepemimpinan dan membuat keputusan dalam kelompok, serta memberikan kesempatan pada siswa untuk berinteraksi dan belajar. Think Pair Share (TPS) termasuk salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa.

Pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share akan menciptakan kondisi lingkungan di dalam kelas yang saling mendukung melalui belajar secara kooperatif dalam kelmpok kecil, serta diskusi kelompok dalam kelas. Aktivitas pembelajaran kooperatif menekankan pada kesadaran siswa perlu belajar untuk mengaplikasikan pengetahuan, konsep, keterampilan tersebut kepada siswa yang membutuhkan dan setiap siswa merasa senang menyumbangkan pengetahuannya kepada anggota lain dalam kelompoknya. Dan pembelajaran kooperatif tipe TPS memberi siswa waktu lebih banyak untuk berfikir, menjawab, dan saling membantu, satu sama lain.

2.      Rumusan Masalah

Adapun beberapa masalah yang dapat kami rumuskan antara lain:

1.      Apa pengertian dari model pembelajaran kooperatif tipe TPS?

2.      Apa saja komponen dalam model pembelajaran kooperatif tipe TPS?

3.      Mengapa harus menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TPS?

4.      Apa kelebihan dan kelemahan dari model pembelajaran kooperatif tipe TPS?

5.      Apa saja langkah-langkah dalam penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TPS?

3.      Tujuan

1.      Mendiskripsikan pengertian dari model pembelajaran kooperatif tipe TPS

2.      Mendiskripsikan komponen dalam model pembelajaran kooperatif tipe TPS

3.      Mendiskripsikan alasan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TPS

4.      Mendiskripsikan kelebihan dan kelemahan dari model pembelajaran kooperatif tipe TPS

5.      Mendiskripsikan langkah-langkah dalam penerapan pembelajaran kooperatif tipe TPS

Bab II

Pembahasan

1.      Pengertian model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS)

Pembelajaran kooperatif tipe TPS merupakan pembelajaran kelompok dimana siswa diberi kesempatan untuk berfikir mandiri dan saling membantu dengan teman yang lain. Pembelajaran Think Pair Share merupakan model pembelajaran kooperatif dengan pendekatan struktural. Pendekatan ini memberi penekanan pada penggunaan struktur tertentu yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa.

 Think Pair Share merupakan suatu cara yang efektif untuk membuat variasi suasana pola diskusi kelas. Pembelajaran TPS membimbing siswa untuk memiliki tanggung jawab individu dan tanggung jawab dalam kelompok atau pasangannya. Prosedur tersebut telah disusun dan dibentuk sedemikian rupa sehingga dapat memberikan waktu yang lebih banyak kepada siswa untuk dapat berpikir dan merespon yang nantinya akan membangkitkan partisipasi siswa. Pelaksanaan Think Pair Share meliputi tiga tahap yaitu Think (berpikir), Pairing (berpasangan), dan Sharing (berbagi). TPS memiliki keistimewaan, yaitu siswa selain bisa mengembangkan kemampuan individunya sendiri, juga bisa mengembangkan kemampuan berkelompoknya serta keterampilan atau kecakapan sosial.

Keterampilan sosial dalam proses pembelajaran tipe TPS antara lain:

1.      Keterampilan sosial siswa dalam berkomunikasi meliputi dua aspek, yaitu:

  • Aspek bertanya

Aspek bertanya meliputi keterampilan sosial siswa dalam hal bertanya kepada teman dalam satu kelompoknya ketika ada materi yang kurang dimengerti serta bertanya pada diskusi kelas.

  • Aspek menyampaikan ide atau pendapat

Meliputi keterampilan siswa menyampaikan pendapat saat diskusi kelompok serta berpendapat (memberikan tanggapan atau sanggahan) saat kelompok lain presentasi.

2.      Keterampilan sosial aspek bekerjasama

Keterampilan sosial siswa pada aspek yang bekerjasama meliputi keterampilan sosial siswa dalam hal bekerjasama dengan teman dalam satu kelompok untuk menyelesaikan soal yang diberikan oleh guru.

3.      Keterampilan sosial aspek menjadi pendengar yang baik

Keterampilan sosial siswa pada aspek menjadi pendengar yang baik yaitu keterampilan dalam hal mendengarkan guru, teman dari kelompok lain saat sedang presentasi maupun saat teman dari kelompok lain berpendapat.

2.      Komponen pembelajaran kooperatif tipe TPS

Pembelajaran Think Pair Share mempunyai beberapa komponen, yaitu

      Think (berpikir)

Pelaksanaan pembelajaran TPS diawali dari berpikir sendiri mengenai pemecahan suatu masalah. Tahap berpikir menuntut siswa untuk lebih tekun dalam belajar dan aktif mencari referensi agar lebih mudah dalam memecahkan masalah atau soal yang diberikan guru.

      Pair (berpasangan)

Setelah diawali dengan berpikir, siswa kemudian diminta untuk mendiskusikan hasil pemikirannya berpasangan. Tahap diskusi merupakan tahap menyatukan pendapat masing-masing siswa guna memperdalam pengetahuan mereka. Diskusi dapat mendorong siswa untuk aktif menyampaikan pendapat dan mendengarkan pendapat orang lain dalam kelompok, serta mampu bekerja sama dengan orang lain.

      Share (berbagi)

Setelah mendiskusikan hasil pemikirannya, pasangan-pasangan siswa yang ada diminta untuk berbagi hasil pemikiran yang telah dibicarakan bersama pasangannya masing-masing kepada seluruh kelas. Tahap berbagi menuntut siswa untuk mampu mengungkapkan pendapatnya secara bertanggung jawab, serta mampu mempertahankan   pendapat yang telah disampaikannya.

3.      Alasan mengguanakan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share

Beberapa alasan mengapa kita perlu menggunakan TPS sebagai berikut :

1.      TPS membantu menstrukturkan diskusi (menyusun diskusi dengan pola tertentu).

2.      TPS meningkatkan partisipasi siswa dan meningkatkan banyaknya informasi yang dapat diingat siswa.

3.      TPS meningkatkan lamanya “Time On Task” (waktu pengerjaan permasalahan) dalam kelas dan kualitas kontribusi dalam diskusi kelas.

4.      Siswa dapat meningkatkan kecakapan sosial hidup mereka.

(kecakapan sosial siswa selama proses pembelajaran yang diamati, meliputi: bertanya, kemampuan bekerjasama dalam berkelompok, menyampaikan ide atau berpendapat, menjadi pendengar yang baik.)

4.      Kelebihan dan kekurangan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share

Model pembelajaran kooperatif tipe TPS, siswa dapat terlibat aktif dalam diskusi atau bekerjasama dengan temannya. Hal ini dikarenakan bahwa tipe TPS, kelompok diskusi tidak terlalu banyak yang terdiri dari 2 orang siswa (kelompok kecil) setiap kelompoknya dan diskusi dengan 2 orang siswa lebih efektif dibandingkan dengan diskusi kelompok yang terdiri dari 4-5 orang siswa.

Kelebihan dari metode TPS yaitu dapat meningkatkan rasa percaya diri, dan memudahkan siswa dalam berkomunikasi sehingga memperlancar jalannya diskusi. Selain itu dikemukakan juga kelebihan dan kekurangan menurut Hartina (2008), yaitu sebagai berikut:

Ø  Kelebihan model pembelajaran koperatif tipe TPS menurut Hartina (2008:12) antara lain sebagai berikut:

1.    Memungkinkan siswa untuk merumuskan dan mengajukan pertanyaan-pertnyaan mengenai materi yang diajarkan karena secara tidak langsung memperoleh contoh pertanyaan yang diajukan oleh guru, serta memperoleh kesempatan untuk memikirkan materi yang diajarkan.

2.    Siswa akan terlatih menerapkan konsep karena bertukar pendapat dan pemikiran dengan temannya untuk mendapatkan kesepakatan dalam memecahkan masalah.

3.    Siswa lebih aktif dalam pembelajaran karena menyelesaikan tugasnya dalam kelompok, dimana tiap kelompok hanya terdiri dari 2 orang.

4.    Siswa memperoleh kesempatan untuk mempresentasikan hasil diskusinya dengan seluruh siswa sehingga ide yang ada menyebar.

5.    Memungkinkan guru untuk lebih banyak memantau siswa dalam proses pembelajaran.

Ø  Adapun kelemahan model pembelajaran kooperatif tipe TPS dikemukakan oleh Hartinah (2008:12) adalah sangat sulit diterapkan disekolah yang rata-rata kemampuan siswanya rendah dan waktu yang terbatas, sedangkan jumlah kelompok yang terbentuk banyak.

Hal yang senada juga diungkapkan oleh Lie (2005:46), kekurangan dari kelompok berpasangan (kelompok yang terdiri dari 2 orang siswa adalah sebagai berikut:

1.      Banyak kelompok yang melapor dan perlu dimonitor

2.      Lebih sedikit ide yang muncul

3.      Jika ada perselisihan, tidak ada penengah

Langkah-langkah dalam penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share

Langkah-langkah dalam pembelajaran Think Pair Share pada umumnya adalah:

a.      Pendahuluan

Fase1: Persiapan

1.      Guru melakukan apersepsi

2.      Guru menjelaskan tentang pembelajaran TPS

3.      Guru menyampaikan tujuan pembelajaran

4.      Guru memberikan motivasi

b.      Kegiatan inti

Fase 2: pelaksanaan pembelajaran tipe TPS

Langkah pertama

1.      Menyampaikan pertanyaan : Guru menyampaikan pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang akan disampaikan.

2.      Siswa memperhatikan/mendengarkan dengan aktif penjelasan dan pertanyaan dari guru.

Langkah kedua

1.      Berpikir : siswa berpikir secara individual.

2.      Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk memikirkan jawaban dari permasalahan yang disampaikan oleh guru. Langkah ini dapat dikembangkan dengan meminta siswa untuk menuliskan hasil pemikiran masing-masing.

Langkah ketiga

1.      Berpasangan : setiap siswa mendiskusikan hasil pemikiran masing-masing dengan pasangan.

2.      Guru mengorganisasikan siswa untuk berpasangan dan memberi kesempatan kepada siswa untuk mendiskusikan jawaban yang menurut mereka paling benar atau meyakinkan. Guru memotivasi siswa untuk aktif dalam kerja kelompoknya. Pelaksanaan model ini dapat dilengkapi dengan LKS sebagai lembar kerja, kumpulan soal latihan atau pertanyaan yang dikerjakan secara kelompok.

Langkah keempat

1.      Berbagi : siswa berbagi jawaban mereka dengan seluruh kelas.

2.      Siswa mempresentasikan jawaban atau pemecahan masalah secara individual atau kelompok didepan kelas. Individu/kelompok yang lain diberi kesempatan untuk bertanya atau memberikan pendapat terhadap hasil diskusi kelompok tersebut.

3.       Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi terhadap hasil pemecahan masalah yang telah mereka diskusikan, dan memberikan pujian bagi kelompok yang berhasil baik dan memberi semangat bagi kelompok yang belum berhasil dengan baik (jika ada).

Fase 3 : Penutup

1.      Dengan bimbingan guru siswa membuat simpulan dari materi yang telah didiskusikan.

2.      Guru memberikan evaluasi atau latihan soal mandiri.

3.      Siswa diberi PR dari buku paket/LKS, atau mengerjakan ulang soal evaluasi

Bab III

Penutup

Simpulan

Pembelajaran Think Pair Share merupakan suatu cara yang efektif untuk membuat variasi suasana pola diskusi kelas. Pembelajaran kooperatif tipe TPS merupakan pembelajaran kelompok dimana siswa diberi kesempatan untuk berfikir mandiri dan saling membantu dengan teman yang lain.

Pembelajaran TPS membimbing siswa untuk memiliki tanggung jawab individu dan tanggung jawab dalam kelompok atau pasangannya. Prosedur tersebut telah disusun dan dibentuk sedemikian rupa sehingga dapat memberikan waktu yang lebih banyak kepada siswa untuk dapat berpikir dan merespon yang nantinya akan membangkitkan partisipasi siswa.

Pelaksanaan Think Pair Share meliputi tiga tahap yaitu Think (berpikir), Pairing (berpasangan), dan Sharing (berbagi).

Saran

1.      Pembelajaran kooperatif tipe TPS dapat digunakan sebagai pembelajaran alternatif untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam memecahkan masalah.

2.      Dalam proses pembelajaran masih memerlukan adanya perbaikan yaitu guru dapat lebih memberikan pengarahan kepada kelompok dan kepada tiap individu yang masih mengalami kesulitan, melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran dan memotivasi siswa agar siswa antusias dalam pembelajaran sehingga suasana kelas menjadi lebih tertib, terkendali, dan kondusif.

UPAYA MENINGKATKAN PEMAHAMAN MATERI DIMENSI TIGA MELALUI PENGGUNAAN MEDIA VISUAL PADA SISWA KELAS X SMA NURUL IMAN

logo umt

DISUSUN OLEH :

1.      EKA WIDYANINGSIH                  10.84.202.113
2.      MIZAN ALFURQAN ZAIDI          10.84.202.129
3.      NESTI ELVIA YURINA                 10.84.202.132
4.      SEVTI MULYANI                           10.84.202.091
5.      UFI LUTHFIYAH SAERUROH    10.84.202.099
6.      YUS AISYAH                                   10.84.202.150

 

PENELITIAN TINDAKAN KELAS

 

 

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

PRODI PENDIDIKAN MATEMATIKA

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH TANGERANG

2013

————————————————————————————————

BAB I

PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang

Pendidikan sebagai salah satu aspek dalam meningkatkan sumber daya manusia terus diperbaiki dan direnovasi. Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap tempat yang memiliki jumlah populasi manusia pasti membutuhkan pendidikan. Perkembangan zaman sekarang ini, menuntut peningkatan kualitas individu. Sehingga dimanapun ia berada dapat digunakan setiap saat. Hal ini tentunya tidak lepas dari peran pendidikan terus diperhatikan dan ditingkatkan dengan berbagai cara, diantaranya mengeluarkan undang-undang sistem pendidikan nasional, mengesahkan undang-undang kesejahteraan guru serta mengadakan perubahan kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan zaman.

Pembelajaran Matematika umumnya didominasi oleh pengenalan rumus-rumus serta konsep-konsep secara verbal, tanpa ada perhatian yang cukup terhadap pemahaman siswa. Disamping itu proses belajar mengajar hampir selalu berlangsung dengan metode “chalk and talk” guru menjadi pusat dari seluruh kegiatan di kelas (Somerset, 1997 dalam Sodikin, 2004:1).

Pada umumnya, sekelompok siswa beranggapan bahwa mata pelajaran matematika sulit difahami. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: Pertama, siswa kurang memiliki pengetahuan prasyarat serta kurang mengetahui manfaat pelajaran matematika yang ia pelajari. Kedua, daya abstraksi siswa kurang dalam memahami konsep-konsep matematika yang bersifat abstrak.

Dari pengalaman peneliti dalam memberikan pembelajaran matematika kepada siswa selama ini, sebagian besar siswa sulit memahami materi dimensi tiga, khususnya tentang luas permukaan dan volume dengan cara klasikal. Meskipun peneliti sudah berupaya membimbing siswa dalam memahami dimensi tiga dengan cara menunjukkan sketsa gambar, namun hasil belajar siswa belum sesuai dengan yang diharapkan, yaitu masih banyak siswa yang nilainya kurang dari standar ketuntasan belajar minimal.

Menurut Dienes (dalam Ruseffendi, 1980:134) menyatakan bahwa setiap konsep matematika dapat difahami dengan mudah apabila kendala utama yang menyebabkan anak sulit memahami dapat dikurangi atau dihilangkan. Dienes berkeyakinan bahwa anak pada umumnya melakukan abstraksi berdasasarkan intuisi dan pengalaman kongkrit, sehingga cara mengajarkan konsep-konsep matematika dapat dilakukan dengan menggunakan bantuan objek kongkrit.

Dengan demikian, dalam mengajarkan matematika perlu adanya benda-benda kongkrit yang merupakan model dari ide-ide matematika, yang selanjutnya disebut sebagai alat peraga sebagai alat bantu pembelajaran. Alat bantu pembelajaran ini digunakan dengan maksud agar anak dapat mengoptimalkan panca inderanya dalam proses pembelajaran, mereka dapat melihat, meraba, mendengar, dan merasakan objek yang sedang dipelajari.Untuk mengatasi masalah di atas, perlu diadakan penelitian tindakan kelas tentang penggunaan media visual atau alat peraga dalam pembelajaran materi dimensi tiga suatu bidang dengan power point. Dengan serangkaian tindakan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, sampai dengan evaluasi, diharapkan dapat meningkatkan pemahaman siswa dalam memahami materi irisan suatu bidang dengan bangun ruang.

B.       Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat diidentifikasikan masalah sebagai berikut:

  1. Apa permasalahan siswa kurang paham dalam materi Dimensi Tiga?
  2. Apakah siswa memahami bangun ruang jika tidak memakai media?
  3. Bagaimana pemahaman siswa jika menggunakan media visual?
  4. Apakah siswa lebih memahami jika diberikan sesuatu yang konkrit?
  5. Apa hubungan antara pemahaman siswa dalam penggunaan media visual dengan hasil belajar siswa pada materi Dimensi Tiga?
  6. Bagaimana penggunaan media visual dalam memahami materi Dimensi Tiga?

C.      Pembatasan Masalah

Peneliti membatasi masalah penelitian pada usaha untuk mencari jawaban atas identifikasi masalah yang diajukan. Batasan masalah yang dirumuskan adalah “penggunaan media visual dalam meningkatkan pemahaman siswa pada materi dimensi tiga”.

D.      Rumusan Masalah

Pada identifikasimasalah yang telah dibuat peneliti dapat merumuskan masalah sebagai berikut : “Bagaimana penggunaan media visual dalam memahami materi Dimensi Tiga pada siswa kelas X SMA NURUL IMAN RAJEG?”.

E.       Tujuan Penelitian

Sesuai dengan permasalahan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang Dimensi Tiga dengan menggunakan media visual.

F.       Manfaat Penelitian

Penelitian ini dapat bermanfaat bagi :

  1. Bagi siswa, penelitian ini dapat mempermudah siswa dalam memahami materi dimensi tiga dan meningkatkan motivasi belajar.
  2. Bagi peneliti, penelitian ini sebagai wahana peningkatan profesionalisme guru yang akan berdampak pada kualitas pendidikan di sekolah
  3. Bagi guru lain, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai rujukan untuk menambah wawasan dalam menentukan strategi dan metode pembelajaran yang sesuai dengan materi pelajaran.
  4. Bagi sekolah, penelitian ini dapat membantu meningkatkan kualitas hasil belajar, khususnya pelajaran matematika, sehingga secara langsung dapat meningkatkan kualitas pendidikan dan out put sekolah.

G.       Definisi Operasional

Teori Belajar Matematika

Menurut Witherington (Udin S Winatapura, 2007:1.5) dalam buku Educational Psychology, mengemukakan bahwa belajar adalah suatu perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru dari pada reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian atau suatu pengertian.

Pengertian Pembelajaran

Pembelajaran adalah upaya untuk menciptakan iklim dan pelayanan terhadap kemampuan,potensi,minat,bakat dan kebutuhan peserta didik yang beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dengan siswa serta antara siswa dengan siswa (Suyitno,2004:1).

Media Pembelajaran

Menurut H.W. Fowler (suyotno,2000:10) matematika adalah ilmu mempelajari tentang bilangan dan ruang yang bersifat abstrak sehingga untuk menunjang pelancaran pembelajaran disamping pemilihan metode yang tepat juga perlu digunakan suatu media pembelajaran yang sangat berperan dalam membimbing abstarksi siswa (Suyitno,2000:37).

Penggunaan media visual

Media visual dapat memperlancar pemahaman dan memperkuat ingatan. Agar menjadi efektif , visual sebaiknya ditempatkan pada konteks yang bermakna dan siswa harus berinteraksi dengan visual untuk meyakinkan terjadinya proses informasi.

———————————————————————————————

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

 

Sebagai landasan dalam merencanakan dan melaksanakan penelitian tindakan kelas akan diuraikan secara berturut – turut, yaitu (1) belajar, (2) pembelajaran, (3) media pembelajaran dan (4) media visual .

A.       Kajian Teori

1.         Pengertian Belajar

Belajar adalah proses yang dilakukan oleh manusia untuk mendapatkan aneka ragam competencies, skill, attitudes (competencies), keterampilan (skill), dan sikap (attitudes) tersebut diperoleh secara bertahap dan berkelanjutan mulai dari masa bayi sampai masa tua melalui rangkaian proses belajar belajar sepanjang hayat. Sedangkan menurut Witherington (Udin S Winatapura, 2007:1.5) dalam buku Educational Psychology, mengemukakan bahwa belajar adalah suatu perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru dari pada reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian atau suatu pengertian[1].

Belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada semua orang dan berlangsung seumur hidup, sejak dia masih bayi hingga ke liang lahat nanti. Proses belajar dapat terjadi kapan saja dimana saja terlepas dari ada yang mengajar atau tidak. Proses belajar terjadi karena adanya interaksi individu dengan lingkungannya[2].

Menurut Moh. Surya (1997), “Belajar dapat diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya”.

Salah satu pertanda bahwa seseorang telah belajar adalah adanya perubahan tingkah laku dalam dirinya, perubahan perilaku tersebut menyangkut perubahan yang bersifat pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotor) ataupun yang menyangkut nilai dan sikap (afektif).

Dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses yang dilakukan oleh manusia yang berlangsung seumur hidup yang terjadi karena adanya interaksi dengan lingkungan dan keterlibatannya dalam pendidikan formal maupun informal.

2.         Pengertian Pembelajaran

Pembelajaran merupakan kegiatan yang dilakukan menginisiasi, memfasilitasi dan meningkatkan intensitas dan kualitas belajar pada diri peserta didik.[3]

Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses perolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik.

Di sisi lain pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan pengajaran, tetapi sebenarnya mempunyai konotasi yang berbeda. Pengajaran merupakan salah satu aspek dari pendidikan, yaitu aspek pengetahuan (kognitif). Pengajaran memberikan ketrampilan dan pengetahuan, sedangkan pendidikan membimbing anak ke arah kehirupan yang baik dan benar[4]. Dalam konteks pendidikan, guru mengajar agar peserta didik dapat belajar dan menguasai isi pelajaran hingga mencapai sesuatu objektif yang ditentukan (aspek kognitif), juga dapat memengaruhi perubahan sikap (aspek afektif), serta keterampilan (aspek psikomotor) seorang peserta didik, namun proses pengajaran ini memberi kesan hanya sebagai pekerjaan satu pihak, yaitu pekerjaan pengajar saja. Sedangkan pembelajaran menyiratkan adanya interaksi antara pengajar dengan peserta didik.

Pembelajaran yang berkualitas sangat tergantung dari motivasi pelajar dan kreatifitas pengajar. Pembelajar yang memiliki motivasi tinggi ditunjang dengan pengajar yang mampu memfasilitasi motivasi tersebut akan membawa pada keberhasilan pencapaian target belajar. Target belajar dapat diukur melalui perubahan sikap dan kemampuan siswa melalui proses belajar. Desain pembelajaran yang baik, ditunjang fasilitas yang memandai, ditambah dengan kreatifitas guru akan membuat peserta didik lebih mudah mencapai target belajar.

Dapat ditarik kesimpulan bahwa pembelajaran adalah tindakan yang dilakukan secara sengaja oleh guru untuk membuat siswa belajar, yaitu terjadinya perubahan aspek pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotor) ataupun yang menyangkut nilai dan sikap (afektif) yang melibatkan interaksi antara pengajar dan peserta didik.

3.         Pengertian Media Pembelajaran

Media pembelajaran merupakan salah satu komponen penting dalam mencapai keberhasilan dalam proses pembelajaran. Dalam kamus Inggris-Indonesia disebutkan bahwa media memilki arti yang sama dengan medium yang mengandung beberapa arti antara lain adalah sebagai berikut:

  1. Perantara
  2. Perantaraan[5]

Sehingga dapat kita pahami bahwa media pembelajaran adalah sesuatu yang dapat dijadikan sarana penghubung untuk mencapai pesan yang harus dicapai oleh siswa dalam kegiatan belajar[6].

Metode mengajar dan media pembelajaran merupakan unsur yang amat penting dalam proses belajar mengajar. Keduanya saling berkaitan. Pemilihan metode yang akan digunakan dalam pembelajaran akan memengaruhi jenis media pembelajaran yang cocok. Salah satu fungsi media pembelajaran adalah sebagai alat bantu mengajar.

Hamalik dalam Azhar Arsyad (2011) mengemukakan bahwa pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar-mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh- pengaruh psikologis terhadap siswa. Selain membangkitkan motivasi dan minat siswa, media pembelajaran juga dapat membantu siswa meningkatkan pemahaman, menyajikan data dengan menarik dan terpercaya, memudahkan penafsiran data, dan memadatkan informasi.

Menurut Kemp & Dayton (1985), media pembelajaran dapat memenuhi tiga fungsi utama apabila media tersebut digunakan untuk perorangan, kelompok, atau kelompok pendengar yang besar jumlahnya, yaitu memotivasi minat, menyajikan informasi, dan memberi instruksi. Fungsi motivasi dapat direalisasikan dengan teknik drama atau hiburan. Untuk tujuan informasi, media pembelajaran dapat digunakan untuk penyajian informasi di hadapan kelompok siswa. Media juga berfungsi untuk tujuan instruksi dimana informasi yang terdapat dalam media itu harus melibatkan siswa baik dalam benak atau mental maupun dalam bentuk aktivitas yang nyata sehingga pembelajaran dapat tercapai.

Levie & Lentz dalam Azhar Arsyad (2011) mengemukakan empat fungsi media pembelajaran, khususnya media visual, yaitu (a) fungsi atensi, (b) fungsi afektif, (c) fungsi kognitif, dan (d) fungsi kompensatoris.

Fungsi atensi, yaitu menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk berkonsentrasi pada isi pelajaran yang berkaitan dengan makna visual yang ditampilkan atau menyertai teks materi pelajaran.

Fungsi afektif media visual dapat terlihat dari tingkat kenikmatan siswa ketika belajar teks yang bergambar.

Fungsi kognitif media visual dapat terlihat dari temuan- temuan penelitian yang mengungkapkan bahwa lambang visual atau gambar memperlancar pencapaian tujuan untuk memahami dan mengingat informasi yang terkandung dalam gambar.

Fungsi kompensatoris, yaitu media pembelajaran berfungsi untuk mengakomodasikan siswa yang lemah dan lambat menerima dan memahami isi pelajaran yang disajikan dengan teks.

Sujana dan Rivai (1990) memberikan alasan mengenai kegunaan media pembelajaran dalam proses belajar mengajar:

  1. Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar;
  2. Bahan pengajaran akan lebih jelas maksudnya, sehingga dapat lebih dipahami oleh para siswa;
  3. Metode mengajar akan lebih bervariasi, sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga;
  4. Siswa lebih banyak melakukan kegiatan, karena tidak hanya mendengarkan uraian guru, tetapi juga mengamati, melaksanakan, mendemonstrasikan, dan lain- lain.

4.         Pengertian Media Visual

Media visual adalah media yang memberikan gambaran menyeluruh dari yang konkrit sampai dengan abstrak. Jadi dapat diambil kesimpulan bahwa media visual merupakan salah satu media untuk pembelajaran.

Media visual ini lebih bersifat realistis dan dapat dirasakan oleh sebagian besar panca indera kita terutama oleh indera penglihatan. Media visual ada yang dapat diproyeksikan dan ada pula yang tidak dapat diproyeksikan.

Dalam penggunaannya media visual memiliki manfaat atau kegunaan. Manfaatnya antara lain:

  1. Media bersifat konkrit, lebih realistis dibandingkan dengan media verbal atau non visual sehingga lebih memudahkan dalam pengaplikasiannya.
  2. Beberapa penelitian membuktikan bahwa pembelajaran yang diserap melalui media penglihatan (media visual), terutama media visual yang menarik dapat mempercepat daya serap peserta didik dalam memahami pelajaran yang disampaikan.
  3. Media visual dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki oleh para peserta didik dan dapat melampaui batasan ruang kelas. Melalui penggunaan media visual yang tepat, maka semua obyek itu dapat disajikan kepada peserta didik.
  4. Lebih efiektif dan efisien  dibandingkan media verbal lainnya karena jenisnya yang beragam, pendidik dapat menggunakan semua jenis media visual yang ada. Hal ini dapat menciptakan sesuatu yang variatif, dan tidak membosankan bagi para peserta didiknya.
  5. Penggunaannya praktis, maksudnya media visual ini mudah dioperasikan oleh setiap orang yang memilih media-media tertentu, misalkan penggunaan media Transparansi Overhead Tranparancy (OHT).

Media pembelajaran visual telah terbukti lebih efisien dalam melakukan komunikasi antara pendidik dengan peserta didik. Dapat kita simpulkan bahwa media pembelajaran visual (seperti gambar diam, gambar bergerak, televise, objek tiga dimensi, dan lain-lain) mempunyai hubungan positif yang cukup tinggi. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa media pembelajaran visual merupakan media pembelajaran yang cukup baik dan efisien.

Media pembelajaran visual baiknya digunakan di tempat yang tepat, sesuai dengan jenis medianya. Misalnya, media yang tidak diproyeksikan dapat dilakukan diluar kelas. Hal itu memungkinakan untuk media pembelajaran visual yang berupa benda nyata dan media grafis. Dalam penggunaan media pembelajaran visual berbentuk benda nyata misalnya, dalam pelajaran biologi kita dapat menggunakan tumbuhan diluar kelas sebagai media pembelajaran visual. Media grafis dan model pun bisa digunakan diluar kelas, apabila media tersebut memungkinkan untuk digunakan diluar kelas.

Sedangkan untuk media pembelajaran yang diproyeksikan, tempat yang tepat adalah di dalam kelas. Mengingat kebutuhannya akan alat-alat yang cukup berat, dan dibutuhkannya aliran listrik, tentu penggunaan media pembelajaran visual yang diproyeksikan ini lebih baik digunakan di dalam kelas.

Cara pemilihan media visual yang tepat adalah :

  1. Media yang digunakan harus memperhatikan konsep pembelajaran atau tujuan dari pembelajaran.
  2. Memperhatikan karakteristik dari media yang akan digunakan ,apakah sesuai dengan situasi dan kondisi yang tepat guna.
  3. Tepat sasaran kepada peserta didik yang sesuai degan kebutuhan zaman.
  4. Waktu , tempat , ketersediaan  dan biaya yang digunakan.
  5. Pilihlah media visual yang menguntungkan agar lebih menarik,variatif, mudah diingat dan tidak membosankan sesuai dengan konteks penggunaannya.

Macam-macam Media Visual

a.        Media yang tidak diproyeksikan

  1. Media realita adalah benda nyata. Benda tersebut tidak harus dihadirkan di ruang kelas, tetapi siswa dapat melihat langsung ke obyek. Kelebihan dari media realita ini adalah dapat memberikan pengalaman nyata kepada siswa
  2. Model adalah benda tiruan dalam wujud tiga dimensi yang merupakan representasi atau pengganti dari benda yang sesungguhnya. Penggunaan model untuk mengatasi kendala tertentu sebagai pengganti realia.
  3. Media grafis tergolong media visual yang menyalurkan pesan melalui simbol-simbol visual. Fungsi dari media grafis adalah menarik perhatian, memperjelas sajian pelajaran, dan mengilustrasikan suatu fakta atau konsep yang mudah terlupakan jika hanya dilakukan melalui penjelasan verbal. Jenis-jenis media grafis adalah:

a)      Gambar / foto merupakan media yang paling umum digunakan.

b)      Sketsa adalah gambar sederhana atau draft kasar yang melukiskan bagian pokok tanpa detail. Dengan sketsa dapat menarik perhatian siswa, menghindarkan verbalisme, dan memperjelas pesan.

c)      Diagram / skema: gambar sederhana yang menggunakan garis dan simbol untuk menggambarkan struktur dari obyek tertentu secara garis besar.

d)     Bagan / chart : menyajikan ide atau konsep yang sulit sehingga lebih mudah dicerna siswa. Selain itu bagan mampu memberikan ringkasan butir-butir penting dari penyajian. Dalam bagan sering dijumpai bentuk grafis lain, seperti: gambar, diagram, kartun, atau lambang verbal.

e)      Grafik yaitu gambar sederhana yang menggunakan garis, titik, simbol verbal atau bentuk tertentu yang menggambarkan data kuantitatif.

b.        Media proyeksi

  1. Transparansi OHP merupakan alat bantu mengajar tatap muka sejati, sebab tata letak ruang kelas tetap seperti biasa, guru dapat bertatap muka dengan siswa (tanpa harus membelakangi siswa). Perangkat media transparansi meliputi perangkat lunak (Overhead transparancy / OHT) dan perangkat keras (Overhead projector / OHP). Teknik pembuatan media transparansi, yaitu:
  • Mengambil dari bahan cetak dengan teknik tertentu
  • Membuat sendiri secara manual
  1. Film bingkai / slide adalah film transparan yang umumnya berukuran 35 mm dan diberi bingkai 2X2 inci. Dalam satu paket berisi beberapa film bingkai yang terpisah satu sama lain. Manfaat film bingkai hampir sama dengan transparansi OHP, hanya kualitas visual yang dihasilkan lebih bagus. Sedangkan kelemahannya adalah beaya produksi dan peralatan lebih mahal serta kurang praktis. Untuk menyajikan dibutuhkan proyektor slide.

B.        Kerangka Berfikir

Kondisi awal siswa belum dilakukan pebaikan pembelajaran adalah siswa kurang antusias terhadap pembelajaran, sehingga kemampuan siswa untuk memahami dimensi tiga siswa kelas X SMA Nurul Iman Kecamatan Rajeg Kabupaten Tangerang rendah. Hal ini disebabkan karena pembelajaran yang dilakukan guru masih bersifat konvensional dan guru tidak menggunakan media yang tepat. Sehingga siswa kesulitan untuk memahami materi yang diajarkan.

Pada perbaikan pembelajaran guru menggunakan media visual berupa power point dan alat peraga. Jika menggunakan media visual ini siswa menjadi lebih aktif dan antusias terhadap pembelajaran, bersemangan untuk menyelesaikan soal – soal luas pemukaan dan volume dan menjadi lebih memahami pelajaran setelah digunakan media visual power point dan alat peraga.

Dalam pembelajaran jika menggunakan media ini pada pembelajaran dimensi tiga siswa kelas X SMA Nurul Iman Kecamatan Rajeg Kabupaten Tangerang Tahun Pelajaran 2012 – 2013, maka diduga pemahaman siswa akan meningkat. Berdasarkan uraian di atas maka alur kerangka berfikir dalam penelitian ini disajikan gambar berikuti ini :

kerangka berfikir

Gambar 1. Kerangka Berfikir

 

C.       Hipotesis Tindakan

Berdasarkan kajian teori dan kerangka berfikir di atas, dirumuskan hipotesis tindakan dalam penelitian ini sebagai berikut : “Dengan menggunakan media visual dalam pembelajaran dimensi tiga, maka pemahaman siswa materi dimensi tiga kelas X SMA Nurul Iman Kecamatan Rajeg Kabupaten Tangerang Tahun Pelajaran 2012 – 2013 diduga dapat meningkat”.


[1] Witherington I, Udin S Winatapura “Educational Psycology”, 2007. Hal 1 – 5

[2] Rahardjito, dkk. “Media Pendidikan”, 2010. Hal 2

[3] Udin S Winatapura, “Educational Psychology”, Bandung. Fontana, 2007. Hal 18

[4] Lydia Harlina Martono, Satya Joewana, 2006

[5]Echol, John M., et.al., 1992, Hal 377

[6] Carapedia.com

———————————————————————————————

BAB III

METODE PENELITIAN

 

A.       Pendekatan Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK), yaitu penelitian yang dimaksudkan untuk memberikan informasi bagaimana tindakan yang tepat untuk meningkatkan aktivitas perserta didik dengan pembelajaran yang menggunakan media visual yang berdampak pada peningkatan pemahaman siswa. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam bentuk siklus – siklus. Peneliti mencoba mencari pemecahan masalah proses pembelajaran matematika, hal ini penting dilaksanakan karena berkaitan dengan penelitian yang dilakukan.

B.        Kehadiran dan Peran Peneliti di Lapangan

Dalam penelitian ini peneliti bertindak sebagai instrumen sekaligus pengumpul data. Instrumen selain manusia (seperti lembar observasi dan angket) dapat pula digunakan. Tetapi fungsinya terbatas sebagai pendukung tugas peneliti sebagai instrumen. Oleh karena itu kehadiran peneliti adalah mutlak.

No Nama Peran
1. Sevti Mulyani Model/penyaji
2. Mizan Al-Furqan Zaidi Dokumentasi
3. Ufi Luthfiyah Saeruroh Observer Siswa
4. Nesti Elvia Yurina
5. Yus Aisyah Observer Guru
6. Eka Widyaningsih

Tabel 1. Peran Peneliti

C.       Lokasi Penelitian
Pelaksanaan penelitian yang peneliti lakukan adalah sebagai berikut:

Waktu              : Mei 2013

Tempat            : SMA Nuru Iman Rajeg

Kp. Baru Ds. Pangarengan Kecamatan Rajeg Kabupaten

Tangerang Banten 15540

D.       Subyek Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada akhir bulan april sampai dengan akhir bulan Mei 2013 di SMA Nurul Iman, dengan subyek penelitian siswa kelas X.2 SMA Nurul Iman tahun ajaran 2012-2013 yang berjumlah 32 orang.Penelitian ini dikhususkan pada materi Tiga dimensi pada bangun ruang dan obyek penelitian adalah pemahaman belajar pada mata pelajaran matematika kelas X pada semester genap dan jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas.

E.        Instrument penelitian

  1. Instrument berupa angket untuk mengungkapkan pemahaman siswa terhadap mata pelajaran matematika.
  2. Instrument berupa tes tertulis atau kuis untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa.

F.        Teknik Pengumpulan Data
Sumber data dalam PTK ini berasal dari sumber data primer : nilai ulangan harian. Sumber data sekunder : data hasil pengamatan yang dilakukan oleh observer.

G.       Teknik Analisis Data

Dalam penelitian tindakan kelas ini pengumpulan data digunakan berbagai teknik antara lain:

  1. Tes tertulis digunakan untuk mengumpulkan data pemahaman siswa dengan yang berkenaan dengan ruang dimensi tiga.
  2. Alat pengumpulan data

Untuk mengetahui pemahaman siswa dalam materi ruang dimensi tiga yang dijadikan obyek penelitian ini :

  1. Peneliti menggunakan alat yang berupa tes tertulis yang dirancang oleh peneliti sesuai dengantujuan pembelajaran yang telah tertuang dalam kisi-kisi soal.
  1. Format penilaian untuk meneliti proses.
  2. Lembar pengamatan aktivitas guru dan lembar pengamatan aktivitas siswa.
  3. Deskripsi pelaku

Pada teknik ini peneliti mencatat observasi dan pemahaman urutan perilaku siswa dengan lengkap meliputi :

  1. Suasana kelas
  2. Perilaku masing-masing siswa
  3. Kemampuan pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran.

H.       Indikator Keberhasilan Tiap Siklus
Indikator keberhasilan merupakan kinerja yang akan dijadikan acuan dalam menentukan keberhasilan atau keefektifan peneliti. Yang menjadi indikator keberhasilan dalam penelitian ini adalah apabila 80% dari jumlah siswa dalam mengerjakan soal tes mendapat nilai >60, maka penelitian yang peneliti lakukan dinyatakan berhasil.

I.          Keabsahan Data

Suatu dapat dikatakan absah yakni terpercaya apabila memenuhi empat kriteria, yaitu :Kepercayaan (crebility),Keteralihan (transferability), Kebergantungan (dependability), dan Kepastian (contfirmability)[6]

Untuk itu peneliti harus menemukan teknik atau cara untuk mengecek keabsahan data dalam hal ini peneliti akan menggunakan teknik triangulasi. Triangulasi merupakan suatu teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu lain diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai perbandingan terhadap data ini.[7]

J.         Prosedur Penelitian

Pembelajaran dengan menggunakan media visual bertujuan untuk mengupayakan tingkat pemahaman siswa dalam materi dimensi tiga yang dilakukan dalam dua siklus berdasarkan waktunya.

Siklus Pertama

  1. Perencanaan, yang meliputi kegiatan sebagai berikut:
  2. Kajian kurikulum, dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).
  3. Pembuatan media visual.
  4. Penyusunan instrumen penelitian.
  5. Penyusunan alat evaluasi.
    1. Pelaksanaan, yang meliputi kegiatan:
    2. Memberikan tes awal kepada siswa.
    3. Melaksanakan kegiatan pembelajaran materi bangun ruangdengan menggunakan media visual.
    4. Memberikan tes akhir siklus-1 kepada siswa.
      1. Pengamatan, yang meliputi kegiatan:
      2. Mengamati aktivitas siswa selama pelaksanaan kegiatan pembelajaran.
      3. Mencatat kejadian-kejadian yang tampak pada siswa selama pelaksanaan kegiatan pembelajaran.
      4. Mengumpulkan data hasil pengamatan selama pelaksanaan kegiatan pembelajaran.
        1. Refleksi, yang meliputi kegiatan:
        2. Menganalisis data hasil pelaksanaan tindakan
        3. Mengevaluasi pelaksanaan tindakan yang telah dilakukan pada siklus I
        4. Merencanakan tindakan pada siklus II

Siklus Kedua

  1. Perencanaan, yang meliputi kegiatan sebagai berikut:
  2. Penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).
  3. Pembuatan media pembelajaran berbentuk media presentasi program power point tentang dimensi tiga.
  4. Penyusunan instrumen penelitian.
  5. Penyusunan alat evaluasi.
    1. Pelaksanaan, yang meliputi kegiatan:
    2. Melaksanakan kegiatan pembelajaran materi bangun ruang dengan menggunakan media visual sebanyak satu kali pertemuan sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran.
    3. Memberikan tes akhir siklus-2 kepada siswa.
      1. Pengamatan, yang meliputi kegiatan:
      2. Mengamati aktivitas siswa selama pelaksanaan kegiatan pembelajaran.
      3. Mencatat kejadian-kejadian yang tampak pada siswa selama pelaksanaan kegiatan pembelajaran.
      4. Mengumpulkan data hasil pengamatan selama pelaksanaan kegiatan pembelajaran.
        1. Refleksi, yang meliputi kegiatan:
        2. Menganalisis data hasil pelaksanaan tindakan
        3. Mengevaluasi pelaksanaan tindakan yang telah dilakukan pada siklus II.

K.       Jadwal Pelaksanaan Penelitian
Jadwal pelaksanaan penelitian yang peneliti lakukan tersedia pada tabel berikut ini :

Tabel 2. Jadwal Pelaksanaan Penelitian

No. Kegiatan Bulan
April Mei Juni
3 4 1 2 3 4 1 2
1. Penyusunan Proposal              
2. Pengajuan Proposal              
3. Pengurusan Izin Penelitian              
4. Persiapan Penelitian            
5. Pelaksanaan Penelitian Siklus 1 dan 2            
6. Penyusunan Laporan            
7. Penyerahan Laporan Hasil Penelitian              

 

 

 


[6] Lexy. J. Moleong. Metodologi Penelitian kualitatif (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2002), hal. 173.

[7]Ibid. 178

———————————————————————————————

BAB IV

BAB V

BIODATA PENULIS

 
Kelas   XII,   Semester  1     

Standar Kompetensi

Kompetensi Dasar

Nilai Budaya Dan Karakter Bangsa

Kewirausahaan/

Ekonomi Kreatif

1.  Menampilkan sikap positif terhadap Pancasila sebagai ideologi terbuka

1.1Mendeskripsikan Pancasila sebagai ideologi terbuka

1.2  Menganalisis Pancasila sebagai sumber nilai dan paradigma pembangunan

1.3 Menampilkan sikap positif terhadap Pancasila sebagai ideologi terbuka

  • Religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, tanggung jawab
  • Percaya diri (keteguhan hati, optimis).
  • Berorientasi pada tugas (bermotivasi, tekun/tabah, bertekad, enerjik).
  • Pengambil resiko (suka tantangan, mampu memimpin)
  • Orientasi ke masa depan (punya perspektif untuk masa depan)
 

2. Mengevaluasi berbagai sistem pemerintahan

2.1  Menganalisis sistem pemerintahan di berbagai negara

2.2  Menganalisis pelaksanaan sistem pemerintahan Negara Indonesia

2.3Membandingkan pelaksanaan sistem pemerintahan yang berlaku di  Indonesia dengan negara lain

  • Religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, tanggung jawab
  • Percaya diri (keteguhan hati, optimis).
  • Berorientasi pada tugas (bermotivasi, tekun/tabah, bertekad, enerjik).
  • Pengambil resiko (suka tantangan, mampu memimpin)
  • Orientasi ke masa depan (punya perspektif untuk masa depan)
 
 
 
Kelas   XII,    Semester   2

 

Standar Kompetensi

Kompetensi Dasar

Nilai Budaya Dan Karakter Bangsa

Kewirausahaan/

Ekonomi Kreatif

3. Mengevaluasi peranan pers dalam masyarakat demokrasi 

 

 

 

3.1 Mendeskripsikan pengertian, fungsi dan peran serta perkembangan pers di Indonesia

3.2  Menganalisis  pers yang bebas dan bertanggung jawab sesuai kode etik jurnalistik dalam masyarakat demokratis di Indonesia

3.3  Mengevaluasi  kebebasan pers dan dampak penyalahgunaan kebebasan media massa dalam masyarakat demokratis di Indonesia

  • Religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, tanggung jawab
  • Percaya diri (keteguhan hati, optimis).
  • Berorientasi pada tugas (bermotivasi, tekun/tabah, bertekad, enerjik).
  • Pengambil resiko (suka tantangan, mampu memimpin)
  • Orientasi ke masa depan (punya perspektif untuk masa depan)
 

4. Mengevaluasi dampak globalisasi

 

 

1.1       Mendeskripsikan  proses, aspek, dan dampak  globalisasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara

1.2    Mengevaluasi pengaruh globalisasi terhadap kehidupan Bangsa dan Negara Indonesia

1.3    Menentukan sikap terhadap pengaruh dan implikasi    globalisasi terhadap Bangsa dan Negara Indonesia

1.4    Mempresentasikan tulisan tentang pengaruh globalisasi terhadap Bangsa dan Negara Indonesia

  • Religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, tanggung jawab
  • Percaya diri (keteguhan hati, optimis).
  • Berorientasi pada tugas (bermotivasi, tekun/tabah, bertekad, enerjik).
  • Pengambil resiko (suka tantangan, mampu memimpin)
  • Orientasi ke masa depan (punya perspektif untuk masa depan)
 
 
    

.

 

 

 

Assalamu’alaikum Wr. Wb

It’s Me …………..

Terimakasih telah berkunjung ke blog sederhana ku,
berkunjunglah kembali dan jangan lupa komentari setiap karya tulisan ku.
Salam Kenal.

My Kalender

April 2014
M S S R K J S
« Mar    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 13 pengikut lainnya.

Games

My Filckr

Scardovari 2

Mitake no Sakura

Mr Mole - on the move!

More Photos

My Music

Hours & Info

021-92833529
masuk kerja : 06.30
pulang kerja : 14.00
kuliah : 18.30 - 22.00
Pagar Alam dot Com

Berbagi Informasi Pendidikan dan Pembelajaran Matematika

Ruang Keluarga

Problematika & Solusi Teruntuk Pasangan Suami Istr

Irfan Handi

Hanya Ingin Berbagi

PressDesain

Just Wanna Share

Syarifah Umamah

Assalamu'alaikum

Made Nuryadi

Belajar dan Berbagi Seputar Dunia Pendidikan

Welcome to Ufi Luthfiyah Blog's

My Word My WordPress.com

tentang PENDIDIKAN

konseling, pembelajaran, dan manajemen pendidikan

Dunia Seni & Teknologi

Dengan Seni Hidup Lebih Indah, Dengan Teknologi Hidup Lebih Mudah....

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.